Story In July ( End )

Story In July ( End )
Hari ke - 19


__ADS_3

Langit yang tampak begitu gelap diluar seakan mewakilkan segalanya bagi diriku, diiringi dengan sunyinya kondisi rumahku yang memperkeruh keadaanku saat ini.


Miris. Setidaknya itulah yang dapat aku deskripsikan untuk kondisiku saat ini, a tidak, bahkan kehidupanku dari sejak dulu memang sudah miris. Aku saja yang bodoh karena selalu menghipnotis diri sendiri dengan mengatakan bahwa di masa depan nanti semua akan kembali baik-baik saja.


Nyatanya semua itu hanya akan menjadi halusinasi untukku lihatlah, lihatlah keadaanku saat ini. Dari sejak tadi pagi aku hanya berdiam diri diatas kasur king size dengan tangan yang memeluk kedua lututku.


Tanpa ada seseorang yang menemani disaat aku terpuruk seperti ini, tidak ada teman ataupun keluarga tidak ada siapapun disini.


Karena merasa sedikit haus aku pun berjalan menuju dapur dengan langkah yang gontai aku menuruni tangga, dan pada saat aku mengambil gelas aku mendengar suara ketukan pintu lantas aku pun mengurungkan niatku.


Dengan langkah yang sama aku langsung berjalan menuju pintu lalu membukanya dan detik itu juga aku langsung membelalakkan mataku, menatap tidak percaya dengan apa yang ada dihadapanku apa kalian tahu? orang yang mengetuk pintu adalah seseorang yang sudah aku anggap seperti seorang ibu bagiku.


Disaat itu juga air mataku pecah dengan sendirinya tanpa aba-aba aku langsung memeluk sosok yang ada dihadapanku saat ini, sosok yang aku peluk itu merasa kebingungan sendiri lalu mengelus-elus pundakku dengan lembut.


"Mbok jahat! Kenapa mbok baru pulang sekarang?! Mbok kemana ajah..! Mbok tahu nggak, aku nungguin mbok dari kemarin, aku sendirian dirumah! Kenapa disaat aku butuh mbok, mbok malah nggak ada disisi aku?! Aku benci sama mbok!!" sentakku dengan nada sesenggukan disetiap kata yang aku lontarkan dan sambil memeluk mbok dengan erat.


"N-non kenapa? Non kan tahu... Kalau mbok mau nemenin adik mbok yang lahiran terus mbok kan udah izin sama non. Non kenapa nangis sama teriak-teriak gini sama mbok? Non dimarahi lagi sama tuan dan nyonya yah" sahutnya sambil mengelus-elus pucuk kepalaku.


Disaat mendengar penuturan kata dari mbok aku bukannya menjelaskan justru aku malah semakin menangis histeris, sedangkan mbok yang tidak tahu menahu masalah apa yang aku hadapi justru malah semakin kebingungan.


"Mamah jahat mbok..!"


"Jahat?! Maksud non?"


"Mamah ninggalin aku, mamah nggak akan pernah pulang lagi kerumah ini" aku menjeda ucapanku karena rasanya sangatlah berat untuk mengatakan itu.


"Mamah udah nggak ada" cicitku dengan nada lirih.


Seketika tangan mbok yang mengelus-elus kepalaku pun terhenti, dan beralih memegang pundakku lalu mendorongku agar aku melepaskan pelukanku terhadapnya.


"Maksud non apa?!"


"Mamah. U-udah meninggal" setelah mengatakan itu tangisku malah semakin menjadi-jadi.


Dan juga seketika sepasang mata mbok pun berkaca-kaca serta terlihat sekali bahwa beliau tidaklah percaya dengan apa yang aku ucapkan.


"Kapan?! Waktu kemarin-kemarin kan nyonya kelihatan sehat-sehat ajah non"


Aku pun menceritakan semuanya, bahkan tidak ada satu pun yang terlewat dan seketika raut wajah mbok tampak begitu sangat terkejut lalu kembali memelukku.


