
Waktu sudah menjelang sore, Kini Vilia dan Fifi sedang menuju ke rumah Keenan. Mereka naik Taxi kali ini, Karena keduanya tidak membawa kendaraan dari awal.
"Gimana Lia? Lo udah mutusin mau ngapain?" Tanya Fifi.
Vilia lantas menatap Fifi dan mengernyit heran. "Hemm, Maksud?" Tanya Vilia balik karena kurang mengerti apa yang Fifi bahas.
"Masalah Lo Lia...." Jawab Fifi mendengus kasar.
Vilia lantas mengangguk dan mengatakan keputusannya pada Fifi, Vilia berharap keputusannya tidak salah. Dan semoga saja Mendiang ayah dan ibunya tidak kecewa dengan keputusan yang Vilia ambil.
"Lo pantas mendapatkan hidup lebih baik, Semangat Lia..." Ujar Fifi tersenyum.
"Ehemm, Apa Ayah sama Bunda akan kecewa sama gue ya Fi?" Balas Vilia penuh pertanyaan dan menatap langit biru.
"Orang tua Lo pasti lega Lo ambil keputusan ini, Mereka juga pasti sedih melihat Lo di siksa keluarga adik sendiri selama ini, Mereka pasti ingin Lo bebas Lia." Ucap Fifi memberikan pengertian.
"Semoga saja, makasih ya Fi. Makasih udah selalu ada buat gue." Balas Vilia tersenyum hangat.
Fifi lantas memeluk Vilia dengan sayang, Vilia amat bersyukur memiliki teman yang sangat baik seperti Fifi di dalam hidupnya.
Beberapa saat kemudian keduanya sampai di depan rumah kecil yang menjadi tempat tinggal Keenan. Terlihat rumah yang masih sepi, dan alat memulung Keenan juga tidak ada, pastinya Keenan belum pulang hari ini.
"Gimana nih? Mau di tunggu?" Tanya Fifi.
"Iya." Jawab Vilia singkat seraya duduk di kursi kayu teras rumah.
"Dasar mood rendah!" Tukas Fifi menggeleng gelengkan kepalanya.
Vilia dan Fifi pun memilih menunggu Keenan di teras rumah. beberapa saat kemudian Keenan pun datang, Keenan amat terkejut dengan kedatangan Vilia dan Fifi di sana.
Keenan pun bergegas menaruh karungnya dan menghampiri Vilia berserta Fifi yang tengah menunggu Keenan dengan sabar.
"Kalian datang?" Ujar Keenan.
"Emm, Gimana Ken, lancar hari ini?" Tanya Vilia.
"Lancar atau tidak tetap harus bersyukur, insyallah besok akan mendapatkan yang lebih baik." Jawab Keenan bijak.
"Emmm. Apa kamu butuh sesuatu untuk beberapa hari kedepan? Aku bisa bantu." Ujar Vilia sungguh-sungguh.
"Engga Vil, Aku laki-laki, Aku calon pemimpin, aku tidak akan mengandalkan perempuan, aku sudah sangat berterimakasih atas kebaikan kalian memberikan aku tempat tinggal, suatu saat aku pasti akan membalas kebaikan kalian." Ucap Keenan bijaksana.
Vilia lantas saling pandang dengan Fifi, seketika keduanya tersenyum, Sesusah susahnya kehidupan Keenan, ia tetap tak mau untuk mengandalkan perempuan, sungguh prinsip yang membuat Vilia dan Fifi merasa bangga.
__ADS_1
_
_
Waktu sudah menunjukkan jam 20 lewat. Vilia, Paman dan Bibinya beserta Amanda tengah berkumpul, Mereka membicarakan rumah yang mereka inginkan dari Vilia.
Sebenarnya Bibi Vilia yaitu Lidiya sudah di sebutkan sebagai ahli waris rumah tersebut, Lidiya yang selaku adik dari Bunda Vilia menjadi pemilik sementara rumah tersebut selama dirinya merawat Vilia.
Dan disebutkan pula bahwa Lidiya harus menyerahkan kembali rumah tersebut kepada Vilia ketika Vilia sudah menemukan pasangan hidupnya (Suami).
"Kalian tidak usah banyak omong untuk membujuk ku, kalian juga tak perlu beralasan merawat ku bertahun-tahun untuk bisa mendapatkan rumah ini." Tukas Vilia setelah beberapa pembicaraan dengan keluarganya itu.
"Bagus kalau kamu mengerti apa maksud kami, Jadi langsung pada intinya, Apa jawabanmu?" Ucap Lidiya bertanya dengan ekspresi tidak senang.
"Aku bisa menyerahkan rumah ini sepenuhnya atas nama Bibi, Tapi ada syaratnya." Ucap Vilia tegas.
"Apa?! Beraninya mengajukan syarat pada kami!" Sentak Amanda tak suka.
"Kenapa? Jika kalian tidak bisa menerima syarat ku maka tidak ada yang perlu dibicarakan lagi." Tegas Vilia.
"Permisi." Lanjut Vilia berdiri dari duduknya.
Seketika Lidiya dan Faizal menghentikan langkah Vilia secara serempak, Mereka tak mungkin melewatkan sedikitpun kesempatan untuk bisa menguasai rumah tersebut.
