Suami Licik Versus Istri Cerdik

Suami Licik Versus Istri Cerdik
Kehidupan Pertama Jena : Puncak Cerita


__ADS_3

Tersisa tiga pelaku lagi yang belum Jeno bunuh. Pria itu masih mencari celah untuk menjebak mereka dan mencari tahu kejahatan apa uang mereka lakukan.


Jena merasa sangat senang, hari ini tepat setahun setelah pembicaraannya dengan Jeno mengenai progam hamil. Mereka telah sepakat untuk ikut program hamil hari ini.


"Yes, akhirnya aku bisa ikut program hamil. Semoga benih, Kanda. Cepat berkembang di dalam rahimku."


Jena berbicara dengan diri sendiri di dalam kamar. Sang wanita sedang asik memilih gaun yang ingin dia pakai untuk hari ini. Sang suami sedang berada di luar rumah, Jeno meminta izin untuk ke supermarket. Pria itu ingin membeli shampoo nya yang sudah habis.


Saat sedang asik bersenandung, ponsel Jena berdering, wanita cantik itu segera melihat pesan masuk. Wajahnya berubah pias, katanya berkaca-kaca saat melihat video suaminya bercumbu dengan wanita lain.


"Nggak mungkin," gumam Jena seraya menggelengkan kepalanya tak percaya. Wanita itu yakin betul kalau sang suami tidak mungkin selingkuh.


Selama ini Jeno selalu setia. Suaminya itu tidak pernah bermain wanita, waktu libur selalu dihabiskan bersamanya. Bahkan, saat lajang dulu Jeno tak pernah pacaran. Jadi, tidak mungkin kalau pria itu selingkuh.


Ting.


Pesan masuk dari nomor tak dikenal.


[Suamimu selingkuh dengan tujuh wanita sekaligus. Salah satunya adalah pembantumu sendiri. Jika tidak percaya, kamu bisa datang ke hotel V untuk membuktikannya. Sekarang, suami mu sedang bersama wanita itu]


Jantung Jena nyaris copot. Segera dia ambil dompet dan kunci mobil, beranjak keluar dari kamarnya.


Saat menuruni tangga dia berjumpa dengan Marni. Gadis cantik itu menatap Jena dengan sorot mata penuh kagum.


"Wah, Ibuk cantik sekali!" puji Marni tulus tak dihiraukan oleh Jena.

__ADS_1


Wanita itu berjalan lurus langsung keluar dari rumah. Marni cukup terkejut, dalam hati dia bertanya-tanya, apakah dia telah melakukan kesalahan besar, sehingga membuat Jena marah dan mengabaikannya.


"Ibuk, kenapa?" tanya Marni pada diri sendiri.


*


*


Jena mengemudikan mobilnya dengan kecepatan tinggi. Dia berdoa dalam hati agar isi pesan misterius itu bohong, suaminya tak mungkin selingkuh. Berulang kali dia berusaha untuk menyakinkan dirinya sendiri.


"Aku yakin kalau Kanda tidak mungkin selingkuh. Selama ini kami berdua selalu bersama-sama, tidak pernah sekalipun bertengkar. Aku yakin … hiks … semoga keyakinan ku ini benar. Tolong jangan kecewakan aku, Kanda."


Jena bergumam pelan. Wanita itu meneteskan air matanya. Segera dia turun dari mobil dan memberikan kunci mobil pada penjaga mobil di hotel V.


Wanita itu melangkah dengan lebar. Buru-buru masuk ke dalam lift, setelah keluar dari lift. Dia mencari kamar 309, kebetulan pintu kamar tidak terkunci. Jena bisa masuk ke dalam.


"Jadi, Minggu depan kita akan–,"


"Kanda?!" jerit Jena menggelegar membuat Jeno dan Jelita yang sedang berbicara serius langsung mengalihkan atensinya ke arah Jena.


Mereka berdua tampak sangat terkejut melihat kedatangan Jena. Tadinya, Jeno bertemu dengan Jelita untuk mengatur rencana pembunuhan lagi.


Sedangkan, Jelita baru saja habis melayani kliennya. Oleh karena itu, penampilannya seperti wanita yang habis bercinta.


Wajah Jeno berubah tegang. Dia terkejut melihat Jena ada di sana.

__ADS_1


"Din-dinda …"


Jena segera menghampiri Jeno lalu menampar pipi Jeno dengan sangat keras. Membuat pria itu terkejut. Dia menatap istrinya dengan sorot mata tak percaya, Jena tega menamparnya.


"Jahat kamu … hiks … tega kamu selingkuh di belakangku!" jerit Jena memukul dada bidang Jeno bertubi-tubi membuat pria itu langsung mencekal tangan Jena dan berusaha untuk memeluk Jena guna menenangkan wanita itu.


Tetapi, sayang sekali. Jena tidak mau. Wanita itu terus memberontak membuat Jeno kewalahan.


"Hey, Jena … Dinda sayang, aku tidak selingkuh. Hey tenanglah, aku bisa jelasin semuanya! Tapi, kamu tenang dulu!" Jeno berusaha untuk memberikan pengertian pada istrinya.


Namun, Jena yang sedang murka tidak bisa bersikap baik-baik. Dia marah dan murka pada sang suami. Kepalanya sangat ribut, dadanya terasa sesak. Tidak menyangka sang suami telah selingkuh.


"Bohong?! Akkk … aku punya buktinya. Tidak usah mengelak lagi. Tunggu surat cerai dari pengadilan agama?!" teriak Jena mendorong Jeno dengan kasar.


Wanita itu beranjak dari sana, dia berlari keluar dari hotel. Diikuti oleh Jeno. Jelita merasa sangat bersalah, wanita itu seharusnya berpakaian terlebih dahulu baru berbicara dengan Jeno.


Tetapi, demi apapun mereka berdua tidak melakukan apa-apa.


Jena hanya salah paham.


*


*


Bersambung.

__ADS_1


Jangan lupa like coment vote dan beri rating 5 yah kakak 🥰🥰


Salem aneuk Nanggroe Aceh ❤️


__ADS_2