Disaat keadaanku sudah lebih baik mbok pun menuntunku ke dapur dan lalu mendudukkan aku di kursi meja makan, lalu beberapa menit kemudian mbok memberikan nasi dan telur mata sapi diatasnya.


"Non pasti belum makan kan? Makan yah biar mbok suapin" bujuk mbok sambil berniat menyuapiku.


"Aku nggak mau makan mbok" tolakku sambil mendorong piring yang dipegang oleh mbok.


"Non harus makan, takutnya nanti non malah sakit"


Mbok pun mulai menyuapiku dengan terpaksa aku memakannya, disela-sela itu aku menanyakan kenapa mbok bisa pulang cepat lalu beliau menjawab bahwa suami dari adiknya sudah pulang jadi mbok bisa kembali bekerja.


Setelah menghabiskan makanan itu aku pun kembali terdiam menatap kosong kearah kursi yang biasa mamah tempati. Ada rasa kesal, sedih dan kecewa yang bercampur didalam diriku lalu tidak lama kemudian aku merasakan ada elusan lembut yang terasa dipucuk kepalaku.


"Non masuk kamar dulu yuk. Habis itu non istirahat yah"


Lagi-lagi mbok membantuku berdiri dan merangkulku, tepat disaat aku akan melangkahkan kaki untuk menaiki tangga tiba-tiba saja pintu rumah terbuka dan terlihatlah seseorang yang selama ini selalu aku cari namun dia lebih mementingkan urusannya dibanding keluarganya.


Mata kami saling bertemu namun tidak lama kemudian aku memalingkan wajahku darinya, dan lebih memilih untuk menaiki tangga sambil berlari lalu masuk kedalam kamarku.


Setelah mengunci pintu rasanya badanku kembali lemas lantas akupun kembali meringkuk lagi, dengan berbagai asumsi yang berkecamuk didalam pikiranku.


Kenapa dia terlihat baik-baik saja? Apa kematian mamah hanya bagaikan angin lalu untuknya? Bahkan dia tidak terlihat bersedih sama sekali.


Tidak lama kemudian ada seseorang yang mengetuk pintu kamarku dari luar serta memanggil-manggil namaku, dari suaranya saja aku dapat menebak bahwa mungkin itu adalah papah.

__ADS_1


"Wawa kenapa kamu menghindar dari papah? Iyah papah minta maaf. Papah nggak jawab telepon dari kamu soalnya papah lagi sibuk-sibuknya waktu kemarin"


" .... " aku sama sekali tidak menanggapi justru aku malah semakin meringkuk dengan kepala yang aku tenggelamkan di kedua lenganku.


"Wawa jangan marah sama papah dong. Buka dulu pintunya sayang"


" .... " lagi-lagi aku tidak mengatakan apapun.


"Ouh iyah papah ada surprise nih buat kamu. Katanya sekarang itu ada film baru di bioskop dan papah udah beli tiketnya, jadi nanti kita bakalan pergi ke bioskop bareng-bareng. Wawa kalau kamu kayak gini terus papah ngerasa bicara sendiri loh"


Mendengar perkataan dari papah sontak aku merasa tidak percaya dengan apa yang ia katakan, bagaimana mungkin ia mengatakan itu apa ia tidak membaca pesanku.


Aku pun beranjak dari tempatku dan membuka pintu dan terlihatlah papah dengan senyuman yang mengembang diwajahnya, sedangkan aku justru malah menatap datar kearahnya.


"Jujur aku nggak bisa berkata-kata pah" ujarku, mendengar itu papah mengerutkan keningnya.


"Maksudnya?"


"Papah itu pura-pura nggak tahu atau emang nggak tahu?" aku menjeda ucapanku.


"Hebat yah...!"


"Bentar. Wawa! Kamu kalau bicara itu jangan berbelit-belit. Maksud kamu apa?"


"Aku nggak mau jelasin apa-apa, intinya kalau papah pengen tahu. Papah buka handphone papah terus baca pesan dari aku" ujarku lalu aku langsung melenggang pergi.


