Story In July ( End )

Story In July ( End )
Hari ke - 7


__ADS_3

Hari ini hari yang cukup cerah untuk semua orang namun tidak untukku, karena apa? Karena hari ini aku dikelilingi oleh 2 makhluk pengganggu dan aku menebak tidak lama lagi makhluk pengganggu itu pasti akan bertambah 1, lihat saja.


"Wa! Kamu kenapa diam aja si?!, masih pagi itu harusnya kelihatan segeer..!" ujar putri sambil merentangkan tangannya ke atas dengan mata yang tertutup, seakan sedang merasakan sejuknya udara pagi.


"Bener tu.." jeda Amel, sambil mendorongku ke samping hingga badanku sedikit terhuyung ke samping lalu karena kesal aku pun menatap Amel jengah.


"Wajah lo dari tadi kusut mulu. Udah kayak baju yang nggak disetrika aja" cibir Amel.


"Assalamualaikum gadis-gadis!" panggil seseorang dibelakang kami, lantas kami pun memutar tubuh kami bersamaan untuk melihat siapa yang memanggil kami dengan panggilan itu, nah kan.. Bertambah satu.


"Rido! apaansi lo manggil kayak gitu. Jijik tau nggak?!" tekan Amel.


"Kenapa lo marah dipanggil gadis? Emangnya lo bukan gadis" tanya Kak Rido sambil mengangkat salah satu alisnya ke atas.


"Ya gadis lah, jijik ajah dipanggil kayak gitu. Gue paling jijik dipanggil kayak begituan!" sarkas Amel.


"Bang!" panggil Putri, kemudian sang pemilik nama pun mengalihkan pandangannya kearah Putri.


"Lo markirin motornya bener kan?!" tanya Putri.


"Ya bener lah..! liat aja sendiri setiap sisinya ajah gue ukur pakek penggaris biar lurus!" jawabnya.


"Weih.. yang bener lo" tanya Amel sambil menepuk bahu kanannya kak Rido.


"Wah ngeremehin lo jadi orang, ya pastilah..." jeda kak Rido sekilas.


"Nggak!" ucapnya tanpa ekpresi.


"Masa iya markirin motor sampe kayak gitu" tandasnya.


"Boro gue percaya" celetuk seseorang dibelakang kami.


"Wuih... Pagi bro!" sapa kak Rido, lalu tangan mereka saling menggenggam setelah itu mereka berdua berpelukan ala - ala cowok. 


"Widih... Cowok biasa juga yah peluk-pelukan. Ouh atau jangan.." jeda Amel sekilas.


"Kalian..!" sentak Amel.


Lalu tidak lama kemudian Amel mendapatkan sebuah pukulan dikepalanya dari Putri, sontak Amel pun meringis kesakitan.


"Lo kalo ngomong dijaga! Denger yah.. Mau sebeg* apapun abang gue. Dia nggak bakalan mungkin belok!" teriak Putri.


"Iyah gue tahu bercanda Put bercanda!" ucap Amel dengan tangan yang masih mengusap-usap kepalanya.


"Kalian heboh banget peluk-pelukan, bukan yang dikira. Justru ini tuh pelukan sesama kawan" jeda seseorang yang baru datang tadi.


"Kalian para ciwik-ciwik juga sering kan?! Jangan mikir yang aneh" tandasnya.


"Tuh denger tuh ganggu orang ajah" jeda kak Rido sekilas.


"Apa kabar bro?" tanya laki-laki itu.


"Alhamdulillah sekarang mah baik, kalau kemarin sih nggak" sahut Kak Rido.


"Wah.. Terus sekarang?!" mendengar peetanyaan kak Erik seketika kak Rido tertawa terbahak-bahak.


"Serius amat lo!" seru kak Rido sambil memukul bahu lawan bicaranya.


"Orang gue cuma bercanda" tandas kak Rido.


"Aahh... Put, Wa, dari pada kita jadi nyamuk mending kita cabut dah" sela Amel.


"Yuk ah!" ajak Putri sambil menarik tanganku.


Sepanjang jalan koridor kami berjalan beriringan tidak ada yang berbicara diantara kami bertiga, hingga Amel membuka pembicaraan.


"By the way tadi Kak Erik baru masuk sekolah lagi ya?!" tanya Amel.


"Iya kali. Katanya sih sakit" jawab Putri.


"Wah.. Emang sakit apa?"


"Ya nggak tahulah! Orang gue bukan emaknya" sewot Putri.


