
Flashback on
"Segala sesuatu punya harganya." Sang Dewi berbicara dengan nada tenang membuat Jena mengepalkan tangannya erat.
Dia terlalu penasaran dengan kehidupan pertama suaminya.
"Aku siap membayar dengan apa yang aku punya," jawab Jena dengan lantang tanpa rasa takut sedikitpun.
"Baiklah, aku akan memperlihatkan rekaman kehidupan pertama mu, dengan syarat sisa hidupmu berkurang dan kamu akan hidup dalam jangka satu tahun."
Sang Dewi tersenyum tipis, dia melihat keraguan di wajah Jena. Dia dapat menebak kalau manusia di hadapannya pasti sedang dilanda keraguan.
"Bagaimana? Apa kau akan sanggup?" tanya sang Dewi tenang.
Jena dipenuhi rasa penasaran dan dirinya telah dibutakan oleh keingintahuan. Dia mengambil keputusan berat untuk pertama kali.
"Baik, aku setuju. Terserah aku mau hidup dalam jangka panjang atau pendek. Toh, aku bangkit dari kematian untuk membongkar teka-teki perselingkuhan suamiku!" jawab Jena dengan nada tegas. Sang wanita tidak takut pada kematian, dirinya telah mengalami itu.
Yang penting sekarang, dia bisa tahu kalau suaminya benar selingkuh atau tidak.
Sang Dewi tersenyum damai. Dia melihat kesungguhan di wajah Jena.
"Baiklah.,"
Flashback off.
*
__ADS_1
*
Kembali lagi pada Jena dan Jeno, sang pria masih bingung dengan keputusannya. Apakah dia harus balas dendam atau tidak?
Jeno menghela nafas berat. Pria itu menatap lekat wajah teduh istrinya. Jena menatapnya dengan sorot mata penuh harap. Paham betul maksud dari tatapan itu.
"Kamu tidak mau kalau aku mengotori tanganku untuk membunuh mereka semua?" tanya Jeno serius membuat Jena menganggukkan kepalanya mantap.
"Benar. Aku ingin menghabiskan waktu ku bersama, Kanda. Hidup tenang dan punya anak pasti akan menyenangkan. Tidak ada dendam dan fokus saling membahagiakan!"
Jena tersenyum cerah saat berbicara. Cukup membayangkan kehidupan yang ia impikan sedari dulu benar-benar membuat hatinya berbunga-bunga.
Masa bodoh dengan sisa waktu hidupnya yang cuma setahun saja. Dia akan hidup seperti apa yang ia inginkan. Setidaknya bila dia pergi nanti dia punya kenangan indah semasa hidupnya.
Jeno terhenyak mendengar impian Jena. Istrinya ingin punya anak? Bukankah, dari awal pernikahan dia sudah mengatakan tidak mau punya anak dan Jena setuju. Lalu, mengapa istrinya tiba-tiba ingin punya anak?
Kelaparan, kesedihan, dikucilkan, perjuangan, keringat dan air mata mengisi masa kanak-kanaknya.
Terlebih lagi menyaksikan adik-adiknya meninggal tepat di depan matanya, karena kelaparan.
Jena menggenggam tangan sang suami. Dia telah berhasil membujuk Jeno untuk tak balas dendam, pasti akan mudah membujuk suaminya untuk punya anak.
Dia ingin punya anak.
"Kanda … aku–,"
Belum sempat Jena berbicara, pria itu langsung melepaskan genggaman tangan Jena dan merebahkan tubuhnya. Dia tidur memunggungi Jena.
__ADS_1
"Sudah malam, lebih baik kita tidur saja. Besok aku masuk kelas pagi," ujar Jeno dingin membuat Jena menghela nafas berat.
Sang istri harus menurunkan egonya. Jena tahu betul bagaimana masa kanak-kanak Jeno. Pastinya sang suami tidak mau kalau nantinya anak-anak nya akan hidup menderita.
Trauma dengan perlakuan orang tuanya di masa lalu.
"Besok dan besok lagi aku akan terus membujuk Mas Jeno untuk punya anak. Pokoknya aku nggak boleh nyerah," batin Jena penuh hasrat membara.
Dia ingin punya anak titik.
Segera dia merebahkan tubuhnya dekat dengan tubuh suaminya Dia peluk tubuh suaminya dari belakang.
"I love you," bisik Jena pelan.
"I love you too," balas Jeno lembut.
Kedua pasangan suami istri itu terlelap tidur dengan nyenyak.
Satu hal yang Jena lupakan. Yaitu bertanya tentang Laras yang menjadi dokter pribadi Jeno.
*
*
Bersambung.
Jangan lupa like coment vote dan beri rating 5 yah kakak 🥰🥰
__ADS_1
Salem Aneuk Nanggroe Aceh