
Setelah kejadian kemarin, aku langsung diperiksa oleh dokter pribadiku, dan kini obatku semakin bertambah. Karena dokter menambahkan dosisnya, dan aku rasa setelah kejadian kemarin mereka akan menjauhiku, sama halnya seperti kejadian disaat aku masih duduk dibangku SMP.. Kurasa begitu.
"Non... Obatnya udah diminum?!" tanya mbok, dan aku hanya menganggukkan kepalaku.
Entah kenapa aku merasa gugup, padahal biasanya aku tidak mementingkan hal seperti ini, kalaupun mereka menjauhiku, tidak apa-apakan?!, toh. Dari dulu aku memang sendiri.
"Aku berangkat mbok" pamitku lalu mencium tangannya, untuk hari ini tidak ada kiss pagi untuk mbok, entahlah aku merasa sangat berat untuk melakukannya.
Aku berjalan keluar rumah, dan terlihatlah mang Ujang yang sedang mengelap mobil yang biasa aku tumpangi.
"Jalan mang..!" kodeku
..._o0o_...
Di sekolah aku merasa gugup dan aku terus *******-***** tanganku, kakiku berjalan menyusuri koridor sendiri tanpa ke 2 temanku, yah... Tanpa kusadari aku mulai menganggap mereka teman lucu sekali padahal aku jarang menanggapi mereka, tapi kehadiran mereka. Rasanya telah mengubah segalanya.
Aku membuka pintu kelas, kelas yang awalnya berisik seketika hening, dan suasanya berubah menjadi mencekam.
Srett...
Aku menggeser kursiku kebelakang, lalu mendudukan bokongku diatasnya.
Rasanya semua orang sedang mengamatiku, bahkan Putri dan Amel, tidak menyapaku seperti biasanya.
Aku mengeluarkan handsetku dan memasangkannya pada handphoneku, lalu mendengarkan murotal ayat suci al-qur'an.
Yah...
Kurasa dugaanku benar dan aku mungkin akan selamanya sendiri. Didunia ini, tidak akan ada yang menemaniku dengan tulus. Tidak ada.. Dan tidak akan pernah ada.
..._o0o_...
Triingg....
Triingg...
Triingg..
Bel istirahat telah berbunyi, bagi setiap murid sekolah biasanya mungkin akan sibuk dengan kegiatan mereka masing-masing, sedangkan aku. Aku tidak tahu apa yang harus aku lakukan, karena biasanya mereka lah yang selalu menemaniku.
"Wa..!, jajan yuk!" ajak seseorang dari arah belakangku.
3 kata, hanya dengan sebuah 3 kata ajakan itu rasanya telah berhasil mengangkat beban berat yang ada didalam diriku.
Aku membalikkan badanku, menatapnya dengan tatapan tidak percaya, kenapa?!.. Kenapa mereka masih mempedulikanku?!. Pikirku.
"Awas!, nanti mata lo copot" celetuk Amel, tidak lama kemudian perut Amel mendapatkan serangan dari sikutnya Putri.
"Ahk..." ringisnya.
"Kalau gabuth ngeganggu orang, mending jangan disini!!" bisik Putri lalu memberikan senyuman aneh padaku.
"Hen..!" jawabku.
Lalu wajah Putri berubah menjadi sumringah dan menarik lenganku, meninggalkan Amel yang terus berteriak dibelakang. Hangat... Rasanya hatiku berubah menjadi hangat.
Setelah memilih bangku seperti biasa Amel dan Putri pergi membeli makanan, sedangkan aku duduk menjaga tempat kami.
"Nih..." ujar Putri sambil memberikan nasi goreng padaku, tanpa ba-bi-bu aku langsung mengambil dan melahap nasi goreng itu.
"Mel, lo ajah!" bisik Putri.
"Kok gue?!, lo ajah kan elo yang keponya kan?!, kok malah jadi ke gue." bisik Amel.
"Iyah.. Tapikan lo juga sama keponya kan?!" bisik Putri.
"Nggak!. Sekali nggak tetep nggak!" kukuh Amel, mendengar pendirian Amel yang begitu kuat seketika Putri pun merengek ditempat.
"Ayo dong Mel, sekali ini aja lo turutin kemauan gue!"
"Kenapa?" tanyaku.
