
Laras memilih pulang menggunakan taksi. Sepanjang perjalanan dia menggerutu kesal, tidak menyangka kalau Jena akan berkata demikian. Sikap wanita itu benar-benar aneh.
"Ahhh … kenapa dia tidak mati saja sih?! Kenapa dia harus sadar dari koma nya?"
Laras berteriak di dalam taksi. Tanpa memperdulikan supir taksi yang menatap aneh dirinya. Rasa iri dan dengki itu membara dalam dada. Amarahnya berkobar-kobar, sikap Jena tadi membuat dirinya sudah siap untuk berperang merebut Jeno.
Tiba-tiba Laras tertawa kecil. Dia mengeluarkan ponselnya dari tas mahalnya.
"Kita lihat saja, setelah ini apa kamu masih bisa bermesraan dengan suamimu," gumam Laras pelan seraya tersenyum tipis.
Wanita itu mengirimkan video yang berisikan Jeno cek in hotel dengan wanita seksi berambut merah.
"Nah, anggap saja ini kado dariku, karena kamu baru sadar dari koma," tambah Laras pelan tersenyum cerah seraya menatap layar ponselnya. Setelah itu segera Laras mematikan ponsel khusus untuk meneror Jena.
Sang sopir yang melihat Laras bergidik ngeri.
"Sepertinya dia punya gangguan mental, sesekali berteriak, kemudian tertawa seperti orang gila. Haiss … jaman makin edan, yang gila rata-rata yang cantik," batin sang sopir takut-takut.
*
*
Jena menatap langit-langit kamar rumah sakit. Dia sedang memikirkan hal apa yang harus dilakukan untuk membalaskan dendam nya. Di tambah dia ingin membuat suaminya jujur tentang masa kelam yang dialami Jeno.
Orang tuanya sudah pulang ke rumah. Hanya ada Jeno yang kini terlelap di atas sofa, karena kelelahan. Tersisa Jena yang masih sadar berperang dengan pikirannya.
Ting.
Bunyi ponselnya berbunyi membuat Jena segera mengambil ponselnya yang terletak di atas meja nakas.
__ADS_1
Terdapat pesan masuk dari nomor misterius, mungkin sebelum kecelakaan Jena akan berdebar-debar kencang dan bahagia mendapatkan petunjuk untuk mendapatkan bukti perselingkuhan Jeno.
Sekarang tidak, dia sudah tahu siapa dalang dari hancurnya rumah tangga Jena di kehidupan pertama.
Wanita itu tersenyum sinis, dia segera membuka pesan masuk itu dan melihat Jeno sedang cek in hotel bersama wanita berambut merah.
Jena memperbesar gambar tersebut agar dia bisa melihat dengan jelas wajah wanita itu.
"Dia, 'kan, Jelita," gumam Jena pelan.
Pupil mata wanita itu membesar sempurna, masih terekam dalam ingatannya, pasti ada yang mati bila Jeno bertemu dengan Jelita di dalam hotel. Mereka membunuh orang lain.
Tangan Jena bergetar. Dia menggigit ujung kukunya.
"Apa aku terlambat? Apa Kanda sudah membunuh orang? Tapi … tapi, Broto tidak mati di kehidupan keduaku. Dia masuk penjara, karena kesalahannya sendiri, terjadi perubahan alur cerita."
Jena berpikir keras, berusaha mengingat dengan jelas alur kisahnya yang ia tonton saat bersama sang Dewi.
Wanita itu memilih bangkit dari ranjang rumah sakit. Dia berjalan dengan tertatih-tatih seraya membawa selang infusnya.
Dia berjongkok di depan wajah Jeno. Ia lihat wajah lelah sang suami, sorot mata Jena menyiratkan rasa bersalah dan cinta yang amat besar.
"Maafkan aku, karena sempat meragukan cintamu, Kanda. Tidak akan kubiarkan kamu jadi pembunuh, karena takut suatu saat nanti menjadi Boomerang untukmu. Aku siap membantumu menghancurkan mereka yang menyakitimu," gumam Jena pelan.
Dia membelai wajah suaminya dengan penuh cinta. Jeno yang merasa terusik, segera membuka matanya. Samar-samar dia melihat wajah istrinya.
"Dinda, ada apa hemm? Kenapa belum tidur?" tanya Jeno dengan suara serak khas orang bangun tidur.
"Jangan tidur di sofa, nanti badan kamu sakit, Kanda. Tidur di ranjang saja bersamaku," ajak Jena lembut seraya membelai pipi suaminya.
__ADS_1
"Tidak apa-apa, aku di sini saja. Biar kamu leluasa tidur di atas ranjang," tolak Jeno secara halus tak membuat Jena menyerah.
"Tapi, aku mau tidur dengan, Kanda. Aku pengen peluk, Kanda," rengek Jena manja membuat pria tampan itu mau tak mau harus menuruti keinginan istri tercintanya.
"Baiklah, kalau memang itu yang Dinda mau."
Jena tersenyum senang, sang suami membantu istri tercintanya naik ke atas ranjang. Meski tempatnya sempit, tak membuat mereka berdua kesal, justru semakin senang, karena bisa berdekatan.
"Peluk aku, biar kamu nggak jatuh," pinta Jeno pada Jena.
"Tanpa kamu suruh aku memang mau peluk kamu, Kanda." Jena menenggelamkan wajahnya dalam dada bidang suaminya. Ia cium aroma tubuh Jeno yang khas.
Jeno mengelus punggung istrinya dengan lembut.
"Tidurlah, besok kita harus bangun cepat, karena aku akan mengajak mu berjemur," ujar Jeno membuat Jena menganggukkan kepalanya.
Keduanya terlelap dengan posisi saling berpelukan. Tentunya lengan Jeno yang menjadi korban, karena Jena tidur di lengannya.
Namun, pria itu tak mengeluh meski rasa kebas itu menyerang lengannya. Bagi Jeno kebahagiaan dan kenyamanan Jena nomor satu.
Rencana Laras telah gagal. Bukannya terjadi perang besar antara Jena dan Jeno, malahan keduanya semakin romantis.
*
*
Bersambung.
Jangan lupa like coment vote dan beri rating 5 yah kakak 🥰😘
__ADS_1
Salem Aneuk Nanggroe Aceh ❤️🙏