
Waktu berlalu sangat cepat, Tanpa di sadari sudah menjelang sore, Keenan yang hidup luntang-lantung dan hanya bisa mengandalkan hidupnya dengan memulung itu hanya bisa duduk di bangku taman setempat.
Ia selalu berfikir malam ini ia akan tidur dimana lagi? Tempat yang bisa melindunginya dari angin dingin malam dan hujan apakah ada? Sementara kebanyakan orang akan mencaci orang rendah seperti Keenan.
Seperti saat ini, Ia sudah di usir dari beberapa tempat yang ia kunjungi, ia hanya ingin istirahat saja dan orang-orang itu sama sekali tidak mengasihani Keenan. Hanya pandangan merendahkan yang tersirat dimata mereka.
"Harus bagaimana sekarang? Aku harus tidur dimana malam ini?" Ujar Keenan bertanya-tanya pada dirinya sendiri seraya mengacak rambutnya frustasi.
"Tuhan.... Lulusan terbaik di universitas ternama seperti ku malah jadi begini! Mengapa kau tidak mengasihani ku sedikit pun?" Sambung Keenan putus asa yang terkesan menuntut takdir lebih baik.
Keenan lantas terdiam sesaat setelah mengatakan perkataannya tadi. "Astaghfirullah... Maafkan hamba mu ini ya Allah." Lanjut Keenan seketika menyesali perkataannya yang seakan menuntut itu.
Keenan pun berdiri dari duduknya, ia berencana mencari tempat untuknya tidur malam ini, jika tidak menemukan maka Keenan hanya bisa kembali ke taman itu untuk tidur, setidaknya disana lebih aman dari pada di jalanan yang banyak sekali Gengster.
"Mau apa kau?" Tanya seorang penjaga toko pada Keenan saat melihat Keenan ingin memasuki wilayah toko.
"Pak, Apa saya boleh numpang tidur di halaman toko ini nanti malam?" Ujar Keenan meminta izin.
"Tidak boleh! Dasar gembel!" Ketus pak penjaga itu.
"Tolong pak, hanya semalam saja setelah itu saya akan pergi." Mohon Keenan.
"Aku bilang tidak ya tidak! Kau ini tuli ya?! Cepat pergi! Dasar gembel sialan! Sampah tak berguna!" Umpat pak penjaga dengan nada tinggi.
Mendengar itu Keenan memilih pergi, Hatinya begitu sakit di hina seperti itu. Keenan sudah sering menemui berbagai caci maki orang pada dirinya, namun ia terus bersabar dan bersyukur atas apa yang dimilikinya, diberikan kesempatan untuk tetap hidup saja itu sudah sangat berarti bagi Keenan.
Keenan tidak pernah putus asa dan tetap bekerja keras, Berharap kerja kerasnya bisa terbayarkan dan semoga saja benar-benar terbayarkan dengan kehidupan yang fantastis.
Sementara itu di tempat lain, Vilia sudah pulang kerja, ia mampir ke sebuah toko roti untuk sekedar membeli beberapa roti untuk ia berikan pada temannya.
"Ini dia mba, totalnya 54 ribu." Ucap mba kasir.
Vilia lantas merogoh uang di dalam tas selempang nya. "Ini mba, Makasih." Ucap Vilia menyodorkan uang tersebut.
Vilia pun pergi meninggalkan toko tersebut, Dengan sepeda engkalnya ia menelusuri jalanan dan mencari keberadaan teman yang ia maksudkan.
Vilia melewati taman mini hingga taman kota dan mencarinya ke berbagai tempat yang biasanya temannya gunakan untuk istirahat, semoga saja hari ini bisa bertemu, sangat sulit bagi Vilia untuk bertemu temannya itu.
"Aishh kira-kira dia dimana ya?" Ujar Vilia bertanya-tanya.
Vilia memutuskan untuk lanjut mencari keberadaan temannya, setelah beberapa saat Vilia berhenti di salah satu halte bus dan duduk disana sekedar beristirahat, Semoga saja ada keajaiban temannya itu akan melintas di sana.
__ADS_1
"Ya ampun lelah banget!" Tukas Vilia mengipas diri sendiri dengan tangannya.
Ia kemudian meraih air mineral di keranjang sepedanya dan juga satu potong roti, ia menyantap roti tersebut seraya menunggu dan melihat-lihat sekitar.
Roti itu ia gunakan untuk menahan lapar bilang saja itu adalah makan malam Vilia, Karena Vilia belum tau sampai rumah ia akan dikasih makan atau tidak oleh Bibinya.
"Fifi!" Teriak Vilia memanggil Fifi yang tengah berdiri sekitar 5 meter dari tempatnya duduk.
Yang di panggil lantas menoleh dan tersenyum. "Ya ampun Lia... Ngapain Lo disini?" Celetuk Fifi berlari kecil ke arah Vilia.
Fifi duduk di samping Vilia, kemudian keduanya mulai berbincang bincang. Yah berbincang-bincang tentang alasan Vilia yang ada di halte juga topik lain.
"Gue tadi nyari Lo." Celetuk Vilia melirik Fifi.
"Mau ngapain?" Tanya Fifi.
"Mau ngajakin..." Jawab Vilia menggantung Kalimatnya.
