
"Entahlah, Pa. Kalau pacaran, Mama nggak setuju. Mama pengen mereka langsung menikah. Apa gunanya pacaran lama-lama, kalau ujung-ujungnya cuma buat jaga jodoh orang," bisik Srikandi ibu Jena pada Ja'far – ayah Jena.
Keduanya menganggukkan kepala mereka setuju. Keduanya lebih suka melihat anak mereka bahagia di pelaminan, daripada menangis saat berpacaran.
"Lebih baik, kita tanya dulu. Apa hubungan
Mereka berdua. Kalau memang berpacaran, kita suruh mereka berdua menikah saja," balas Ja'far membuat istrinya menganggukkan kepala setuju.
*
*
Setelah selesai makan, Jena mengajak Jeno untuk ke ruang keluarga. Di sinilah kedua anak muda berbeda jenis itu berhadapan dengan Ja'far dan Sri.
"Jadi, kenapa kalian bisa pulang berdua dan Jena, kenapa pulang pake baju laki-laki?" tanya Srikandi serius menatap anak gadisnya.
__ADS_1
Jena mengepalkan tangannya erat. Dia teringat dengan kejadian tempo lalu. Jeno melirik gadis muda yang ditolongnya tadi.
"Tadi, Jena hampir di perkosa, Ma. Sama dua orang laki-laki asing. Untung saja ada, Kak Jeno, yang nolongin, Jena. Kalau tidak, entah bagaimana nasib Jena sekarang," lirih sang gadis mencoba untuk jujur.
Sontak saja kedua orang tua Jena terkejut bukan main. Sang ibu langsung memeluk putrinya dan menangis. Sedangkan, Ja'far mengepalkan tangannya erat. Wajahnya memerah, menampakkan urat-urat di lehernya.
Amarah pria paruh baya itu sudah berada di ubun-ubun. Dia sangat murka mengetahui anak gadisnya dilecehkan oleh oknum tak bertanggung jawab.
"Ya Tuhan, Je. Apa kamu terluka? Apa ada yang sakit?" tanya sang ibu pada Jena dengan lemah lembut.
"Nggak, Ma. Kak Jeno, datang tepat waktu. Kak Jeno sudah menghajar dua laki-laki itu dan mereka berdua langsung kabur. Setelahnya, aku nggak berani pulang sendiri atau nunggu sopir kita datang menjemput. Jadi, aku tinggalkan saja mobil di sana dan minta Kak Jeno antar aku pulang!" jelas Jena setelah berhasil menguasai dirinya.
Ayah Jena yang mendengarnya langsung berdiri dan menepuk pundak Jeno. Dia sangat berterima kasih pada pemuda miskin itu.
"Terima kasih, Nak. Kamu sudah membantu anak saya. Kalau tidak ada kamu, saya pasti akan menyalahkan diri sendiri, karena tidak bisa menjaga anak gadis saya dengan baik!" ujar Ja'far dengan nada lemah.
__ADS_1
Pria paruh baya itu tampak sangat menyayangi putrinya. Jeno yang mendengarnya ikut merasa senang, setidaknya orang tua Jena tidak seburuk orang tuanya yang hanya bisa menyalahkannya.
"Beruntungnya, Jena. Punya ayah seperti Anda. Di luar sana sangat banyak orang tua yang menyalahkan anak-anak mereka, karena tidak bisa menjaga diri atau berpakaian seksi. Padahal yang namanya pelaku pemerkosaan, mereka tidak pernah peduli korbannya memakai pakaian tertutup atau terbuka. Kenyataannya pikiran pelaku sudah lebih dulu kotor dan m*sum!" puji Jeno tulus menahan kegetiran dalam hatinya.
Teringat bagaimana respon ayahnya dulu saat Jeno bercerita kalau dia diperkosa. Sang ayah hanya bisa menyalahkan Jeno atas apa yang terjadi.
Ayah Jena yang mendengarnya merasa senang dan tenang. Dia jatuh cinta pada kepribadian Jeno yang sangat tenang dan sopan santun. Terlebih lagi pria di hadapannya adalah penolong gadisnya.
"Kamu mau apa, Nak? Katakan saja, uang, mobil, rumah? Anggap saja sebagai rasa terima kasih kami, karena kamu sudah menolong anak gadis semata wayang kami." Ja'far bertanya dengan nada serius menatap lekat Jeno.
Jeno yang mendengar terkejut bukan main. Nyaris tersedak ludah, dia tidak menyangka kalau ada orang kaya yang rela memberikan imbalan besar.
Bersambung.
Jangan lupa like coment vote dan beri rating 5 yah kakak 🥰😘
__ADS_1
Salem Aneuk Nanggroe Aceh ❤️