Suamiku Gelandangan

Suamiku Gelandangan
Mendapatkan Warisan


__ADS_3

Kini semuanya sudah sampai di rumah Vilia, Mereka membahas masalah warisan yang akan di serahkan pada Vilia mulai saat ini, termasuk rumah sebenarnya, tapi berhubung sudah Vilia serahkan pada Lidiya, jadi Vilia hanya akan menerima aset lainnya.


Satu jam lamanya pembahasan itu dilakukan, Lidiya menyerahkan kartu ATM milik orang tua Vilia pada Vilia, yang isinya bukan uang main-main, walaupun keluarga kecil tapi orang tua Vilia rajin menabung hingga akhirnya mempunyai uang yang sangat banyak jumlahnya, padahal mereka tidak mendirikan usaha apapun apalagi perusahaan.


Usaha sehari-hari orang tua Vilia hanya lewat sebuah toko bunga, karena ibunda Vilia begitu menyukai bunga pada akhirnya mereka mengelola toko bunga, hitung-hitung menenangkan pikiran mereka sembari bekerja.


"Untuk toko bunga milik kak Dinda aku tidak tau apakah masih bisa untuk beroperasi, karena itu sudah di tinggalkan sangat lama."


"Jadi toko itu masih ada? Kenapa kalian bilang itu sudah dijual oleh Bunda sebelum Bunda meninggal?!" Tanya Vilia sedikit ketus.


"Mereka pernah menggadaikan tokoh itu!" Jawab Lidiya ketus.


"Di gadaikan? Kenapa?" Tanya Vilia kaget.


"Itu karena kau! Kak Dinda harus menggadaikan toko bunga yang dia sukai demi menyekolahkan kamu ke sekolah kelas tinggi! Jika tidak ada kau, kakak ku tidak perlu hidup susah!" Sentak Lidiya.


"Tidak bisakah kau menjawab dengan santai?!" Tanya Evan ketus dan dingin, ia tak suka adiknya di sentak.


"Huh!!" Lidiya mendengus kasar.


Lidiya yang kesal kemudian tampa basa basi langsung menyerahkan semuanya berikut kunci toko itu, sebenarnya Lidiya selalu merawat toko itu demi kakaknya Adinda. Namun selama satu tahun belakangan ini Lidiya tidak mengunjungi toko itu, itu karena dirinya harus membantu suaminya bekerja.


Bisa dibilang Lidiya baik sebenarnya, Tapi tidak tau apa alasan yang membuat Lidiya begitu galak dan tampak kejam, ia bahkan sangat membenci Vilia, entah apa alasannya, padahal Vilia adalah anak kandung kakaknya.


Setelah semua pembahasan Vilia pun pulang bersama yang lain ke rumah Indra, namun sebelum itu Vilia ke bank untuk mengecek kartu ATM orang tuanya, Vilia kaget, Uang sebanyak itu harus dirinya apakan? Sedangkan Vilia tak punya usaha apapun.


"Vil, Itu apa?" Tanya Keenan menunjuk kertas yang terselip di dalam Rekening.


Vilia lantas menatap ke arah yang keenan tunjukkan, kemudian Vilia mengambil kertas itu lalu membacanya, ternyata itu adalah surat dari orang tuanya, didalamnya tertulis bahwa Vilia bisa menggunakan uang di dalam kartu tersebut untuk melanjutkan sekolah ke universitas terpandang.


Tunggu! Jika isi suratnya seperti itu bukankah berarti orang tua Vilia sudah memperhitungkan segalanya? Berarti mereka sudah menebak dari awal bahwa akhir mereka akan seperti ini dan anak mereka akan menderita ya kan?


Keenan yang ikut membaca surat itupun juga langsung mengernyit, Ia menjadi penasaran dengan kisah orang tua Vilia, dengan otaknya itu ia dapat membaca hal-hal hanya dengan beberapa kata sensitif.


"Dari mana mereka tau bahwa kamu tidak bisa kuliah setelah mereka meninggal? Dan.... Berarti mereka sudah tau bahwa mereka akan meninggal, lalu menulis surat itu dan menyiapkan segalanya untukmu." Ujar Keenan penasaran.

__ADS_1


"Tapi.... Mengapa rumah...." Sambung Keenan menggantung kalimatnya dan berpikir keras.


"Maksud kamu apa Ken? Kamu curiga orang tua aku meninggal tidak wajar?" Tanya Vilia.


"Vil, ini belum pasti tapi aku curiga benar seperti yang aku pikirkan, bisakah nanti dirumah kamu menceritakan segalanya padaku?" Ujar Keenan diselingi pertanyaan.


"Ken... Bagaimana jika iya? Siapa yang begitu kejam hingga memisahkan aku dengan Ayah dan Bunda? Hiks... Apa salah mereka?" Isak Vilia tak sanggup memikirkan hal-hal itu.


"Vilia tenang, Jika benar... Aku berjanji akan menemukan orang itu dan memberikan mereka hukuman yang setimpal." Ucap Keenan sungguh-sungguh.


"Hiks... Ayah, Bunda...." Lirih Vilia terisak dalam pelukan suaminya.