"Loh! Kamu mau kemana..?"


"Aku mau keluar cari angin. Malas dirumah terus" ketusku.


Aku pun menuruni tangga dan pada saat ditengah-tengah anak tangga aku menghentikan langkahku untuk melihat kearah papah, terlihatlah papah yang sedang mengecek handphonenya setelah itu aku kembali melangkahkan kakiku.


Hanya tinggal beberapa langkah saja menuju ambang pintu, tiba-tiba saja papah berteriak memanggil namaku lantas aku pun berbalik melihat kearahnya.


"Maksud kamu apa Wawa. Kenapa kamu nggak telepon papah? Kenapa lewat sms? Kenapa nggak telepon sekretaris papah?" tanya papah beruntun, lalu kemudian papah berteriak memanggil-manggil mbok.


"Mbok! Mbok!!" teriak papah dan suaranya begitu menggelegar hingga keseluruh ruangan.


"I-iya tuan?"


"Kenapa mbok tidak bilang pada saya, kalau istri saya sakit. Dan sekarang---" papah menjeda ucapannya lalu mengusap kepalanya dengan kasar.


"Maaf tuan. Mbok teh lagi pulang kampung jadi si mbok teh nggak tahu kalau nona sakit" sahut mbok dengan kepala yang menunduk dalam-dalam.


"Tapi tetap aja! Seenggaknya mbok bisa pulang dulu kan? Nanti setelah istri saya sembuh mbok bisa kembali lagi ke kampung!" sentak papah, karena tidak terima papah membentak mbok lantas aku pun membentaknya.


"Udah pah! Cukup!"


Seketika itu juga papah dan mbok terlonjak kaget, lalu secara bersamaan mereka melirik kearahku sedangkan aku menatap tajam kearah papah.


"Apa maksud papah nyalahin mbok? Justru aku yang harusnya tanya itu ke papah. Papah kemana ajah selama ini? Istri papah lagi sakit tapi papah lebih memprioritaskan pekerjaan papah dibandingkan keluarga papah" papah yang mendengar itu hanya diam seribu bahasa.


"Waw aku kagum sama papah! Ternyata papah tuh orangnya gini yah, udah tahu salah tapi nggak mau dianggap salah"


Aku menatap tajam kearahnya tanpa berkedip sama sekali sedangkan papah hanya menatapku dengan tatapan yang tidak bisa aku baca, lalu beberapa saat kemudian papah memalingkan wajahnya.


"Maafin papah Wawa" lirihnya.


Untuk sesaat aku membelalakkan mataku karena untuk pertama kalinya aku melihat papah menangis, untuk sesaat pula aku merasakan hatiku mulai merenyuh, air mataku pun hampir saja jatuh namun aku berusaha untuk menahannya.


"Maafin papah karena selama ini. Papah belum bisa menjadi seorang ayah yang terbaik buat kamu" lirihnya lagi dengan posisi yang sama yaitu tanpa melihat kearahku.


"Ini memang salah papah, papah terobsesi dengan apa yang didepan papah. Papah tidak pernah memikirkan kondisi kalian yang berada dibelakang papah" finishnya.

__ADS_1


Perlahan papah mendongakkan kepalanya melirik kearahku dan memperlihatkan matanya yang berwarna sedikit kemerah-merahan, lalu tangannya terulur keatas dan mengusap pucuk kepalaku setelah itu papah berbalik pergi menaiki tangga.


"Mbok. Kenapa aku harus nangis?" mbok melirik kearahku dengan tatapan sendu.


"Non Zahwa.." lirih mbok.


Aku pun berjalan keluar dari rumah, aku tidak mempedulikan mbok yang memanggil-manggil namaku dibelakang.


..._o0o_...


Air mulai berjatuhan dari langit dan membasahi tubuhku, aku tidak peduli dengan kilatan petir yang menggelegar mengorek masuk kedalam telingaku, sungguh perkataan papah terus terngiang dalam otakku.


