
Laras mengumpat kesal dalam hati. Dia telah berdandan cantik-cantik demi mendapatkan perhatian Jeno. Dia tahu kalau Jena sudah koma nyaris dua minggu lamanya. Sengaja berdandan seksi dan cantik, sebab berbuat menggoda Jeno. Dia tahu kalau pria itu pasti haus belaian dan kasih sayang, di tambah Jeno sedang patah hati, karena Jena koma.
Waktu yang pas untuk mencari perhatian Jeno. Tetapi, takdir tak mengizinkan wanita ular itu menggoda suami orang.
'Sial, kenapa dia tidak mati saja.' batin Laras kesal sekali.
"Hai, Je. Ya Tuhan … hiks … kamu sudah sadar? Ya ampun … bahagianya aku, sahabatku yang cantik ini sudah bangun!" pekik Laras pura-pura bahagia lalu berlari guna memeluk Jena.
Wanita cantik itu tersenyum tipis, dia menerima pelukan Laras dengan hangat. Dalam hati dia telah menyusun sebuah rencana untuk balas dendam pada Laras.
"Ya seperti yang kamu lihat, Ras. Berkat cinta kasih suamiku Tuhan membuat ku sadar dari koma! Beruntungnya aku punya suami sebaik, Kanda!" balas Jena tersenyum penuh arti seraya melepaskan pelukannya.
Sontak wajah Laras berubah merah padam. Dia marah dan cemburu, namun sekuat mungkin dia menahan diri agar tak menampakkan ketidaksukaan nya pada Jena.
Jeno tersenyum kecil. Dia mengambil tangan Jena, lalu mengecup punggung tangan sang istri penuh cinta. Dia merasa dihargai oleh Jena.
"Semua kulakukan, karena aku cinta sama kamu, Dinda. Jangan sakit lagi, karena kalau kamu sakit … aku juga ikutan sakit!" kata Jeno memandang sang istri penuh cinta.
Terbersit ide jahil, Jena ingin memberi tontonan menarik untuk Laras. Itung-itung untuk membuat lintah darat itu darah tinggi.
"Aaaa … Kanda manis sekali, jangan manis-manis di depan wanita lain, takutnya mereka iri padaku, karena punya suami setampan dan sebucin kamu!" rengek Jena sengaja menyindir Laras membuat wajah wanita itu hampir hangus terbakar api cemburu.
Jeno terkekeh kecil. Dia mengusap pipi mulus istrinya.
"Tidak ada wanita lain di sini, hanya ada Laras. Mana mungkin dia iri sama kamu yang jelas-jelas sahabat baiknya! Ya, 'kan, Ras?"
Jeno bertanya pada Laras mencari pembenaran pada wanita itu. Sontak saja Laras tersenyum kikuk, suami istri di hadapannya seolah sedang menyiram api membuat hatinya terbakar.
Kalau Laras berani jujur, pasti dia akan menjawab kalau dia iri dengki pada Jena dan mencintai Jeno. Lebih tepatnya dia terobsesi pada Jeno – suami sahabatnya.
__ADS_1
"I … iya … mana mungkin aku iri, Je. Sebagai sahabat sejati, melihat mu bahagia aku turut ikut bahagia!" jawab Laras tersenyum tulus, padahal palsu.
Jena tersenyum tipis, andai saja dia tidak melihat rekaman kehidupan pertamanya. Pasti dia akan senang dan terharu mendengar ucapan Laras. Nyatanya kata-kata manis yang keluar dari mulut Laras seperti racun serangga yang mematikan.
Tak berselang lama pintu ruangan kembali terbuka, menampilkan dua wajah yang amat dirindukan Jena. Wajah ibu dan ayahnya yang tampak ceria melihat dirinya sudah sadar.
"Mama, papa!" pekik Jena bahagia.
"Kesayangan mama dan papa."
Wanita tua itu berjalan menghampiri Jena. Jeno dan Laras segera menyingkir, memberikan ruang pada orang tua Jena untuk meluapkan rasa rindu dalam hati mereka.
"Sayang … huhu … mama senang sekali melihat kamu sadar." Srikandi memeluk erat tubuh putrinya.
"Pa, apa kabar?" Jeno mencium punggung tangan ayah mertuanya. Pria tua itu tersenyum hangat lalu menarik Jeno ke dalam pelukannya.
Pria tua itu berterima kasih pada Jeno. Dirinya dan sang istri tidak bisa langsung terbang ke Indonesia untuk menjenguk putri mereka. Karena dua Minggu yang lalu mereka berdua berada di Cina dan sedang musim covid di sana. Alhasil, keduanya harus menjalani berbagai prosedur agar bisa pulang ke Indonesia dan tentunya uang yang mereka keluarkan sangatlah banyak agar bisa pulang ke Indonesia.
Melihat keluarga bahagia di depannya membuat hati Laras memburu. Wajahnya berubah masam, Jeno sama sekali tidak melirik ke arahnya. Pria itu tampak sedang berbincang-bincang dengan Ja'far. Sedangkan, Jena sedang bermanja-manja pada ibunya.
Lalu, Laras yang hanya orang asing benar-benar merasa terasingkan. Dia merasa sangat aneh, sebab tidak pernah merasakan suasana canggung seperti ini.
Biasanya Jena tidak akan membiarkan dirinya diam saja. Wanita itu sebaik mungkin memperlakukan Laras agar wanita itu tidak bosan.
"Je, aku pulang dulu, ya!" pinta Laras tak serius, dia hanya ingin Jena memperhatikan dirinya.
"Iya, hati-hati," balas Jena tersenyum kecil lalu kembali berbicara dengan ibunya.
Hah?
__ADS_1
Laras terbengong-bengong melihat respon Jena yang tidak seperti biasanya.
"Ada apa dengannya? Kenapa dia tidak menahan ku?" tanya Laras dalam hati.
"Aku nggak bawa mobil," tambah Laras lagi, biasanya bila sudah begitu, Jena akan menyuruh Jeno untuk mengantar pulang dirinya.
Lagi-lagi Jena tersenyum kecil.
"Mama bawa uang cash?" tanya Jena pada sang ibu.
"Ada, Nak. Tapi nggak banyak sih, cuma sisa delapan ratus ribu," balas sang ibu seraya mengeluarkan uang tunai dari tas jinjingnya.
Jena segera mengambil uang merah sebanyak dua lembar lalu ia berikan untuk Laras.
"Pakai ini untuk bayar taksi, kembaliannya ambil untuk kamu saja," kata Jena tersenyum penuh arti ketika melihat wajah terkejut Laras.
'kurang ajar, apa dia kira aku pengemis,' batin Laras marah.
'aku tidak akan membiarkan suamiku dekat-dekat dengan lintah darat seperti mu, Laras,' batin Jena penuh siasat.
*
*
Bersambung.
Jangan lupa like coment vote dan beri rating 5 yah kakak 🥰🥰
Salem Aneuk Nanggroe Aceh ❤️
__ADS_1