Suami Licik Versus Istri Cerdik

Suami Licik Versus Istri Cerdik
Jeno Selingkuh?


__ADS_3

Waktu berjalan dengan cepat, sudah tiga hari berlalu pasca Jena sadar dari koma. Keadaannya berangsur-angsur membaik, dan hari ini dia diizinkan untuk pulang. Tentu saja kabar tersebut sampai ke telinga Laras.


"Aku nggak sabar sanksi di rumah, rindu sama kasur kita," ujar Jena seraya menyandarkan kepalanya pad pundak Jeno.


Pria itu tersenyum tipis, dia tetap fokus menyetir mobilnya.


"Rindu kasur, atau rindu sama aktifitas kita di atas kasur, hemm?" Jeno menggoda istrinya membuat pipi Jena merona malu. Wanita itu menggigit pundak Jeno gemas.


"Rindu dua-duanya," balas Jena dengan nada sensual membuat bulu Roma Jeno meremang. Pria itu ingin sekali melempar Jena ke atas kasurnya.


"Baiklah, nanti malam aku akan memberikan service terbaik untukmu, Dinda. Akan ku buat kamu menjerit dan pipis secara bersamaan," goda Jeno lagi membuat Jena menggigit bibirnya.


Mereka berdua telah lama tidak berhubungan badan, karena sibuk dengan pekerjaan masing-masing. Menjadi dokter dan dosen bukanlah hal yang mudah. Jadwal mereka sangat padat.


"Udah ah, jangan ngomong begituan lagi, Kanda. Aku malu," rengek Jena manja dengan pipi merona. Dia menggoyangkan lengan suaminya membuat Jeno tertawa kecil.


"Pake malu segala, kamu bukan gadis perawan lagi, Sayang. Tapi, sudah bolong tengah," balas Jeno lagi membuat Jena kesal dan menggigit pundak suaminya lebih keras.


Jeno meringis kesakitan.


"Auch, nah, 'kan, sudah main gigit aja, sabar dulu, Dinda. Nanti sampai rumah kamu bebas gigit aku," ujar Jeno kembali menggoda istrinya.


Plak.


Jena memukul lengan suaminya. Dia memilih menjauh lalu menatap tajam suaminya. Gemas sekali melihat Jeno tertawa lepas, karena berhasil menggodanya.


"Punya mulut nggak bisa di filter, asik m*sum aja omongannya dari tadi." Jena memarahi suaminya, bukannya takut, Jeno malah tertawa geli melihat wajah merah padam istrinya.

__ADS_1


"Dirty talk itu penting loh, Dinda. Berguna sekali untuk membuat hubungan suami istri semakin harmonis dan romantis. Apalagi kita sudah lama tidak melakukan 'itu', jadi sah-sah saja kalau otakku, isinya 'itu' semua," jelas Jeno membela dirinya sendiri.


Jeno adalah tipikal pria romantis, dia tidak akan segan melakukan hal-hal yang membuat hubungannya dengan Jena semakin dekat.


"Selama aku koma, kamu tidak main aneh-aneh, 'kan, Kanda?" tanya Jena serius teringat suaminya punya hasrat besar.


Pertanyaan Jena membuat Jeno tersedak ludahnya. Dia menatap horor sang istri.


"Ya Tuhan, Dinda. Kamu jangan berpikiran aneh-aneh, saat kamu koma aku cuma on waktu bersihin tubuh kamu saja, setelah itu aku olahraga lima jari, bahkan, untuk sekedar pulang saja aku tidak punya waktu, karena aku lebih milih jaga kamu di rumah sakit. Kalau kamu nggak percaya, bisa tanya sama dokter di rumah sakit, kalau aku 24 jam bersama kamu," jelas Jeno panik takut istrinya salah paham dan berpikiran macam-macam.


"Bisa jadi kamu ada main serong sama dokter atau perawat muda di rumah sakit," celetuk Jena lagi membuat tangan Jeno gatal langsung menyentil kening istrinya.


Tak.


"Haduh, sakit," ringis Jena mengelus keningnya.


Sang istri yang mendengarnya merasa sangat bersalah. Dia segera memeluk lengan suaminya dan mengecup pipi Jeno, berusaha menenangkan suaminya yang sedang marah dan kesal.


"Maaf, Kanda. Aku cuma bercanda, jangan marah," bujuk Jena lembut membuat Jeno menghela nafas berat.


"Lain kali jangan ngomong begitu, Dinda. Kalau ada orang tuamu yang mendengarnya bisa gawat, mereka kira aku menantu bajingan yang tega selingkuh dengan wanita lain sedangkan kamu terbaring koma di ranjang rumah sakit," tegur Jeno dengan suara lembut tak ingin menyakiti Jena, karena jujur saja jarinya terasa dongkol sekarang.


Jena mendengarnya dengan baik. Dia percaya pada sang suami, tak mungkin Jeno selingkuh. Apalagi dia sudah melihat kehidupan masa lalunya.


"Iya, Kanda. Maaf, aku salah," gumam Jena pelan.


*

__ADS_1


*


Satu jam perjalanan, Jeno dan Jena tiba di rumah mereka. Tak sabar Jena bertemu dengan Marni untuk meminta maaf atas sikapnya selama ini.


Mereka berdua masuk ke dalam rumah, aroma harum makanan tercium membuat Jena dan Jeno lapar.


"Sepertinya Marni sedang memasak. Tapi, aku udah lapar," ujar Jeno pada istrinya.


"Kita ke dapur dulu, mungkin makanannya sudah masak, tinggal dihidangkan, kita bisa langsung makan," ajak Jena lalu menggandeng tangan suaminya.


Keduanya masuk ke area dapur. Tubuh Jena membeku ketika melihat siapa yang memasak di dapurnya.


"Hai, Je, Hai, Mas. Aku sudah masak makanan kesukaan kalian berdua, kalian mau makan sekarang atau nanti?" tanya orang itu semangat tanpa rasa malu menggunakan dapur orang lain tanpa izin pemiliknya.


"Laras," beo Jeno terheran-heran melihat sahabat istrinya berada di dapur rumahnya.


"Siapa yang memberimu izin masuk ke dapurku, J*lang?!"


*


*


Bersambung.


Jangan lupa like coment vote dan beri rating 5 yah kakak 🥰😘


Salem Aneuk Nanggroe Aceh ❤️🙏

__ADS_1


__ADS_2