Story In July ( End )

Story In July ( End )
Hari ke - 5


__ADS_3

'Triingg' Suara yang terdengar begitu keras dan nyaring menggorek masuk kedalam gendang telingaku, itu adalah suara jam alarm dari handphoneku yang berdering beberapa kali. Perlahan tanganku meraba-raba ke sebelah sisi kiriku dengan mata yang masih terpejam.


Pada akhirnya tanganku telah menemukan apa yang aku cari dengan segera aku pun mematikan alarm yang ada dihandphoneku. Dengan malas aku mencoba bangun dari tidur lelapku bahkan berulang kali aku mengucek-ngucek kedua mataku.


Dengan langkah yang gontai aku berjalan ke kamar mandi untuk melaksanakan kewajibanku, yang lebih tepatnya melaksanakan solat subuh.


Setelah melaksanakan solat subuh aku pun bertadarus al-qur'an, lalu beberapa menit kemudian terdengar suara seseorang yang mengetuk pintu kamarku dari luar.


"Masuk." ucapku, lalu aku kembali melanjutkan tadarusku.


Lalu sang pelaku pun membuka pintu dan terlihatlah mamahku dengan memakai baju rapi dan juga rambut yang ditata dengan rapi.


Beliau jika akan bepergian tidak pernah memakai hijab meski aku sudah berusaha untuk menegurnya, tapi jawaban mamah tetap sama, yaitu gerah.


Jujur saja aku cukup kecewa dengan apa yang ia katakan namun aku tidak pernah memaksanya lagi, yang terpenting aku sudah memberitahunya.


Dan sekarang aku mulai menduga bahwa mamah mungkin akan pergi, mamah berjalan menghampiri ranjangku lalu duduk disisi ranjangku.


"Sayang, ada yang mau mamah bicarakan sama kamu" Ujar mamah.


Aku menghentikan kegiatanku dan menyimpan kembali al-qur'an ketempatnya lalu melepaskan mukenaku serta melipatnya, setelah itu aku menghampiri mamah dan duduk didekatnya.


"Ada apa?" tanyaku to the point dengan mimik wajah yang tanpa ekpresi.


"Eum... Itu, mamah---" ujar mamah dengan terbata-bata sambil melirik ke bawah.


"Mau pergi" selaku.


Tiba-tiba mamah terperanjat karena kaget seolah-seolah seperti seseorang yang tercyduk mencuri sesuatu, kemudian sikap mamah berubah menjadi gelagapan dan juga terlihat panik.


"Ma-Mamah disana nggak lama kok, cuma 3 hari. Katanya ada masalah dikantor papah yang di Jakarta terus mamah juga 'kan akhir-akhir ini udah lama kan nggak ngecek salon mamah" jedanya sekilas, dengan mata yang tidak melirik kearahku sama sekali justru ia malah sibuk *******-***** pergelangan tangannya.


"Jadi mamah juga mau sekalian ngecek toko salon mamah yang ada disana. Tapi..! Kalau kamu mau ikut juga boleh kok, nanti mamah sama papah usahain buat pulang cepet" jelas mamah dengan kondisi yang sama.


Mamah mendongakkan wajahnya lalu menoleh kearahku, mamah memandang mataku lekat-lekat lalu 2 detik kemudian aku memalingkan wajahku ke depan sambil sedikit membuang nafas kasar.


"Enggak. Aku mau tetap disini!" tolakku.


"Tapi disini kamu mungkin sendirian Wawa" tiba-tiba terdengar suara berat namun sedikit serak daei arah ambang pintu, dan itu adalah suara papahku yang entah sejak kapan ada disana.


"Iya aku tahu. Dan itu kan udah biasa. Jadi kalian nggak perlu khawatir, lagian disini juga kan ada mbok yang selalu jaga aku dari sejak kecil bahkan sampai sekarang" Jawabku.


Dari ekor mataku aku melihat mamah dan papa saling memandang, lalu mereka menghembuskan nafas yang berat secara bersamaan.