"Yee... Mana tahu aja lo tahu" ujar Amel sambil memanyun-manyunkan mulutnya.


..._o0o_...


Setelah mengikuti kegiatan MPLS bel istirahat akhirnya berbunyi lalu semua siswa dan siswi pun berhamburan keluar dari kelas mereka ada yang pergi ke kantin, ada yang pergi ke perpustakaan, ada pula yang nongkrong-nonkrong hanya untuk bergosip. Yah semua sibuk dengan kegiatan mereka sendiri.


"Wa, kuy lah kita jajan!" ajak Putri.


"Hen.." jawabku singkat tanpa melihat kearah lawan bicaraku.


Amel menatapku dengan tatapan yang tidak bisa kubaca, entah apa yang dia pikirkan tentangku.


"Lo, bangkunya sendiri?!" tanya Amel, aku jawab dengan deheman.


"Baru tahu gue. Tapi kenapa?!"


"Betah sendiri" jawabku.


Aku berjalan melewati mereka sepanjang jalan menuju kantin mereka terus berbicara yang pembicaraannya itu sedikit unfaedah, dan akhirnya kami sampai dikantin lalu kami langsung memilih bangku.


"Wa, kamu mau apa?!" tanya Putri.


"Samain" jawabku singkat.


"O-oh okeh"


"Nah, kalau gue mau.."


"Eits.." sela Putri sambil memperlihatkan lima jarinya didepan wajah Amel.


"Apa gue-gue? pokoknya lo harus ikut. Enak aja main nebeng pesenan, lo kan masih punya kaki!" ujar Putri.


"Dih.. Lo mah pilih kasih!" sewot Putri.


"Biarin... SSG!"


"Mulai dah.." gerutu Amel.


Dan mereka pun pergi, tidak lama kemudian mereka kembali dengan membawa Soto lalu Putri menyimpan satu soto dihadapanku.


"Nih!" serunya sambil memberikan salah satu soto didepanku.


"Makas..."


"Sama-sama" bukan, bukan putri yang menyela ucapanku tapi Amel sedangkan Putri hanya menggelengkan kepalanya. Aku hanya bisa menghembuskan nafasku dengan kasar.


Lalu tiba-tiba ada yang menduduki kursi kosong yang ada di samping Putri dan itu adalah kak Rido bersama satu temannya yang tadi pagi kami temui, kalau tidak salah namanya Erik aku tahu dari Amel dan putri yang membicarakannya dari pagi.


"Numpang soalnya penuh!" ujar Kak Rido.


"Hemm, iyaa!!" jawab Putri dengan nada ketus, lalu menggeser kursinya dan sikutnya tidak sengaja meyenggol lenganku yang baru saja akan memasukkan soto ke mulutku, alhasil soto yang ada disendokku berguncang lalu tumpah dan mengenai jilbab putihku.


"Wah.. Wa!, maaf nggak sengaja!" pekik Putri, aku mengusap-usap jilbabku berharap bisa bersih tapi ternyata hasilnya nihil.


"Iyah nggak papa, aku ke kamar mandi dulu"


"Wa, maaf yah"  rengek putri, aku hanya menganggukkan kepalaku satu kali lalu pergi meninggalkan mereka.


..._o0o_...


Aku menghembuskan nafasku dengan kasar melihat noda kuning yang cukup besar di jilbab putihku dari pantulan kaca yang ada dihadapanku, yah.. Kini aku berada di toilet siswi.


Aku menyalakan keran air lalu sedikit-sedikit mencoba membersihkan noda kuningnya, dan kini warna kuning itu sedikit pudar aku pikir ini sudah cukup karena tidak terlalu terlihat.


Aku keluar dari kamar mandi dan berjalan untuk kembali ke tempatku, hanya tinggal sekitar 2 meter lagi aku sampai ditempat mejaku tadi, sampai tiba-tiba ada seseorang yang menjegatku.


Dan naasnya dia adalah laki-laki yang kemarin tidak sengaja aku kotori seragam putihnya karena terkena tumpahan bumbu batagorku.

__ADS_1


"Heh! lu masih ingetkan. Problem kita belum kelar" tanyanya, aku hanya menatapnya dengan datar.


"Terus?!" tanyaku.


"Lo belum minta maaf ke gue"


"Maaf!" ujarku, lalu melewati mereka bertiga namun tiba-tiba saja tanganku ditahan oleh laki-laki itu, dengan kasar aku menepis genggaman laki-laki itu sambil menatapnya dengan tajam.


