
Pada akhirnya tinggal lah mereka berdua di dalam ruangan UGD itu. Dinda merasa dirinya sangat canggung apalagi hanya bedua saja dengan lelaki tampan membuat nya panas dingin.Sesekali Dinda melirik Fahri yang sedang melakukan sambungan telepon dari ponselnya sambil tersenyum. Dengan perlahan Dinda bangkit dari ranjang pasien sembari melepaskan selang infus yang menempel di tangan nya.
Dinda duduk di kursi sembari memasang sepatu dengan hak 7 cm miliknya itu di kaki jenjang miliknya.
"Huuuffftt, ternyata begini rasanya jadi artis yah. Bersandiwara itu melelahkan... " gumam Dinda setelah sepatu hak tinggi itu terpasang di sebelah kaki nya
Fahri yang sedang melakukan panggilan itu segera menghentikan kegiatannya setelah mendengar gumaman Dinda meski terdengar pelan.Fahri Melangkah dan berdiri tepat di depan Dinda dan membantu Dinda memasang sepatu nya yang sebelahnya lagi.
Dinda terperanjat saat Fahri membantu memasangkan sepatu nya membuat Dentuman di dada nya semakin kencang.
Dinda menatap Fahri dengan senyum tipis, di perlakukan manis seperti ini bagaimana ia bisa tahan.
"Oh Tuhan, manis sekali dia memperlakukan wanita.aku semakin dibuat jatuh cinta ini mah" batin Dinda
"Kamu tidak salah, ke Makam dengan heels ini?" Ucap Fahri sambari berdiri begitu pun Dinda
"Emm? .... oh iya thanks. Hmmm kebetulan aku juga baru sadar kalau aku juga pake high heels setinggi ini dan memang tadi itu rencana dadakan" Terang Dinda dengan senyum simpul
"Sekali lagi terimakasih, Sudah menolong Nona. Dan sebagai tanda terima kasih ,saya akan mengantar kamu pulang .Mari ..." Ucap Fahri samberi melangkah keluar ruangan meninggalkan Dinda yang melongo. Tanpa ingin menolak nya Dinda pun mengikuti kemauan Fahri.
"Kapan lagi kan aku antar cowo tampan kaya dia, mimpi apa aku ini . Ah iya nampak nya aku pun harus berterima kasih kepada Zoya juga " Gumam Dinda dengan kekehan pelan
__ADS_1
Sepajang perjalan, tidak ada percakapan di dalam mobil. Hening itu yang di rasakan Dinda membuat nya semakin canggung begitu pun yang Fahri rasakan. Ia bingung harus memulai percakapan dan mencairkan suasana karena Ia pun baru mengenal Dinda. bertanya alamat rumah nya pun sudah saat masih di area parkiran Rumah Sakit,pikir Fahri. Begitu pun juga dengan Dinda dan lebih memilih menatap luar kaca jendela mobil dan bergelut dengan pikiran nya sendiri.
Dering ponsel memuat kedua nya tersentak ,beralih fokus dengan ponsel Fahri yang sedari tadi berbunyi di sisi kiri Fahri. Dinda melirik siapa yang menghubungi Fahri dan kening dinda berkerut saat tau nama yang tertera itu Nama "Nona Yaya" lalu beralih menatap Fahri.
Fahri pun segara menepikan mobilnya dan langsung mengangkat panggilan
"Halo , Nona ?" Ucap Fahri sambil menatap lurus ke depan
"Halo... Kamu sudah denger berita dari Helena? " Tanya Zoya
"Memang ada apa dengan Helena? apa masalah serius di perusahaan London. Aku belum chek Email masuk dari dia hari ini" Sahut Fahri.
Dinda yang tadinya fokus dengan ponsel nya langsung mendongak dan melirik Fahri sekias lalu kembali berkutat dengan ponsel nya. Memilih berbalas pesan dengan Mami nya,karena ini sudah waktu nya jam pulang kerja. Biasanya Dinda di jemput Mami nya kalau pulang kerja namun kali ini tidak karena mendapat tumpangan Gratis dari teman kantor , itu alasan saat ini . Tapi Dinda juga beruntung karena Hari ini dia juga tidak merepotkan Orang tersayang nya karena harus antar jemput dirinya. Bagaikan anak SD yang selalu di antar jemput Orangtua nya,Yah mau bagaimana lagi karena menjadi anak semata wayang akan selau di manja meski umur nya sudah semakin tua ,pikir Dinda.