"Sayang..." panggil mamah, lalu memegang kedua telapak tanganku.


"Apa kamu masih marah? Please... Forgive all our mistakes when we used to love" jedanya sekilas.


"Kami tahu kami salah, tapi kami sekarang kan sudah berusaha untuk berubah sayang. Kami mohon jangan siksa kami dengan sikap kamu yang seperti ini" lagi-lagi mamah memberikan jeda terhadap perkataannya, lalu menarik nafas sedalam-dalamnya dan menghembuskannya dengan perlahan.


"Iya kami memang memakluminya. Tapi.. Mau sampai kapan kamu terus kayak gini?" lirih mamah sambil memandangku dengan mata yang berkaca-kaca.


"Mamah kamu benar Wawa" sela papah, lalu berjalan menghampiri kami berdua kemudian mendudukkan bokongnya disamping kiriku dan jadilah aku berada di tengah-tengah mereka.


"Jujur dari dulu, papah selalu perhatiin kamu. Dan papah mulai berpikir apa mungkin kamu terbebani?" ucap papah.


"Iyah pah" selaku.


"Aku sangat terbebani. Bukan hanya terbebani, bahkan aku lebih merasa bahwa aku hidup didalam neraka" ujarku sinis, lalu seketika papah dan mamah melirik kearahku dengan tatapan tidak bisa aku baca.


Setelah mengatakan itu aku pun tersenyum miris "Rasanya lucu yah, kenapa papah malah diam saja? Dan kenapa aku harus bertindak kasar dulu baru kalian berdua sadar"


Dengan kasar aku berdiri dari tempat dudukku aku kembali mencoba untuk mengontrol setiap emosi yang menjalar didalam diriku, kedua mataku menumpukkan sebuah cairan bening dan aku berusaha untuk menahannya yang jika tidak aku tahan mungkin akan jatuh dengan sendirinya.


"Dan lagi, aku sama sekali tidak membenci kalian aku hanya membutuhkan waktu untuk sendiri. Itu saja. Memangnya salah?" kenyataannya aku selalu berbohong tentang apa perasaanku yang sebenarnya. Karena menurutku untuk apa aku mengatakannya bukankah mereka seharusnya sudah tahu apa yang aku inginkan.

__ADS_1


Lagi-lagi aku mendengar helaan nafas berat mereka seolah-seolah mereka berusaha untuk menghilangkan setiap beban yang menumpuk dipundak mereka.


"Ya sudah kalau begitu, kami mau kembali ke kamar kami lagi. Ada beberapa hal yang belum kami siapkan" pamit papah, mendengar pernyataan itu aku menoleh ke arah papah.


"Sekarang?" tanyaku, papah menggangguk dengan perlahan dengan sedikit ragu-ragu


"Jam berapa? " tanyaku.


"Jam 07 Pagi" jawab papah seolah mengerti dengan pertanyaanku.


Setelah itu mamah dan papah melenggang pergi dari kamarku dan sebelum keluar, papah sempat menepuk pundakku dua kali lalu kembali melanjutkan langkahnya dan menutup pintu kamarku.


Aku meringkuk dengan lemas dilantai dan menenggelamkan kepalaku diatas lipatan tanganku, aku merasakan sebuah sensasi ruangan yang sepi bahkan sedikit mencekam. Namun tak apa karena aku sudah terbiasa.


..._o0o_...


"Sayang, nanti pas mamah sama papah pergi, kamu jangan lupa minum obat" amanat mamah sambil mengoleskan roti dengan selai rasa coklat dan menyimpannya dipiring yang ada dihadapan papah.


"Hen..." jawabku sambil mengaduk-aduk nasi goreng yang ada dihadapanku.


"Wawa ingat yah, kamu juga harus jaga pola makan. Ingat makan yang teratur, jangan pas diingatin makan, baru kamu makan..!" amanat papah sambil menyeruput kopi hitamnya lalu menggigit roti yang sudah disiapkan oleh mamah.


