Suamiku Gelandangan

Suamiku Gelandangan
Kembali Ke Rumah


__ADS_3

2 Hari pun berlalu, Kini Vilia tinggal bersama Keenan di rumah mini yang dirinya dan Fifi berikan pada Keenan sebelumnya.


Vilia juga sudah menceritakan semuanya pada Fifi, dan Fifi juga mendukung semua keputusan Vilia, Ia akan terus mensuport pilihan Vilia. Dan untuk masalah pekerjaan... Kini Keenan bekerja sebagai keamanan di Bakery cake milik Fifi, jadi Vilia, Fifi dan Keenan bekerja di tempat yang sama.


"Wah Pak Keenan, Saya baru tau kalo pesona mu begitu besar. Toko hari ini ramai banget berkat wajah tampan mu." Celetuk Fifi menggoda.


"Ah kamu bisa aja, Tapi aku senang jika aku bisa membantu kalian, promosi wajahku juga tidak masalah." Balas Keenan diselingi candaan.


"Yah kalo itu aku gak berani, Yang ada noh nona yang di dalam bisa murka kalo tau aku memanfaatkan wajah tampan mu untuk promosi toko." Saut Fifi terkekeh seraya melirik kedalam toko.


"Hahaha kamu ini berani gak bilang gini di depan Vilia langsung?" Tanya Keenan terkekeh.


"Enggak." Jawab Fifi spontan tertawa lepas.


Alhasil Keenan ikut tertawa terbahak-bahak dengan jawaban itu, Ternyata ada juga orang yang mampu membuat Keenan begitu hangat tidak hanya untuk orang-orang khususnya saja, mungkin sifat ceria Fifi yang mampu membuat gairah humoris Keenan bangkit.


"Fifi? Ngapain kamu diluar terus? Ayo bantu lia beres-beres, Toko udah waktunya tutup." Panggil Mama Fifi dari arah pintu.


Keenan dan Fifi lantas menoleh, Dan Fifi hanya nyengir menatap sang mama. Kemudian ia masuk kedalam toko untuk membantu Vilia beres-beres, tak lupa Fifi mendapat hadiah jentikan di dahinya akibat kesantaiannya di jam kerja.


"Lain kali jangan begini! Masa kamu gak bertanggung jawab sama tugas kamu? Kalo begini gimana kamu mau terusin usaha mama ini?" Ujar Mama Fifi mendengus kasar.


"Iya mama... Maaf deh maaf, lain kali gak gitu lagi deh, Janji." Ucap Fifi mengacungkan jarinya berbentuk V.


"Udah cepat sana gih, kasian Vilia beres-beres sendirian." Tutur Mama Fifi mendorong punggung Fifi pelan.


Mama Fifi lantas menatap Keenan dan tersenyum. "Maklumi sikap Fifi ya, dia emang gitu." Ujar nya.


"Tidak apa-apa tante, Tante beruntung loh punya anak ceria seperti Fifi." Balas Keenan sopan.


"Bener sih, Ah yaudah lah, tante gak mau ganggu kamu kerja, tante ke dalam dulu ya." Tukasnya merasa aneh.


"Iya tante, silahkan." Ucap Keenan tersenyum.


Mama Fifi yang kerap di panggil Riana itu pun masuk kembali kedalam toko, Keenan pun juga lanjut dengan pekerjaannya, Baru masuk kerja ternyata Keenan sudah sangat nyaman dengan pekerjaannya.

__ADS_1


Padahal awalnya Keenan menerima pekerjaan itu karena tidak enak untuk menolak tawaran Riana, Awalnya Keenan hanya menyelamatkan Riana dari copet, melihat kemampuan beladiri Keenan membuat Riana tertarik untuk menawarinya pekerjaan.


Alhasil Keenan nyaman dengan pekerjaan itu, dan mungkin Keenan akan menetap dengan pekerjaan tersebut dan memutuskan untuk menolak tawaran dari Evan.


"Ken, Ayo pulang." Ajak Vilia menghampiri Ken.


Keenan lantas menatap gadis cantik yang berstatus istrinya itu. "Udah?" Tanya Keenan.


"Iya, udah semuanya kok, Tante Riana bilang udah boleh pulang." Jawab Vilia.


"Ohh Ya udah ayo." Ajak Keenan dan Vilia mengangguk mengiyakan.


Keenan pun mengambil sepedanya yang di parkir di samping toko, Ia kendarai sepeda itu hingga tepat di depan Vilia, singkat waktu.... Keduanya pun pulang dengan mengendarai sepeda engkol itu.


"Vil, Maaf ya karena aku membuatmu terikat hidup susah bersamaku." Ujar Keenan tak enak hati.


"Ngomong apaan sih, Aku lebih bahagia sekarang dari pada hidup di rumah mewah namun seperti neraka, tidak ada kebebasan, di perlakukan seperti budak, apa menurutmu itu lebih baik dari pada sekarang?" Balas Vilia menatap Keenan dari belakang.


"Bebas, bisa menjadi diri sendiri, walaupun sederhana itu cukup selama hidup kita damai." Sambung Vilia tersenyum.


