Suami Licik Versus Istri Cerdik

Suami Licik Versus Istri Cerdik
Pengadilan Agama


__ADS_3

Laras keluar dari rumah megah Jeno dengan perasaan dongkol. Wanita seksi itu mengumpat kesal dalam hati. Dia tidak menyangka kalau Jeno tega mengusirnya.


"Bangs*t, awas aja kalian berdua. Kalau tiba masanya kalian akan berpisah dan Kamu Jeno akan jadi milikku! Kalau kamu tidak bisa ku miliki jangan harap orang lain bisa memiliki mu juga!" desis Laras berbalik menatap rumah megah sahabatnya.


Dia tersenyum penuh arti. Tak lama kemudian Laras tertawa cekikikan seperti orang gila.


"Tunggu tanggal mainnya," human Laras lalu berbalik melangkah pergi meninggalkan perumahan Jeno dan Jena.


Entah apa yang wanita itu pikirkan, sesuatu yang buruk sepertinya akan terjadi.


*


*


Nafas Jena dan Jeno terengah-engah. Keduanya baru saja melakukan hubungan badan. Kedua tubuhnya menyatu dan berpacu layaknya kuda yang berlari kencang dikejar predator ganas.


Hah … hah …


Jeno menyatukan keningnya dengan kening Jena. Sorot matanya beradu pandang dengan netra indah Jena. Pria tampan itu tersenyum manis, dia langsung menj*lat pipi Jena membuat wanita itu menggigit bibir bawahnya.


"Aku cinta sama kamu, Je. Aku tergila-gila padamu, aku terobsesi pada suaramu, tubuhmu, jiwamu dan harum mu. Jangan pernah tinggalkan aku … aku lebih baik mati kalau kamu pergi," bisik Jeno dengan nafas memburu membuat Jena tersenyum manis.


Wanita nakal itu menggigit daun telinga suaminya. Membuat Jeno mencengkram lembut pundak Jena. 


Dia menindih tubuh Jena. Memeluk erat tubuh istrinya. Wajah pria itu turun berhadapan dengan dada polos Jena. Dia cium lembut kulit di tengah dada istrinya.

__ADS_1


"Aku cinta sama kamu," lirih Jeno pelan.


Jena mengelus rambut suaminya. Dia tersenyum kecil, setiap mendengar pernyataan cinta yang keluar dari mulut Jeno membuat dada Jena bergetar. Dia merasa bodoh, karena meninggalkan kehidupan pertamanya gara-gara salah paham saja.


Untung takdir berbaik hati dengan mengizinkannya menjalani kehidupan keduanya sebagai Jena.


"Jangan mati … teruslah hidup. Kalaupun aku mati lebih dulu maka berdoalah agar aku bisa bereinkarnasi. Aku berjanji bila nanti aku bereinkarnasi, akan kucari kamu, Mas. Tidak peduli kamu sudah tua. Aku tetap berlari ke dalam pelukan mu lagi!"


Jena berbicara dengan nada lembut penuh makna. Matanya berkaca-kaca menatap langit-langit kamar. Dia teringat perjanjian nya dengan sang Dewi.


Jeno menggigit dada Jena gemas, karena kesal mendengar ucapan istrinya.


"Auch, sakit, Mas," ringis Jena pelan.


"Salah kamu kenapa berbicara seolah-olah kamu akan meninggal. Pokoknya, aku tidak mau kamu meninggal. Setiap hari aku berdoa agar Tuhan mengambil nyawaku terlebih dahulu, karena aku tidak akan sanggup hidup tanpa kamu … kamu kebahagiaan ku, Je. Kalau kamu tidak ada … maka kesedihan akan bersamaku!"


Jena mengeratkan pelukannya. Wanita itu tidak ingin jauh dari sang suami.


"Apa kamu beneran cinta sama aku?" tanya Jena serius membuat Jeno mendongak. Dia melihat suaminya dengan sorot mata serius.


"Apa yang aku berikan untukmu selama ini tidak cukup membuatmu percaya kalau aku cinta mati sama kamu?" Jeno bertanya balik pada istrinya membuat Jena bungkam sesaat.


Segera wanita itu mengelus pipi sang suami. Sepertinya ini waktu yang cepat untuk membuat Jeno menceritakan masa lalunya.


"Kalau begitu ceritakan masa lalumu, Mas. Semuanya tanpa terkecuali, dari yang senang dan yang sedih. Termasuk masa kelam dan trauma! Aku ingin mendengarnya!" pinta Jena dengan nada tegas seraya menatap dalam bola mata suaminya.

__ADS_1


Wanita cantik itu menangkap kecemasan di raut wajah suaminya. Tampak Jeno berubah gugup. Dia tidak tahu harus berkata apa karena memang dirinya punya rahasia yang tidak ingin diceritakan pada Jena.


Dia terlalu malu dan tak percaya diri. 


Takut kalau sewaktu-waktu istrinya tahu masa kelam yang telah ia lalui. Jena akan ilfil padanya.


"Tidak ada yang harus aku ceritakan, Dinda. Kamu sudah tahu bagaimana kehidupan ku," balas Jeno gugup seraya membuang wajahnya ke arah lain tak sanggup beradu pandang dengan istrinya.


Jena langsung menangkup pipi suaminya. Dia bisa melihat rasa takut dan cemas dari wajah suaminya.


"Benarkah? Kalau begitu, bila suatu hari nanti aku tahu sesuatu tentang masa lalu kamu yang dengan sengaja tidak kamu ceritakan padaku. Kamu harus siap untuk bertemu denganku di pengadilan agama!" tegas Jena penuh penekanan membuat Jeno terkejut bukan main.


Mata Jeno langsung berkaca-kaca, cairan bening keluar dari sudut mata Jeno mengalir dari batang hidung pria itu jatuh membasahi pipi Jena.


Segera Jeno memeluk erat tubuh istrinya. Dia menenggelamkan wajahnya di cermin leher Jena. Dia menangis sesenggukan takut bila di tinggal pergi istrinya.


"Jangan tinggalkan aku … hiks … aku akan cerita, tapi jangan tinggalkan aku!" tangis Jeno pecah, takut sekali kalau dirinya ditinggal pergi oleh istrinya.


*


*


Maaf telat up guys 😘


Bersambung.

__ADS_1


Jangan lupa like coment vote dan beri rating 5 yah kakak 🥰🥰


Salem Aneuk Nanggroe Aceh ❤️


__ADS_2