"Santai... Kok minta maaf gitu?!, yang bener dong.." ujarnya dan kedua teman-temannya pun cekikikan seakan ada acara komedi disini.


"Lo tadi minta gue buat minta maaf dan gue udah minta maaf!! mau lo apa hah?!" bentakku.


Hening...


Semua yang ada dikantin seketika menghentikan kegiatan mereka, hampir semua yang ada di kantin menatap kami seakan ada drama dadakan yang tidak boleh mereka lewati.


"Mau gue, mau gue apa yah?!" tanyanya bermonolog sendiri.


Laki-laki yang ada dihadapanku ini sangatlah handal dalam membuat lawan bicaranya naik darah, aku mengabaikannya dan memilih meninggalkan mereka tapi lagi-lagi dia menahan lenganku, beruntung aku memakai seragam panjang jadi lengannya tidak saling bersautan dengan lenganku.


Aku terus berusaha untuk bisa lepas dari cengkramannya namun laki-laki itu tidak melepaskan lenganku justru malah semakin erat dalam mencengkeram lenganku.


"Lepas!!" tekanku, laki-laki itu bukannya melepas tapi malah tersenyum miring.


"Kalau gue nggak mau. Gimana?!" tanyanya.


"Lepasin gue!!" raungku.


"Gue bilang nggak mau ya nggak mau.." rengeknya, jika boleh aku ingin memukulnya.


"Lepasin dia..!" suaranya begitu berat seakan menahan amarah yang menumpuk didalam dirinya.


Aku membalikkan badanku kebelakang dan terlihatlah Kak Rido, kak Erik, Putri dan Amel yang mungkin baru saja tiba.


"Heh.. Nama lo Aiden kan?! Lu tuh kenapa si ganggu dia?! orang udah minta maaf juga" ujar Putri.


"Lo suka ya ama si Zahwa?!" celetuk Amel, dia tuh kalau ngomong blak-blakan banget yah pikirku.


"Kalau iya kenapa?!" tanya Aiden.


Seakan ada petir yang menyambarku aku tidak pernah menyangka dengan apa yang laki-laki itu katakan, dengan cepat aku menghempaskan tangannya yang mencengkramku, aku tidak berani menatapnya yang kulakukan hanya menundukkan kepalaku.


Mirisnya semua yang ada di kantin mulai berbisik-bisik dan tidak sedikit dari mereka membicarakan yang tidak-tidak tentangku.


"Hey... Kenapa nunduk?! Okeh, mulai sekarang lo jadi pacar gue, yah.." ujar Aiden.


Tiba-tiba Kak Rido maju dan mencengkram kerah seragamnya Aiden bahkan menatapnya dengan tajam, dari tatapannya terlihat jelas saat ini kemarahannya telah mencapai maksimal refleks kak Erik pun mencoba menenangkan Kak Rido.


"Apa maksud lo hah?!" teriak Kak Rido.


"Kenapa jadi lo yang sewot?! dia kan bukan pacar ataupun istri lo. Gue kan udah pernah bilang JANGAN. IKUT. CAMPUR. URUSAN. GUA!" jedanya sekilas.


"Lo masih ingatkan?!" tekan Aiden menatap lawan bicaranya dengan tatapan licik.


"Lagian. Gue cuma ngajak dia buat pacaran. Nggak lebih" tandasnya.


"Bro.. Udah bro jangan diladenin lagian Zahwanya juga cuma diem-diem ajah! nggak ngeladenin ni orang. Udah biarin takutnya ada guru BK!" bisik Erik.


Kak rido pun melepaskan kerah Aiden dan dengan sedikit mendorongnya, sedangkan matanya masih menatap Aiden dengan tatapan membunuh.


"Hng... Menarik juga lo. Okeh... Gue tanding lo main basket!" tantang Aiden.


"Kalo lo menang. Gue nggak bakalan ganggu dia lagi, tapi kalo lo yang kalah" jedanya sekilas


"Dia!" ujar Aiden sambil menunjukku.


"Mau nggak mau harus jadi pacar gue. Jadi gimana?! Lo mau kan" tanyanya dengan tatapan yang mengejek, cukup lama Kak Rido terdiam lalu sesuatu pun terjadi.


"Gue setuju!" jawab Kak Rido dengan mantap.


