
Seorang wanita berpakaian kemeja putih dan celana jins biru, dengan topi hitam terpasang di kepalanya, tak lupa masker hitam menutupi sebagian wajahnya. Dia masuk ke dalam hotel, melangkah dengan tenang. Dia memasuki lift.
"Di kehidupan pertama ku, hotelnya bukan hotel ini, tapi, hotel X. Sepertinya benar dugaan ku, terjadi perubahan alur cerita, karena aku menyelamatkan Rara hidup," gumam Jena pelan.
Ponselnya kembali berdering, pesan misterius kembali masuk.
[Hotel V, kamar 309]
Jena mengepalkan tangan nya erat. Kalau memang sang suami kedapatan selingkuh, dia Kana merekam nya, lalu mengirimkan ke nomor sang ayah. Dia tidak sanggup lagi harus menunggu selingkuhan Jeno yang kedua, ketiga sampai ketujuh muncul. Cukup punya bukti dengan selingkuhan pertama, sudah membuat Jena sakit hati.
Jena keluar dari lift. Dia segera mencari nomor kamar 309. Setelah menemukan nya. Jena bingung bagaimana harus membuka pintu kamar hotel.
"Haduh, bagaimana caranya aku masuk," gumam Jena pelan.
Dia melihat seorang petugas kebersihan melewati lorong hotel. Dia segera menghentikan langkah wanita itu.
"Mbak, maaf! Boleh saya minta ID card nya. Saya lupa kalau ID card hotel saya ketinggalan di mobil dan sekarang saya lagi buru-buru, ingin mengambil obat milik pasien saya!"
Jena mengeluarkan kartu identitas nya. Wanita petugas kebersihan membaca profesi Jena yang merupakan seorang dokter. Tak lupa Jena mengeluarkan lima lembar uang merah, lalu ia berikan kepada wanita itu.
"Ini untuk, Mbak. Tolong saya, Mbak. Soalnya pasien saya sedang sekarat! Saya harus segera mengambil obat nya di dalam kamar."
Jena menangkup kedua tangannya di depan dada. Wanita petugas kebersihan itu segera memberikan kartu identitas nya. Dia merupakan petugas kebersihan lantai VVIP. Wanita itu memiliki kartu akses ke semua kamar, karena dia yang bertugas membersihkan kamar di sana.
"Ini, Dok."
Wanita itu memberikan kartunya untuk Jena. Wanita itu tersenyum di balik maskernya.
"Mbak, bisa pergi, karena saya harus mencari dulu di mana letak obatnya, takutnya saya kelamaan. Tapi, tenang saja, nanti saya akan kembalikan ke Mbak atau ke petugas kebersihan yang lainnya!" jelas Jena sangat pandai berbicara membuat wanita itu yakin.
"Baik, Dok. Nanti kalau tidak ada saya, bisa kasih ke rekan kerja saya!"
__ADS_1
Wanita itu segera pergi dari sana. Jena menghela nafas lega dia mengelus dadanya. Merasa senang, karena berhasil mendapatkan apa yang dia mau.
"Untung saja, Mbak nya percaya."
Jena tersenyum senang. Dia segera masuk ke dalam kamar tersebut menggunakan ID card. Wanita itu masuk dengan hati-hati. Baru saja pintu kamar hotel terbuka, suara musik terdengar keras. Bercampur dengan suara d*sahan orang-orang.
Dia bersembunyi di balik tembok. Lalu mengintip dari balik dinding kamar, dia melihat Jeno sedang asik ke ingin pertunjukan di depannya.
Jena menutup mulutnya tak percaya. Dia nyaris menjerit saat melihat tubuh wanita yang polos di atas ranjang banyak yang terluka. Anehnya mereka tidak menangis, malah menjerit kenikmatan saat disakiti oleh seorang pria yang sama-sama polos.
"Apa maksudnya ini?" Jena menutup mulutnya tak percaya. Mata gadis itu berkaca-kaca, tanpa sadar butiran kristal membasahi pipinya. Bulu kuduk Jena merinding. Sebagai wanita normal, dia meringis kesakitan melihat lima wanita yang dijadikan objek penyimpangan $eksual itu menjerit kenikmatan. Padahal tubuh mereka penuh dengan luka lebam dan gigitan.
"Ganti pakai cambuk!" titah Jeno dengan suara tegasnya.
