
Ternyata anugerah yang diberikan oleh Sang Dewi adalah anak yang dikandung oleh Jena kembar. Wanita itu teramat senang, terlebih lagi ketika mengetahui jenis kelamin anak-anaknya.
Sepasang laki-laki dan perempuan. Begitupun dengan Jeno, awalnya pria itu masih gak menyangka sang istri hamil dan kadang geli saat menyentuh perut istrinya.
Namun, seiring berjalannya waktu Jeno tak bisa tidur sebelum berbicara dengan anak-anaknya yang masih berada dalam perut Jena.
Hari-hari yang mereka lalui lebih berwarna. Tak sabar menunggu kelahiran anak-anak mereka yang cuma hitungan hari saja.
"Besok jadwal kita ke rumah sakit buat periksa. Sekarang kamu tidur lebih awal, Sayang. Kakimu aku pijitin biar pegelnya hilang!"
Jeno berkata dengan nada perintah. Dia tidak suka dibantah, mau tak mau Jena harus tidur. Padahal matanya masih ingin terbuka lebar.
"Kamu juga tidur, Mas," pinta Jena lembut pada sang suami yang sedang mengoleskan minyak zaitun di telapak kakinya.
"Aku bakal tidur, kok. Cuma sebentar lagi. Pijitin kaki kamu dulu dan aku harus oleskan minyak penghilang Stretch mark di paha sama perut kamu!"
Jeno langsung mengangkat gaun ibu hamil yang dipakai oleh istrinya ke atas dada. Hatinya berdesir saat melihat perut sang istri dipenuhi gurat peregangan efek kehamilan.
Meski sudah diobati, belum bisa pulih total. Kulit mulus itu tidak lagi bersih seperti dulu.
Rasa cinta Jeno pada sang istri semakin besar. Bukannya jijik, Jeno malah merasa bersalah.
__ADS_1
"Maafin aku ya, Sayang. Gara-gara kamu hamil anak aku. Tubuh kamu jadi rusak begini," ujar Jeno lembut dengan guratan kesedihan tersemat di wajahnya.
Jena terkekeh geli. Sudah tak terhitung kata maaf keluar dari lisan sang suami. Dia akui tubuhnya tak lagi bagus seperti masih gadis atau sebelum punya anak.
Namun, dia merasa bahagia. Sebab selama hamil, dia dapat melihat sisi lain dari Jeno.
"Daripada kata maaf, aku lebih senang dengar kata cinta dari kamu, Mas."
"Aku cinta sama kamu, cinta, cinta, cinta .. muahhh!"
Jeno langsung melabuhkan ciuman di seluruh wajah sang istri membuat Jena tertawa lepas.
Suami istri itu sedang bercanda. Mereka tampan mesra dan harmonis. Hingga pada saat Jena meringis kesakitan membuat candaan itu berhenti.
Wajah Jeno berubah panik. Dia sangat takut melihat istrinya seperti orang yang sedang kesakitan.
"Sayang, kenapa? Kamu kontraksi lagi?" tanya Jeno panik.
"Aku nggak tahu, Mas. Ini lebih sakit dari kontraksi palsu. Rasanya aku mau melahirkan sekarang!" pekik Jena penuh kesakitan.
Jeno yang panik langsung menggendong istrinya. Dia harus segera melarikan Jena ke rumah sakit. Pria itu berjalan cepat dengan penuh hati-hati agar sang istri tidak bertambah sakit.
__ADS_1
Marni ikut membantu Jena masuk ke dalam rumah sakit. Dia yang memangku kepala Jena di kursi belakang. Sedangkan, Jeno fokus mengemudi.
"Ibu … ibu tenang dulu ya. Tarik nafas dalam-dalam. Lalu hembuskan! Semuanya pasti akan baik-baik saja. Ibu kuat, ibu hebat dan dedek kembar pasti juga sama kuat seperti, Ibu."
Marni si gadis polos itu membantu sang majikan dengan baik. Dia memberikan sugesti agar tetap tenang. Ternyata berhasil, Jena bisa tenang. Meski rasa sakit pada perutnya masih kentara.
Jeno melihat dari arah spion mobil. Dia hanya bisa berdoa dalam hati agar istri dan anak-anaknya baik-baik saja.
"Tuhan, selamatkan istri dan anak-anakku."
Berbeda dengan Jena. Dia malah berpikiran negatif. Takut bila sang Dewi mengambil nyawanya lebih cepat dari perkiraan.
"Apa jangan-jangan waktuku sudah hampir habis? Tapi, kenapa sekarang? Bukankah aku masih punya lima belas hari lagi? Dewi … tolong bantu aku!" teriak Jena dalam hati.
*
*
Bersambung.
Jangan lupa like coment vote dan beri rating 5 yah kakak 🥰 🥰
__ADS_1
Salem Aneuk Nanggroe Aceh ❤️