
Fajar bersinar menyapa Keenan yang sedang duduk santai di kamarnya setelah shalat subuh, Ia sengaja tak membangunkan Vilia karena Vilia sedang dapat tamu bulanan, Karenanya Keenan hanya shalat sendirian kali ini.
"Vilia, Ayo bangun dan bersihkan diri kamu." Ujar Keenan seraya mengambil baju ganti di lemari.
"Hemm iya, 5 menit lagi ya Ken, Aku lelah." Pinta Vilia.
"Baiklah, Kamu istirahat saja, Aku akan pergi kebawah mencari mami, aku ingin bicara dengannya." Ucap Keenan menyetujui.
Tidak ada balasan dari Vilia, Keenan hanya tersenyum pasrah dan akhirnya berganti pakaian dengan pakaian kasual yang disiapkan Papi Raden untuknya sebelum datang.
Yah.... Kehidupan baru dan identitas baru, tentu saja harus dengan penampilan baru. Tapi untuk kesehariannya jika keluar Keenan bertekad untuk tetap dengan penampilannya yang dulu, Ia tak mau orang-orang mengetahui identitas nya untuk saat ini.
Setelah berganti pakaian, Keenan langsung turun kebawah mencari orang tuanya, Ia sangat ingin berbicara banyak hal dengan maminya, melihat kondisinya kemarin membuat Keenan merasa khawatir akan keadaan maminya itu.
"Selamat pagi tuan muda." Sambut Han yang stand by di ujung tangga.
"Oh Han? Selamat pagi juga, Han." Balas Keenan ramah.
"Emmn Han? Apa Mami Papi udah bangun?" Tanya Keenan.
"Sudah tuan muda, Tuan sedang membawa nyonya menghirup udara pagi di taman belakang." Jawab Han tanpa menatap Keenan, Itu sebagai bentuk rasa hormat dengan majikan.
"Bisakah kamu menunjukkan jalannya? Aku belum tau lokasi keseluruhan rumah ini, sekalian kamu yang jelaskan." Ujar Keenan canggung.
"Tentu, Itu sudah menjadi tugas saya untuk selalu melayani anda." Balas Keenan menunduk hormat.
*Aku sungguh tidak terbiasa dengan perlakuan seperti ini* Batin Keenan tak enak.
Han pun menuntun jalan untuk Keenan, Ia juga sekalian memperkenalkan beberapa lokasi pada Keenan, Dan Keenan dalam hati menghalfalkan setiap arah dan setiap ruangan yang ada di dalam rumah itu.
Tak lama kemudian Keenan dan Han sudah sampai di taman belakang, Han pun pamit pergi setelah Keenan dan kedua orangtuanya telah bertemu, dan tentu saja Keenan menyetujui.
"Mami, Gimana keadaan mami?" Tanya Keenan.
"Mami baik nak, Jangan khawatir." Jawab Mami Windy tersenyum.
"Iya jangan khawatir Ken, Mami kamu juga udah setuju untuk menjalani perawatan." Timpal Papi Raden.
"Serius?" Tanya Keenan terkejut menatap mami Windy.
"Iya." Jawab mami Windy tersenyum.
"Alhamdulillah, Mami harus sehat okey? Aku baru kembali dan ingin berbicara banyak denganmu mam, Aku masih ingin mami mengajakku keluar." Ujar Keenan tersenyum.
__ADS_1
"Nak... Makasih udah mau kembali dan menerima kita." Ucap mami Windy menangis haru.
"Apa yang mami katakan? Tidak mungkin aku tidak menerima kalian,, Ayah dan Ibu sudah menjelaskan semuanya di sepucuk surat yang mereka tulis dahulu, Kalian sudah menderita selama ini, Pasti kalian lelah mencari ku bertahun-tahun kan?" Ucap Keenan mengusap tangan maminya dengan wajah sendu.
"Tidak nak, Mana mungkin kami lelah mencari kamu." Timpal Papi Raden.
"Terimakasih kalian tidak pernah menyerah untuk menemukan ku." Sambung Keenan penuh rasa syukur dan haru.
Mami Windy lantas memeluk putranya itu, putra yang sudah sangat ia tunggu-tunggu selama ini. Tak lama kemudian kepala pelayan kediaman Pradipta menghampiri ketiga majikannya itu, Ia memberitahukan bahwa sarapan pagi sudah siap untuk disajikan.
Mendengar itu Keenan pamit pergi untuk melihat Vilia, barang kali ia masih tertidur dan Keenan akan membangunkannya.
Setelah itu Papi Raden dan Mami Windy masuk kedalam rumah untuk pergi ke ruang makan menunggu Keenan dan Vilia datang menghampiri dan sarapan bersama.
"Pak Andi, Kamu tidak lupa menyiapkan makanan penutup kan?" Tanya Papi Raden.
"Semuanya sudah siap tuan." Jawab kepala pelayan tersebut yang dikenal dengan nama Andi.
"Baguslah, Kata keenan Vilia sangat suka makanan manis, jangan sampai itu terlewat, Kalian harus membuat menantuku puas." Ujar Papi Raden yang di benarkan oleh mami Windy.
