Suami Licik Versus Istri Cerdik

Suami Licik Versus Istri Cerdik
Kehidupan Pertama Jena: Musuh Dalam Selimut


__ADS_3

"Papa akan menghubungi pihak WO untuk menyiapkan pernikahan kalian Minggu depan. Tidak usah pakai tunangan segala, karena kalau bisa langsung nikah, untuk apa tunangan!" ujar sang ayah secara tiba-tiba membuat Jena dan Jeno melepaskan pelukan mereka.


Keduanya tampak sangat terkejut. Padahal, Jeno baru saja melamar Jena, tetapi Ja'far sudah menentukan kapan mereka Kana menikah.


"Kalau begitu, Mama juga akan menyuruh orang untuk menyebarkan undangan pernikahan kalian berdua! Benar, apa yang dikatakan oleh papa. Tidak usah bertunangan, langsung ke jenjang pernikahan saja. Lagian Jeno sudah lulus S2 dan Jena hampir lulus S2. Kalian sudah cocok untuk menikah!" ujar sang ibu penuh lemah lembut membuat Jena dan Jeno menelan ludah susah payah.


"Ta-tapi, sebaiknya tunggu Jena selesai S2 dulu, Ma, Pa!" balas Jena terbata-bata bercampur rasa gugup.


"Dua bulan lagi kamu juga bakal lulus, Je. Dan udah bisa kerja di rumah sakit Kasih Ibu milik, Om Kamil! Alangkah, baiknya menikah Minggu depan saja, agar saat kamu bekerja. Sudah ada Jeno yang ikut menemani hari-harimu!" seru sang ibu membuat Jena tersipu malu.


Jena dan Jeno berpegangan tangan. Keduanya saling beradu pandang, kemudian tersenyum manis.


"Kami patuh saja, Ma, Pa! Asalkan kami berdua bisa bersama!" balas Jena tersenyum manis.


*


*

__ADS_1


Pernikahan Jena dan Jeno berlangsung mewah. Banyak orang yang datang ke pernikahan mereka. Terjadi pro dan kontra di antara kalangan masyarakat. Karena layar belakang Jeno yang berasal dari keluarga miskin.


Namun, Ja'far dan Srikandi tidak malu akan hal itu. Bahkan, mereka membanggakan Jeno yang lulus coumload di Harvard university.


"Meski menantuku berasal dari keluarga miskin. Tapi, otaknya cerdas … encer macam keturunan Albert Einstein! Dia lulus S1 coumload, S2 juga coumload. Sangat banyak firma hukum yang ingin mengajaknya kerja sama. Tetapi, dia tidak mau dan Jeno malah memilih kembali ke Indonesia untuk menjadi dosen di Malikussaleh. Saat saya bertanya, apa alasannya memilih jadi dosen daripada jaksa atau advokat. Dia menjawab : Pa, saya adalah orang berilmu dan saya ingin mengilmukan dan mencerdaskan generasi muda Indonesia terlebih dahulu. Agar mereka bisa menjadi seperti saya yang menuntut ilmu, meski ekonomi terbatas!"


Ja'far menceritakan kisah Jeno dengan penuh kegembiraan membuat rekan bisnisnya jatuh hati pada kepribadian Jeno.


"Pantas saja Anda menyetujui hubungan putri Anda dengannya. Rupanya dia memang pemuda yang baik!" puji salah satu rekan kerja Ja'far.


"Oh tentu … dia benar-benar sangat baik dan murah hati. Saya yakin anak didiknya nanti akan sukses sepertinya!"


"Jeng, apa nggak takut kalau nanti Jena hidup susah dengan suaminya? Secara kita tahu kalau Jeno berasal dari keluarga miskin!"


Srikandi tersenyum kecil mendengar pertanyaan dari teman-temannya. Dia mengibaskan kipas cantik di depan wajahnya.


"Saya tidak takut, Jeng. Jena anak tunggal kami, harta kami sangat banyak! Tentu saja akan kami berikan untuk Jena dan Jeno. Lagian saya menerima Jeno menjadi menantu saya bukan tanpa alasan. Dia adalah pemuda yang sangat baik, bertanggung jawab atas kebutuhan adik-adiknya dan dia tidak matre sama sekali! Karakternya tidak sombong dan angkuh. Padahal jam terbang nya sudah sangat banyak. Bayangkan saja dia lulusan Harvard, Jeng. Bukan sembarangan orang bisa lulus dari Harvard!" sanggah Srikandi membuat teman-temannya mengerti.

__ADS_1


Di lain sisi, Jeno dan Jena tampak sumringah. Mereka berdua berdiri di atas ballroom menyambut tamu undangan. Tidak pernah mereka bayangkan kalau mereka akan menikah secepat ini.


"Kamu bahagia menikah denganku?" tanya Jeno dengan suara pelan berbisik ke telinga istrinya.


Jena yang mendengarnya tersenyum malu. Dia membalas bisikan suaminya dengan nada sensual.


"Sangat-sangat bahagia," balas Jena membuat Jeno terkekeh kecil.


Ah … mereka tampak menggemaskan. Berbeda dari keduanya yang bahagia, terlihat seseorang menatap mereka penuh rasa benci dan iri.


"Jangan harap kamu bisa bahagia, Jena. Akan ku buat rumah tanggamu hancur dan kamu sendiri yang menghancurkannya." Orang itu bergumam pelan lalu segera beranjak dari sana.


*


*


Bersambung.

__ADS_1


Jangan lupa like coment vote dan beri rating 5 yah kakak 🥰🥰


Salem aneuk Nanggroe Aceh ❤️


__ADS_2