Suami Licik Versus Istri Cerdik

Suami Licik Versus Istri Cerdik
Kehidupan Pertama Jena: Bertemu Orang Tua Jena


__ADS_3

Jena mengajak Jeno masuk ke dalam rumahnya. Dia ingin mengenalkan Jeno pada kedua orang tuanya, karena pria itu telah menolongnya dari pria asing yang ingin memperkosanya. Terlebih lagi hujan masih deras dan malam sudah larut. Jena merasa kasihan bila Jeno pulang dalam keadaan kedinginan dan berakhir sakit.


"Ayolah, Kak. Masuk saja ke rumah ku! Malam sudah larut, hujan juga belum reda. Kalau kakak sakit nanti gimana?" Jena terus membujuk Jeno. Saat ini mereka berdua berteduh di depan pos sekuriti rumah Jena.


Jeno sudah berkali-kali menolak. Namun, Jena tetap kekeh.


"Tapi–,"


"Tenang saja, Kak. Orang tua ku nggak galak! Mereka baik dan ramah tamah!" tambah Jena menatap Jeno dengan sorot mata penuh harap.


Pria tampan itu menghela nafas berat. Mau tidak mau dia terpaksa masuk ke dalam rumah Jena. Sebenarnya, Jeno sedikit trauma berteman dengan orang kaya. Dia takut kecewa seperti dulu. Namun, dia menganggap kalau Jena bukan temannya.


"Baiklah, aku mampir karena kamu yang memaksaku, ya. Bukan atas keinginan ku!" tegas Jeno membuat Jena menganggukkan kepalanya cepat.


Gadis cantik itu tersenyum cerah. Dia menyuruh sekuriti untuk membuka gerbang. Kemudian, Jeno kembali mengayuh sepedanya dengan Jena yang setia duduk di belakangnya.


Saat tiba di depan rumah Jena. Gadis itu langsung menekan bel. Tak lama kemudian pintu rumah Jena terbuka lebar. Memperlihatkan kedua orang tua Jena yang sudah menunggu gadis cantik itu sedari tadi.

__ADS_1


"Ya ampun, Je. Mama dan papa udah khawatir banget sama kamu! Loh, kenapa kamu basah kuyup begini?" tanya sang ibu menatap Jena khawatir.


Jena tersenyum manis.


"Jena nggak apa-apa, Ma, Pa. Boleh kami masuk dulu. Nanti di dalam, baru Jena ceritain semuanya?"


Jena meminggirkan tubuhnya memperlihatkan Jeno yang berdiri di belakangnya. Pemuda miskin yang kaya sopan santun itu tersenyum ramah menyapa kedua orang tua Jena.


"Selamat malam, Tuan dan Nyonya!" sapa Jeno ramah membuat keduanya menganggukkan kepala. Suasana terasa sangat canggung, karena kedua orang tua Jena terkejut bukan main.


Untuk pertama kalinya Jena membawa laki-laki masuk ke dalam rumah. Teman juga jarang sekali Jena bawa ke rumah. Namun, orang tua Jena yang kaya akan adab dan tidak pernah memandang orang lain sebelah mata menyambut kedatangan Jeno dengan ramah.


"Tapi, saya basah, Nyonya. Lebih baik saya di luar saja!", tolak Jeno secara halus membuat kedua orang tua Jena tidak enak hati.


"Tidak apa-apa, Nak. Lantai yang basah bisa di pel. Tapi, kamu yang sakit, karena kehujanan belum tentu sembuh dengan obat."


Sang ayah Jena bersuara membuat Jeno sedikit nyaman. Sebab, mereka berdua sama-sama laki-laki.

__ADS_1


"Terima kasih, Tuan." Jeno segera masuk ke dalam rumah. Dua orang pelayan menghampiri mereka seraya membawa dua handuk tebal.


Jena segera memberikan satu handuk untuk Jeno. Pria itu tersenyum tipis guna berterima kasih.


"Terima kasih," ujar Jeno pelan. Dia segera mengelap rambutnya yang basah.


Sang gadis tersenyum malu saat melihat senyuman tipis Jeno. Sangat tampan baginya dan baru kali ini dia tertarik pada sosok laki-laki. Kedua orang tua Jena melihat tingkah laku putri tunggal mereka sedari tadi. Keduanya saling beradu pandang seolah mengerti apa yang dirasakan oleh anak tunggal mereka.


"Sepertinya putri kita sedang jatuh cinta," batin keduanya saling memberi kode.


*


*


Bersambung.


Jangan lupa like coment vote dan beri rating 5 yah kakak 🥰😘

__ADS_1


Salem Aneuk Nanggroe Aceh ❤️


__ADS_2