
Banyak sekali media dan hacker yang berlomba-lomba untuk mencari akar kejahatan Broto. Para teman-teman Broto yang juga ikut berkecimpung dalam kejahatannya, juga terkena imbas. Dua pelaku lainnya yang pernah memperkosa Jeno juga ikut dipenjara. Mereka adalah Dahlan dan Bahri, keduanya dijerat hukuman mati. Sebab, terbukti ikut dalam organisasi gelap perdagangan manusia dan organ tubuh anak-anak yang di culik.
Para perwira tinggi yang bekerja sama dengan Broto, berusaha untuk menyelamatkan Broto, Dahlan dan Bahri, namun, para hacker telah membongkar semua kebusukan mereka.
Publik sangat marah dibuatnya, mereka mengirimkan karangan bunga ke pihak kepolisian sebagai sindiran agar polisi terus mengusut tuntas kasus ini.
"Sialan, si Broto itu sudah mati, tapi dia mengajak kita untuk mati juga! Kenapa dia tidak mati sendirian saja?!" umpat Dahlan dengan nada kesal di dalam ruang interogasi polisi.
Saat ini dia sedang bersama lima pengacara terhebat di Indonesia, juga dengan Johan, yang tak lain perwira tinggi polri. Johan termasuk pelaku kejahatan yang telah membuat masa lalu Jeno gelap.
Tetapi, pria paruh baya itu sangat pandai menyembunyikan kejahatannya. Maklum saja dia adalah perwira tinggi, sudah tahu betul bagaimana caranya menyembunyikan kejahatannya. Agar tak tercium oleh hacker dan media.
"Johan, kau bisa menolong kami, 'kan? Aku tidak mau mati dulu, hartaku masih banyak. Aku masih ingin bersenang-senang!" pinta Bahri serius menatap sahabatnya.
Johan memijat keningnya yang berdenyut nyeri. Dia cukup terkejut saat melihat berita kalau sahabatnya telah meninggal dunia. Di tambah bukti kejahatan Broto yang telah terkuak. Membuat publik murka dan seluruh jenderal, komisaris dan anggota BIN menekan dirinya untuk segera menangkap pelaku.
"Kali ini aku minta maaf! Aku tidak bisa ikut jatuh ke dalam neraka bersama kalian."
Johan berkata dengan nada dingin, dia langsung menolak untuk membantu dua sahabatnya. Bahri dan Dahlan terkejut mendengarnya, mereka menatap tajam Johan.
Mengepalkan tangan erat, rahang mengeras menunjukkan mereka berdua benar-benar sedang marah pada Johan.
"Jangan coba-coba tinggalkan kami, Jo. Kalau kau tidak mau menolong kami, maka kami berdua akan menarikmu agar ikut jatuh bersama kami!" ancam Bahri seraya tersenyum dingin.
Pria itu punya kartu As untuk menekan Johan. Mereka telah bersahabat dengan jangka waktu yang sangat lama. Tentu saja banyak rahasia yang mereka tahu.
Wajah Johan berubah dingin. Dia mencondongkan tubuhnya ke depan, wajahnya mendekati wajah Bahri. Pria itu tersenyum sinis, seringai kejam terpasang di wajahnya.
"Jangan coba-coba mengancam ku. Gampang sekali untuk mencabut nyawa anak dan istri kalian! Berani menarik ku ke dalam masalah kalian. Maka, nyawa mereka akan bilang!" balas Johan mengancam balik membuat wajah Bahri dan Dahlan merah padam.
__ADS_1
Dua pria paruh baya itu sangat membenci Johan. Mereka berjanji akan membuat Johan menyesali perbuatannya, karena telah meninggalkan mereka di dalam jurang.
Setelah mengatakan itu, Johan segera bangkit dan keluar dari ruang interogasi polisi. Meninggalkan Bahri dan Dahlan, senyuman kejam terbit dari wajah tua Dahlan.
"Pulang ke rumah ku. Masuk ke dalam ruang makan, tekan tombol merah yang berada di bawah meja makan, maka meja makan ku akan berubah menjadi tangga. Ikuti tangga itu, dan keluarkan mayat yang berada di dalam lemari pendingin! Ambil fotonya, lalu upload ke sosial media. Jangan lupa, ambil kamera digital yang berada di atas meja kaca. Kemudian, ambil memorinya. Cari video kejahatan Johan dan sebarkan ke internet. Jangan blur wajah korbannya agar orang-orang tahu siapa korban itu!" titah Bahri pada pengacara andalannya.
