Suamiku Gelandangan

Suamiku Gelandangan
Hak Waris Terancam


__ADS_3

2 Hari pun berlalu, kini Vilia tengah ada di sebuah rumah kecil yang sengaja Ia dan Fifi siapkan untuk Keenan, Vilia tak ingin melihat Keenan terus-menerus Luntang Lantung di jalanan.


Setidaknya Keenan punya rumah untuk ia tinggali, dan masalah pekerjaan Keenan bisa memikirkannya sendiri, karena Keenan tak ingin orang lain mengganggunya dalam bidang pekerjaan.


Walaupun Keenan hidup sulit, tapi tak mengurangi keinginannya untuk mandiri dan menjadi pria bertanggung jawab dan pekerja keras, yang dapat menjadikan dirinya sebagai laki-laki yang dapat di andalkan ketika ia membina rumah tangga, dan itupun jika ia menemukan pasangan yang pas yang sanggup menerima dirinya apa adanya, bukan karena ada apanya.


"Kalian sungguh ingin memberikan rumah ini padaku untuk aku tinggali?" Tanya Keenan tak percaya.


"Ken, Aku gak mau liat kamu luntang-lantung di jalanan terus, aku juga sulit kalo mau ketemu kamu, jadi jangan nolak ya?..." Ujar Vilia melas.


"Aku sih sangat berterimakasih sekali, tapi apa begini tidak menyusahkan kalian? Aku merasa tidak enak." Ucap Keenan ragu-ragu.


"Jangan khawatir mas, saya bersedia membantu karena kamu adalah temannya Lia. Jadi jangan merasa sungkan." Timpal Fifi tersenyum ramah.


"Terimakasih, Aku akan selalu mengingat kebaikanmu, suatu saat aku pasti akan membalas kebaikan kamu. Khususnya Vilia yang sudah sangat baik padaku." Ujar Keenan tersenyum tulus.


Vilia yang dapat tatapan lembut dari Keenan hanya bisa membuang mukanya karena malu, ia sungguh tak sanggup jika ada pria tampan seperti Keenan yang menatapnya lekat.


Fifi yang melihat tingkah laku temannya itu hanya bisa tersenyum diam-diam, Dan Keenan tersenyum puas melihat sikap Vilia yang malu-malu.


"Oh ya, kamu kan temannya Vilia, jadi tidak usah begitu formal, panggil saja aku Keenan, atau kau bisa menyebutku Ken." Ujar Keenan tersenyum tipis.


"Emm aku panggil Keenan aja ya, Kalo aku panggil Ken si Lia bisa jealous nanti." Tukas Fifi terkekeh.


Vilia lantas menatap tajam ke arah Fifi. "Apaan sih Fi! Mana ada, jangan ngaco deh." Sergah Vilia membuang muka.


"Hahaha aku hanya bercanda." Ucap Fifi tertawa lepas.


Sementara Keenan hanya bisa tersenyum melihat interaksi kedua gadis cantik di depannya itu. Ia amat senang dengan penuturan dari Fifi tersebut, walaupun kenyataannya tidak mungkin tapi Keenan tetap merasa senang membayangkan hal tersebut.

__ADS_1


Mereka berbincang bincang lama di dalam rumah Keenan yang keduanya berikan. Setelah waktu sudah sangat sore, kedua gadis cantik itupun pulang ke rumah masing-masing.


Butuh waktu hampir 30 menit yang Vilia gunakan untuk sampai di rumahnya, Kini ia tinggal bersama Paman dan Bibinya di rumah peninggalan kedua orangtuanya.


Sampainya di rumah, Vilia di kaget'kan dengan adanya pengacara orang tuanya dulu, Entah apa yang membuatnya datang ke rumahnya saat ini. Dan kebetulan juga pengacara itu sangat dekat dengan Vilia, bahkan sudah seperti paman sendiri.


"Paman, ada apa datang kemari?" Tanya Vilia heran.


"Oh Lia udah datang, Duduk dulu dan dengarkan apa yang akan di katakan pak Indra." Timpal sang Bibi bermuka dua.


*Ada apa ini? Kenapa nenek sihir yang galak ini begitu lembut?* Batin Vilia bertanya-tanya dan kemudian duduk di sofa di sebelah sepupunya.


Setelah Vilia duduk, Indra mulai menjelaskan maksud kedatangannya ke rumah Vilia, Ia membacakan surat wasiat pengalihan hak waris yang senantiasa di dengarkan oleh Vilia secara seksama.


