Suamiku Gelandangan

Suamiku Gelandangan
Jati Diri Keenan


__ADS_3

Tak berselang lama, Keenan mulai mencangkul disekitar bekas pohon besar tersebut, Keenan menggali dengan hati-hati alih-alih menghindari cangkulannya terkena kotak yang dikuburnya itu.


30 menit kemudian Keenan masih belum menemukannya, Ia putus asa. Keenan berfikir mungkin kotak itu sudah hancur dimakan serangga pengurai ataupun sejenisnya.


"Ken, Kamu yakin kotaknya dari kayu?" Tanya Vilia memastikan.


"Iya Vil." Jawab Keenan sendu.


Vilia lantas diam sejenak menatap ekspresi Keenan yang murung, Kemudian iya mengambil alih cangkul ditangan Keenan dan menggantikan Keenan untuk terus menggali.


"Vilia, apa yang kamu lakukan?" Tanya Keenan kaget.


"Aku bantu kamu mencari, Kamu ambil benda lain untuk terus menggali." Jawab Vilia.


"Vil, Udah cukup, Kotak itu mungkin udah musnah." Ujar Keenan tampak sudah menyerah.


Mendengar perkataan Keenan yang tak enak didengarnya membuat Vilia mematung sesaat. Ia benar-benar tak setuju dengan apa yang Keenan ucapkan.


Vilia melepas cangkul di tangannya dan meraih tangan Keenan untuk ia genggam, Kemudian Vilia memberikan dorongan keyakinan kepada Keenan bahwa mungkin saja kotak itu masih utuh.


"Keenan yang aku kenal itu yang tidak kenal kata menyerah, Kamu bukan Keenan milikku." Tukas Vilia memasang wajah kecewa.


Mendengar itu Keenan lantas terkejut, Ia merasa takut saat melihat ekspresi Vilia yang tampak sangat kecewa padanya.


"Aku gak bermaksud begitu, Vil. Aku hanya...." Ucap Keenan yang dipotong oleh Vilia


"Sudah cukup, Jika kamu benar-benar tak mau mencari lagi ayo kita pulang, Aku lelah." Potong Vilia rada ketus.


Keenan lantas menahan Vilia yang ingin pergi, Ia genggam tangan Vilia dan menjelaskan tepatnya mengutarakan apa yang ada dipikirannya, Vilia mengerti, ia ikut prihatin, sebenarnya Vilia bersikap seperti tadi hanya untuk memancing Keenan saja, Ia tak menyangka Keenan akan memasang wajah semurung itu saat Vilia memasang wajah kecewa.


"Jadi... Kita cari lagi ya? Aku memiliki keyakinan, masa kamu engga?" Ujar Vilia diselingi pertanyaan.


"Iya, Maaf Vil." Balas Keenan sendu.


"Tidak apa-apa, Ayo kita cari lagi." Ajak Vilia kembali ke tempatnya tadi saat menggali.


Keduanya pun mencari bersama-sama, Tak lama kemudian, Vilia mencangkul benda keras yang mengeluarkan suara keras seperti bunyi besi.


Keenan dengan antusiasnya melangkah ketempat Vilia menggali saat Vilia melapor pada Keenan apa yang ia temukan, Keenan menggali dengan tangannya menyingkirkan tumpukan tanah yang tersisa, Tangannya kemudian menyentuh permukaan benda yang Vilia maksud.


Keenan dengan cepat mengusap tanah yang terdapat di permukaan benda tersebut, Dan itu adalah kotak besi, Keenan binging, Ia bertanya-tanya dari mana datangnya kotak dengan bahan besi seperti itu.

__ADS_1


"Apa itu kotaknya Ken?" Tanya Vilia.


"Aku gak yakin, Yang aku ingat itu kotaknya dari kayu biasa, bukan besi aluminium seperti ini." Jawab Keenan.


"Kita akan tau ketika membukanya, Tapi gimana cara bukannya Ken?" Tanya Vilia.


"Ayo, kita tanya Ibu Marti apakah memiliki benda yang bisa membuka gembok ini." Ajak Keenan berdiri.


Vilia mengangguk dan mengikuti langkah Keenan untuk menemui Ibu Marti, Setelah menjelaskan masalahnya kebetulan sekali ibu marti memiliki benda yang Keenan maksud.


Setelah banyak upaya yang Keenan coba, akhirnya kotak tersebut telah terbuka dan tampaklah isinya yang cenderung berisi dengan beberapa berkas dan juga terdapat foto keluarga di dalamnya.


"Apa kotak ini yang kamu cari-cari, Ken?" Tanya Vilia.


"Iya Vil, Tapi kenapa kotaknya bisa jadi begini? Aku ingat betul kotak itu terbuat dari kayu biasa." Jawab Keenan sedikit bingung.


"Cepat lihat berkas itu Ken, Mungkin jawaban untuk semua hal yang terjadi beberapa hari ini ada didalamnya." Tutur Vilia dan Keenan mengangguk.


"Ken, Lihat ini." Pinta Vilia menyodorkan foto keluarga kehadapan Keenan.


"Ini foto keluarga kamu?" Tanya Villa.