Seketika aku mematung ditempat mataku terbelalak menatap Kak Rido yang ada dihadapanku, dari wajahnya terlihat jelas ada keseriuan didalamnya dan bukan hanya aku yang kaget bahkan Putri, Amel dan kak Erik menatap Kak Rido dengan tatapan tidak percaya.


"Jadi maksud kalian aku ini barang?!" tanyaku dengan nada tertahan, bayangkan saja aku dijadikan barang taruhan disini seakan-akan aku adalah barang bagi mereka.


"Zahwa..."


"Yah... Lo barang!" tiba-tiba Aiden menyela ucapan Kak Rido lalu Aiden kembali melirik kearah kak Rido.


"Okeh... Pulang sekolah nanti gue tunggu lo dilapangan basket!" ujar Aiden sambil menunjuk didepan wajah Ka Rido.


Lalu Aiden dan CS-nya pergi meninggalkan kantin menyisakan surakan dari setiap penghuni kantin, lalu tiba-tiba ada yang merangkulku dari belakang aku pun tersentak dan ternyata itu adalah Putri, dia menatapku dengan tatapan sendu.


"Wa.. Istirahat dulu yuk!" ajaknya lalu mengajakku untuk duduk dibangku tempat kami.


"Nih minum!"  titah Amel sambil memberikan segelas jus mangga awalnya aku menolak tapi dia memaksaku untuk meminumnya, aku menyedotnya satu kali dan pandanganku berubah kosong sedangkan pikiranku terus menayangkan tragedi yang baru saja terjadi.


..._o0o_...


Ting..


Tong..


Ting..


Tong...


Suara bel menandakan bahwa semua sudah diperbolehkan untuk pulang.


"Adik-adik besok adalah hari terakhir MPLS jadi tetap semangat sekolahnya ya! sekian dari kami Assalamualaikum warohmatullohi wabarokattuh" ujar ketua osis.


"Waalaikummussalam warohmatullohi wabarokattuh"


Lalu ketua osis dan anggota-anggota osis yang ada dikelasku pun berhambur keluar kelas.


"Wa... Lo nggak papa?!" tanya putri.


"Hem..." jawabku dengan nada lirih.


"Udahlah tenang ajah lagian si Rido pasti menanglah gue yakin!" celetuk Amel.


"Wa... Positif thinking aja yah" lirih Putri lalu memelukku dari samping.


"Yuk!, pulang!" ajaknya.


Lalu kami pun keluar dari kelas dengan beriringan dan kedua telapak tanganku rasanya sangat dingin.


"Hey cantik! Tungguin dong" teriak seseorang dari arah belakang.


Aku semakin mempercepat langkahku hingga Putri dan Amel pun sedikit tertinggal di belakangku, lalu ada yang berlari dari arah belakang dan aku pun semakin mempercepat langkahku sambil menunduk.


Lalu tiba-tiba Aiden ada di depanku untungnya aku segera menghentikan langkahku namun naasnya tubuhku terdorong kedepan karena ulahku yang berhenti tiba-tiba, sedangkan yang didepanku seakan sudah tahu apa yang akan terjadi dia pun merentangkan tangannya lebar-lebar.


Aku menjerit dalam hati kenapa aku harus bertemu dengan laki-laki sepertinya? aku menutup mataku tapi aku tidak merasakan apa-apa.


Tubuhku rasanya tidak mengenai apapun dan saat aku membuka mataku aku terbelalak karena aku tidak mengenai dadanya Aiden, malah hanya menyisakan satu jengkal saja maka aku akan mengenai dada bidangnya.


Aku merakan seperti ada yang menahan tasku dari belakang mungkin agar aku tidak jatuh kedalam jebakannya Aiden, lalu seseorang yang menahan tasku itu menarikku kebelakang.


Entah kenapa aku merasa lega ketika melihat kak Rido yang menyelamatkanku, dengan cepat aku mengucap syukur dan beristighfar dalam hati.


"Kok lo tahan si. niat gue baik biar dia nggak jatoh ke lantai! dari pada jatoh ke lantai mending ke pelukan gue" ujar Aiden.


"Diem lo!" ujar Kak Rido sambil menariktasku dan melindungiku ke belakangnya.


"Okeh, okeh kita kelapangan basket sekarang!" titah Aiden, dan Kak Rido pun mengekorinya dari belakang.


..._o0o_...


Panasnya mentari seakan tidak memudarkan keinginan untuk bertanding dari kedua belah pihak, mereka telah bersiap di posisi masing-masing dan ada seseorang yang membawa bola basket di tangannya lalu berdiri di tengah lapangan basket dengan kak Rido diselah kanannya dan Aiden disebelah kirinya.


