
Keesokan hari nya dirumah Pramana semua pengawal berkumpul memberi laporan begitu juga dengan Fahri yang siap untuk mendapat kan hukuman karena tidak bisa menjaga Zoya.
"Maaf Tuan Saya tidak becus menjaga Nona" Ucap Fahri yang wajah pucat karena takut dan cemas dengan kondisi Nona nya
Dia sudah berusaha mencari Zoya dari melacak Ponsel nya yang ternyata di tinggalkan Zoya di Apartement dan mobil yang terpakir di dekat Pemakaman.Hanya Rayyan satu-satunya kunci, karena saat melihat di CCTV kalau Rayyan telah bertemu dengan Zoya. Entah apa yang mereka bicarakan sehingga membuat Zoya pergi begitu saja meninggal mobil nya.
"Fahri....." suara bariton itu membuat nya merinding, baru kali ia melihat Tuan nya marah lagi seperti ini jika menyangkut Zoya. Dia melirik Ayah nya yang sedang menata berbagai Dokumen perusahaan Pramana CORP
"Cepat kamu cari anakku, cari semua informasi nya dan jangan kembali sebelum mendapatkan nya" Ucap Aditya dengan Rahang mengeras menahan emosi nya Fahripun terkesiap dan mengangguk dengan patuh lalu pamit pergi menuju mobil nya dan mengendarai nya
"Sekarang hanya Rayyan satu-satunya kunci" Ucap Fahri bercara sendiri dan memutar arah mobil nya menuju Kantor Rayyan Group
*****
Di kantor Rayyan sudah uring uringan di ruangan nya karena semua data yang Ia butuhkan sekarang itu ada di Manager nya sedangkan Zoya saja sudah beberapa hari tidak masuk kantor entah pergi kemana sampai melalaikan tugas nya.
"Cepat kamu hubungi dia Dinda, bisa kacau kalau data itu tidak cepat di selesaikan" Kata Rayyan dengan Tegas
"Tidak aktif Pak, mungkin dia sakit atau ...." Ucap Dinda yang masih berusaha menghubungi Zoya namun hasil nya tetap sama,nihil.
"Atau apa Dinda,......" sahut Rayyan gemas dengan rahangnya mengeras dan tiba-tiba saja pintu ruangan nya terbuka dengan kasar
BRAAKKKK
Rayyan dan Dinda terkesiap
"Kamu apakan Zoya , Rayyan. Sampai dia tidak pulang beberapa hari " Ucap Fahri menggelegar penuh amarah sedangkan Rayyan yang mendengarnya menaikkan satu alis nya
"Tidak pulang?" sahut Rayyan sambil melangkah mendekati Fahri dan Dinda yang yang berdiri di sebrang meja nya .Tidak percaya karena sebelum Zoya menghilangkan dia masih bertemu dan bahkan berdebat dengan nya
Dinda yang tampak bingung pun hanya menyimak saja.
"Iya kami sudah mencari ke semua tempat yang dia biasa singgahi tapi kita nggak menemukan nya" sahut Fahri frustasi
__ADS_1
"Kamu berubah drastis sekali Fahri semenjak mengenal Zoya , aku semakin tidak percaya kalau dia hanya saudara mu" Sahut Rayyan menyelidiki sambil mengamati setiap perilaku Fahri jika menyangkut Zoya
"Bukan kah kalian sepasang kekasih? " Celetuk Dinda memandang Fahri ,setau nya itu yang Dinda tau melihat dari kedekatan nya .Rayyan pun terkejut mendengar nya namun Fahri hanya diam dan Menatap dinda dengan expresi yang sulit di artikan
"Woww...., jadi ternyata kamu kekasih wanita pembunuh itu Ri?" sahut Rayyan Dengan seringaian nya mentap Fahri yang di tatap hanya menampilkan expetasi datar
"Itu bukan urusan mu, yang jelas apa yang kalian bicarakan ketika berada di makam itu sampai membuat Zoya pergi begitu saja" Sahut Fahri
"Saya hanya meminta dia untuk tidak datang ke Makam Nina ,Just it" Ucap Rayyan santai, Dinda terkejut apa yang di sampaikan bosnya dan memilih pamit undur diri untuk kembali bekerja. Meski banyak sekali pertanyaan yang bersarang dalam kepala nya tapi ia urungkan. Mungkin nanti dia akan menanyakannya langsung pada Zoya setelah situasi nya kondusif.