Pria itu mendengus dingin, dia tidak takut pada ancaman Johan, karena Bahri sama sekali tidak mencintai anak dan istrinya. Tidak ada yang tahu kalau istri Bahri merupakan transgender, dia tidak memiliki anak, gadis kecil yang berada di rumahnya merupakan anak adopsi.
Jadi, untuk apa Bahri takut? Pria itu adalah iblis berdarah dingin. Dia tidak pernah peduli dengan nyawa orang lain. Uang haram sudah mendarah daging dalam tubuhnya, tak ada lagi rasa cinta atau iba pada manusia.
Dahlan yang mendengarnya terkejut. Namun, dia tidak bisa menahan rasa bahagianya. Pria itu menepuk pundak Bahri, merasa senang, karena Bahri akan memberikan pelajaran pada Johan.
"Kau benar-benar kejam dan tak berperasaan!" puji Dahlan pada sahabatnya itu.
*
*
Namun, Johan bukannya menolong korban. Tetapi, malah ikut memperkosa dan membunuhnya. Kasus ini pernah viral di tahun 2007, tetapi, polisi menutup kasus ini. Sebab, tidak ada pihak keluarga yang datang untuk melapor. Korban hidup sebatang kara, dan di tahun itu sosial media belum secanggih sekarang.
Hanya segelintir orang saja yang tahu kasus ini. Johan mengubur wanita itu di halaman rumahnya. Bahri sempat melihatnya dan entah mengapa hatinya terdorong untuk membekukan mayat itu.
Bahri sangatlah licik, dia tidak percaya pada siapapun. Oleh karena itu, dia mengumpulkan bukti kejahatan para teman-temannya, agar bila suatu saat nanti ada yang berkhianat, dia punya balasan yang setimpal.
Di sisi Johan, pria itu tampak sangat frustasi. Dia benar-benar kehilangan arah dan murka saat melihat berita. Saat ini dia sedang berada di villa nya.
"Anjing … bagaimana video itu bisa tersebar? Padahal, aku sudah menghapusnya, dan kameranya juga …"
Johan termangu, dia teringat di masa lalu, Bahri meminjam kameranya, namun Johan malah memberikan secara gratis untuk Bahri, sebab dia punya kamera digital baru.
__ADS_1
"Bahri, sialan?! Pengkhianat … ku bunuh istri dan anakmu sekarang juga!" umpat Johan murka.
Segera saja pria itu mengambil pistol lalu keluar dari villanya. Namun, saat berada di halaman depan, sudah ada banyak mobil polisi mendatangi rumahnya. Tim SWAT ikut turun tangan untuk menangkap Johan.
"Sial?!" maki Johan ingin kabur.
"Inspektur Johannes, Anda telah dikepung. Jangan harap bisa kabur lagi! Angkat kedua tangan Anda?!" tegas anggota BIN yang ikut bergabung untuk menangkap Johan.
Pria itu mengangkat kedua tangannya, dia tidak bisa kabur lagi. Dalam hati dia mengumpat kesal, hidupnya akan berakhir. Dirinya bisa dihukum mati.
*
*
Sedangkan di sisi lain, Jeno tersenyum cerah menonton berita beberapa hari ini. Rencana balas dendam nya berjalan lancar.
"Sekali tepuk, dua nyamuk langsung mati!" gumam Jeno tersenyum dalam hati.
"Ih ngeri sekali ya, Kanda. Ternyata polisi lebih sadis dari pembunuh berantai!" celetuk Jena bergidik ngeri saat menonton televisi.
Sang suami mengecup kening istrinya. Dia mengelus paha mulut Jena, sang istri sedang bermanja-manja seraya tidur di paha suaminya.
"Terkadang yang kita sangka baik, ternyata taik," balas Jeno membuat Jena tertawa.
*
*
Bersambung.
__ADS_1
Jangan lupa like coment vote dan beri rating 5 yah kakak 🥰🥰
Salem aneuk Nanggroe Aceh ❤️