"Siap, Tuan!" Pria yang bertubuh polos itu langsung mengambil cambuk lalu ia cambuk bokong dan tubuh wanita di bawahnya.
Lutut Jena nyaris luruh ke lantai, saking terkejutnya kalau sang suami asik menonton dan memerintah orang-orang gila di atas ranjang itu.
"Hiks … apa yang sebenarnya terjadi? Kena Mas Jeno ikut menikmati pertunjukan gila itu!"
Jena bertanya-tanya dalam hati. Dia menjerit ketakutan. Pertunjukan semakin ganas dan brutal membuat Jena tak sanggup berlama-lama di sana. Dia bisa gila atau menangis histeris.
"Aku tidak bisa berlama-lama di sini. Aku bisa gila!"
Jena segera beranjak dari sana. Sang wanita tak sanggup lagi menyaksikan pertunjukan aneh di hadapannya. Seumur hidup baru kali ini dia melihat pertunjukan aneh itu.
Saat berhasil keluar dari kamar. Lutut Jena langsung bergetar, tak sanggup menopang tubuh Jena. Dia ambruk ke lantai. Tangannya bergetar, karena Tremor. Terkejut bukan main, melihat orang-orang di dalam kamar hotel 309 sangatlah mengerikan.
"Mereka gila! Benar-benar gila!"
Jena menangis, dia segera bangkit berdiri. Lalu segera beranjak dari hotel itu.
__ADS_1
*
*
Sedangkan di dalam kamar hotel 309. Jeno dan Dani masih asik menonton pertunjukan di hadapan mereka. Rela mengeluarkan banyak uang demi bisa melihat tontonan menarik di hadapan mereka ini.
"Apa kamu tidak berniat balas dendam pada si Broto tua Bangka itu, No?" tanya Dani membuat wajah Jeno langsung masam.
Dia mengepalkan tangannya erat. Teringat dengan sosok pria tua yang dulu memperkosa nya. Tangan pria itu bergegas hebat.
"Aku sangat ingin membunuhnya, Dan. Tapi, sepertinya Tuhan lebih dulu menghukum nya. Sekarang dia masuk penjara karena memperkosa dan membunuh anak perempuannya sendiri!" jelas Jeno teringat akan sosok Jenny membuat Dani terkejut bukan main.
"Sungguh? Benarkah dia memperkosa anaknya sendiri?" tanya Dani dengan suara yang cukup melengking tinggi. Dia sangat terkejut mendengar nya.
"Hmm, dia memperkosa anak perempuan nya sendiri. Kebiasaan nya bermain perempuan dan punya kelainan $eksual. Pada akhirnya menyebabkan anak perempuannya meninggal! Dulu aku gagal mempolisikan nya, karena aku bukanlah orang kaya! Dia berkuasa dan bertahta! Tapi, Tuhan Maha adil. Sekarang dia masuk penjara, mau sebanyak apapun uang yang dia keluarkan untuk bebas penjara tidak akan bisa! Karena sanksi sosial untuk predator k*lamin sepertinya sangatlah parah! Apalagi kasusnya viral sekarang! Istrinya juga ikut menuntut Broto! Dia tidak akan bebas!"
Jeno bercerita pada Dani. Masih ingat dulu bagaimana hancurnya Jeno saat diperkosa oleh Broto. Nyaris pria itu bunuh diri, karena tidak sanggup lagi hidup. Merasa kotor dan hina, sebab di perkosa oleh pria. Dia mengalami trauma berat. Sampai-sampai harus bergantungan pada obat tidur, agar bisa tenang setiap malam.
Jeno bercerita pada orang tuanya. Tetapi, mereka malah memarahi Jeno, karena tidak bisa menjaga diri. Jeno juga melaporkan pada polisi, tetapi, polisi malah menertawakan Jeno.
Dunia memang tidak adil. Saat wanita diperkosa, maka yang disalahkan pakaian wanitanya. Saat pria dilecehkan, malah ditertawakan karena di anggap lemah, tidak bisa menjaga kehormatan diri.
*
*
Masih banyak teka-teki. Perlahan akan terkuak yah, 🤭 jangan benci Jeno. Sebab dia punya masa lalu kelam yang bahkan untuk diceritakan, Jeno nggak sanggup.
Bersambung.
Jangan lupa like coment vote dan beri rating 5 yah kakak 🥰🥰
__ADS_1
Salem Aneuk Nanggroe Aceh ❤️