"Ini memang salah papah, papah terobsesi dengan apa yang didepan papah. Papah tidak pernah memikirkan kondisi kalian yang berada dibelakang papah"


Aku menutup kedua telingaku berharap perkataan itu bisa hilang begitu saja secara permanen, akan tetapi tetap saja hasilnya nihil.


"Kenapa harus bilang gitu si!" monologku.


Tiba-tiba saja air hujan tidak lagi membasahi tubuhku lantas aku mendongakkan wajahku keatas dan terlihatlah kak Rido yang sedang memayungiku, sedangkan sebagian tubuhnya basah karena hujan.


"Kenapa duduk sendirian di bangku taman? Nggak dingin apa hujan-hujanan kayak gitu" ujarnya lalu tersenyum lembut kearahku, aku hanya diam membisu lalu memalingkan tatapanku darinya.


"Nggak ada hubungannya sama kakak. Mending kakak pergi dan pura-pura nggak liat aku"


"Yah... Untung kakak udah kenal kamu, jadi kakak udah tahu pasti kalo jawaban kamu pasti kayak gitu" jedanya sekilas.


"Yaudah deh kalau kamu masih mau hujan-hujanan disini, kakak pergi dulu yah!" pamitnya.


Setelah mengatakan itu kak Rido menarik kembali payungnya lalu mulai melangkahkan kakinya, entah kenapa aku merasa kecewa dengan apa yang ia katakan.


Lalu tiba-tiba saja dia kembali berjalan mundur serta dengan menampakkan sebuah senyuman jahil kearahku melihat sikapnya lantas aku mengerutkan keningku.


"Hehehe nggak jadi deh" imbuhnya, seketika aku langsung memutar bola mata malasku sedikitpun aku tidak ingin menanggapinya namun hatiku entah kenapa mulai terasa hangat.


"Kakak, nggak tahu harus bilang apa. Tapi.." kak Rido menjeda ucapannya.


"Kakak cuma bisa ngasih saran aja dan ini terserah kamu mau menerimanya atau tidak" ujarnya, lalu tubuhnya turun untuk menyamakan atensiku dengannya sehingga aku tidak perlu mendongakkan kepalaku untuk melihat kearahnya.


"Apa yang kamu lihat dan apa yang kamu nilai. Belum tentu semua itu benar, karena pasti akan selalu ada alasan dibalik perlakuan seseorang terhadap kita"


Entah kenapa aku mulai tertarik dengan apa yang kak Rido ucapkan, lantas aku yang tadinya memalingkan tatapanku darinya mulai melirik kearahnya dan lagi-lagi dia tersenyum lembut kearahku.


"Kita hanya perlu siap mendengar alasan itu ... Dari mulut mereka sendiri" tandasnya dengan menekankan kata diakhir kalimatnya.


Seketika mataku pun berkaca-kaca memdengarnya "Kamu ngertikan apa maksud kakak? Kalau kamu masih belum ngerti---" lagi-lagi dia menjeda ucapannya.


"Yah nanti juga tahu" imbuhnya.


Aku menundukkan kepalaku lalu tidak lama kemudian sebuah tangan terulur dan mengelus pucuk kepalaku yang ditutupi oleh hijabku, aku sedikit tersentak dan melihat kearahnya.


Setelah itu dia tersenyum lembut namun matanya menatap sendu, setelah itu dia menyimpan payungnya itu disebelah kananku.


"Cepat pulang. Nanti sakit" setelah mengatakan itu ia pun berlari meninggalkan aku yang dibangku taman meringkuk sendirian.


Air yang gemericik membasahi pipi dan seluruh tubuhku, udaranya begitu dingin dan menusuk ketubuh payung yang ia simpan memberikan kesan yang sedikit berbeda.


Terkadang aku selalu bertanya-tanya kenapa setiap aku berada dalam masalah, disaat itu pula ia selalu ada didekatku. Dan perlahan aku mulai memiliki rasa yang lebih terhadapnya.


Bersambung....


^^^02 Mei 2022^^^


^^^Wida pitriyani^^^

__ADS_1


__ADS_2