
Jeno menghela nafas berat setelah mendengar cerita dari Laras tentang Marni. Dia tetap tidak akan memecat Marni, karena dia punya hutang jasa pada keluarga Marni.
Sedangkan, Jena hanya bisa tertawa dalam hati. Ternyata Laras benar-benar ular berbisa, dia sangat pandai mengadu domba. Jena percaya pada Marni, pasti gadis lugu itu tidak akan bertindak tegas pada Laras tanpa alasan.
"Sekarang di mana, Marni?" tanya Jeno datar pada Laras membuat wanita itu bersorak senang dalam hati. Dia mengira kalau Jeno pasti akan membelanya dan mengusir Marni dari rumah.
"Sepertinya dia keluar jalan-jalan dengan pacarnya. Aku lihat dia pakai pakaian casual, bukan seragam pembantu!" jawab Laras dengan raut wajah sendu yang dibuat-buat.
Sudah cukup, Jena muak dengan perilaku Laras. Bisa-bisanya wanita berbisa itu memfitnah pembantunya.
"Marni itu anaknya baik, Ras. Dia lugu dan berasal dari desa, setahuku dia tidak punya pacar dan soal dia melarang kamu masuk ke dapur itu bukan masalah besar. Dia hanya menjalankan perintahku!"
Jena berkata dengan santai, wanita itu berjalan anggun mendekati Laras yang sedang berdiri di dekat meja kitchen.
"Perintahmu?" tanya Laras seraya mengerutkan dahinya bingung.
"Benar, perintahku. Di hari pertama dia bekerja di sini, aku memerintahkan dia untuk hati-hati pada orang asing yang bertamu dan tidak boleh mengizinkan tamu naik ke lantai atas atau ke manapun, kecuali ruang tamu dan toilet khusus tamu!" jelas Jena panjang lebar membuat Laras tercengang.
Wanita itu semakin aneh dengan sikap Jena yang benar-benar berubah. Seperti orang lain, karena seratus persen di masa lalu Jena selalu membelanya.
Namun, sekarang Jena membela pembantunya. Benar-benar aneh pikir Laras.
"Kenapa si bodoh ini tidak bisa lagi ku bodoh-bodohi? Apa yang sebenarnya terjadi padanya? Semenjak bangun dari koma, sikapnya padaku benar-benar berubah."
Laras bertanya-tanya dalam hati.
"Tapi, aku bukan orang asing, Je. Aku sahabat kamu dan Mas Jeno," sanggah Laras dengan suara lembut membuat Jena tertawa anggun seraya menutup mulutnya.
"Kamu itu CUMA sahabatku, Ras. Bukan sahabat Mas Jeno. Lagian mana ada persahabatan antara wanita dan pria, terkecuali salah satu di antaranya ada yang memendam rasa. Benar begitu, 'kan, Mas?"
__ADS_1
Jena berbalik menatap suaminya dengan sorot mata penuh arti. Jeno menganggukkan kepalanya polos, dia selalu setuju dengan pendapat istrinya.
"Benar, Dinda. Seperti kita dulu." Jeno mengedipkan matanya sebelah ke arah Jena, membuat pria itu tampak menggoda di mata Jena.
Wanita itu terkikik pelan. Dia melirik ke arah Laras tampak wajah wanita itu merah padam.
Ahhh … rasanya sangat menyenangkan bagi Jena.
"Aaaa … jangan di bahas di sini, Mas. Ada Laras, aku malu," rengek Jena dengan nada manja membuat Jeno tertawa.
Perut Jeno berbunyi membuat tawa pria itu terhenti digantikan dengan senyuman malu. Laras yang mendengarnya bersemangat untuk menghidangkan masakannya agar pria impiannya bisa mencicipi masakan nya.
"Ah, sepertinya cacing di perut ku sedang demo," cicit Jeno pelan membuat Laras tersenyum.
"Berarti tidak salah kalau aku masak dong, Mas. Lihat nih aku masak banyak untuk Mas dan Jena! Semoga kalian suka dengan masakanku!"
Laras segera melangkah mendekati meja makan dan menata semua makanannya di atas meja.
Laras ingin menyendokkan nasi untuk Jeno. Namun, pria itu langsung mencegahnya.
"Tidak usah!" larang Jeno cepat membuat senyuman di bibir Laras pudar. Dia menatap lekat wajah tampan Jeno.
"Kenapa, Mas?" tanya Laras penasaran.
Kemudian, Jeno tersenyum manis untuk Jena yang masih berdiri di tempatnya.
"Kamu bukan istriku!" jawab Jeno jujur mampu menusuk hati Laras, menampar kewarasan Laras membuat wanita itu tersadar akan perbuatannya.
Degg.
__ADS_1
"Dinda, tolong layani aku!" pinta Jeno pada istrinya membuat Jena tersenyum puas.
Wanita itu langsung mendekati suaminya. Dia meminta sendok nasi yang dipegang oleh Laras.
"Tolong kasih sendok nasinya, Ras. Aku mau taruh nasi untuk SUAMIKU!" seru Jena seraya tersenyum manis dan menekankan kata suamiku agar pelakor di hadapannya ini sadar akan posisinya.
Laras memberikannya pada Jena. Namun, saat Jena hampir menyentuh sendok nasi, wanita licik itu menjatuhkan sendok tersebut membuat wajah Jena berubah masam.
Tak.
"Maaf, tangan ku licin," balas Laras dengan raut wajah bersalah.
Jena tersenyum tipis.
"Pelakor ini benar-benar tidak tahu malu," batin Jena geram.
"Sepertinya aku harus bermain lembut untuk mengambil suaminya," batin Laras kejam.
*
*
Mau lagi nggak??
Salem aneuk Nanggroe Aceh ❤️
Bersambung.
Jangan lupa like coment vote dan beri rating 5 yah kakak 🥰🥰
__ADS_1
Salem aneuk Nanggroe Aceh ❤️🥰