Suami Licik Versus Istri Cerdik

Suami Licik Versus Istri Cerdik
Kehidupan Pertama Jena : Pria Berubah Karena Satu Wanita


__ADS_3

Laras menahan dirinya agar tak lepas kendali di hadapan Jeno. Dia harus bisa menjadi pribadi yang baik dan pendengar setia Jeno. Meski telinganya kerap kali panas, karena Jeno selalu mengagungkan Jena sebagai sosok istri cerdasnya.


Jena bagaikan obat untuk Jeno. Pria itu semakin hari semakin baik, mungkin tidak akan lama lagi dia sembuh. Namun, pria itu tidak tahu kalau dia berobat pada wanita yang lebih berbisa daripada ular kobra.


"Ah begitu, syukurlah, aku merasa sangat senang kalau Mas Jeno sudah membaik. Itu artinya usaha Mas Jeno selama setahun ini hampir berhasil!" balas Laras dengan nada semangat. Wajahnya berbinar bahagia, seolah dia ikut senang mengetahui Jeno sembuh. Padahal dalam hati dia merutuki takdir sedari tadi. Karena telah membuat Jeno sembuh.


"Iya, aku sangat bersyukur. Meski aku masih mengkonsumsi obat penenang saat gangguan kecemasan ku kambuh. Setidaknya, tidak ada lagi wanita yang aku sakiti tubuhnya dan aku setia pada Jena!"


Jeno tersenyum manis. Dia menatap Laras dengan sorot mata penuh ketulusan. Dia bersyukur punya Laras sebagai psikiater nya. Berkat wanita itu dia hampir sembuh.


"Terima kasih ya, Ras. Kamu sudah mau menjadi teman ceritaku selama ini. Kamu wanita yang baik, semoga kelak kamu bertemu dengan pria baik!" ujar Jeno penuh ketulusan. Dia tersenyum manis berterima kasih pada sahabat istrinya.


Laras tersipu malu. Meski ada rasa dongkol dalam hatinya. Sebab, yang dia inginkan adalah Jeno. Pria cerdas sejuta pesona.


"Aku ingin kamu menjadi laki-laki baik itu, Mas," batin Laras berharap agar bisa bersama dengan Jeno. Meski, dia harus menjadi orang ketiga.


"Kamu bisa aja, Mas. Minggu depan jangan lupa kembali ke sini lagi, aku ingin melihat perkembangan kamu sudah sampai mana."


Laras berbicara dengan nada lembut. Pria tampan itu tersenyum manis. Dia menganggukkan kepalanya semangat.


"Iya, aku pasti akan datang ke sini lagi untuk melakukan hipnoterapi. Oh ya, Ras. Kamu tahu tempat untuk mengikuti program parenting yang bagus?" tanya Jeno serius pada sahabat istrinya itu.


Laras mengerutkan keningnya. Dia bingung dengan pertanyaan Jeno yang tiba-tiba. Tak biasanya pria itu bertanya tentang parenting.


"Parenting? Untuk apa, Mas?" Laras bertanya balik karena penasaran.

__ADS_1


Jeno menggaruk tengkuknya yang tak gatal. Dia tersenyum kecil.


"Aku ingin belajar parenting, karena tahun depan aku dan Jena mau ikut program hamil. Kami berdua sudah sepakat ingin punya anak!" jelas Jeno tanpa ada yang ditutup-tutupi.


Sontak saja ucapan Jeno membuat Laras terkejut. Setahunya Jeno tidak mau punya anak, dia penganut childfree, karena trauma pada masa lalunya.


"Bukannya kamu takut untuk punya anak, Mas?" Laras bertanya serius. Dia tidak bisa menutupi keterkejutan nya membuat Jeno tersenyum geli.


Dia sendiri juga tak tahu mengapa bisa berubah prinsip sekarang.


"Aku sangat mencintai, Jena. Dan aku tidak menyangka efek dari cinta bisa separah ini. Prinsip ku yang dulunya tidak ingin punya anak. Berubah setelah mendengar rengekan Jena. Aku sangat mencintainya dan akan aku lakukan apapun untuk membuatnya bahagia, walau itu bertentangan dengan prinsip ku!" balas Jeno tersenyum-senyum sendiri membayangkan wajah menggemaskan istrinya saat merengek minta punya anak semalam.


Mendengar ungkapan cinta Jeno pada Jena membuat hati Laras terasa panas dan terbakar. Dia benar-benar murka. Kesal sekali mengapa Jena selalu beruntung, dicintai oleh suaminya dan lahir dari keluarga yang tak kalah kaya darinya.


Wajah mereka sama-sama cantik, tetapi Jena lebih beruntung. Atau tepatnya hari Laras telah dipenuhi rasa iri dan dengki. Wanita itu tidak tahu kalau dirinya juga punya kelebihan yang tak dimiliki Jena. Hanya saja, hati sudah dibutakan ORI dengki, maka tak lagi dapat melihat kenikmatan yang Tuhan anugerahkan untuknya.


"Halo, Dinda."


[Kanda, di mana? Kenapa belum jemput aku?]


Suara sang istri terdengar manja dan manis, mampu menggetarkan hati Jeno. Pria itu tersenyum geli, dia sangat senang punya istri semanis Jena.


"Iya, sebentar lagi aku sampai. Tunggu di situ, ya. Aku sedang membeli kue coklat kesukaan kamu."


Bohong Jeno agar sang istri tak lagi marah. Tetapi, pria itu benar-benar akan membelikan kue kering untuk sang istri. Sebab, stok kue kering rasa coklat kesukaan Jena telah habis di rumah.

__ADS_1


[Baiklah, aku tidak jadi kesal sama, Kanda. Beli yang banyak ya, aku juga mau varian keju dan strawberry! Sama beli keripik singkong pedas dan kue salju.]


"Baiklah, Dinda. Akan kubelikan semua yang kamu mau. Tunggu aku ya. Jangan pulang dengan laki-laki lain!" tegas Jeno membuat Jena tertawa di seberang sana.


[Mana berani laki-laki lain mengajakku pulang bareng, semenjak teman laki-laki ku tahu kalau aku menikah denganmu, mereka semua menjauhi ku. Kata mereka, kamu seperti singa kelaparan! Galaknya kebangetan!]


Jeno terkekeh kecil. Setelah itu panggilan terputus. Pria itu menatap ke arah Laras.


"Apa sudah selesai? Aku harus segera pulang, Jena sudah menungguku sedari tadi!"


"Sudah, Mas. Ini dia obatnya, diminum dua kali sehari!" ujar Laras lembut seraya menyodorkan kantong plastik untuk Jeno.


Pria itu menerimanya, tangan mereka tak sengaja bersentuhan. Tetapi, Jeno tidak merasakan apapun, karena dia memang tak tertarik pada Laras. Berbeda dengan Laras yang malah menggigit bibirnya, tangan Jeno sangat lembut dan besar. Membuat Laras membayangkan bagaimana rasanya jari-jari pria itu bermain di area bawahnya. Pasti terasa sangat nikmat dan geli.


"Aku pergi dulu! Terima kasih, seperti biasa, uangnya bakal aku transfer!"


Jeno segera pergi meninggalkan Laras yang berdiri termangu di dalam ruangannya.


"Aku harus segera melancarkan rencana ku," gumam Laras pelan.


*


*


Bersambung.

__ADS_1


Jangan lupa like coment vote dan beri rating 5 yah kakak 🥰😘


Salem Aneuk Nanggroe Aceh ❤️


__ADS_2