
Wanita misterius yang merupakan sang Dewi Kehidupan itu menjentikkan jarinya, sehingga Jena tak dapat lagi bagaimana kondisi Jeno. Butiran kristal keluar dari pelupuk mata Jena sedari tadi, sia melihat sendiri bagaimana sang suami menangisi dirinya yang terbaring lemah di brankar rumah sakit. Rasanya tak percaya kalau Jeno benar-benar selingkuh atau bisa sekasar saat di kamar hotel 309.
"Apa kau bisa melihat seberapa besar cinta suamimu padamu dan seberapa penting kamu baginya?" tanya sang Dewi dengan nada tenang. Dia menatap lembut Jena yang kini tersungkur di lantai dingin. Wanita itu menangisi apa yang baru saja dia lihat.
Sungguh mengharu biru, sang istri menangisi suami, dan sang suami menangisi istrinya.
Keduanya saling mencintai, namun kesalahpahaman membuat hubungan keduanya nyaris hancur tak berbentuk lagi.
Terkadang, dua insan yang saling mencintai, bisa bermusuhan hanya karena kesalahpahaman.
Mengerikan bukan? Itulah yang dinamakan cobaan untuk sebuah hubungan.
"Dia terlihat seperti cinta mati padaku, tapi, dia tega selingkuh di belakangku. Kenapa? Kenapa bisa seorang suami yang cinta mati pada istrinya, tega untuk selingkuh?"
Jena bertanya pada sang Dewi. Dia tampak sangat hancur, namun berusaha untuk kuat dan tegar.
"Manipulatif! Yah … dia manipulatif, Mas Jeno manipulatif. Dia bukan hanya menipuku, tapi, dia menipu dirinya sendiri. Berlagak seperti mencintaiku, nyatanya dusta. Dia … dia bermain api di belakang ku! Yeah … ha ha … suamiku manipulatif, dia licik sekali."
Jena tertawa lepas seperti orang gila. Matanya merah dan membengkak, karena lelah menangis.
Sang Dewi tersenyum tipis. Dia menatap Jena dengan sangat serius.
"Kamu ingin tahu kebenarannya? Kebenaran tentang suamimu?" tanya Sang Dewi membuat Jena berhenti tertawa. Dia menatap sang Dewi dengan sorot mata aneh.
"Dia selingkuh atau tidak? Kebenaran yang itu?" Jena balik bertanya menatap serius sang Dewi.
Wanita cantik itu tersenyum kecil, dia menganggukkan kepalanya samar. Lalu menjentikkan jarinya membuat dua cangkir teh hijau berada di hadapannya. Dia menggerakkan jarinya ke arah Jena. Membuat cangkir teh itu bergeser tepat di hadapan Jena.
__ADS_1
Dia tersenyum tanpa berbicara, segera sang Dewi menyesap teh tersebut. Begitupun dengan Jena, dia meminum teh tersebut membuat hatinya damai dan tenang. Segala rasa sakit dan tekanan mental yang dia rasakan perjalan menghilangkan.
"Aku bisa membongkar jati diri suamimu. Aku bisa memperlihatkan kebenaran dari teka-teki cinta kalian berdua."
Sang Dewi berbicara dengan nada tenang. Jena mengepalkan tangannya erat, dia menatap sang Dewi dengan sorot mata penuh harap.
Secercah harapan datang, saat ini yang Jena inginkan adalah kebenaran. Agar hatinya tenang dan dia tidak lagi salah paham pada sang suami.
"Tolong perlihatkan padaku!" pinta Jena penuh harap.
Sang Dewi tersenyum tipis. Dia melipat kedua tangannya di depan dada, lalu menatap serius wajah Jena.
"Tapi, ada bayarannya!" balas sang Dewi serius membuat Jena menelan ludahnya kasar.
Dia tidak tahu pasti, tetapi, melihat Dirut mata sang Dewi ketika menatapnya, membuat Jena merinding. Dia merasakan sesuatu yang besar harus ia bayar agar bisa melihat kebenaran misteri suaminya.
"Apa bayarannya?" tanya Jena serius membuat sang Dewi tersenyum lebar.
*
*
Jena memejamkan matanya, dia memikirkan bayaran yang harus di bayar. Wanita cantik itu memutuskan untuk melihat kebenaran misteri suaminya. Meski, nanti bayaran mahal harus ia berikan pada sang Dewi.
"Baik, aku memilih untuk melihat kebenarannya," jawab Jena setelah mengambil keputusan yang berat baginya.
Sang Dewi mengangguk kepalanya samar. Dia menghela nafas berat, hubungan manusia memang sangat rumit. Minum kepercayaan, maka akan membuat hubungan yang dibangun bertahun-tahun hancur dalam sekejap.
__ADS_1
"Berarti kamu setuju dengan bayarannya?" tanya sang Dewi balik menatap intens wajah Jena. Wanita cantik yang tampak rapuh itu menganggukkan kepalanya.
"Tidak peduli apa yang akan terjadi di masa depan, aku hanya ingin melihat kebenarannya. Agar aku bisa tenang, bila pun aku mati, maka aku tidak mati penasaran!" balas Jena mantap dengan keputusannya.
Sang Dewi mengangguk samar.
"Baiklah, kalau begitu! Aku akan memperlihatkan kebenarannya. Kamu akan melihat rekaman masa lalu suamimu di kehidupan pertama mu. Saat kamu melihat semuanya, maka kamu akan tahu siapa yang benar dan salah, siapa teman dan siapa lawan! Terkadang, musuh bukan berasal dari mereka yang membencimu. Tetapi, dari mereka yang menyayangimu!"
Sang Dewi berkata bijak dan penuh makna membuat Jena mengerutkan keningnya. Dia sedikit banyak paham apa yang dikatakan oleh sang Dewi.
"Maksudnya?" tanya Jena tak dijawab, sang Dewi hanya tersenyum tipis.
Ctakk.
Sang Dewi menjentikkan jarinya, membuat kaca besar yang memperlihatkan suaminya tadi kembali ada. Jena melihat kaca besar itu dengan bola mata yang membesar.
Dia terkejut dengan apa yang baru saja dilihatnya.
"Mas Jeno!" pekik Jena terkejut bukan main.
*
*
Bersambung
Jangan Lupa Like Komentar dan vote, juga beri rating 5
__ADS_1
Salem Aneuk Nanggroe Aceh