"Hen..." jawabku masih dengan posisi dan kegiatan yang sama.


"Terus, nanti kalau ada apa-apa telepon papah atau mamah" timpal mamah.


"Hen..." jawabku masih dengan tetap di posisi yang sama.


"Kamu dengar tidak?!" teriak mamah dan papah bersamaan.


Aku pun terperanjat karena kaget dan lalu karena refleks aku pun menutup kedua telingaku, bahkan sendok yang kupegang pun terlempar kebelakang.


"Iyaa, iyaa! Dengar" jawabku.


Aku menghela nafas kasar dan turun dari kursiku, lalu mengambil kembali sendok yang tidak sengaja kulempar tadi.


"Hey mau ngapain itu? jangan dipake sendoknya udah kotor, simpan aja tuh di wastapel biar nanti sama mbok di cuci" titah mamah.


Aku memutar mataku jengah lalu aku menyimpan sendok itu diwastapel dan mengambil sendok yang baru setelah itu aku kembali ke tempat dudukku semula.


"Wawa, kamu yakin nggak mau ikut?!" tanya papah yang ada di samping kiriku.


"Nggak" jawabku yang masih kukuh dengan pendirianku, namun kali ini aku menjawab pertanyaan dari lawan bicara sambil memandang wajahnya namun dengan mimik wajah tanpa ekpresi.


Aku sedikit tertegun karena melihat wajahnya yang tersenyum namun manik matanya yang berkata lain, sepintas aku melihat ada raut rasa khawatir dan rasa bersalah yang berpadu menjadi satu.Namun aku langsung kembali memasang wajah yang biasa saja, seakan tidak mengetahui apapun.


"Sayang! Cepat habisin sarapannya terus diminum obatnya" titah mamah.


Aku memasukkan nasi gorengku kedalam mulutku, dan beberapa menit kemudian akhirnya aku mampu menghabiskannya.


Lalu aku meminum obat yang setiap harinya harus selalu rutin ku minum, sesekali mataku berdenyut-denyut karena menahan rasa pahit dari obat itu.


"Kenapa Wawa? Pahit yah, ya jelas lah pahit namanya juga obat. Kalau yang manis itu kan cuma papah!" jeda papah sekilas.


"Gwanteng lagi!" lanjut papah dengan bangganya.


"Hem... Ngakunya aja manis dan gwanteng padahal udah beberapa kali ditinggal nikah.. Ups!" sela mamah sambil menutup mulut dan juga menahan tawa.


Aku sedikit tertarik dengan apa yang mamah katakan dan juga aku pun cukup terkejut, bahkan saking terkejutnya mulutku membentuk huruf O dengan mata yang membulat.


"Hah..?" beoku yang tanpa aku sadari, mamah dan papah melirikku secara bersamaan seketika wajah mamah sedikit sumringah aku ulangi sedikit.


"Benar sayang, mamah nggak bohong! Mamah tahu ini dari nenek kamu katanya waktu papah kamu masih muda, jauh pas papah kamu itu belum nikah sama mamah papah kamu ini katanya sering ditinggal nikah" jeda mamah sekilas.


"Dengar-dengar kabarnya sih mereka milih laki-laki lain yang lebih... Ekhem. GWANTENG DARI PAPAH" tekan mamah sambil menatap sinis kearah papah.

__ADS_1


"Apaan si mah? Cerita kuno nggak perlu diungkit!!" geram papah dengan wajah yang memerah, mungkin papah menahan rasa malunya pikirku.


Mamah yang melihat ekspresi papah tertawa terbahak-bahak bahkan suaranya menggema keseluruh ruangan dapur.


Hatiku tiba-tiba rasanya berdesir, ada rasa hangat disana bahkan jantungku agak berdetak cukup hebat, kemudian aku memegang dadaku dan ternyata benar detakan jantungku itu bahkan terasa oleh telapak tanganku.


