
Hubungan Jeno dan Jena semakin dekat. Nyaris pacaran, namun, Jeno belum juga mengungkapkan perasaannya. Terlebih lagi mereka berdua terpisah oleh jarak dan waktu. Jeno telah berangkat Ke Cambridge, Amerika serikat. Untuk melanjutkan S2 nya.
Keduanya sering bertukar kabar. Sudah selayaknya pasangan kekasih. Namun, mereka berdua masih malu-malu untuk mengakui perasaan mereka.
Seperti saat ini, Jena sengaja tidak tidur demi bisa telponan dengan Jeno.
"Di Indonesia pasti sudah malam, tidurlah. Calon dokter tidak boleh begadang!" suruh Jeno lembut membuat Jena mengerucutkan bibirnya.
[Tapi, aku masih rindu denger suara, Kakak.]
Jena mengeluarkan isi hatinya membuat Jeno tersenyum kecil di seberang sana. Pria itu sudah jatuh hati pada Jena, gadis cerdas nan lugu.
"Bersabarlah, tidak lama lagi aku akan pulang ke Indonesia," jawab Jeno lemah lembut membuat Jena tersenyum cerah.
[Benarkah?]
"Benar, kuliah ku hampir selesai dan aku berencana untuk melamar kerja di fakultas Malikussaleh sebagai dosen."
[Lah, kok Dosen? Kenapa nggak jadi jaksa atau pengacara, Kak?]
__ADS_1
"Maunya sih begitu, tapi untuk saat ini aku mau jadi dosen dulu. Sekalian mempertajam ingatanku tentang ilmu hukum, mungkin setelah tiga tahun nanti, aku akan mencoba melamar untuk menjadi pengacara atau jaksa!" jelas Jeno panjang lebar pada Jena membuat gadis itu mengerti.
Dia tersenyum cerah di dalam kamarnya. Tidak sabar untuk bertemu dengan Jeno. Pria pertama yang membuatnya jatuh cinta. Kebaikannya mampu membuat Jena bertekuk lutut dihadapan Jeno.
Ternyata benar, kalau wanita tidak selalu memandang harta laki-laki. Contohnya, Jena. Dia menyukai Jeno karena pria itu cerdas, berpikiran luas dan mampu membuat Jena nyaman. Padahal, di Indonesia sudah banyak pria mengantri di belakangnya.
Tetapi, hati Jena tetap tertuju pada Jeno.
"Sudah dulu ya, Je. Aku harus belajar!"
[Baiklah, Kak. Jaga kesehatan jangan lupa]
"Kamu juga, jangan sering begadang!" balas Jeno membuat Jena tertawa.
*
*
Seorang pria baru saja menuntaskan hasratnya pada wanita liar yang dia sewa. Selama berada di Amerika, hasratnya semakin liar dan buas. Traumanya di masa lalu benar-benar menghantuinya, membuat sosok Jeno berubah menjadi monster.
__ADS_1
"Kamu sangat hebat, Tuan!" puji sang wanita yang mengidap Masokis.
Jeno memasang wajah datar.
"Aku pergi dan malam ini adalah malam terakhir kita!" ujar Jeno dengan nada dingin membuat sang wanita mengerutkan keningnya.
"Kenapa begitu, Tuan? Apa kau sudah menemukan wanita yang lebih baik dariku?" tanya wanita itu tak rela pisah ranjang dengan Jeno.
"Aku ingin berubah, aku ingin normal," balas pria itu hanya dalam hati. Dia berniat untuk melamar Jena di Indonesia, oleh karena itu, Jeno harus berubah agar istrinya tidak kabur atau ilfil padanya.
Awalnya Jeno hanya sering bermimpi buruk dan trauma dengan laki-laki. Hingga pada akhirnya dia bertemu lagi dengan Dani, sahabatnya itu mengajak Jeno untuk melampiaskan amarah masa lalu pada wanita bayaran yang juga Masokis.
Setelah melakukannya dengan wakita Masokis, Jeno merasa ketagihan, tetapi selama di Amerika, dia hanya tidur bersama wanita bayaran sebanyak delapan belas kali. Katakanlah Jeno brengsek, tetapi, dia juga kesakitan. Ada kalanya Jeno melukai dirinya sendiri demi menyadarkan diri kalau dia tidak boleh ketergantungan $eks bebas.
*
*
Bersambung.
__ADS_1
Jangan lupa like coment vote dan beri rating 5 yah kakak 🥰😘
Salem Aneuk Nanggroe Aceh ❤️