
Perlahan namun pasti aku mulai membuka mataku namun seketika mataku kembali menyipit karena ada silauan cahaya yang menyilaukan mataku, cukup lama aku termenung lalu tiba-tiba terdengar suara pintu yang dibuka dari luar.
"Dek" panggilnya.
Seakan tuli aku justru malah memalingkan wajahku kearah jendela, mengacuhkan seseorang yang kini berada disampingku.
"Dek kakak manggil kamu loh" mendengar itu aku memutar mata malasku.
"Apa sih!" gumamku dengan nada kesal dengan posisi yang sama.
"Kakak punya kabar buat kamu"
Mendegar itu aku pun mulai membalikkan kepalaku untuk menghadap pada lawan bicaraku "Kabar apa?"
"Kamu tahu nggak papah kamu ada di---"
"Pagi Wawa!" sapa seseorang.
Belum sempat kak Riza mengakhiri ucapannya tiba-tiba saja seseorang dari arah belakang kak Riza memotong ucapan kak Riza, refleks aku dan kak Riza melirik kearah seseorang itu dan akhirnya yang tak lain dan tak bukan seseorang itu adalah...
"Papah?" gumamku.
Aku pun sontak bangkit dan terduduk lalu papah melengkungkan bibirnya ke atas setelah itu papah melangkahkan kakinya kearahku.
"Gimana kabar kamu sayang?" tanyanya sambil meletakkan tangan kanannya diatas kepalaku.
Mendengar dan melihat sikapnya terhadapku seketika aku memalingkan wajahku darinya, lalu melepaskan tangannya dari pucuk kepalaku yang ditutupi oleh hijabku.
Melihat sikapku suasana pun berubah menjadi canggung "eem... Zahwa, itu papah kamu nanya loh kok dikacangin sih" jedanya sekilas.
"Ouh iyah... Bapak tidak perlu mengkhwatirkan dek Zahwa karena sekarang kondisinya mulai stabil, hanya saja untuk sekarang dek Zahwa harus beristihat total"
"Baguslah, alhamdulilah kamu nggak kenapa-napa sayang"
"Baiklah kalau begitu. Saya izin pamit karena masih banyak pasien yang belum saya tangani. Assalamualaikum"
Setelah kak Riza pergi papah pun menarik kursi yang ada dibelakangnya lalu mendudukkan bokongnya dikursi.
"Ngapain papah kesini?" tanyaku to the point dengan mata yang menatap sinis kearahnya.
"Papah 'kan khawatir sama kamu. Emangnya papah nggak boleh kesini?"
"Bukan nggak boleh sih, cumaa aneh aja gituh" jedaku sekilas.
"Secara kan... Papah udah punya keluarga baru" sindirku lalu memalingkan wajahku kearah jendela.
Mendengar itu papah menatapku dengan tatapan tidak percaya, sedangkan aku justru bersikap seakan tidak peduli dengan perkataanku.
"Kenapa kamu bilang gitu?"
"Lah... Terus aku harus bilangnya apa?" tanyaku dengan wajah tanpa ekpresi.
"Kamu nggak boleh berkata seperti itu Zahwa" mendegar papah yang memanggil namaku aku pun tersadar, bahwa kini dia mungkin sangat marah dengan apa yang aku katakan.
Aku pun tersenyum sinis "Zahwa?" jedaku sekilas, kemudian aku mengalihkan atensiku keatas.
"Kok aku jadi inget dulu yah..?" papah yang mendengar penuturan kataku pun sontak terdiam, lalu menghembuskan nafas dengan pelan.
"Kamu nggak boleh bilang gitu Wawa, mau bagaimanapun mereka itu kini telah menjadi bagian dari keluarga kita" jedanya sekilas, lalu tangannya menggenggam tanganku.
"Jadi kamu harus bisa menerimanya yah.."
Mendengar hal itu aku pun menarik paksa tanganku "Menerima?! Mudah banget pah bilangnya. Papah tuh nggak mikir apa? Permasalahannya itu bukan karena menerima pah" jedaku sekilas.
"Yang jadi permasalahannya itu papah menikah tanpa persetujuan aku. Sekarang papah lihat deh makam kuburannya mamah, papah nggak lihat? makam kuburannya ajah belum kering sedangkan papah semudah itu melupakan mamah?"
"Aku nggak habis pikir sama jalan pikir papah" tandasku.
"Tapi ini tuh tidak seperti yang kamu kira sayang" ujarnya dengan tangan yang berniat mengelus pucuk kepalaku namun aku segera menepisnya.
"Apanya pah? Hal apa yang nggak seperti yang aku kira?!!" bentakku.
"Papah punya alasan sendiri Wawa dan papah berhak untuk mengambil keputusan sendiri"
"Iyah! Sekarang semua ada ditangan papah terserah deh papah mau berbuat apa-apa juga terserah!" jedaku sekilas.
"Aku udah cape ladenin sikap kalian! aku udah cape. Mendingan sekarang papah pergi dari sini, pergi!"sentakku.