Hanya dengan tanya 'kenapa?' cukup mampu membuat mereka terlonjak kaget dan bahkan Amel pun sampai-sampai tersedak, aku mengernyitkan keningku, ada apa dengan mereka?! Pikirku.
"Eum... Wa, jadi gini.." ucap Putri dengan sikut yang terus menyenggol-nyenggol lengan Amel, sedangkan yang disenggol-senggol merasa terganggu karena dirinya sedang meminum air mineralnya.
Karena diperlakukan seperti itu Amel pun berdesis kesal "Apaan si?!" geramnya.
"Bantuiin.." bisik Putri dengan nada ditekan.
"To the point ajah!" ujarku, dan lagi-lagi mereka terlonjak kaget apa mereka punya penyakit jantung?!, pikirku.
"Ke-Kemarin itu, s-suntikan apa?. Kenapa kamu harus disuntik?" tanya Putri dengan nada yang gagap.
Sudah kuduga... Mereka pasti akan menanyakan ini, dan setelah aku mengatakan kebenarannya maka mereka akan mulai menjauhiku.
__ADS_1
Aku hanya diam membisu, sedangkan mereka terus menatapku mengharapkan sebuah jawaban dariku, dan setelah mendengar jawaban ini.
Maka mereka berdua akan meninggalkanku sama halnya seperti orang-orang yang meninggalkanku setelah tahu kebenaran yang ada didalam diriku.
"Apa aku harus menjawabnya?" tanyaku balik.
Sepintas ada raut wajah kecewa dibalik wajah Putri sedangkan di raut wajah Amel, aku melihat ada raut kesal disana.
"Terserah!!" sewot Amel seperkian detiknya, dia mendapatkan serangan tatapan tajam dari sorot mata Putri dan mendapatkan putaran mata malas dari Amel.
"Wa, kami itu nggak suka main rahasia-rahasiaan, tapi.." jedanya sekilas.
"Aku tahu itu privasi kamu jadi itu hak kamu. Asal kamu tahu aku berharap banget dapat jawaban dari kamu" ujar Putri sambil menatap retina mataku lekat-lekat.
Aku langsung membuang wajahku kesamping kiriku, aku sangat ragu untuk mengatakannya apakah akan lebih baik jika aku harus berbohong?, tapi.. Bukankah dengan berbohong hanya akan membuat rasa ketenangan yang sementara?!
"Gimana kalau aku jawab..." jedaku sekilas.
"Aku punya penyakit gangguan mental bipolar.." tanyaku sambil menatap mereka dengan lekat.
..._o0o_...
Lelah...
kata yang pas untuk hari ini, oouh ayolah tidak akan ada satu hari pun tanpa ada kata lelah!.. Mustahil. Kecuali kalau kita hanya bermalas-malasan sepanjang hari, tidak akan ada kata lelah.
Kali ini aku sedang membaringkan tubuhku dikasur empukku, yah... Memang banyak yang terjadi tadi. Aku memejamkan mataku, mengingat kembali reaksi mereka disaat mendengar pengakuan dariku.
"Gimana kalau aku jawab..." jedaku sekilas.
"Aku punya penyakit gangguan mental bipolar" tanyaku sambil menatap mereka dengan lekat.
Mereka tampak terkejut, mata mereka membulat sempurna dan bahkan sendok yang dipegang oleh Amel pun jatuh ke lantai.
Membuat semua orang dikantin menjadi memperhatikan kami, namun beberapa detik kemudian mereka melanjutkan kegiatan mereka.
"Hah! apa?" teriak Putri.
"Lo---lo Seriuskan, ini nggak lagi bercandakan?!" tanya Amel.
Aku hanya diam membisu, aku tahu... Inilah reaksi pertama yang akan siapapun lakukan jika mereka mendengar hal yang sulit dipercaya bagi mereka.
"Suntikan kemarin adalah suntikan obat penenang yang aku gunakan jika penyakit gangguan mental bipolarku kambuh, dan cara efektif untuk menenangkanku adalah dengan cara itu." jedaku sekilas
"Dan kemarin sepulang dari sini, aku langsung memanggil dokter pribadi yang menangani kasusku. Akibatnya aku diberi banyak dosis lagi olehnya..." ujarku dengan nafas yang terengah-engah menahan gejolak yang muncul lagi dari dalam diriku, asal kalian tahu pengakuan yang kulakukan ini cukup membuatku tertekan.
