Suami Licik Versus Istri Cerdik

Suami Licik Versus Istri Cerdik
Kehidupan Pertama Jena : Mau Punya Anak


__ADS_3

Guys, kalau ada banyak typo, silahkan bantu koreksi di paragraf nya yah. Nanti author revisi, karena maklum. author nulis cerita buru² sebab real life juga punya kerjaan.


...----------------...


Suara teriakan manja Jena terdengar mendayu-dayu membuat Jeno semakin bergairah. Mereka telah menikah nyaris setahun, tetapi hampir saat ada kesempatan Jeno selalu meminta haknya. Jena tidak bisa menolak, karena dirinya juga sangat menikmati permainan sang suami. Dia merasa sangat senang, sebab Jeno setia padanya. Mereka jarang bisa bermesraan, karena jadwal keduanya sangatlah padat.


Jeno bekerja sebagai dosen dan Jena sebagai dokter spesialis bedah. Terkadang Jeno libur, Jena bekerja. Begitulah sebaliknya, sehingga membuat keduanya jarang bermesraan.


Namun, Jeno dan Jena tetap memegang kukuh janji suci pernikahan. Mereka berdua tidak selingkuh sama sekali.


"Kamu suka?" tanya Jeno dengan nada sensual membuat Jena mengangguk kepalanya. Dia menggigit bibir bawahnya, merasa sangat nikmat.


"Lebih cepat," pinta Jena dengan suara serak.


Sang pria tersenyum senang. Dia segera melaksanakan perintah sang istri. Begitulah keduanya, setiap punya kesempatan untuk bermesraan, mereka berdua pasti akan melakukan hubungan badan.


Suara pekikan keduanya melengking menandakan mereka berdua telah sampai pada puncaknya. Jena tersenyum tipis saat sang suami memeluk erat tubuhnya. Terdengar nafas Jeno tersengal-sengal, pria itu segera bangkit dari tubuh sang istri lalu berguling ke kanan.


Dia memeluk pinggang Jena dengan erat. Sebuah kecupan manis ia berikan pada tengkuk leher istrinya.

__ADS_1


"Terima kasih, Dinda!" bisik Jeno memanggil sang istri dengan panggilan kesayangannya. Jena tersenyum malu, dia menganggukkan kepalanya. Lalu menoleh ke belakang, mencium bibir sang suami untuk sesaat.


"Sama-sama, Kanda!" balas Jena membalasnya dengan suara lembut.


Jena mengelus lengan Jeno yang melingkar di perutnya. Ada satu hal yang sangat ingin dibicarakan dengan sang suami.


"Kanda, bagaimana kalau kita ikut program hamil? Aku sangat ingin punya anak darimu," pinta Jena hati-hati membuat wajah Jeno berubah pucat. Pria itu sangat takut punya anak. Dia trauma dengan masa lalunya. Takut sekali anak-anaknya hidup menderita dengannya.


"Aku sudah bahagia hidup berdua denganmu saja, Dinda. Untuk apa punya anak lagi? Nanti kamu capek," tolak Jeno secara halus membuat Jena menghela nafas berat. Dia berbalik lalu mengelus rahang tegas suaminya. Menatap dalam bola mata suaminya.


"Kita akan lebih bahagia kalau punya anak, Kanda. Nanti akan ada suara tawa dan tangis anak kecil di rumah besar kita. Saat kamu pulang kerja, bukan hanya aku yang menunggumu. Tapi, anak kita juga! Apa kamu tidak ingin mendengar suara anak kecil memanggilmu, Papa? Hemm? Kalau kita punya anak laki-laki dia pasti akan tampan sepertimu. Kalau perempuan dia pasti akan manis seperti ku!" rayu Jena membuat hati Jeno berdesir.


Mata Jeno berkaca-kaca, Jena paham kalau suaminya trauma.


"Aku takut gagal membahagiakan mereka! Bagaimana kalau suatu saat nanti aku tidak punya uang, mereka akan makan apa? Bagaimana dengan pendidikan mereka? Aku tidak mau anak-anakku menderita, karena ketidakmampuan ku. Lebih baik aku tidak punya anak, dari pada punya anak tapi anakku tidak bahagia!" balas Jeno mengeluarkan isi hatinya.


Dia sangat ketakutan. Mungkin sebagian orang akan menganggap sepele, terlebih lagi pria. Bila punya anak ya sudah biasa.


Toh, rezeki sudah terjamin. Berbeda dengan pola pikir Jeno. Anak itu adalah tanggung jawab seumur hidupnya. Dia tidak boleh salah dalam memikul tanggung jawabnya sebagai ayah, karena akan berdampak buruk pada masa depan anak-anaknya.

__ADS_1


Jena mengerti ketakutan sang suami. Dia segera mengelus rahang tegas suaminya. Kemudian, Jena cium pelupuk mata Jeno memberikan pria itu ketenangan hati.


"Kamu adalah pria paling bertanggung jawab yang aku kenal selain ayahku. Kamu pekerja keras! Jangan takut miskin dan gagal menjadi orang tua. Apalagi takut kalau anak-anak kita kelaparan nanti. Kamu tenang saja, Kanda. Kalau kamu tidak punya uang, ada uangku. Kita ini suami istri, sudah seharusnya saling berbagi beban, bukan hanya berbagi kebahagiaan. Sudah tugasku untuk melengkapi kekurangan mu, begitupun sebaliknya. Lagian kita juga punya orang tuaku. Mereka punya harta banyak! Tentunya, mama dan papa akan dengan senang hati membantu kita nanti bila memang ditimpa kesusahan."


"Yakinlah, Kanda. Tanamkan dalam jiwa dan hatimu, kalau aku tidak akan pernah meninggalkanmu. Baik kamu kaya atau miskin, sehat atau sakit. Aku akan tetap berada di sampingmu, menjagamu dan menyayangi mu. Aku siap menjadi tongkat untuk menopangmu agar bisa terus berdiri! Aku mencintaimu, bukan karena rupa atau harta. Tapi, karena itu kamu!"


Jena berkata puitis dan romantis. Membuat hati Jeno berbunga-bunga. Matanya masih berkaca-kaca, bukan karena sedih, melainkan terharu dengan perkataan istrinya.


Sang istri sangat-sangat baik padanya. Menerima segala kekurangannya dan mencintainya dengan sangat tulus.


*


*


Bersambung.


Jangan lupa like coment vote dan beri rating 5 yah kakak 🥰🥰


Salem Aneuk Nanggroe Aceh ❤️

__ADS_1


__ADS_2