"Dengerin papah dulu.."
"Nggak! Gue bilang pergi ya pergi!" raungku.
Tiba-tiba terndengar suara pintu yang didorong dengan keras, refleks aku dan papah pun melirik kearah pintu itu.
__ADS_1
Dan terlihatlah 2 orang laki-laki dan 2 orang perempuan diantara mereka ada yang memegang tas yang berisikan laptop dan satunya lagi ada yang membawa meja lipat.
"Ayah.." panggil Putri
"Kenapa ayah bisa ada disini? Terus tadi kenapa kayak ada suara Zahwa yang teriak?"
"Aah... Itu. Tadi..." ujar papah kikuk.
"Bukan dari sini!!" selaku, membuat mereka mengalihkan atensi mereka kearahku.
"Eum... Maksudnya suara teriak itu bukan dari sini tapi dari kamar sebelah, terus ayah kamu itu salah masuk kamar. Harusnya ke kamar inap teman kantornya tapi malah masuk kesini" alibiku.
Mendengar penuturan kata itu lantas papah menatapku dengan tatapan tidak percaya, sedangkan aku buru-buru menghindari tatapan matanya.
"Oouh gituh, Tapi tadi jelas-jelas kedengarannya dari sini, iyakan?!" tanya Putri pada Amel.
"Hah?" beo Amel, sambil memperlihatkan headset yang menancap dikedua lubang telinganya.
"Lah.. Sejak kapan lo pake headset?!"
"Sejak tadi"
"Terus gue daritadi ngomong ama sapa. Kalo lo nya ajah daritadi nutupin lubang kuping lo pake beginian!" geramnya sambil menarik headset yang menancap dilubang telingannya Amel.
"Hehehe yaaa mangap" mendengar itu Putri pun menghembuskan nafas dari mulutnya dengan kasar, lalu matanya melirik kearah papah.
"Loh.. Ayah kok masih disini? Bukannya harus nengok temen kantor ayah ya"
"Ah.. Iyah. Kalau gitu ayah pergi dulu yah" ujar papah lalu berjalan keluar dari ruang inapku.
Sebelum melewati ambang pintu papah sempat mengusap pucuk kepala Putri lalu seketika aku pun langsung memalingkan wajahku dari pemandangan itu.
Ada rasa sakit yang menggores dihatiku dan aku tidak bisa berkata-kata, setelah kepergian papah entah kenapa suasana berubah menjadi hening.
"Kok pada diem sih? Kayak di kuburan ajah" celetuk Putri.
"Yaudah kalau gitu mau disimpen dimana ini meja?" tanya kak Erik.
"Kenapa kak Erik bawa meja?" tanyaku.
"Hm? Ini..?" tanyanya sambil memperlihatkan meja lipat yang dia bawa melihat itu lantas aku pun menganggukkan kepalaku.
"Bukan punya kakak sih... Sebenarnya ini tuh punya Amel, kakak cuma bantu bawain doang"
Setelah mengatakan itu kak Erik pun membuka setiap kaki meja yang melipat itu, lalu menyimpannya dilantai.
"Dih lo mah manja banget jadi orang"
"Yaelah bukan manja, cuma kan kata mommy juga nggak baik kalau duduk dilantai. Takutnya disini tuh ada kuman-kumannya"
"iya deh iyah. Beda kalau ngomong ama sultan mah" jeda Putri sekilas.
"Heh bang! Lo daritadi bengong mulu deh perasaan"
"Hooh Hati-hati entar kesambet loh" mendengar itu kak Rido menatap datar kearah Amel.
"Canda bang candaa biasa aja kali tuh mata. Mau gue cokel yah?" ujar Amel.
"Udah deh buruan gemparin itu karpetnya terus siapin mejanya terus simpen laptopnya. Terus minta deh sandi wifi rumah sakit ini deh" oceh Putri.
"Putri kamu ngoceh mulu, bukannya bantuin" ujar kak Erik dan pemilik nama pun hanya memperlihatkan gigi putihnya.
..._o0o_...
Setelah melewati berbagai drama akhirnya mereka pun tampak khusyuk dengan benda berbentuk persegi yang ada dihadapan mereka dengan meja yang berada dibawahnya.
"Cepet dong Put nggak sabar nih mau nonton drakor" ujar Amel.
"Aargh... Drakor mulu. Nggak bosen apa?" tanya kak Erik
"Nggak!" jawab Putri dan Amel serempak.
"Daripada nonton begituan mending nonton film spiderman atau tentang kumpulan video-video lucu gitu loh"
"Nggak!!" jawab Putri dan Amel serempak lagi, mendengar itu kak Erik memutarkan bola mata dengan malas.
"Udah deh, siniin laptop nyah." celetuk kak Rido.
"Lah... Buat apa bang?!"
"Buat apa lagi?! Ya buat disimpan lah"
"Kok gitu" rengek Putri.