Tiba-tiba saja ada yang menggenggam lenganku aku pun melihat siapa yang menggenggam lenganku, dan ternyata itu adalah Putri.
"Ikut aku!" titahnya lalu menarikku dan mengajakku ke suatu ruangan, dan ternyata dia membawaku keruang UKS.
Keringatku terus bercucuran, dengan tanganku yang terus-menerus *******-***** telapak tanganku.
"Mel, kunci pintu!!" titah Putri dengan sigap Amel langsung mengunci pintu, dan menghampiri aku dan Putri.
"Tas, ambilin tas!" lirihku.
"Tas? tas siapa?. Tas lo?! emang buat apa?" tanya Amel.
"Ambilin aja cepet! Nggak usah banyak ngomong!" bentakku.
Amel dan Putri sampai terlonjak kaget dengan apa yang aku lakukan, tanpa ba-bi-bu Amel langsung berlari keluar dari ruangan UKS.
"Put! disini ada solatip kan?!"
"Bentar aku cari dulu!" ujar Putri lalu mencari solatif di setiap laci yang ada di UKS.
"Ada!!"
"pakein solatif itu di tangan sama kaki, cepet!!"
Putri menatapku dengan tidak percaya dan sepintas aku melihat matanya memerah, dan juga tangannya pun bergetar. Tapi dia memaksakan dirinya untuk menuruti apa yang aku pinta.
"Wa, aku nggak nyangka kamu punya penyakit kayak gini .!" lirihnya dengan tangan yang terus masih bekerja melilitkannya di tanganku.
"Maafin aku.. Harusnya aku bisa lebih sabar nunggu jawaban dari kamu!" lanjutnya, aku hanya diam membisu menahan mulut yang ingin sekali berkata-kata kasar.
Apa kalian tahu? Kenapa aku menyuruh Putri untuk mengikatku dengan solatif? Karena aku khawatir jikaaku lepas kendali maka aku akan menyakitinya, dan bisa saja aku berbuat hal yang diluar dugaanku.
Tiba-tiba saja sebuah cairan bening jatuh dengan sendirinya dari mataku aku baru merasakan hal seperti ini mereka berdua sangatlah berbeda, disaat orang-orang menjauhiku karena mengetahui kekuranganku mereka berdua justru mendekatiku, dan dikala orang-orang membenciku mereka justru merangkulku.
Meski mereka sangatlah pecicilan, berisik, dan juga mengganggu. Namun disaat yang tepat mereka mampu menjadi seorang pahlawan untukku.
Ceklek...
Suara pintu yang dibuka, lalu orang itu langsung mengunci pintu, yah.. Dia adalah Amel.
__ADS_1
Brugh...
Suara tas yang jatuh ke lantai bersamaan dengan ekspresi terkejut dari wajah Amel, matanya membulat sempurna dengan mulut yang terbuka lebar.
"Put!!... Lo apain si Zahwa?!" bentak Amel.
"Syut! Lo jangan teriak-teriak Amel nanti ada yang denger. Udah deh lo langsung cari sesuatu yang ada di tas Zahwa!"
Amel membuka tasku lalu mencari sesuatu, yang bahkan dia sendiri pun bingung harus mencari apa, tapi pada akhirnya dia tahu mungkin benda inilah yang sangatlah dibutuhkan olehku.
"Wa, maksud lo inikan?!" tanya Amel.
"Suntikan itu... Lagi?!" tanya Putri, aku menganggukkan kepalaku beberapa kali karena rasanya gejolak ini mulai tidak nyaman untuk aku rasakan.
"Buka semua solatifnya cepet!" bentakku.
Dengan sabar, mereka pun mulai membuka solatif yang ada di tangan dan kakiku.
"Wa... Padahal nggak perlu kali sampai disolatif gini. Ini tuh kesannya kayak kita lagi nyulik anak orang tau nggak?!" gerutu Amel.
"Diem! lo jangan banyak ngomong!" raungku.
Setelah semuanya terlepas, aku langsung mengambil suntikan obat penenang yang ada di tangan Amel, dan menyuntikkan obat penenang itu ke lenganku sendiri.
