
"Siapa yang memberimu izin masuk ke dalam dapur ku, J*lang?!" Ingin sekali Jena berteriak dan memaki Laras. Tetapi, wanita itu memilih meredam amarahnya, agar tak terlalu barbar. Menghadapi wanita ular seperti Laras butuh kesabaran yang tinggi dan harus cerdik dalam membalas kelicikan Laras.
Senyuman manis terbit di wajah sok polos Laras. Wanita itu berlagak seperti gadis lugu yang sangat polos, padahal hatinya dipenuhi akal busuk.
"Loh, kok kamu yang masak, Ras? Marni di mana?" tanya Jeno membunuh keheningan. Dahi pria itu berkerut kebingungan, dia tidak melihat kehadiran Marni di dapur.
Tiba-tiba wajah Laras berubah murung. Wanita itu berakting seperti orang yang sedang menahan kesedihan.
"Aku tidak tahu dia ada di mana, tadi, aku sengaja datang kemari untuk memasak makanan kesukaanmu dan Jena, sekaligus memberi sambutan pada Jena yang baru pulang dari rumah sakit. Tapi, pembantu kalian itu …"
Laras menjeda ucapannya. Dia menghapus air mata palsu yang turun membasahi pipinya. Jena dan Jeno saling beradu pandang, mereka penasaran apa yang sebenarnya telah terjadi.
"Ada apa dengan, Marni?" tanya Jena penasaran.
"Dia tidak mengizinkanku masuk ke area dapur dan mengatakan aku hanya orang asing. Tidak pantas memasuki area dapur, karena dapur termasuk area privasi pemilik rumah. Dia juga sangat tidak sopan padaku!"
Laras mengadu pada Jena dan Jeno, berharap Marni segera dipecat. Masih teringat kejadian tempo lalu, di mana Marni melarangnya masuk ke area dapur.
Flashback on.
__ADS_1
"Nona, Anda tidak boleh masuk ke area dapur, jika memang ingin menyambut kedatangan Ibu Jena dan Bapak Jeno. Silahkan, tunggu saja di ruang tamu!" larang Marni dengan nada tegas.
Gadis polos itu entah mengapa tidak menyukai Laras. Terlebih lagi wanita itu sangatlah angkuh, dari cara berbicara dan gaya tubuh, terlihat kontras kalau Laras seperti wanita ular.
Marni telah banyak bertemu orang kaya yang banyak jenisnya, dan Laras adalah jenis wanita ular.
"Eh babu, kamu di sini cuma kerja sebagai babu nya Jena dan Mas Jeno. Jadi, jangan belagu, aku ini sahabat mereka, bahkan, sudah di anggap keluarga. Terserah aku dong mau pergi ke dapur atau ke kamar Mas Jeno. Sah-sah saja!" tandas Laras dengan nada angkuh membuat Marni mengepalkan tangannya erat, sebab direndahkan oleh Laras.
"Oleh karena saya babu di rumah ini, saya harus bekerja dengan sungguh-sungguh agar majikan sayang senang, karena rumahnya aman dari ulat keket," tukas Marni berani menyindir Laras. Gadis itu sudah sering mendengar cerita teman satu yayasan nya yang bekerja sebagai pembantu orang kaya.
Bahwa, sangat banyak wanita asing yang tak lain bibit pelakor berlagak seperti istri sah saat bertamu. Belajar dari cerita teman-temannya, Marni paham, kalau Laras termasuk dalam ciri-ciri bibit pelakor. Apalagi penampil wanita itu yang cukup terbuka.
Mata Laras melebar sempurna mendengar sindiran Marni. Dia langsung menunjuk wajah Marni.
Inilah kelemahan Marni, dia nyaman bekerja dengan Jena dan Jeno, karena dia orang itu memperlakukannya dengan baik. Meski Jena kaku dan dingin padanya, tapi, wanita itu tidak pernah jahat padanya. Begitupun Jeno yang tak pernah menggodanya seperti majikan teman-temannya yang mata keranjang.
"Jangan, Nona," cicit Marni takut.
"Kalau begitu, pergi kamu dari rumah ini, belanja atau apa kek, muak aku lihat kamu di sini!" usir Laras kasar.
__ADS_1
Terpaksa Marni keluar rumah, dia juga memang punya urusan di luar rumah. Marni ingin mengirimkan uang untuk keluarganya di desa.
Flashback off.
Jena dan Jeno mendengarkan cerita Laras dengan baik. Jena tersenyum kecil dalam hati, sepertinya dia sudah paham alur ceritanya sekarang.
"Entah apa yang terjadi, sepertinya, Laras tidak menyukai Marni, makanya dia ingin aku memecatnya. Jangan harap kemauan mu terwujudkan, Ras," batin Jena serius.
"Pecat saja dia, kebetulan aku punya teman yang bekerja di yayasan asisten rumah tangga profesional. Para pembantu di sana sudah di didik sebaik mungkin dan beretika tinggi. Dijamin para tamu yang datang ke rumah kalian pasti nyaman, karena mendapatkan pelayanan seperti restoran bintang lima," bujuk Laras menebar racun kebencian terhadap Marni.
Dalam hati wanita itu tersenyum sinis. Dia punya rencana baru.
"Aku yakin mereka akan setuju untuk memecat gadis kampungan itu. Setelahnya, aku akan memasukkan orangku ke dalam rumah ini untuk memantau aktivitas Jena dan Jeno. Sekaligus mencari celah untuk aku masuk ke dalam rumah tangga mereka," batin Laras sungguh licik.
*
*
Bersambung.
__ADS_1
Jangan lupa like coment vote dan beri rating 5 yah kakak 🥰🥰
Salem Aneuk Nanggroe Aceh ❤️