Keenan lantas tersenyum. "Terimakasih sudah bersedia menerima kekurangan ku. Aku akan berusaha keras untuk memberikan kamu kehidupan yang lebih baik." Ujar Keenan melirik Vilia sekilas.


Keenan senyap, ia kaget namun juga bahagia karena Vilia memeluk dan bersandar di punggungnya, berharap bunga cinta untuk Keenan segera tumbuh di Vilia, Jadi hubungan mereka akan lebih tampak alami.


Tin tin tin!!!


Klakson mobil dari arah belakang membuat Vilia dan Keenan teralihkan, Vilia menatap ke belakang di mana mobil tersebut terus membuntuti Keenan dan Vilia, kemudian Vilia menyadari bahwa mobil tersebut milik Dinda.


"Ken stop, Itu mobil kak Dinda." Tukas Vilia menepuk punggung Keenan pelan.


Keenan pun langsung memberhentikan sepedanya perlahan dan menoleh ke belakang. "Seriusan itu kakak ipar?" Tanya Keenan.


"Iya." Jawab Vilia seraya turun dari sepeda.


"Ada apa ya Vil?" Tanya Keenan lagi.

__ADS_1


"Gak tau, biasanya kalo ada urusan juga nelepon dulu terus suruh ke rumah Om Indra." Jawab Vilia heran.


Mobil dengan warna cream itupun berhenti selaras dengan Keenan dan Vilia. Kemudian terbukalah pintu mobil dan nampak wanita muda yang cantik tengah tersenyum ke arah Vilia.


Dinda, Itu benar-benar adalah Dinda, Ia menghampiri Vilia dan Keenan lalu mengajak mereka untuk pulang ke kediaman keluarga Indra, karena Indra ingin membahas masalah warisan yang Vilia abaikan sejak setelah menikah.


"Tadi aku kerumah kalian, kata tetangga masih belum pulang, jadi aku berniat jemput kalian di tempat kerja, eh taunya udah pulang toh." Ujar Dinda menatap Vilia dan Keenan bergantian.


"Emang ada apa ya kakak ipar sampai harus menjemput kita?" Tanya Keenan.


"Mas Evan khawatir kalian ada apa-apa di jalan, jadi aku mutusin jemput kalian, untuk urusan.... Papah mau bahas masalah warisan Vilia." Jawab Dinda.


"...... Sebenarnya aku gak buru-buru sih kak, Aku bisa menunggu sampai situasi tenang." Ucap Vilia canggung.


"Tapi papah udah nyiapin semuanya, Kita tinggal ketemu Paman dan Bibi kamu aja untuk membahasnya." Jelas Dinda.


Vilia pun pasrah, kemudian ketiganya menaiki mobil dan pulang ke kediaman keluarga Indra, sampainya disana mereka berbincang-bincang singkat sebelum akhirnya melanjutkan tujuan mereka yaitu ke rumah Vilia yang sudah menjadi milik Lidiya.


"Lia, Keenan ada nyakitin kamu gak?" Tanya Evan blak-blakan, yang kebetulan mereka beda mobil.


"Ah? Engga kok kak, Aku pernah bilang dia itu laki-laki yang baik, dan itu serius, walaupun aku belum bisa mencintai Keenan sepenuhnya, dia tetap lembut dan perhatian padaku." Jawab Vilia tersenyum.


"Syukur kalau begitu, Aku cuma takut kamu tersakiti, Aku bahagia kalau Keenan benar-benar sebaik itu." Balas Evan mengusap puncak kepala Vilia lembut.


"Aku do'akan semoga pernikahan kalian menjadi pernikahan yang dianugerahi kebahagiaan hingga akhir hayat." Sambung Evan tulus.


"Makasih kak, Do'akan aku ya kak, semoga aku bisa menjadi pendamping yang baik untuknya." Ujar Vilia tersenyum.


"Amin.... Aku tau kamu pasti bisa." Balas Evan mengaminkan harapan Vilia.


"Emm, Makasih ya kak atas dukungannya, dan.... Terimakasih untuk kasih sayang yang kakak berikan, walaupun aku bukan keluarga kandung kalian tapi kalian semua mau menerimaku dan menyayangiku." Ucap Vilia bersyukur seraya memeluk Evan dari samping.


"Sama-sama, jangan sungkan, bagi kami kamu adalah keluarga, Yang namanya keluarga tidak ada istilahnya kandung atau tidak. Yang penting adalah kasih sayang, kebersamaan dan kekeluargaan yang erat, itu sudah cukup untuk di anggap keluarga." Ungkap Evan membalas pelukan Vilia dengan sayang.


Vilia amat senang mendengar pernyataan yang Evan lontarkan, sungguh beruntung dalam hidup Vilia bisa memiliki orang-orang seperti Indra, Evan dan Dinda yang bersedia menyayanginya dengan tulus, Juga Keenan yang bersedia mencintainya tampa memandang apapun dari diri Vilia.

__ADS_1


BAHAGIA SELALU UNTUKMU VILIA 🌹


BERSAMBUNG..........................................


__ADS_2