Suami Licik Versus Istri Cerdik

Suami Licik Versus Istri Cerdik
Anugerah Sang Dewi?


__ADS_3

Sebelumnya author minta maaf karena lama update. Author mengalami burn out, sebuah penyakit yang menyerang para author, di mana otak memiliki banyak ide, namun jari tidak bisa mengetik dan merangkai kata.


Jadi, cara mengatasinya berhenti sejenak. Setelah otak bisa diajak kerjasama baru lanjut lagi.


*


*


Ctakk.


Sang Dewi Reinkarnasi menjentikkan jarinya. Jena terhenyak, dia kembali berada di ruangan yang sama pada saat dia datang dulu. Dia menelan ludahnya kasar saat berhadapan dengan sang Dewi.


"Halo, Jena. Sepertinya kamu hidup dengan baik setelah mengetahui kebenaran suamimu," sapa Sang Dewi ramah.


Jena tersenyum lemah. Terdapat guratan kekhawatiran dari wajahnya. Berbeda saat dulu dia datang kemari, tampak santai saja, karena memang dia tidak berharap kembali ke dunia, kecuali untuk balas dendam.


Namun, sekarang dia mengkhawatirkan sang suami. Takut bila dirinya terlalu lama pingsan dapat membuat Jeno panik setengah mati.


"Ya begitulah. Ekhm … ada apa, Dewi? Bukankah hidup saya masih tersisa sembilan bulan lima belas hari lagi yah?" tanya Jena gugup.


Sang Dewi tersenyum kecil. Dia tahu betul isi hati Jena saat ini. Namun, perjanjian tetaplah perjanjian. Tidak bisa diganggu gugat lagi.


"Sepertinya kamu tidak sabar untuk kembali, ya." Sang Dewi menebak.isi kepala Jena.


Wanita itu hanya bisa tersenyum kikuk seraya menggaruk tengkuknya yang tak gatal. Ingin berkata, "Anda memanggil saya di waktu yang tidak tepat. Padahal, suasana tadi sedang haru, malah jadi horor dengan saya yang tiba-tiba pingsan."

__ADS_1


Namun, Jena tak berani menyatakan isi hatinya. Sang Dewi tergelak saat mendengar suara hati Jena.


"Ada apa, Dewi?" tanya Jena polos tanpa tahu apa yang ditertawakan oleh sang Dewi.


"Tidak apa-apa." Sang Dewi menutup mulutnya anggun. Dia kembali menjentikkan jarinya lalu Jena tiba-tiba sudah duduk di kursi yang terbuat dari logam mulia.


Terdapat teh jangan dan biskuit lezat yang tentunya hanya ada di tempat ini.


"Minumlah dulu. Kau pasti haus, karena habis bertengkar dengan suamimu," pinta sang Dewi anggun membuat Jena tertawa kecil.


Dia langsung meneguk teh yang telah disiapkan oleh Sang Dewi. Hatinya yang kacau mendadak tenang, saat ini kepalanya yang ribut juga menjadi diam.


"Apa yang ingin Dewi katakan?" tanya Jena tanpa basa-basi.


"Aku hanya ingin mengingatkan mu bila perjanjian kita masih berjalan. Mau tidak mau kamu harus berpisah dengan suami dan anakmu nanti!" ujar Sang Dewi serius membuat Jena meneguk ludahnya susah payah.


"Apakah saya bisa tetap hidup, Dewi?" Pertanyaan itu keluar begitu saja dari lisan Jena. Dia tidak mau meninggalkan sang suami. Hubungan mereka telah baik. Tidak ada lagi yang namanya pertengkaran, prasangka buruk dan lain sebagainya.


"Bisa."


Jena tersenyum cerah mendengarnya. Namun, senyuman itu pudar saat mendengar kata lanjutan Sang Dewi.


"Kalau suamimu yang menggantikan posisimu," imbuh Sang Dewi membuat jantung Jena seperti ditusuk duri tajam.


Ternyata nyawa harus dibayar dengan nyawa. Andai saja dia punya mesin waktu pasti Jena tidak akan mau melihat masa kelam suaminya agar dia bisa hidup lebih lama. Atau, Jena tidak akan bunuh diri dan memilih mendengar penjelasan suaminya.

__ADS_1


Semua telah terjadi. Tidak bisa yang Jena perbaiki.


Dia mencintai Jeno dan tidak akan membiarkan Jeno berkorban demi dirinya.


"Kalau begitu. Silahkan ambil nyawa saya sesuai dengan tenggat waktu perjanjian kita."


Jena berkata dengan nada tegas. Tidak ada keraguan dalam sorot matanya membuat sang Dewi tersenyum penuh arti.


"Aku menyukai karaktermu. Oleh karena itu, aku akan memberimu anugerah!"


Ctakk.


Belum sempat Jena bertanya anugerah apa yang hendak diberikan oleh sang Dewi. Dia sudah kembali ke dunia manusia.


Perlahan wanita itu membuka matanya. Hal pertama yang dia lihat adalah langit kamarnya.


"Sayang! Kamu sudah sadar! Ya Tuhan, syukurlah."


*


*


Bersambung.


Jangan lupa like coment vote dan beri rating 5 yah kakak 🥰🥰

__ADS_1


Salem Aneuk Nanggroe Aceh ❤️


__ADS_2