"Aku gak tau." Jawab Keenan memerhatikan foto tersebut.


"Erika Nadine, Damar Banyu Pradipta, Raden Kusuma Pradipta, Windy Cahyani, Keenan Daniel Pradipta." Vilia membaca tulisan yang terdapat dibelakang foto tersebut.


"Ken, Ini keluarga kamu." Tukas Vilia memberikan foto itu pada Keenan.


"Ken, Han dan Pak Raden gak bohong, Kamu beneran anaknya pak Raden. Dan ini, Surat² ini adalah identitas kamu, mulai dari tempat kamu dilahirkan dan di tetapkan sebagai pewaris utama." Ujar Vilia.


"Jadi aku.... Aku memiliki nama keluarga? Dia beneran orang tua kandungku?" Celetuk Keenan bertanya dengan sendu.


"Ada apa Ken? Kamu tampak tak senang dengan kabar ini." Tanya Vilia bingung melihat ekspresi suaminya.


"Aku senang, Hanya saja aku merasa bersalah, Aku begitu menolaknya kemarin, dia pasti sakit hati. Hiks maafin Keenan.... Maaf..." Jawab Keenan tiba-tiba terisak.


Melihat suaminya tak berdaya, Vilia refleks memeluk Keenan untuk menenangkannya. Setelah tenang Vilia dan Keenan pun pulang setelah mendapatkan informasi yang mereka inginkan, semuanya sudah terjawab sekarang, Keenan sudah menemukan keluarganya kembali.


"Vil, Kendaraan susah di waktu sekarang, Kamu gak apa-apa jalan kaki sampai rumah?" Tanya Keenan.


"Tidak apa-apa." Jawab Vilia tersenyum.

__ADS_1


"Baiklah, Ayo kita pulang." Ajak Keenan seraya melangkah maju, sedangkan Vilia terdiam di tempatnya yang membuat Keenan binging.


"Ada apa Vil?" Tanya Keenan.


"Ken, Aku cuma punya kamu satu-satunya sekarang, Aku....." Jawab Vilia, Namun ia menggantung kalimatnya.


Keenan yang peka lantas tersenyum. Ia peluk tubuh Vilia dengan sayang, Kali ini tampa izin, karena Vilia juga tak keberatan.


"Jangan banyak berfikir, Setinggi apapun statusku sekarang, Kamu akan menjadi satu-satunya." Ungkap Keenan sungguh-sungguh.


"Dengar Vilia, Waktu aku disaat paling terpuruk kamu yang selalu mengulurkan tanganmu padaku, Sampai kapan pun aku masihlah Keenan yang kamu kenal, Sahabatmu, teman curhatmu, penasehat mu, dan sekarang aku adalah suami kamu, Imam kamu, itu tak akan pernah berubah Vil." Sambung Keenan menjelaskan dengan serius dan tulus.


"Terimakasih, Aku sayang kamu Ken, Tunggu sampai aku mengatakan mencintaimu ok?" Ujar Vilia seperti memohon.


Keenan tersenyum. "Tentu." Jawab Keenan senang.


Setengah dalam perjalanan pulang tiba-tiba turun hujan yang membuat Keenan dan Vilia harus berteduh di suatu tempat di tepi jalan. Entah entah berapa lama mereka akan menunggu sampai hujan reda.


"Vil Pakai ini." Tutur Keenan memakaikan jaket yang dirinya pakai pada Vilia.


"Terimakasih." Ucap Vilia tersenyum dan Keenan mengangguk mengiyakan.


🌬️🌬️🌬️🌪️


"Tuan, Itu bukannya tuan muda dan nona Vilia?" Celetuk Han yang melewati tempat dimana Vilia dan Keenan sedang berteduh.


"Hampiri." Perintah Raden.


Han mengangguk dan menghampiri Keenan serta Vilia, Keenan begitu kaget melihat mobil yang ia jumpai kemarin kini ada di hadapannya lagi.


Raden keluar dengan style nya berwibawa menghampiri anak dan menantunya, Keenan hanya menatap nanar ke arah sang ayah melukiskan penyesalan atas penolakannya untuk mengakui Raden sebagai ayahnya.


"Ken? Ayo biar papi antar kamu dan istrimu pulang." Tawar Raden.


Keenan diam sesaat sebelum kemudian ia sigap memeluk tubuh Raden dengan erat, Kata maaf terus terucapkan dari mulut Keenan dan ia utarakan untuk sang ayah.


"Maaf, Maafin Keenan, Papi." Ucap Keenan mulai memanggil Raden sebagai Papi.


Raden lantas menangis haru mendengar panggilan itu dari putranya. "Tidak apa-apa anakku, Tidak apa-apa, Papi mengerti." Balas Raden membalas pelukan Keenan.


Vilia dan Han tersenyum melihat hal itu, mereka bahagia melihat Keenan dan Raden sudah mulai menerima.

__ADS_1


KITA LANJUTKAN LAGI HARI ESOK YA GUYS..... SEE YOU 4 HARI KEMUDIAN 👋☺️


BERSAMBUNG..........................................


__ADS_2