"Brengsek" sahut Fahri mencengkram kerah baju Rayyan
"Asal kamu tau, Tragedi itu hanya kecelakaan bukan karena Zoya. Kemarin saja ketika kamu menuduhnya wanita simpanan dan Pembunuh pun dia langsung jatuh sakit apalagi sekarang kamu melarang nya untuk tidak datang ke Makam Sahabat nya. Tau dari mana kalau dia pembunuh sedangkan semua bukti saja sulit untuk di temukan. Karena sudah di hilangkan dengan sengaja oleh orang lain" Rayyan terkesiap mendengar penjelasan Fahri, yang penuh emosi berbicara panjang lebar sambil melepaskan kerah baju nya dengan kasar. Dan memilih untuk pergi begitu saja. begitu keluar ruangan itu Fahri berpasan dengan Rendi di depan lift tanpa saling menyapa
Tidak lama Rendi pun datang melihat Rayyan yang tampak kacau.
"Hai Yan,tadi aku lihat Fahri di bawah. Kalian berantem lagi? " Ucap Rendi santai seraya duduk di Sofa di ruang kerja Rayyan dan Rayyan pun ikut bergabung.
"Begitu Lah" Sahut Rayyan singkat sambil melonggarkan dasi nya
"Dia bahkan tidak marah,aku sudah menjelaskan nya .
makanya aku kesini mau cerita aja kalau Zoya itu wanita baik baik" Sahut Rendi selaku teman dan Ipar nya
"Dari mana kamu tau kalau dia wanita baik baik " Ucap Rayyan menyipitkan mata nya tanda curiga
"Kamu lupa dengan pekerjaan ku, aku Psikolog dan dia Adalah pasien aku yang Pertama . dulu 5 tahun yang lalu dan sekarang kita baru ketemu kemaren pas di Yaz Cafe " sahut Rendi panjang lebar sambil tersenyum sedangkan Rayyan yang mendengarnya menegakkan duduknya
"Pasien?" tanya Rayyan, Rendi mengangguk mengiyakan
"Aku berharap kamu meminta maaf sama Zoya secepatnya. Aku khawatir sama kondisi nya yang sekarang melihat betapa Marahnya Fahri saat itu" Ucap Rendi sambil menepuk pundak Rayyan dan melenggang pergi
"Zoya , Zoya dan Zoyaa ..... siapa sih kamu sebenarnya kenapa semua orang tampak peduli dengan nya" Ucap Rayyan Frustasi dan heran
__ADS_1
" Gara-gara dia juga pekerjaan ku jadi terhambat" Celetuk Rayyan sambil melangkah mendekati meja nya dan melanjutkan pekerjaan nya.
Hingga sudah beberapa jam Rayyan berusaha fokus sampai melewatkan makan siang nya tapi tetap saja tidak bisa .Malah semakin penasaran dan semakin memikirkan Zoya
"Astaga apa apaan ini, kenapa wanita pembunuh itu selalu berputar di pikiran ku" Ucap Rayyan gemas sambil menutup map nya dengan kasar
Dan memutus kan untuk keluar menggunakan mobil Sport putih keluaran terbarunya untuk mencari Udara segar. Sampai di depan minimarket dia memutuskan berhenti untuk sekedar membeli minuman.
Ketika sedang membayar di kasir Rayyan melihat Ibu ibu yang kerepotan membawa belanjaan nya .
"Ibu sini biar saya bantu" Ucap Rayyan tanpa menoleh .
"Oh iya terimakasih Nak maaf merepotkan" Sahut nya.
Setelah mengambil satu kantong belanjaan ibu itu, Rayyan terkejut saat menatap wajah nya.
"Ibu....." Ucap Rayyan
"Iya ada apa ya Nak? " Tanya nya
"Aku Rayyan bu, Ibu nya Nina kan....." Sahut Rayyan sambil Tersenyum, Indah pun terkesiap ketika mendengar nama Rayyan dan tersenyum canggung
"Apa kabar bu, Lama tidak bertemu ...." Ucap Rayyan
"Alhamdulillah kabar ibu Baik, kamu sendiri bagaimana " sahut Indah dengan senyum canggung
"aku juga mungkin bisa di bilang baik. emm aku sudah mendengar kalau Nina sudah...." Ucap Rayyan menggantungkan namun Indah malah tersenyum lembut
"Iya, Sudah lama sekali Almarhumah mendahului Ibu, Tapi ibu sudah ikhlas ko .Kamu juga harus Ikhlas yah " Ucap Indah lembut sambil tersenyum Sedangkan hanya mengangguk dengan senyum tipis nya. Rayyan yang melihat nya merasa senang mendengar Jawaban Indah.
"Mari saya antar Bu" Ucap Rayyan
"Boleh, maaf jika merepotkan mu Nak Rayyan " kata Indah
__ADS_1
"Sama sekali tidak ko bu, Mari...." Sahut Rayyan mempersilahkan Indah masuk kemobil nya setelah meletakan barang belanjaan nya ke jok belakang.Mobil itu melaju dengan kecepatan sedang menuju Rumah Indah.
Tbc...