"Wawa! Kamu kenapa?" tanya papah panik, seperkian detiknya aku langsung menggelengkan kepalaku, lalu papah memasang raut wajah curiga ke arahku.


Tidak lama kemudian suara nyaring terdengar nyaring dan begitu jelas dari arah jam tangan papah.


"Udah pukul 07.00, yaudah mah yuk..!" ajak papah, aku pun mengantar papah dan mamah hingga didepan pintu rumah.


"Sayang mamah berangkat dulu yah. Ingat pesan mamah yah" ucap mamah sambil mengulurkan tangannya dan aku menyambut tangan mamah lalu menciumnya.


"Wawa, papah berangkat dulu yah. ingat! PESAN PAPAH TADI" tekan papah dengan mata yang melototi.


"Jangan melotot nanti matanya jatuh" sindirku tanpa ekpresi.


"Yah.. Kalau jatuh tinggal pasang lagi kan..?!" ucap papah, aku hanya menatap papah dengan datar.


Lalu papah juga melakukan hal yang sama seperti mamah yaitu mengulurkan tangannya agar aku menciumnya, disaat aku sudah mencium tangan kekarnya tiba-tiba saja papah menarik tengkuk kepalaku dan sesuatu pun terjadi.


'Cup' sebuah kecupa singkat mendarat didahiku dan seketika nafasku rasanya berhenti, tubuhku tiba-tiba saja mematung serta jantungku rasanya semakin berdetak, bahkan wajahku rasanya sangat panas.


Namun ada rasa senang didalam diriku dikala papah melakukannya.


"Loh... Aku kenapa?" pikirku.


"Wawa kamu kenapa? Cie blush yah?!" goda papah dengan sumringah, lalu tertawa terbahak-bahak.


"N-ngaakk!!" pekikku dengan suara yang seperti tercekik seperkian detiknya aku memegang leherku dan berdehem beberapa kali.


"Sayang kamu blush yah?! Anak mamah manis juga yah ternyata" goda mamah, mendengar itu aku pun berdecak kesal


"Apaan si? Orang aku jawab enggak" elakku.


"Iyah deh iyah, mana ada maling ngaku" sindir papah.


"Dih... Yang maling siapa yang jadi korban siapa" sindirku, yang tidak mau kalahnya dan dengan memasang wajah yang datar.


"Ya biarinlah 'kan papah yang ngelakuinnya BUKAN LAKI-LAKI LAIN!!" tekan papah, lagi-lagi aku hanya menatap papah datar kenapa malah jadi kesana, pikirku.


"Udah-udah, yuk pah! keburu kesiangan nih" ajak mamah.


"Yaudah.. Assalamualaikum princees" ujar papah sambil mengelus-elus pucuk kepalaku, lalu menghampiri mobilnya dan masuk kedalam bersamaan dengan mamahku.


Aku berlari keluar pagar memperharikan mobil itu yang melaju dengan kecepatan rata-rata, aku terus memperhatikannya hingga tidak lagi terlihat oleh kedua mataku.


Tiba-tiba sebuah cairan bening jatuh dengan sendirinya, dengan segera aku mengusap salah satu mataku dan memperhatikan tanganku yang sudah mengusap tadi.


"Kenapa aku nangis?" lirihku, lalu aku mengepalkan tanganku yang sudah mengusap tadi.


Semua perasaan yang terjadi saat itu sungguh begitu semu, disisi lain aku ingin terus seperti ini namun disisi lain juga rasa kebencianku terhadap mereka terlalu besar sehingga aku tidak pernah peduli terhadap mereka.


Dan aku tidak tahu...


Bahwa moment itu adalah moment yang terakhir bagiku saat bersama mereka.


Bersambung...


^^^21 Februari 2022^^^


^^^Wida pitriyani^^^


Jangan lupa like ๐Ÿ™‚๐ŸŒป

__ADS_1


__ADS_2