
Akhirnya sampai juga di ruang Operasi. Zoya,Aditya dan lainnya pun berhenti di depan pintu ruang Operasi.Tidak lama Edwin datang dengan nafas memburu. Tidak kuasa maenahan sesak di dada nya kala melihat ruang Operasi.
Zoya yang melihat kedatangan Edwin langsung berbalik dan mendatanginya dengan wajah pias dan mata memerah sembab.
"Om....." Ucap Zoya lirih sambil mengambil tangan Edwin untuk dia genggam dengan erat. Edwin menatap Zoya dengan wajah penuh rasa bersalah. Raut wajah yang beberapa tahun silam ia lihat dulu saat kecelakaan dengan sahabatnya kini kembali dengan korban yang berbeda yang tak lain adalah anaknya.
"Ma-maafin aku, A-aku...gara-gara aku Kak Fahri....Hiks..." Tidak kuasa Zoya menahan tangis akhirnya pecah juga hingga tidak bisa melanjutkan ucapan nya.
Edwin menatap Zoya menangis pun tidak kuasa menahan tangis yang sedari tadi ia tahan.
"Nona, ini adalah tugasnya untuk melindungi dan menjaga mu..." Ucap Edwin sembari tersenyum terpaksa untuk membuat Zoya lebih tenang. Namun siapa sangka, ucapan Edwin membuat Zoya semakin terisak. Tangisan Yang sedari tadi ia tahan akhir nya meluap dengan begitu mengebu gebu.Edwin kembali berucap "Bukan salah Nona, ini terjadi begitu saja"
Aditya tidak kuasa melihat Zoya menangis sesenggukan langsung meraih nya tubuh kecil itu dalam pelukan nya.
"Hiks..Hiks.. Pah, semua karena Yaya...ka-kalau tadi Fahri nggak menghalau peluru itu pasti... Hiks...." Ucap Zoya tersengal sengal
"SSsttt...Sweety listen to me (sayang dengarkan aku) Fahri akan baik baik saja. Percayalah " Ucap Aditya menenangkan sembari mengusap lembut rambut Zoya dengan sayang.
Rayyan masih, setia di situ dan mendengar semua yang mereka ucapkan termasuk kalimat kalimat yang terucap dari mulut Zoya. Rayyan mengabaikan pertanyaan yang sedari tadi bersarang di kepalanya pun terjawab satu persatu Rayyan mengamati semua interaksi yang di lihat, dan menyatukan kepingan puzzle yang selama ini ia cari.
Rayyan memilih menjauh dan menuju kantin rumah sakit.
Terlalu fokus dengan Fahri sampai sampai Zoya lupa akan kehadiran Rayyan di sekitar nya.
Perlahan tangisan Zoya pun mereda. Aditya menuntun Zoya untuk duduk di kursi tunggu bersama Edwin.
__ADS_1
Edwin seperti menatap nanar tembok rumah sakit. Pikirannya berkecambuk di kepala,membuat kepala nya terasa pening.
Edwin tahu, dan sangat mengerti bahwa kejadian seperti ini akan terjadi. Dan itu lah resiko yang harus ia tanggung jika bekerja dengan Aditya. Tapi tidak mbuatnya menyesal karena telah bekerja bersama dengan Aditya karena selama ini, Aditya selalu memperlakukan dirinya dan Fahri dengan baik selayaknya keluarga. Bukan waktu yang sebentar ia bekerja dengan Aditya, melainkan sudah hampir 20 tahun lamanya. Mungkin Fahri secara sadar melindungi Zoya sebagai adiknya yang sedang dalam bahaya. Karena itu lah tugasnya melindungi Zoya, pikir Edwin.
Tidak berbeda jauh dengan Zoya. Pikiran Zoya seolah berputar mengenai kecelakaan yang beberapa tahun yang lalu dan kejadian yang sekarang.
Zoya berfikir kalau ini semua memang salah nya, membuat orang disekitar nya menjadi celaka. Zoya semakin takut jika nanti hal itu terjadi lagi kepada orang orang di sayanginya. Dan secara Reflek Zoya menatap Aditya dengan wajah khawatir nya.
Aditya langsung menggenggam tangan Zoya, berusaha memberi kekuatan. Zoya tersenyum sembari masuk kedalam pelukan sang ayah,idak lama Zoya tertidur karena telalu lelah menangis
Salah satu yang sedari tadi berdiri tidak jauh dari kursi tunggu langsung pergi ke kantin untuk membeli beberapa minuman dan makanan.