Pak Andi pun mengangguk mengiyakan, Kemudian ia pamit pergi ke dapur untuk mengawasi para maid dalam menyiapkan makanan yang akan di sajikan dimeja makan.
Satu persatu maid mulai keluar dari dapur menuju meja makan dan menyajikan berbagai menu makanan enak di meja makan. Semuanya menu terbaik, Papi Raden benar-benar menyiapkan segalanya untuk menyambut anak dan menantunya.
"HAN!!!..." Teriak Keenan dari lantai atas.
Terlihat Keenan yang sedang menggendong Vilia dalam pangkuannya, Ia dengan cepat menuruni anak tangga dengan perasaan was-was yang sangat jelas.
"Keenan ada apa nak?" Tanya Papi Raden.
"Dimana Han, Papi?" Tanya Keenan balik.
"Cepat-cepat panggil Han." Perintah Papi Raden kepada salah satu pelayan.
"Ada apa dengan istrimu nak?" Tanya mami Windy.
"Aku tidak tau,, Aku berusaha membangunkannya tapi dia tidak kunjung merespon." Jawab Keenan lirih.
"Apa dia sakit?" Tanya mami Windy lagi.
"Tapi dia tidak pernah mengatakan apapun padaku, Dia tidak mengeluh apapun, Tadi dia hanya mengatakan lelah saat aku membangunkannya." Jawab Keenan gemetaran.
Tak lama kemudian Han datang dengan perasaan bingung dan takut, Ia takut karena pelayan yang mengatakan padanya bahwa Keenan memanggilnya dengan berteriak di dalam rumah.
__ADS_1
Keenan tak mengatakan apapun, Ia hanya menatap tajam Han sekejap sebelum akhirnya mengatakan untuk mengantarnya ke rumah sakit.
Kemudian Papi Raden ikut menyusul Keenan, sementara mami Windy menunggu dirumah karena kesehatannya yang baru saja membaik.
30 menit kemudian semuanya telah sampai dirumah sakit, Dokter dan suster yang mengenal Papi Raden lantas terkejut dengan kedatangan Papi Raden di rumah sakit mereka.
"Cepat periksa dia." Teriak Papi Raden.
Para suster pun mendorong brangkar berjalan menuju Keenan, Keenan membaringkan Vilia perlahan kemudian mengikuti suster yang mendorong brangkar tersebut menuju ruang pemeriksaan.
Keenan dilarang masuk kedalam ruang pemeriksaan oleh suster, Ia terpaku, Dirinya benar-benar khawatir setengah mati dengan keadaan istrinya. Keenan benar-benar takut terjadi sesuatu dengan istrinya itu, Papi Raden pun ikut prihatin melihat putranya yang tampak pucat karena khawatir.
"Tenanglah nak." Tutur Papi Raden.
"Tidak bisa Papi, Aku sangat takut, Aku takut kehilangannya." Ucap Keenan tanpa sadar meneteskan air mata.
"Istrimu akan baik-baik saja, Kamu harus percaya itu." Ujar Papi Raden mengusap punggung Keenan guna memberikan ketenangan.
"Aku sudah menyukainya selama 3 tahun, Aku gak mau kehilangannya, Papi..." Ucap Keenan terisak di pelukan Papi Raden.
Papi Raden lantas mengibaskan tangannya pada Han yang berarti menyuruhnya untuk pergi, Han mengerti bahwa Papi Raden tidak ingin orang lain melihat sisi lemah putranya.
20 menit kemudian dokter keluar dari ruang pemeriksaan, Keenan terperanjat dan spontan menanyakan keadaan Vilia kepada dokter tersebut.
"Bagaimana, Dok?" Tanya Keenan cemas.
"Pasien baik-baik saja, Dia hanya pingsan karena masalah tamu bulanan yang menyebabkannya dalam kondisi lemah, Pasien bisa pulang jika sudah sadar, Saya akan menyiapkan obat untuk meredakan sakit perutnya juga." Jawab Dokter itu menjelaskan.
"Hufft, Te,,Terimakasih dokter." Ucap Keenan serasa tercekal.
"Sama-sama, Kalau begitu saya permisi." Balas dokter tersebut sekalian pamit pergi.
Setelah dokter tersebut pergi, Kemudian keluarlah seorang perawat dari ruang pemeriksaan Vilia, Kemudian ia menyampaikan bahwa Keenan sudah boleh masuk untuk melihat Vilia.
Keenan lantas menerobos masuk untuk menemui Vilia, Suster itupun sampai kaget karena tersenggol bahu Keenan dengan keras yang membuatnya merasa sedikit ngilu.
"Maafkan dia ya sus. Dia terlalu khawatir dengan keadaan istrinya." Ujar Papi Raden meminta kemakluman.
"Tidak apa-apa pak, Saya mengerti." Saut suster tersebut tersenyum.
"Terimakasih atas kemakluman nya sus." Ucap Papi Raden.
"Sama-sama tuan, Kalau begitu saya permisi." Balasnya sekalian pamit pergi yang di angguki oleh Papi Raden.
__ADS_1
PASTI ADA YANG BERPRASANGKA BURUK NIH KAN?? HAYO NGAKU😏🤣
BERSAMBUNG..........................................