*Aku yakin ada seseorang yang sengaja merencanakan pembunuhan pada orang tua Vilia, tapi siapa?* Batin Keenan berfikir keras seraya menenangkan Vilia.


Setelah beberapa saat, Vilia dan Keenan kembali dan menemui Evan dan lainnya, Mereka pulang bersama-sama dan makan malam, dan kemudian Vilia dan Keenan menginap di rumah Indra atas desakan Dinda dan Evan.


Mau tidak mau Vilia setuju, bagaimanapun Vilia sudah pernah berjanji kapan-kapan akan menginap di rumah Indra, dan ini sudah terbilang menepati janjinya.


"Fi, Gue bakal kuliah Fi!" Pekik Vilia yang sedang video call dengan Fifi.


"Iya! Sumpah aku seneng banget Fi..." Jawab Vilia girang, tampa sadar bahwa dirinya sedang di perhatikan oleh Keenan.


*Aku senang jika dia sudah melupakan hal tadi, Jangan mengingat hal yang membuatmu sedih Vil.* Batin Keenan sebelum akhirnya menghampiri istrinya itu.


"Fi udah ya, waktu sudah larut dan Vilia harus tidur, jika kalian masih Vedcoll begini aku yakin tengah malam baru selesai." Celetuk Keenan muncul dibelakang Vilia.


Fifi lantas nyengir kuda mendengar penuturan Keenan itu, sementara Vilia mencubit lengan Keenan yang sesungguhnya tak berefek apapun pada Keenan, karena Vilia mencubitnya dengan pelan.


"Iya iya pak suami, Maafkan hamba yang menganggu malam anda berdua." Ujar Fifi mulai usil.


"Mengganggu raja dan ratu harus dihukum." Timpal Keenan ikut-ikutan.


Fifi tercengang sesaat sebelum kemudian membalas perkataan Keenan. "Oh apa hukumannya yang mulia?" Tanya Fifi dengan tatapan menantang.


"Kalau itu harus bertanya pada istriku, Ratu memegang penuh keputusan Raja seperti ku." Jawab Keenan menaikkan alisnya seraya menatap Vilia.

__ADS_1


Vilia langsung melototi Keenan, mengapa dirinya dibawa-bawa untuk bercanda seperti mereka? Sedangkan dirinya saja yang sedari tadi menyimak tidak tau harus berbuat apa dan berbicara bagaimana, sekarang malah suaminya sendiri yang memasukkannya kedalam situasi membingungkan itu.


"Ihhh apasih Ken, udah udah! Kalian ini malah ngajak ngakak aku bercandanya, aku nyimak aja udah bingung, Kalian malah nambah-nambah." Tukas Vilia berdesis sebal.


"Ck Vilia gak asik nih... Padahal Keenan udah sejalur tapi malah ngerusak, pasti susah loh datangi mood humornya Keenan, sebelumnya aja dia udah kek kulkas berjalan tau!" Tukas Fifi berdecak sebal.


Arti


"Dih giliran dapet temen sefrekuensi gue di singkirkan! Gue serasa jadi nyamuknya disini!" Desis Vilia bermimik wajah kesal.


"Ei ei.... Jadi ini ceritanya cemburu apa gimana nih?" Tanya Fifi menggoda.


"Engga, Mana ada, Ken bilang dia cintanya sama aku, ngapain cemburu?" Jawab Vilia membanggakan diri.


"Serius? Kalo gue goda suami Lo gak apa-apa nih?" Goda Fifi lagi.


Vilia lantas diam sejenak kemudian menatap Keenan yang berdiri di belakangnya. "Ken, kalo Fifi godain kamu kamu bakal mau? Kamu bakal gak cinta lagi sama aku? Apa kamu akal ninggalin aku? Dan menceraikan aku? Apa akan begitu Ken?" Tanya Vilia menghujani Keenan dengan berbagai pertanyaan aneh.


"Kamu ini ngomong apaan sih? Dari mana asalnya pikiran buruk kamu itu hem?" Tanya Keenan mengernyit.


"Ken jawab dulu, Apa kamu akan ninggalin aku jika ada kehadiran yang lebih baik dari aku?" Tanya Vilia lagi, Matanya tampak serius menginginkan jawaban.


Keenan lantas duduk di sisi Vilia, Ia genggam tangan Vilia dengan lembut, dan dengan suara lembutnya ia melontarkan jawabannya pada Vilia, jawaban yang begitu Vilia inginkan.


"Engga Vil, Kamu wanita pilihanku, dan tetap akan seperti itu, kamu satu-satunya Vilia, karena itu..... Bisakah kamu juga mencintaiku?" Jawab Keenan di akhiri pertanyaan.


"Aku sedang belajar Ken." Jawab Vilia menunduk.


Keenan tersenyum lalu beranjak pergi, dan kemudian Vilia dan Fifi mengakhiri panggilan video mereka. Vilia pun langsung mencari keberadaan Keenan yang ternyata berdiam diri di balkon kamar.


"Ken?" Seru Vilia dan Keenan hanya menoleh sejenak.


GANTUNG DULU YA GUYS😂


BERSAMBUNG..........................................

__ADS_1


__ADS_2