Suami Licik Versus Istri Cerdik

Suami Licik Versus Istri Cerdik
Kehidupan Pertama Jena : Kepulangan Jeno


__ADS_3

Hari yang ditunggu-tunggu oleh Jena tiba. Akhirnya Jeno kembali ke Indonesia setelah beberapa tahun berpisah. Sungguh hebat perjuangan Jeno yang bisa coumload, membuat orang tua Jena bangga, karena tidak sia-sia mereka memberikan beasiswa untuk Jeno. Pria itu mengharumkan nama lembaga pendidikan milik ayah Jena.


Jena tampak cantik dengan tampilan gaun berwarna hitam. Dia sudah merias wajahnya secantik mungkin, karena Jeno mengajaknya bertemu.


"Aku cantik tidak, ya?" Jena bertanya pada dirinya sendiri saat melihat dirinya di depan cermin.


Sang gadis berputar, berusaha mencari kekurangannya. Setelah di rada puas, barulah Jena beranjak keluar kamar. Saat menuruni anak tangga, Jena terkejut melihat Jeno sudah duduk di sofa bersama kedua orang tuanya.


"Kapan Kak Jeno tiba? Kenapa tidak bilang ke aku kalau dia sudah tiba?" batin sang gadis bertanya-tanya.


"Itu Jena! Silahkan tanya padanya, Nak. Apakah dia setuju atau tidak!" ujar Ja'far membuat Jena mengerutkan keningnya.


Dia menghampiri sang ibu yang tampak sedang duduk dengan ayahnya. Jena memilih duduk di samping ibunya. Sang gadis beradu pandang dengan Jeno yang menatapnya dengan sorot mata berbeda. Penuh damba dan kekaguman.


"Je, apa kamu menyukai, Nak Jeno?" tanya sang ibu tiba-tiba membuat Jena nyaris tersedak ludahnya. Dia tidak tahu harus berkata apa lagi, karena sang ibu sangat pandai menebak isi hatinya.


Wajah Jena merah merona, sang gadis sangat malu mendengar pertanyaan sang ibu, terlebih lagi ada Jeno di sana.


"Ma," rengek Jena malu membuat Srikandi dan Ja'far terkekeh kecil.


"Nak Jeno, sengaja datang sendirian kemari, dia ingin meminta kamu untuk menjadi istrinya. Tapi, Mama dan Papa tidak bisa memberikan jawaban pasti, karena yang menikah itu kamu. Bukan kami! Mama dan papa hanya ingin melihat kamu bahagia!" jelas sang ibu membuat Jena terkejut setengah mati.


Dia membesarkan pupil matanya, tidak menyangka Jeno akan sangat gentleman, dia langsung meminta Jena untuk menjadi istrinya pada orang tua Jena langsung.


Ada rasa bahagia di dalam hati Jena. Seperti musim semi yang memiliki banyak bunga. Dia tersenyum malu. Menundukkan kepalanya tidak berani menatap Jeno.


"Jena, maaf kalau maksud kedatanganku membuat kamu tidak nyaman atau terkejut. Tapi, Je … aku benar-benar jatuh cinta padamu. Kamu yang menjadi alasan aku belajar sungguh-sungguh di Amerika agar bisa coumload dan pulang ke Indonesia untuk melamar mu. Aku tidak ingin pacaran, tapi, yang aku inginkan pernikahan! Jadi, Putri Jena, apakah kamu mau menerima lamaran ku?"

__ADS_1


Jeno bertanya dengan nada tegas dan penuh keyakinan. Pria itu sebenarnya malu untuk melamar Jena langsung di hadapan orang tua Jena. Akan tetapi, Jeno bukanlah laki-laki pengecut, dia ingin menunjukkan kesungguhannya pada Jena. Kalau dia tidak main-main dengan keinginannya.


Telah lama Jeno jatuh hati pada Jena, karena kebaikan dan ketulusan sang gadis yang tidak palsu sama sekali. Di tambah orang tua Jena tampak baik dan memberinya jalan untuk dekat dengan Jena. Meski mereka tahu kalau Jeno adalah pria miskin.


Kembali lagi pada Jena, gadis cantik itu tersenyum dengan mata berkaca-kaca. Dia mendongak menatap Jeno yang juga menatap lembut dirinya.