"Ngajakin kemana sih? Kok setengah-setengah Lo kalo ngomong!" Tukas Fifi mengernyit.
Yang di ajak bicara bukannya lanjut menjawab malah berdiri dari duduknya dan pergi ke arah lain mengabaikan Fifi, sepedanya juga ia tinggal dan itu memberikan jawaban pada Fifi bahwa Vilia tidak akan pergi kemana-mana.
Fifi memutuskan untuk menunggu saja di halte, juga menjaga sepeda Vilia yang ia tinggal, Apalagi Vilia juga meninggalkan tas selempang nya di bangku halte, Bisa gawat kan kalo hilang atau di curi orang?
Merasa namanya disebut, Keenan lantas menoleh dan mendongak, terlihat gadis cantik yang tengah tersenyum kepadanya.
"Vilia?" Seru Keenan langsung berdiri dengan gerakan cepat.
"Kamu ngapain disini? Tadi aku mencarimu kemana-mana." Ujar Vilia bertanya-tanya.
"Maaf...." Bukannya menjawab, Keenan malah minta maaf yang membuat Vilia hanya bisa menghembuskan nafas panjang.
Tanpa aba-aba Vilia menarik Keenan pergi ke arah halte dan menemui Fifi, Fifi kaget saat melihat Vilia membawa gelandangan di sisinya. Bukannya jijik atau apa tapi Fifi memang tak pernah bertemu tepatnya berinteraksi dengan gelandangan.
"Fi! Kenapa Lo?" Tanya Vilia mengagetkan Fifi.
"Eng... Engga. Gak apa-apa." Jawab Fifi Canggung.
"Vil, Sepertinya gak bagus aku disini, teman kamu pasti gak suka." Ucap Keenan menunduk dalam.
Vilia lantas menatap Keenan. "Kamu ini bicara apa sih? Fifi gak gitu kok." Tukas Vilia tersenyum dan melirik Fifi sekilas.
__ADS_1
"Iya mas, tenang aja, saya gak gitu kok." Timpal Fifi tersenyum.
Keenan lantas menatap Fifi dan tersenyum, ia lega karena Fifi tak memandang rendah dirinya. sekilas ia berfikir bahwa seseorang yang dekat dengan Vilia pastilah bukan orang jahat, secara Vilia sangat baik, Pikir Keenan.
Vilia mengambil kantong yang berisikan roti yang ia beli tadi, ia serahkan pada Keenan untuk persediaannya saat tak memiliki makanan sedikitpun.
Keenan agak berat untuk menerima semua itu dari Vilia, karena ia juga tau kehidupan Vilia di keluarganya. Namun Vilia tetaplah Vilia, dia tetap memaksa Keenan untuk menerima pemberiannya dengan ancaman tak akan menemuinya lagi jika Keenan tak menerimanya.
Keenan yang takut dengan ancaman itu lantas menerimanya, ia benar-benar tidak mau jika harus tak bertemu dengan Vilia.
"Nah, Begini kan bagus... Aku gak pernah menerima penolakan." Ucap Vilia puas.
"Tapi gimana sama kamu? Gimana kalo Bibi mu yang jahat itu gak kasih kamu makanan lagi?" Tanya Keenan takut-takut.
"Udah santai, Tadi aku udah makan sepotong roti dab masih kenyang." Jawab Vilia dengan santai dan tenang.
Keenan hanya diam, sebenarnya ia tak enak jika harus terus menerima pemberian Vilia, tapi jika Vilia sudah memberikannya ia juga tak enak untuk menerimanya.
"Vil, Kamu yakin gak mau ambil beberapa lagi?" Tanya Keenan dengan sebutan Vil, dan hanya dirinyalah yang memanggil Vilia dengan sebutan Vil.
"Engga, aku kan siapin itu buat kamu, masa aku ambil lagi sih?!" Jawab Vilia memangku tangan di dada.
"Tapi aku gak enak sama kamu." Cicit Keenan berat.
"Ken, Kamu itu teman terbaik aku, jadi jangan sungkan sama aku, Ok?" Ujar Vilia tersenyum dan menepuk pundak Keenan pelan.
"Hanya teman saja?" Gumam Keenan.
"Iya? Kamu ngomong apa Ken?" Tanya Vilia yang merasa Keenan mengatakan sesuatu.
"Ah! Tidak-tidak, aku tidak mengatakan apapun." Jawab Keenan gelagapan.
"Aku... Aku cuma mau bilang makasih, Kamu udah baik banget sama aku." Sambung Keenan tersenyum tulus.
Vilia hanya membalasnya dengan senyuman hangat, ia sama sekali tidak keberatan membantu Keenan karena bagi Vilia Keenan adalah orang dan teman terbaik yang pernah ia temui setelah Fifi.
*Aku tidak mau hanya sebagai teman, tapi apa itu Mungkin?* Batin Keenan sendu.
*Ya sudahlah... Aku hanya ingin dia bahagia, itu saja sudah cukup.* Batin Keenan tersenyum ke arah Vilia yang sedang berbincang dengan Fifi.
HANYA SEBAGAI TEMAN? YAH... ITU BENAR-BENAR PERNYATAAN MENYAKITKAN.
__ADS_1
BERSAMBUNG..........................................