Prit...

__ADS_1


Suara peluit pun terdengar begitu nyaring ditelinga lalu bola basket itu diterbangkan keatas, Kak Rido dan Aiden meloncat setinggi-tingginya untuk menangkap bola basket itu.


Dan akhirnya Kak Rido-lah yang berhasil menangkap bola basket itu lalu memantul-mantulkan bola itu ke tanah dan menuju ring basket yang dijaga oleh Aiden, lalu akhirnya kak Rido berhasil memasukkan bola dan mendapatkan poin.


Karena tidak ingin kalah Aiden pun mengambil bola basket itu, sambil memantul-mantulkan bola dan menggiringnya menuju ring basket yang dijaga oleh kak Rido dan akhirnya Aiden pun mendapatkan poin. Kejadian saling berebut dan saling memasukkan bola untuk mendapatkan poin terus terjadi.


Pada akhirnya....


Kak Rido memenangkan taruhan itu, tapi.. Ada sedikit kekacaun disini Aiden yang tidak terima bahwa dia kalah.


Secara membabi buta memukul wajah kak Rido dan tentu saja aku, Putri, Amel, dan kak Erik menghampiri mereka dan memisahkan mereka.


"Lo pasti main curangkan, ngaku lo!" sewot Aiden.


"Heh! lo kan udah kalah. Yaudah kalah ajah kenapa lo jadi sewot si!" Teriak Putri sambil membopong badan Kak Rido.


"Diem lo! nggak usah ikut campur!" teriak Aiden.


"Dan lo. Intinya lo jadi pacar gue! nggak ada penolakan!" teriak Aiden padaku sambil menunjukkan telunjuknya kearahku.


Hal yang dilakukannya berhasil membuatku mengingat kebiasaan papah dan mamah dulu, dan yah.. Sesuatu pun terjadi.


Nafasku memburu dan dadaku naik turun, aku tidak bisa menahannya lagi.


"Lo nunjuk gue?! lo berani nunjuk gue. Asal lo tahu aja gue nggak suka sama lo dan gue nggak terima ajakan biadab lo! lo laki-laki yang nggak tahu malu! lo kira gue bakalan mau sama ajakan lo?!" jedaku sekilas.


"Nggak! dan nggak akan pernah mau sekalipun lo itu laki-laki satu-satunya didunia ini" aku menatapnya dengan sengit.


"Dengar! gue bukan cewek yang seperti lo duga sekarang juga gue minta. Enyah lo dari sini!" bentakku sambil mendorong tubuhnya, Putri yang sedang membopong Kak Rido langsung melepaskan rangkulannya karena melihat sikapku seperti orang lain.


"Wa! udah Wa. Istighfar" ujarnya sambil mengelus-ngelus bahuku.


"Kenapa lo masih disini? Pergi nggak?! Gue bilang pergi ya pergi!"


Karena melihat Aiden yang tidak menuruti kemauanku akhirnya aku pun melempar Aiden dengan bola basket yang ada disampingku, bahkan aku melemparkan bola itu ke arah kepalanya.


Dugh...


Bola basket itu mengenai dahinya Aiden terhuyung kebelakang dan bahkan dahinya sedikit mengeluarkan darah, semua tampak terkejut dengan sikapku.


"Ish.." ringisnya sambil memegang kepalanya yang mengeluarkan sedikit darah.


"Kenapa? sakit yah. Mau nambah, boleh!" aku mengangkat bola basket itu setinggi-tingginya.


"Udah Wa!" teriak Putri sambil memeluk ku dari belakang.


"Mel bantu gue!"


Amel menghampiriku lalu mengambil bola basket yang ada digenggamanku dan mengamankannya.


"Lepas!!" raungku sambil berusaha untuk lepas dari pelukan Putri.


"Aiden!! mending lo pergi dari sini!" teriak Putri, mendengar itu Aiden pun lari terbirit-birit dengan kedua temannya, sedangkan aku terus memberontak dan terus berusaha untuk melepaskan diriku dari pelukan Putri.


"Mel lo jangan diem ajah! bantuin gue!" teriak putri.


"Iyah tapi bantuin kayak gimana?! gue juga bingung!" jerit Amel.


"Non Zahwa?!" panggil seseorang semua memperhatikan laki-laki paruh baya yang ada dibelakang kami.


