
Keduanya tersenyum geli melihatnya. Untuk pertama kalinya melihat Jena bertingkah malu-malu.
"Lebih baik kalian berdua mandi pake air hangat sekarang. Terus ganti baju, makan malam dan jelaskan apa yang terjadi. Baru lanjut tidur!" titah sang ayah membuat keduanya mengangguk kepala.
"Baik, Pa, Ma."
"Bi, tolong antar tamu kita ke kamarnya." Sang ayah memerintahkan salah satu pembantunya untuk membawa Jeno ke kamar tamu.
"Baik, Tuan."
"Ayo ikut saya, Den," ajaknya ramah.
Sang pembantu mengantarkan Jeno ke kamar tamu. Sedangkan, Jena segera masuk ke dalam kamarnya.
*
*
Jeno tersenyum kecil saat berendam dengan air hangat. Rasanya sangat menyenangkan, dia melihat ke seluruh kamar mandi.
"Enak juga jadi orang kaya," gumam Jeno pelan.
Pria itu segera mengakhiri acara mandinya. Takut kalau orang tua Jena terlalu lama menunggu. Saat Jeno keluar kamar, telah tersedia pakaian piyama khusus laki-laki di atas ranjang empuk.
{Pakailah ini agar kakak hangat – Dari Jena}
__ADS_1
Pria itu tersenyum tipis. Dia segera mengeringkan rambutnya yang basah dengan handuk. Masih terlalu lembab, terdapat hair dryer di atas meja rias. Tetapi, Jeno tidak tahu cara memakainya.
Pria itu memutuskan untuk memakai pakaian piyama pilihan Jena. Tanpa menyisir rambut, Jeno keluar dari kamar. Sang pemuda semakin tampan dengan pakaian mahal yang terpasang di tubuhnya.
Dia beranjak pergi ke ruang tamu. Namun, Jena yang baru keluar dari kamarnya, bertemu dengan Jeno di tengah jalan. Gadis itu terpaksa melihat pemuda yang menolongnya itu tampak sangat tampan.
"Seksi sekali," batin Jena memuji Jeno.
Jeno tersenyum kecil saat melihat pakaian piyama yang dipakai oleh Jena sama dengan apa yang dia pakai. Saat dia ingin berbicara, tiba-tiba suara perut Jeno berbunyi membuat pria itu teramat sangat malu. Sedangkan, Jena berusaha menahan tawanya sedari tadi.
Gadis itu terkikik geli mendengarnya.
"Haiss …dasar cacing tak tahu diri," batin Jeno kesal.
"Ayo kita makan dulu, Kak. Setelah itu baru kita ngomong sama mama dan papa!" ajak Jena melangkah melewati Jeno.
Dalam hati Jeno tidak bisa ingin tak kagum. Dia benar-benar merasa seperti masuk ke dalam televisi. Di mana dia menjadi anak orang kaya.
"Gila, ternyata jadi anak orang kaya lebih enak daripada yang aku bayangkan dulu," batin Jeno pelan.
"Ayo, Kak. Kita makan!"
Jena menarik kursi di sampingnya untuk Jeno. Pria itu tersenyum kikuk, dia segera duduk di atas kursi yang telah ditarik oleh Jena.
"Terima kasih," ujar Jeno pelan.
__ADS_1
"Sama-sama, Kak."
Tanpa rasa malu dan segan, Jeno segera mengambil berbagai lauk yang dia suka. Pemuda itu makan malam dengan lahap, Jena diam-diam melirik Jeno. Dalam hati dia sangat senang, melihat Jeno yang makan dengan lahap. Artinya pria itu menyukai masakan chef di rumahnya.
"Tambah lagi, Kak. Kalau mau … jangan segan dan jangan malu!" seru Jena membuat Jeno tersenyum cerah.
"Hehe … tanpa kamu suruh, aku memang punya niat buat nambah lagi. Makanan di rumah mu enak banget. Lebih enak dari warteg langganan ku!" celetuk Jeno tanpa rasa malu.
Jena yang mendengarnya tersenyum tipis. Dia suka melihat Jeno yang apa adanya. Keduanya menyantap makanan mereka dengan lahap.
Orang tua Jena sedari tadi mengintip dari balik dinding dapur. Keduanya terkejut melihat putri tunggal mereka makan dengan lahap, bahkan sampai tiga kali menambah nasi.
Keduanya tersenyum cerah.
"Lihatlah, Jena, Ma. Baru kali ini papa lihat dia makan dengan lahap dan nggak segan buat nambah nasi. Biasanya dia paling sedikit makan nasi, dan jarang sekali mau makan," bisik sang ayah pada istrinya.
"Benar, Pa. Mama seneng banget lihatnya. Pasti ini gara-gara pengaruh pemuda itu, Pa. Papa lihat tadi, 'kan, Jena tampak malu-malu saat bertatapan dengan pemuda itu!" seru sang istri pada suaminya dengan penuh semangat.
"Bener, Ma. Apa jangan-jangan mereka berdua pacaran ya?" tebak sang ayah membuat sang ibu terkejut bukan main.
*
*
Bersambung.
__ADS_1
Jangan Lupa Like Komentar dan Vote
Salem Aneuk Nanggroe Aceh