Sepintas aku melihat ada rasa kengerian dari wajah mereka, tapi. Hanya ini cara satu-satunya dan ini pun kulakukan agar mereka tidak terluka.
Dulu aku memang selalu menggunakan obat akan tetapi diam-diam aku selalu menggunakan suntikan penenang, karena tahap reaksi obatnya lebih cepat jika saja dokter yang menangani kasusku tahu entahlah aku tidak tahu akan seperti apa reaksi dia nanti.
15 detik kemudian, tubuhku mulai terasa lemas dan rasa kantuk mulai menyerangku, seakan sudah mengerti Putri membantuku untuk berbaring di atas kasur yang sudah ada di ruang UKS, sedangkan Amel langsung mengambil suntikan yang ada di tanganku.
"Wa, kenapa kamu nggak pernah bilang dari awal si?" tanya Putri aku hanya diam membisu lagi-lagi hanya itu yang bisa kulakukan.
"Zahwa emang tiap hari lo harus kayak gini kalau gangguan mental lo kambuh?!" tanya Amel.
"Biasanya pakek obat juga cukup, tapi... Sejak kejadian kemarin. Malah jadi tambah parah..." lirihku.
Aku mulai merasa nyaman dengan mereka, rasanya aku
sangatlah penting bagi mereka.
"Lo... Istirahat ajah!, biar gue bilang ke ketua osis kalau lo sakit" uajr Amel.
"Hem.. Kamu istirahat ajah.." usul Putri.
"Kalian belum jawab pertanyaan aku.." gumamku,
Seketika mereka berhenti ditempat lalu beberapa detik kemudian mereka mengatakan hal yang dari sejak dulu selalu berada diluar dugaanku.
"Wa bagi aku. Setiap manusia punya kekurangannya masing-masing dan aku bakalan tetep ada buat kamu." ujar Putri dengan mantap.
"Kalau menurut gue sih selama masih terkontrol, selama lo masih punya semangat hidup, selama lo nggak sampe nyakitin gue ya... Gue juga bakalan fine-fine aja buat terus ada disamping lo" ujar Amel, sambil melipat tangannya di dada lalu tersenyum ke arahku.
Untuk sesaat aku merasa lega dengan penuturan kata Amel yang blak-blakan, yang tidak pernah memikirkan perasaan orang lain namun selalu ada makna didalam kalimatnya.
"Mel lo blak-blakan banget" sahut Putri.
"Yah... Lebih baik blak-blakan daripada munafikkan?!" ujarnya aku hanya menganggukkan kepalaku satu kali.
"Ouh yah ini suntikan udah gue masukin ke tas lo. Hati-hati jangan sampe ada yang tahu, bisa berabe entar!" ujar Amel.
"Udahlah kasian Zahwa mau istirahat, yuk balik kekelas!" ajak Putri.
"Eh.. Tapi. Lo nggak takut sendirian disini kan?! kalau takut gue tungguin disini deh!, sekalian mau tidur juga ah!" ucap Amel.
"Idih lo mah cari kesempatan dalam kesempitan yah!" sewot Putri.
"Yee... Biarin lah!"
"Tapi iya juga sih. Masa iya Zahwa sendiri disini?!" tanya Putri bermonolog sendiri.
"Nah kan... Kata gue juga apa. Udah gini aja deh kita izin ke ketua osis terus balik lagi kesini!, lagian kan masih MPLS, males gue denger mereka ngomong! Ujung-ujungnya juga ngarti kagak pusing iya, ngantuk iyaa!" gerutu Amel.
"Yaudah yuk..."
"Sorry..." cicitku yang hampir tidak bisa mereka dengar.
Namun ternyata aku salah mereka justru mendengar kosakata yamg aku ucapkan tadi, kata yang keluar dari mulutku telah membuat mereka mengurungkan langkah mereka. Lalu mereka berbalik kearahku dan tanggapan yang mereka berikan hanyalah senyuman, aku terus melihat mereka hingga mereka tidak lagi terlihat oleh kedua mataku.
Yah...
Itulah yang terjadi saat tadi, memang diluar perkiraanku tapii aku juga merasa sedikit tenang dengan apa terjadi tadi.
Bersambung....
^^^06 Maret 2022^^^
__ADS_1
^^^Wida pitriyani^^^
Like nyaaa jan lupa ( •̀ᄇ• ́)ﻭ✧