
Jeno tidak bisa untuk tak terkejut. Pria itu menatap lekat wajah Dani yang kini tampak biasa saja. Namun, dia tahu kalau pria di hadapannya ini sedang berusaha untuk kuat. Padahal, hatinya sedang tidak baik-baik saja.
"Benarkah?" tanya Jeno serius.
"Ibuku Masokis, ayahku sadomasokis. Awalnya ibuku normal, namun, setelah menikah dengan ayahku. Dia menjadi Masokis. Aku tidak tahu bagaimana caranya ibuku berubah, tetapi, kurasa karena pengaruh ayahku mungkin."
"Suatu hari, ibuku meninggal karena sakit kronis. Ayahku yang ketergantungan hubungan badan, mencoba untuk memesan wanita di aplikasi. Tapi, tidak ada yang bertahan. Mereka semua kabur, karena ayahku punya kelainan $eks. Hingga, ayahku depresi dan mabuk, dia melimpahkan hasratnya pada aku yang berumur 14 tahun. Wajahku yang mirip dengan ibuku, membuatnya berhasrat."
"Aku ketakutan dan melaporkan para pamanku. Tapi …"
Dani menjeda kalimatnya. Dia menengadah guna menahan air matanya agar tak mengalir deras. Pria itu berlagak baik-baik saja. Tidak ingin lemah di hadapan Dani.
"Tidak usah dilanjutkan. Aku mengerti," ujar Jeno membuat Dani tersenyum tipis. Dia menghela nafas panjang, lalu meneguk kopinya.
Mereka berdua sama-sama terdiam. Tidak ada yang memulai percakapan lagi.
"Terima kasih." Jeno berkata membuat Dani menatap ke arahnya.
"Untuk?" tany Dani tak mengerti.
"Sudah mau bertahan sampai sekarang. Mungkin, kalau tidak bertemu denganmu. Aku bisa saja bunuh diri, karena merasa dunia tidak adil padaku."
Jeno membalasnya dengan santai membuat Dani tersenyum tipis. Di hari itu mereka berdua menjadi teman, hubungan keduanya kian dekat.
Jeno tak lagi berteman dengan Herman. Dia benar-benar memutuskan tali persahabatan mereka. Jeno tidak mau bersahabat dengan orang yang tidak mengerti kalau temannya sedang susah.
Ternyata benar apa yang dikatakan oleh Dani. Kalau orang-orang tidak akan mengerti apa yang dia rasakan. Jeno melaporkan kepada polisi, ternyata mereka malah menertawakan dirinya.
Jeno bercerita pada orang tuanya. Pria itu malah mendapatkan kemarahan ayah dan ibunya. Mereka menyuruh Jeno untuk melupakan perbuatan Broto.
__ADS_1
"Nggak usah memperpanjang masalah. Kita ini orang miskin, nggak bakal menang melawan orang kaya! Lagian kamu laki, tapi, kok lemah gitu. Sampai busa diperkosa! Heran deh," celetuk ibu Jeno kala itu membuat Jeno tersenyum miris.
Sejak saat itu dia tidak lagi berbicara pada orang tuanya. Hatinya sangat sakit, punya orang tua miskin dan tidak bertanggung jawab.
Bukan kemiskinan yang Jeno benci, melainkan sudah miskin, tidak tahu diri dengan beranak banyak. Terlalu percaya pada slogan, "punya anak banyak rezeki."
Tidak semua orang tua baik, tidak semua anak durhaka. Ada kalanya, orang tua yang lebih dulu durhaka pada anak-anaknya.
Sehingga, membuat seorang anak membenci orang tuanya sendiri.
Anak membenci orang tua itu salah. Tetapi, kita juga tidak menyalahkan mereka. Karena, tidak mungkin ada asap tanpa api.
Jeno melanjutkan kuliahnya dengan penuh semangat. Dia ingin menjadi orang kaya dan kuat, agar bisa membalaskan dendam pada Broto dan pria lainnya.
Suatu ketika, Jeno pulang ke rumahnya terlalu malam. Karena harus begadang di kos Dani untuk menyelesaikan skripsinya. Jeno tidak punya laptop, dia terpaksa harus meminjam punya Dani.
Bahkan Jeno ke kampus dengan mengayuh sepeda bututnya. Dia tidak gengsi sama sekali, karena sadar kalau dia tidak punya hak untuk gengsi.
Dia berusaha menajamkan telinganya. Pria itu melihat ke lorong gelap, samar-samar dia melihat seorang gadis memakai baju kuning terang sedang ditahan oleh dua pria asing.
Sontak saja Jeno teringat kejadian di masa lalu, saat dia diperkosa.
"Kurang ajar, bedebah!" umpat Jeno tidak akan membiarkan gadis itu diperkosa.
Dia turun dari sepedanya, lalu berlari ke arah lorong. Dia menajamkan penglihatannya, seorang pria mencium bibir gadis itu, sedangkan satu pria lain menyentuh dada sang gadis.
"Bajingan!" teriak Jeno seraya menendang pinggang pria yang sedang mencium sang gadis.
Bugh.
__ADS_1
Pria itu terhempas ke samping. Pinggang nya terasa sangat sakit.
"Kurang ajar kau!" umpat pria satunya lagi ingin menghajar Jeno.
Tetapi, tidak bisa. Karena Jeno lebih dulu menghindar. Dia menendang perut pria itu. Terjadi perkelahian antara Jeno dan dua pria asing.
Dua pria itu kalah dari Jeno dan kabur. Segera Jeno menoleh ke arah gadis di hadapannya yang menangis sesenggukan.
Segera Jeno tarik gadis itu masuk ke dalam pelukannya.
"Suttt … tidak apa-apa. Sekarang kamu aman!" ujar Jeno berusaha menenangkan sang gadis.
"Hiks … aku kotor, mereka jahat padaku!" balas gadis itu di sela-sela tangisnya.
"Nggak .. kamu nggak kotor, mereka tidak berhasil melakukannya."
Jeno terus menenangkan sang gadis. Hingga beberapa saat kemudian. Gadis itu berhenti menangis.
"Siapa nama kamu?" tanya Jeno lembut.
"Jena," jawabnya pelan.
*
*
Tolong bantu karya ini masuk rangking karya baru 🙏🥰😘
Bersambung
__ADS_1
Jangan lupa like coment vote dan beri rating 5 yah kakak beradik 🙏🥰😘
Salem Aneuk Nanggroe Aceh ❤️