"Bukan soal itu, Helena menerima tawaran kerja sama sedangkan kita sedang ada di sini. Mungkin jalan satu satu nya kita harus menjual saham kita kepada Axel yang notaben nya pemilik investor terbesar di perusahaan Ku. Karena aku akan menerima tawaran Papa membantu nya di Perusahaan dan Hotel" Kata Zoya sembari menghela nafas pelan
"Ok, Nanti kita bicarakan lagi masalah ini setelah aku sampai rumah Nona" sahut Fahri tidak lama sambungan terputus.
Fahri langsung menoleh ke samping kiri, begitu pun Dinda yang menampilkan senyum tipis nya
"Enggak apa apa ko,santai aja. Hmmm aku tau kamu mau meminta maaf karena membuat ku menunggu kan,tidak masalah aku sudah terbiasa akan hal itu saat bersama Mami" Ucap Dinda panjang lebar sembari tersenyum manis.
__ADS_1
Fahri menaikan satu alisnya mendengar ucapan Dinda dan tersenyum tipis. Fahri pun langsung menyalakan mesin mobil nya dan membelah kemacetan kota Jakarta yang akan memakan waktu yang cukup lama .
Sampai lah di rumah Dinda yang mininal namun terlihat sangat nyaman jika terlihat dari luar. Tanaman bunga yang bermacam macam ada pohon yang rindang sebagai pelengkap menandakan rumah ini memang menciptakan kesan yang hidup.Dengan Halaman rumah yang tidak terlalu luas namun terlihat segar karena di tumbuhi rerumputan yang rapi,apa itu istilah nya emm? oh iya seperti rumah Florist.
Sejuk,Itu lah kesan pertama yang di lihat Fahri ketika melihat rumah Dinda, Sama Hal nya ketika di rumah Keluarga Pramana.
Kedua nya keluar dari mobil di sambut hangat Mami nya Dinda yang sedang duduk sembari menikmati secangkar teh hangat di teras rumah.
"Akhirnya kamu pulang juga Nak, Mami khawatir loh sama kamu. Eh ini siapa Din? " Ucap Mami nya Dinda sembari bangkit dari duduknya lalu melirik ke arah Fahri dan langsung ditanggapi oleh Fahri dengan mengulurkan tangan nya sembari tersenyum tipis
"Saya....Emm teman Dinda tante" Ucap Fahri terbata bata. Ia bingung harus menjawab apa tapi dengan spontan menjawab teman ah nanti juga ia akan selalu membutuhkan bantuan nya untuk memantau Nona nya itu lah pikir nya saat ini.
Dengan senyum canggung nya.
Dinda yang melihat kecanggungan di antara kedua nya pun merasa risih. Harus nya dirinya yang memperkenalkan nya bukan ,duh bego sekali aku ini pikir Dinda
"Hmmm Udah Mi salaman nya betah amat "Ucap Dinda melirik Mami nya yang sedang bengong menatap Fahri dengan mulut terbuka. Dan beralih menatap Fahri dengan senyum canggung dan malu melihat tingkah Ibu nya seperti tidak pernah melihat orang tampan saja.
"Eh iya, Mau masuk dulu Nak Fahri. Kita makan malam dulu aja yuk pasti kamu laper habis nyetir mobil jauh jauh dengan kondisi jalanan yang macet iya kan Nak yuk" Ucap Mami nya Dinda sembari menarik lengan Fahri tanpa sungkan hingga ke dalam rumah Fahri yang belum sempat protes
Fahri Dan Dinda saling pandang . Dinda langsung menatap Mami nya dengan membelalak mata nya.
__ADS_1
Oh Astaga Mami ini kenapa ya.ko Agresif banget melebihi anak nya. Asal tarik tarik lagi masa aku harus bersaing sama Mami sendiri sih kan nggak lucu banget ini mah pikir Dinda sembari menggaruk kepala nya yang tidak gatal.