Karna sudah hampir 2 jam menunggu ,pasti Tuan nya merasa haus. Apalagi Nona nya sedang tertidur karena kelelahan yang sedari awal menangis tak henti henti pasti akan merasa haus nanti ketika bangun Begitu pun Edwin.
Setelah hampir setengah jam, pengawal itu datang membawa beberapa minuman dan juga makanan langsung diserahkan kepada Tuan nya.
"Iya Terimakasih " Ucap Aditya lirih sembari tersenyum, sang pengawal pun mengangguk dan kembali ke tempat asal nya tadi.
Edwin masih setia menatap pintu ruangan Operasi yang masih tertutup dengan rasa khawatir.
"Minum dan makan dulu Ed, kamu harus isi tenaga supaya bisa menjaga Fahri nanti kamu tidak ikut sakit" Ucap Aditya sambil menepuk punggung Edwin pelan.
Edwin terkesiap dan langsung menatap Aditya dengan senyum tipis. Tidak lama Edwin pun mengangguk mengiyakan dan langsung meraih minuman yang di beli oleh pengawal tadi dan memakan burger dengan rasa yang entah kemana. Mungkin karena selera makan nya sudah hilang karena kalah dengan rasa khawatir nya. Tapi tetap saja dia terpaksa harus menelan yang ada di tangannya. Karena khawatir pun butuh tenaga .
Setelah semua nya habis tidak lama Pintu ruang Operasi terbuka tiba-tiba membuat Zoya yang sedang tidur pun berjengkit karena kaget .
__ADS_1
Ketiga langsung bangkit dan menghampiri perawat yang berdiri di ambang pintu
"Maaf, pasien kritis dan membutuh kan donor darah secepatnya. Karena stok darah golongan darah AB hanya beberapa kantong saja. " Celetuk suster perempuan itu membuat ketiganya dirundung rasa panik dan khawatir bersamaan
"Saya Dok, bisa" sahut Edwin mantap. Suster itu langsung mengarahkan Edwin untuk pengecekan di ruangan sebelah.
Zoya kembali terisak dan rasa bersalah nya semakin menjadi. Aditya dengan sabar menenangkan kan sang anak dengan berbagai penjelasan.
Di tempat lain, Rayyan yang sedang bereda di cafe dekat Rumah sakit pun ikut merasakan kekhawatiran.
"Bim, bagaimana dengan penyelidikan mu" tanya Rayyan kepada Asisten nya. Begitu Rayyan keluar dari rumah sakit , Rayyan langsung menghubungi Bima sang Asisten. Bima pun langsung meluncur ke lokasi Rayyan.
"Saya mendapatkan bukti, dari salah satu alumni yang pernah bersekolah dengan Zoya. ternyata nama lengkap Zoya itu Zoya Alifiana Pramana anak sulung dari Aditya Pramana pengusaha properti dan pemilik hotel dll,bisa di bilang termasuk orang terkaya di negara ini" Terang Bima. Kemudian Bima menyerahkan beberapa lembar foto . Dari foto bersama satu sekolah, 2 lembar foto saat berfoto berdua bersama teman perempuan, foto saat kuliah.
Rayyan mengambil 2 lembar foto yang berada di atas meja .
"Zoya bersama Valerie, dan Zoya bersama Nina dengan pangkat yang berbeda" Ucap Rayyan sambil menatap lembaran foto itu bergantian
"Iya ternyata Valerie dulu pernah berteman dengan Zoya saat di bangku Sekolah Menengah Pertama. Tidak lama Valerie pindah ke Singapura. Saat SMA baru lah Zoya berteman dengan Nina kekasih anda Bos" sahut Bima
Rayyan merangkai kepingan puzzle yang ia dapatkan tadi dengan berbagai koleksi bukti yang ia punya di dalam pikirannya.
Rayyan menyandarkan punggung nya sambil menyeringai. Bima yang melihat seringaian Bos nya ,bergidik ngeri.
Pasalnya Rayyan akan selalu ber expresi seperti itu jika akan melumpuhkan lawan bisnisnya jika ada yang berbuat curang dengannya.
__ADS_1
"Saatnya kita bermain main Bim...."
Tbc......