"Vilia duduklah, Kita bicarakan lagi pelan-pelan." Ucap Faizal membujuk.
Vilia pun duduk ke tempatnya kembali, Lidiya dan Faizal pun mulai bertanya syarat yang Vilia maksudkan, Vilia pun angkat bicara dan mengajukan 3 syarat.
Awalnya mereka terkejut dan ingin mencaci maki Vilia, namun niatan mereka di urungkan dan berusaha tampil biasa saja dan tak keberatan mengenai apapun.
"Baiklah sebutkan tiga syarat mu itu." Ujar Faizal mewakili Lidiya.
"Baik." Ucap Vilia mengangguk.
"Pertama, Setelah rumah ini menjadi milik kalian, kalian tidak boleh menjual ataupun menggadaikan rumah maupun isinya." Sambung Vilia menjelaskan.
"Kita bukan orang bodoh yang mau menjual rumah semewah ini!" Cetus Lidiya.
"Baik, Aku pegang ucapan Bibi." Ucap Vilia tersenyum tipis.
"Lanjutkan syarat kedua." Ujar Faizal.
"Kalian tidak boleh mengubah apapun yang ada di rumah ini, biarkan semuanya tetap sama, Dan juga Bi Muli akan kembali bekerja disini. Ketiga, aku ingin bebas! Kalian tidak boleh menyiksaku lagi, Aku akan fokus pada karir ku dan tidak akan mengurus kalian lagi, jika kalian melanggar 3 syarat itu maka aku akan melapor pada paman indra dengan tuduhan pengalihan hak waris secara paksa, dan kalian tau apa ganjarannya." Jelas Vilia panjang lebar dan tegas penuh ancaman.
__ADS_1
Lidiya dan Amanda amat kesal ketika mendengar syarat terakhir dari Vilia, beda dengan Faizal yang tengah diam seolah memikirkan sesuatu dengan seksama.
Mungkin ia sedang memikirkan keputusan apa yang akan ia ambil dengan syarat yang Vilia ajukan itu, keputusan yang akan menguntungkan mereka.
"Baik, Kami setuju, kamu bisa memegang kata-kata ku, Rumah ini beserta isinya akan tetap seperti awalnya. Muli juga akan Paman pekerjakan lagi, kamu bisa fokus dengan kehidupan mu." Ucap Faizal tegas dan penuh keyakinan.
*Toh hanya kehilangan tenaga tambahan, tidak ada yang merugikan.* Pikir Faizal.
"Papa!" Sentak Amanda tak terima.
"Sudah kamu diam! Jangan berulah atau papa hukum kamu!" Sarkas Faizal mengancam.
Amanda pun senyap, dengan itu keputusan pun telah deal dengan pembahasan yang di setujui. Keesokan harinya Vilia mengundang Indra untuk melakukan pengalihan surat rumah atas nama Lidiya sepenuhnya.
Awalnya Indra ragu, Namun ia tetap tak bisa menolak keputusan yang sudah Vilia ambil. Setelah selesai dengan semua prosedur Indra pun pergi, Tinggal Vilia dan keluarga liciknya yang tersisa.
"Sekarang kamu bisa pergi dari sini" Ucap Amanda.
Vilia lantas menatap Amanda heran. "Apa maksudmu?" Tanya Vilia.
"Kamu ingin bebaskan? Maka sekarang ambil barang-barang mu itu dan silahkan pergi!" Timpal Lidiya tersenyum jahat seraya menunjuk ke arah pintu.
Vilia lantas menoleh dan melihat koper disana. "Kalian mengusirku? Kenapa? Kalian sudah janji tidak akan menyakitiku." Ujar Vilia tak menyangka.
"Haha dasar naif! Jangan bicara omong kosong lagi, sekarang pergi dari sini!" Ketus Amanda seraya menarik Vilia pergi.
BRAKK!!!
"Paman! Bibi! Kak amanda buka pintunya! Kalian tidak bisa melakukan ini padaku! BUKA!!" Teriak Vilia menggedor-gedor pintu rumahnya.
"Hikss buka! Paman, Bibi, mengapa kalian setega ini? Aku sudah memberikan apa yang kalian mau, mengapa kalian begitu jahat?" Sambung Vilia mulai menangis.
"Iya kami jahat! Dan orang bodoh sepertimu yang bisa percaya pada kami! Dasar bodoh! Pergi sebelum aku menendang mu!" Teriak Amanda dari dalam rumah.
Vilia pasrah, ia akhirnya mulai melangkahkan kakinya pergi meninggalkan rumah tersebut, Hati nya sakit, Tidak terima, ingin membalas, namun apa yang bisa ia lakukan? Ia tak mampu melawan orang-orang licik seperti mereka.
Yang bisa Vilia lakukan hanyalah tabah menghadapi semua cobaan yang ada, Ia harus sabar dengan ujian hidupnya, Vilia yakin suatu saat dirinya akan mendapatkan kebahagiaan yang telah tuhan rencanakan untuknya secara khusus.
'Bersabarlah, Semua hal buruk tak akan selalu berakhir buruk🍂' ~Vilia Anindira🌻
BTW Minal aidzin walfaizin bagi para umat islam yang menjalani🙏✨🤝
BERSAMBUNG..........................................
__ADS_1