Suami Licik Versus Istri Cerdik

Suami Licik Versus Istri Cerdik
Kehidupan Pertama Jena : Otak Cerdas Jeno


__ADS_3

"Eh, tidak usah, Tuan. Saya tulus membantu, Jena. Karena saya juga punya tiga adik perempuan. Hari ini saya membantu perempuan lain, kelak adik perempuan saya yang dibantu oleh orang lain."


Jeno menolak dengan tegas. Meski dalam hatinya, dia sangat menginginkan imbalan. Tetapi, ketulusan hatinya menentang itu. Dia tidak mau dianggap mata duitan.


Srikandi yang mendengar tersebut manis.


"Kami juga tulus ingin memberikan imbalan untukmu, Nak. Keselamatan putri kami lebih berharga dari imbalan yang ayah Jena sebutkan tadi. Jadi, katakan saja apa yang kamu inginkan!"


Srikandi ikut berbicara membuat Jeno benar-benar seperti mendapatkan rezeki nomplok. Dia menelan ludahnya susah payah.


Berusaha keras untuk memikirkan apa yang dia mau. Hingga sebuah keinginan muncul dari hati paling dalam.


"Beasiswa S2 ke Harvard. Apa boleh?" tanya Jeno ragu-ragu.


Pria itu berpikiran panjang. Dia memilih beasiswa S2 ke Harvard, agar saat lulus nanti dia bisa bekerja sebagai dosen atau kantoran dan punya gaji banyak, sehingga bisa membeli rumah, mobil dan punya uang banyak.


Namun, kalau memilih rumah, uang atau mobil. Itu sifatnya hanya sementara.


Jena dan kedua orang tuanya cukup terkejut mendengar permintaan Jeno. Namun, setelah beberapa saat mereka tersenyum tipis. Ternyata Jeno cukup cerdas dari yang mereka bayangkan.


"Kenapa kamu pilih beasiswa ke Harvard?" tanya Jafar ingin menguji Jeno.

__ADS_1


"Kalau saya punya ijazah S2 dari Harvard, saya yakin kalau kelak saya akan diterima oleh perusahan besar di dunia atau saya bisa menjadi dosen di universitas termahal. Gaji yang saya terima pasti tinggi dan saya bisa membeli semua imbalan yang Anda sebutkan tadi!" jawab Jeno mengeluarkan pendapatnya membuat kedua orang tua Jena kagum.


Begitupun dengan Jena. Dia tidak menyangka selain tampan, Jeno juga sangat pintar.


"Baiklah, semester berapa kamu sekarang, kuliah di mana dan jurusan apa?" tanya ayah Jena serius.


"Semester akhir, saya sedang menyusun skripsi, kuliah di universitas Malikussaleh, jurusan hukum!" jawab Jeno mantap.


"Rencananya S2 nanti mau ambil jurusan apa?" tanya ayah Jena lagi.


"Hukum juga, Tuan."


"Karena saya miskin. Orang miskin kalau bodoh soal hukum, maka semakin menderita lah hidupnya. Asik di bodoh-bodohi oleh orang yang berpendidikan tinggi, tapi, tak beradab!" tegas Jeno penuh makna.


Orang tua Jena yang mendengarnya benar-benar tidak dapat menahan kekaguman lagi. Mereka tersenyum cerah, terpana akan pola pikir Jeno


"Saya senang bertemu denganmu, Nak. Baru kali ini saya bertemu orang miskin yang punya pikiran kaya dan luas sepertimu. Siapa namamu, Nak? Jeno … Jeno apa?"


Ja'far bertanya nama panjang Jeno.


"Cuma Jeno, Tuan. Tidak ada nama belakang lagi. Hanya Jeno," balas pria itu seraya tersenyum ramah.

__ADS_1


"Baiklah, Jeno, Jena. Sekarang saatnya kalian berdua istirahat. Besok kalian harus ke kampus, bukan?"


"Benar, Pa."


"Benar, Tuan.


"Jangan panggil saya, Tuan. Panggil saya Papa, karena saya sudah menganggap kamu sebagai anak angkat saya. Kalau tidak ada kamu, mungkin.. ah … entahlah," seru Ayah Jena seraya menggelengkan kepalanya.


"Panggil saya mama juga. Sekali lagi terima kasih, Nak. Karena kamu sudah mau menolong putri kami!" ujar sang ibu membuat Jeno tersenyum kikuk.


Ternyata orang tua Jena, tidak seburuk yang Jeno pikirkan. Mereka sangat baik dan ramah, tak juga memandang Jeno sebelah mata.


*


*


Bersambung.


Jangan Lupa Like Komentar, Vote dan rate 5 yah kakak


salem Aneuk Nanggroe Aceh 🥰

__ADS_1


__ADS_2