"Aku tidak bisa," jawab Jena membuat raut wajah Jeno berubah sendu.


Senyuman di wajah Jeno langsung pudar, begitu mendengar jawaban Jena. Sedangkan, orang tua Jena juga ikutan terkejut. Mereka tahu betul kalau Jena mencintai Jeno.


"Kalau begitu aku pamit pulang dulu." Jeno buru-buru bangkit berdiri ingin segera keluar dari rumah megah Jena. Dia ingin meluapkan segala rasa sesak yang berada dalam hatinya. Tidak mau menangis di hadapan Jena maupun orang tuanya.


"Benar, mana mungkin Jena si tuan putri, mau menikah dengan Jeno si gelandangan," batinnya sedih.


Saat Jeno berdiri, Jena langsung menggenggam tangan pria tampan itu.


Pria itu menatap Jena dengan sorot mata tajam. Dia membalas menggenggam tangan Jena, lalu bertanya dengan serius pada gadis itu.


"Je, jangan bercanda! Aku mengajakmu menikah, apa kamu mau atau tidak? Jawab aku sekali lagi?" tanya Jeno dengan suara serius. Pria tampan itu tampak sangat menunggu jawaban dari Jena.


Sedangkan kedua orang tua Jena hanya bisa mengajak senyum, melihat interaksi putrinya dengan Jeno — anak angkatnya.


"Bukankah aku sudah menjawab kalau aku tidak bisa menolak lamaranmu, karena aku juga cinta sama kamu, Kak!" balas Jena lembut memperjelas maksud perkataannya.


Sontak mendengar jawaban dari Jena membuat Jeno tersenyum lebar. Sang pria tertawa senang, lalu menarik Jena ke dalam pelukannya.


Jeno menangis saking terharunya. Pujaan hatinya ternyata punya rasa yang sama dengannya.

__ADS_1


"Je, aku benar-benar sangat mencintaimu. Terima kasih karena sudah mau menerimaku! Aku janji akan membahagiakanmu. Meski aku lahir dari keluarga miskin, tetapi, percayalah … aku akan memutuskan rantai kemiskinan itu! Terima kasih, Je … terima kasih, karena sudah cinta padaku."


Jeno menumpahkan segala rasa yang ia pendam pada Jena. Begitupun dengan sang gadis yang ikut terharu melihat kesungguhan Jeno.


"Aku percaya padamu, Kak. Aku mencintaimu bukan karena harta, tapi, karena karakter mu. Aku cinta pada kebaikan mu, aku cinta pada kegigihanmu, aku cinta pada kecerdasan mu. Aku cinta dengan kesungguhanmu mengejar cita-cita agar bisa membahagiakan adik-adikmu! Kamu adalah pria terhebat setelah Papa ku!"


Jena membalas pelukan Jeno. Dia mengungkapkan perasaan terpendam nya selama ini. Sang gadis menerima segala kekurangan Jeno, dia yakin kalau Jeno adalah pria baik untuknya.


Jeno sangat bertanggung jawab atas kebutuhan adik-adiknya. Jena juga sudah tahu bagaimana nasib keluarga Jeno dan pribadi kedua orang tua Jeno yang tidak bertanggung jawab atas hidup Jeno dan adik-adiknya.


Dia sangat marah, tetapi, hanya bisa diam dan membantu adik-adik Jeno dengan memberikan sejumlah uang untuk kebutuhan mereka.


Orang tua Jena juga tersenyum haru. Mereka sangat menyetujui hubungan Jeno dan Jena. Melihat kepribadian Jeno yang sangat sopan santun dan cerdas juga berpikiran kritis membuat mereka tertarik.


Terkadang yang memikat hati orang lain kepada kita bukanlah uang. Melainkan, karakter dan isi kepala.


Ada orang yang punya uang banyak, tetapi karakternya buruk. Alhasil, membuat orang-orang menjaga jarak darinya. Karena tidak nyaman berteman dengannya.


*


*


Bersambung.


Jangan lupa like coment vote dan beri rating 5 yah kakak 🥰


Salem Aneuk Nanggroe Aceh ❤️

__ADS_1


__ADS_2