Di dalamnya dijelaskan bahwa Vilia akan menerima seluruh aset peninggalan orangtuanya ketika ia sudah berusia 25 tahun dan sudah menikah. Sementara itu maka sebagian warisan akan di pegang oleh Bibi Vilia yang merupakan adik dari sang Mama.


Warisan itu bukan di serahkan kepada Bibinya, Bibinya hanya pemegang sementara sebelum Vilia berhak menerimanya, Tugasnya melindungi warisan itu agar Vilia bisa mengambil alihnya secara utuh suatu hari nanti.


"Tapi paman, Aku tidak siap untuk menikah." Pungkas Vilia murung.


"Vilia, Paman mengerti, Tapi warisan kamu bisa terancam nak." Balas Indra menatap sendu Vilia.


"Uang dan aset lainnya memang tidak perlu di khawatirkan, Tapi Rumah ini akan jatuh ke tangan Bibi kamu, memang kamu mau?" Sambung Indra.


Vilia terdiam, Ia benar-benar tidak mau rumah peninggalan Kedua orangtuanya di miliki orang lain. Tapi dari mana dia akan mendapatkan seorang suami? Sedangkan kekasih saja ia tak punya.


"Mengapa Bunda dan ayah mengharuskan di saat aku menikah, paman?" Tanya Vilia sendu.


"Mungkin mereka berfikir di saat kamu sudah menikah kamu sudah bisa bertanggung jawab dan dewasa, dan ada suami kamu yang akan melindungi kamu dan juga menjaga warisan itu." Jawab Indra memberikan pengertian.

__ADS_1


"Dengar nak, jangan ragukan keputusan orang tua mu, mereka tidak akan mengambil keputusan buruk untuk mu." Sambung Indra mengelus rambut Vilia lembut.


Vilia diam membisu, Ia tentu percaya bahwa kedua orangtuanya tidak akan menghancurkan kehidupan putrinya sendiri, tapi ia juga bingung akan menghadapi masalah warisan itu bagaimana, Vilia yakin paman dan bibinya tidak akan tinggal diam.


"Sudah jangan banyak berfikir, Paman tidak memaksamu untuk segera menikah, Tapi setidaknya berusahalah menerima seseorang." Ucap Indra tersenyum tipis.


Vilia mengangguk dengan sedih. "Baik paman, Lia akan berusaha." Cicit Vilia.


Indra tersenyum kemudian mengelus rambut Vilia dengan sayang. "Hemm, Ya sudah paman pulang dulu ya. Jaga diri kamu." Ujar Indra lembut.


"Ya paman, Hati hati di jalan paman." Pesan Vilia tersenyum.


Segera, Indra pun melesat pergi dengan mobilnya dan menghilang dari pandangan mata Vilia. Vilia menunduk sedih kemudian pergi ke taman dan duduk bangku yang ada lalu menangis.


Berbagai keluh kesah Vilia curahkan di kesunyian, Tidak ada yang bisa ia jadikan tempat bersandar sekarang, dirinya tak memiliki siapapun setelah kedua orangtuanya wafat.


Sementara itu, Didalam Rumah. Paman dan Bibi Vilia tengah merencanakan muslihat untuk bisa mendapatkan warisan Vilia, Terutama Rumah tersebut, Karena mereka ingin selamanya tinggal di rumah mewah itu dari pada kembali ke rumah kumuh mereka.


"Mah, Kita harus cari cara untuk menyingkirkan Vilia." Ucap Amanda licik.


"Iya, gak usah di kasih tau Mamah juga tau Manda." Tukas Lidya memangku tangan di dada.


"Jangan gegabah, Harus bertindak hati-hati agar tidak ada kecurigaan, dapatkan rumah ini saja sudah cukup." Timpal Faizal menasehati anak dan istrinya.


Amanda dan Lidya hanya mangut-mangut dan tersenyum licik memikirkan rencana mereka untuk menyingkirkan Vilia.


Sementara yang jadi sasaran masih tetap merenungi kesedihannya di taman, ia tak tau bahwa bahaya ada di dekatnya bahkan sangat dekat. Semoga saja keluarga licik itu tak merencanakan pembunuhan terhadap Vilia.


AKU GAK TERLALU PAHAM AKAN HUKUM WARIS, JADI TOLONG KE MAKLUMAN NYA JIKA ISINYA KELIRU 🙏 ATAU SILAHKAN JELASKAN PADAKU BIAR AKU PAHAM WKWK🤭

__ADS_1


BERSAMBUNG..........................................


__ADS_2