"Pak! bapak itu yang jadi supir pribadinya Zahwa kan" tanya Amel.


"Iya, benar. Neng tahan terus non Zahwanya yah..." ujar mang ujang, lalu berbalik dan pergi dengan berlari.


"Aduh... Kok malah ditinggalin si! ini gimana jadinya" jerit Putri.


"Iya.. Sabar dulu Put!" ujar Amel.


"Sabar-sabar lo nggak tahu aja gimana rasanya jadi gue!" teriak Putri histeris.


Beberapa menit kemudian mang Ujang datang dengan membawa suntikan ditangannya.


"Mang itu buat apa? Jangan bilang itu buat saya!" teriak Putri.


"Neng tenang ajah pegang terus Non Zahwa nya!" ujar Mang Ujang.


"Non... Tenang non, tenang!" tekan Mang Ujang.


"Gimana aku bisa tenang mang! laki-laki itu nunjuk-nunjuk Zahwa!" raungku.


"Iya Mang tahu.. Tapi Non harus tenang dulu," bujuk Mang Ujang.


Aku tidak mendengarkan apa yang dipinta oleh Mang Ujang, justru aku malah semakin memberontak.


"Pak gimana nih?!" tanya putri.


Mang ujang tampak kebingungan dia juga tidak tahu apa yang harus dia lakukan.


"Neng yang bawa bola kesini!" titah Mang Ujang.


"Saya..?!" tanya Amel sambil menunjuk dirinya sendiri.


"Iya.. Kamu kesini!" titahnya, Amel pun menghampiri mang Ujang.


"Kamu tolong suntik non Zahwa pakek ini soalnya mang nggak berani. Biasanya suka Non Zahwa yang ngelakuinnya sendiri untuk sekarang ini kayaknya nggak bisa. Non Zahwa nya nggak bisa diajak kompromi" titah Mang Ujang.


"Hah..?!! ng-nggak. saya nggak berani mang!"


"Neng cuma harus nyuntikin doang kalau nggak, non Zahwa bakalan terus kayak gini" ujar mang Ujang, Amel pun tampak ragu mengambil suntikan itu dan menimbang-nimbang.


"Put ba-bawa Zahwa kesana!"


Dengan keadaanku yang masih memberontak Putri dan Amel pun menyeretku serta menjauhkanku dari jangkauan mang Ujang, Erik, dan kak Rido.


"Zah! lo jangan marah ama gue yah" pinta Amel.


Lalu amel sedikit membuka kancing seragamku dan membukanya dengan sedikit lebar, setelah itu dia memegang bahuku.


"Lo jadi dokter dadakan" ejek Putri.


"Diem lo! lo nggak tahu rasanya jadi gue gimana rasanya" teriak Amel lalu mulai menyuntikkan suntikan itu.


"Ish... Sakit" cicitku, jujur saja meski aku sudah terbiasa tapi tetap saja rasa sakit karena jarum suntikan itu masih dapat kurasa.


Setelah menyuntikku Amel lalu mengancing kembali baju seragamku dan merapikan kembali jilbabku.


Beberapa menit kemudian aku mulai tenang lalu Putri melepaskan pelukannya. Amel dan Putri bernafas lega karena melihatku yang mulai kembali tenang.


Rasa kantuk mulai menjalar didalam diriku tapi aku menahannya sekuat tenaga untuk bisa tetap sadar, didalam hati aku terus beristighfar.


"Wa, kamu nggak papa?!" tanya Putri.


Hening...


Aku tidak menjawab pertanyaannya, aku masih bergelayut dengan pikiranku sendiri.


"Gimana non Zahwa?!" tanya Mang Ujang.


"Udah mang, Zahwa nya sudah tenang" jawab Putri.


"Alhamdulillah. Non pulang yuk!" ajak Mang Ujang.


Tanpa ba-bi-bu, aku menurut dengan ajakan Mang Ujang meninggalkan Putri dan Amel yang mungkin masih bergelayut dengan pemikiran mereka masing-masing.


Saat membuka mobil aku langsung membaringkan diriku dan suasana gelap mulai menghampiriku, lelah... Hanya itu yang kurasakan.


Inilah hal yang paling aku benci, dikala emosi mulai meluap didalam diriku maka aku akan menjadi seperti orang lain.


bersambung....


^^^5 Maret 2022^^^

__ADS_1


^^^Wida pitriyani^^^


Ingat, habis baca like ya 🙃


__ADS_2