Suami Licik Versus Istri Cerdik

Suami Licik Versus Istri Cerdik
Janji Jeno dan Harapan Jena


__ADS_3

Jena keluar dari kamar mandi diikuti oleh Jeno di belakang. Wanita itu menuju area dapur. Dia mengambil pisau, ingin menancapkan pada perutnya membuat Jeno yang melihatnya langsung mencekal tangan Jena.


"Apa yang sedang kamu lakukan, huh?" teriak Jeno khawatir membuat Jena menangis.


"Kamu ingin aku gugurin kandungan ku, 'kan? Kandungan ini anakku, aku ibunya. Kalau anakku mati, lebih baik aku juga mati!" bentak Jena dengan nada tinggi.


Sungguh Jeno terkejut mendengar ucapan istrinya. Dia menggelengkan kepalanya cepat, bukan ini yang diinginkan oleh Jeno.


Pria itu tidak sanggup kehilangan Jena. Dia mencoba menarik pisau dari cengkraman istrinya. Namun, tidak bisa. Genggaman tangan Jena pada gagang pisau sangatlah kuat.


"Lepasin, Je!" pinta Jeno penuh harap tak membuat tekad Jena lemah. Wanita itu amat menginginkan seorang anak, namun sang suami malah tidak ingin.


Lebih baik dia kati daripada anaknya saja yang mati. Jena tidak kuat melihat anaknya mati.


"Enggak mau … aku nggak mau! Kalau kamu mau anak ini mati, maka aku juga akan ikut mati!"


Jena terus memberontak dalam pelukan suaminya. Jeno segera mencengkram mata pisau lalu menarik pisau tersebut dari cengkraman istrinya.


"Aaa." Jeno meringis pelan saat tangannya terluka dan berdarah membuat atensi Jena beralih pada tangan sang suami.

__ADS_1


Wanita itu terkejut sekaligus khawatir melihat itu.


"Mas, tangan kamu terluka!" pekik Jena seraya melepaskan pisau di tangannya.


Jeno tak menjawab. Dia langsung memeluk erat tubuh istrinya. Pria itu menangis sesenggukan, sangat takut bila hal buruk menimpa istrinya.


Dia tidak sanggup jadi duda mati.


"Jangan mati … aku nggak bisa hidup tanpa kamu … hiks … kalau memang hamil adalah pilihan kamu. Maka aku akan menerima itu. Asalkan jangan coba bunuh diri lagi! Aku takut kehilangan kamu."


Jeni meluapkan isi hatinya. Dia teramat menyayangi istrinya. Tak mau suatu hal yang buruk menimpa dang istri. Biarlah prinsipnya – childfree – rusak. Dia hanya ingin istrinya tetap berada di dekatnya.


Tangisan keduanya pecah. Dua insan itu saling mencintai. Dalam hati Jena merutuki kebodohannya di masa lalu, karena kebodohan nya dia membuat perjanjian dengan sang Dewi. Sehingga, membuat umur Jena sangatlah pendek. Tersisa satu tahun saja.


"Apa umurku bisa panjang? Aku ingin melihat anakku lahir dan tumbuh dewasa. Apa kalau aku mati nanti, Mas Jeno juga ikut mati? Tuhan … aku ingin hidup bahagia bersama suami dan anakku nanti."


Jena menangis sesenggukan. Banyak hal yang harus dia pikirkan. Termasuk perjanjiannya dengan sang Dewi.


Apakah ada cara lain untuk memutuskan kontrak perjanjian itu?

__ADS_1


"Maafin aku, Mas," lirih Jena penuh makna.


Jeno mengeratkan pelukannya. Dia mencium pundak dan pipi istrinya.


"Aku yang salah … aku yang seharusnya minta maaf. Maafin aku karena tidak mau ngerti kamu tadi. Tapi, sekarang aku janji akan terima keputusan kamu buat punya anak. Aku janji akan berusaha untuk jadi suami dan ayah yang baik untuk anak kita kelak. Asalkan kamu tidak berbuat yang seperti tadi," pinta Jeno di sela-sela tangisnya.


Bagi Jeno, Jena adalah nafasnya. Dia tidak bisa melanjutkan hidupnya tanpa Jena. Karena kebahagiaan nya bergantung pada sang istri.


Ctakk.


Tiba-tiba pandangan Jena buram dan gelap.


*


*


Yeyy .. author up lagi 🌹🥰


Bersambung.

__ADS_1


Jangan lupa like coment vote dan beri rating 5 yah kakak 🥰🥰


Salem Aneuk Nanggroe Aceh ❤️ 🙏


__ADS_2