__ADS_1
"Yaaa suka-suka gue lah itu kan laptop gue, kenapa emang?"
Mendengar perkataan itu lantas Putri dan Amel seketika terlihat murung, aku mengerutkan keningku ternyata mereka berdua bisa juga yah bersandiwara.
"Hah... Kamu kesini niat buat ngehibur Zahwa kan? Kenapa jadi happy sendiri, belum tentu juga Zahwa pengen liat kayak begituan"
"Kok panas gini sih! Lagian ngapain juga ngehibur aku. Orang aku nggak sakit" celetukku.
"Wa kalo kamu nggak sakit terus ngapain kamu disini? Ya jelaslah kamu tuh lagi sakit" sarkas Putri.
"hem terserah"
"Yaudah deh gini ajah. Mending kita liat film spiderman yang baru keluar itu" celetuk kak Erik.
"Yang mana kak?" tanya Putri.
"Yang ini nih..."
Kak erik pun menghampiri laptop yang ada dihadapan Putri lalu mengetik sesuatu disana, sementara itu aku pun beranjak dari atas brankarku dan berusaha untuk berjalan kearah mereka.
Namun baru beberapa langkah saja, tiba-tiba badan ku terhuyung kedepan refleks kak Rido memegang kedua bahuku.
Aku pun melirik kearahnya dengan mata yang melebar, sedangkan kak Rido menatapku dengan tatapan sendu.
"Hati-hati..." lirihnya, lalu melepaskan genggaman tangannya.
"Nah!! Ini nih..." teriak kak Erik.
"Heh.. Berisik!. Kakak nggak sadar yah..? Ini tuh rumah sakit bukan tempat wahana" ujar Amel.
"Wa... Sini!, kita nobar bareng" ajak Putri.
Aku pun berjalan kearah mereka lalu duduk disebelah Putri, dan tidak lama kemudian kak Rido lalu duduk disebelah sisi kiriku.
1 jam berlalu dan mataku kini mulai terasa berat karena aku tidak terbiasa menonton film, lalu tanpa sadar kepalaku bersandar ke sebelah kiriku.
Perlahan aku mulai menutup mataku, saat itu aku tidak sadar bahwa aku telah bersandar dibahu kak Rido bukan dibahu Amel ataupun Putri.
Beberapa menit kemudian Putri membangunkanku "Wa bangun..!" panggilnya.
"Zah lo tidur yah?!" tanya Amel.
Perlahan aku pun membenarkan posisi dudukku sambil mengusap-usap mataku, setelah itu aku membenarkan hijabku yang sedikit tidak rapih.
Tidak lama setelah itu aku melihat Amel yang duduk disebelah Putri lantas aku mengerutkan keningku, loh... Amel duduk disebelah Putri terus yang disebelahku siapa? Tanyaku dalam hati sambil menengokkan wajahku kesebelah kiri.
"M-maaf kak. N-nggak sengaja" ujarku kikuk.
Mendengar perkataanku kak Rido pun tersenyum, "Yaudah tidur ajah sana, filmnya juga udah beres"
"I-iyah" jawanku kikuk.
Aku pun beranjak dari tempatku dan berjalan kearah brankar lalu menidurkan tubuhku, tidak lama kemudian aku melihat kak Erik, kak Rido, Putri dan juga Amel yang sedang berkemas.
Aku pun mengerutkan keningku, "Kalian mau kemana..?" tanyaku.
"Mau pulang dong Wa, soalnya kamu kan mau tidur. Jadi yaa kami langsung pulang ajah takutnya kan ngeganggu" ujar Putri, aku pun menganggukkan kepalaku beberapa kali.
"Okeh fix yah.. Udah beres semuakan..?" tanya kak Erik.
"Udah" jawab Putri.
"Okeh deh... Ouh iyah, cepet sembuh ya dek Zahwa" ucap kak Erik, yang ku lakukan hanya tersenyum kearahnya.
Kak erik, Putri dan Amel pun melangkah pergi meninggalkan kamar ruang inapku. Aku melirik kearah kak Rido karena dia masih berdiri ditempatnya.
"Za.." panggilnya, refleks aku pun melirik kearah kak Rido, perlahan kak Rido melangkahkan kakinya kearahku dan memegang pucuk kepalaku.
"Cepet sembuh..." jedanya sekilas.
"Jangan berbuat hal yang sembrono lagi" ucapnya dengan wajah melankolis.
Setelah mengatakan itu kak Rido pun melenggang pergi dari kamar ruang inapku, aku menatap punggungnya dari belakang hingga dia tidak terlihat lagi.
Aku baru sadar setelah kejadian kemarin, kak Rido tidak banyak berbicara mauupun bercanda. Aku pikir mungkin dia kecewa atau mungkin...
Tidak...
Itu tidak mungkin mana mungkin dia khawatir terhadapku, mungkin fikirannya sedang kacau dengan masalah lain.
Mungkin...
Bersambung...
__ADS_1
^^^12 Juli 2022^^^
^^^Wida pitriyani^^^