
Terima kasih buat yang sudah lama menunggu dan maaf juga ya ππ₯Ίππ€. Tetap stay ya bestie β¦ author bakal up lagi.
*
*
Jena mengalami mual-mual di pagi hari membuat Jeno mengernyitkan dahinya. Sidang dua Minggu istrinya mual-mual di pagi hari membuat pria itu sangat penasaran. Apakah sang istri sakit berat? Ataukah hanya sekedar masuk angin?
Setiap Jeno bertanya, mengapa Jena bisa mual-mual di pagi hari. Wanita itu selalu menjawab kalau dirinya hanya masuk angin. Akal sehat Jeno tak mudah mempercayai itu, karena dia yakin betul sang istri pasti menutupi sesuatu darinya.
Jeno segera menghubungi temannya yang juga berstatus dokter. Dia ingin bertanya tentang Jena.
"Halo, Bram. Maaf mengganggu mu pagi-pagi. Aku ingin bertanya suatu hal, dua Minggu belakangan istriku selalu mual-mual setiap pagi hari. Saat aku tanya dia sakit apa, dia selalu menjawab cuma masuk angin. Tapi, tidak logis kalau masuk angin nya sampai dua Minggu mual-mual nya tidak reda, bukan?"
Jeno bertanya pada sang teman membuat pria berstatus dokter di seberang sana tergelak.
"Tentu saja tidak ada orang masuk angin sampai dua Minggu. Apalagi orangnya Jena, secara dia pulang pergi kerja pakai mobil dan jarang keluar rumah. Kalau tebakan ku benar, boleh jadi istrimu sedang hamil. Mungkin dia tidak cerita padamu karena ingin memberimu kejutan," jelas Bram di seberang sana membuat tubuh Jeno termangu.
Pria tampan itu tak tahu harus menjawab apa. Baru saja dia mendengar kabar kalau istrinya bua saja hamil. Sedangkan prinsip nya selama ini ingin menganut childfree.
Trauma dan luka dari orang tuanya membuat Jeno tak ingin punya anak. Dia tidak mau kalau sampai mengulang kisah lama orang tuanya.
"Halo, Jeno."
__ADS_1
Jeno tersadar dari lamunan pendeknya. Dia menghela nafas berat dan mengusap wajahnya kasar.
"Terima kasih, Bram. Kalau begitu aku tutup dulu telpon nya."
Jeno segera melangkah kasar masuk ke dalam kamar mandi. Dia melihat istrinya baru saja membersihkan wajah. Jena tersenyum manis pada nya.
"Morning, Kanda," sapa wanita itu manja tak membuat Jeno tersenyum.
Dia ingin memastikan sesuatu terlebih dahulu. Pria itu mencengkram erat pundak istrinya lalu bertanya dengan nada dingin.
"Apa benar kamu hamil, Je?" tanya Jeno serius dengan nada dingin.
Degg
Lantas, bagaimana sekarang? Haruskah dia jujur pada sang suami. Apakah Jeno bisa menerima kehamilannya?
Padahal Jena sengaja merahasiakan kehamilannya terlebih dahulu, karena ingin membuat Jeno ingin punya anak. Barulah dia jujur kalau Jena hamil.
"Jawab, Je?!" sentak Jeno dengan nada yang cukup tinggi membuat wanita itu menganggukkan kepalanya cepat.
Dia cukup takut melihat suaminya seperti orang yang sedang marah besar.
Jeno memundurkan langkahnya. Dia mengusap wajahnya kasar. Tanpa sadar pria itu meneteskan air matanya.
__ADS_1
"Kamu tahu betul dengan masa laluku, Je. Kamu tahu kalau aku tidak mau punya anak, karena trauma dengan perlakuan orang tuaku! Lalu kenapa bisa kamu hamil?" tanya Jeno dengan suara serak menahan tangis.
Rasanya dia ingin marah besar saat ini. Dia ingin mengamuk, namun tak bisa karena tidak mau menyakiti istrinya.
"Kamu selalu bilang kalau kamu suntik KB. Lantas, bagaimana bisa ku hamil? Aku belum siap jadi orang tua, Je. Aku belum siap!"
Jeno memukul dadanya kencang. Tak cukup menyakiti dirinya sendiri, dia meninju dinding kamar mandi. Jena ikut menangis, dia merasa bersalah, karena telah egois.
Akan tetapi, dia ingin punya anak. Setidaknya saat dirinya tidak ada lagi di dunia ini. Ada sesuatu yang dia tinggalkan untuk Jeno.
"Lalu, apa aku harus menggugurkan kandunganku? Apa aku harus membunuh calon anak kita?"
"Kalau memang itu maumu. Akan kulakukan asalkan kamu senang," imbuh Jena lalu melangkah gontai keluar dari kamar mandi meninggalkan Jeno yang termangu.
*
*
Bersambung.
Jangan lupa like coment vote dan beri rating 5 yah kakak π₯°
Salem Aneuk Nanggroe Aceh β€οΈ
__ADS_1