
Sudah satu Minggu sejak kedatangan Indra ke rumah Vilia. Sudah berhari-hari Vilia mencari solusi untuk mendapatkan surat rumah dari bibinya, namun sampai sekarang vilia tak kunjung mendapatkan solusinya.
Kini Vilia tengah ada di makam kedua orangtuanya, Ia mengadukan keluh kesah nya pada kedua orangtuanya, berharap mendapat pencerahan dan menemukan solusi. Jika tidak kunjung mendapatkan nya mungkin dirinya hanya bisa pasrah dengan rumah itu.
"Bunda, Jika nanti Vilia merelakan rumah itu bagaimana pendapat ayah dan bunda? Apa kalian akan marah?" Tanya Vilia menatap nisan ayah dan bundanya.
"Ayah, Bunda. Jika nanti hal itu terjadi aku harap kalian mengerti, mungkin pada saat itu aku sudah menemui jalan buntu hingga tak dapat berbuat apa-apa lagi selain pasrah." Sambung Vilia lirih.
"Ayah, kamu adalah pria yang paling hebat, tolong berikan anakmu ini kekuatan agar bisa menjadi sekuat ayah. "
Setelah puas mencurahkan keluh kesahnya akhirnya Vilia memutuskan untuk pulang, 30 menit kemudian Vilia sudah sampai di sekitar perumahan dekat rumahnya, Vilia tersenyum ramah pada tetangganya yang ia lewati dan mereka juga membalasnya dengan ramah pula.
Sampai di rumahnya Vilia langsung memasak dan membersihkan rumah agar ia tak di marahi ataupun di siksa oleh Bibinya, Sudah cukup beberapa hari ini Vilia kesakitan karena di pukuli.
Usai dengan semua pekerjaannya Vilia kembali ke kamarnya dan membersihkan diri, dan itu hanya membutuhkan 20 menit lamanya bagi Vilia untuk menyelesaikan acara mandinya.
"Vilia, cepetan turun kalo Lo mau makan!" Cetus Amanda di luar pintu kamar Vilia.
Vilia lantas menatap ke arah pintu. "Iya Kak." Balas Vilia.
Setelah mendapat Jawaban dari Vilia, Amanda dengan malas dan langkah kasar langsung berbalik pergi untuk menuju ke lantai bawah, Ia menggerutu sepanjang jalan karena dirinya telah direpotkan untuk memanggil Vilia.
Beberapa saat kemudian Vilia keluar dari kamarnya dan menuju ke lantai bawah untuk ikut makan malam, Sampainya disana Vilia menerima tatapan sinis dari Amanda dan Lidiya, sementara Faizal fokus meraih alat Makan.
"Cepat duduk dan makan!" Cetus Lidiya melirik Vilia.
Vilia hanya mengangguk dan kemudian duduk dan ikut makan malam bersama. Setelah selesai yang lainnya langsung pergi sementara Vilia membereskan meja makan terlebih dahulu sebelum pergi istirahat.
Sementara itu di tempat lain Keenan sedang bersiap untuk istirahat, namun saat ia ingin masuk kedalam kamarnya ada seseorang yang mengetuk pintu hingga membuat keenan mengurungkan niatnya.
Keenan menuju pintu dan membukanya, Terlihat seorang pemuda seumuran dirinya tengah berdiri tegap di hadapannya. Pakaian kasual santainya tak menutupi wibawanya, Keenan sadar bahwa orang ini bukan orang sembarangan.
"Permisi, dengan siapa saya berbicara saat ini?" Tanya Keenan sopan.
"Tuan, Nama saya Hendriansyah, anda bisa memanggil saya dengan sebutan Han." Jawab Han tak kalah sopan.
"Baiklah, Ada perlu apa ya?" Tanya Keenan lagi.
__ADS_1
"Saya ingin bertanya, Apa orang tua anda bernama Dina Ayu Ningsih dan Rama Ilhamsyah?" Jawab Han Bertanya langsung pada intinya.
"Iya, Bagaimana kamu bisa tau?" Jawab Keenan sekaligus bertanya balik.
"Maaf, untuk beberapa alasan saya tidak bisa mengatakannya pada anda." Ucap Han menggeleng kecil.
"Saya pamit dulu tuan, Saya akan mendatangi anda beberapa hari lagi." Sambung Han membungkuk kemudian beranjak pergi.
"Hey tunggu dulu! Han!!" Panggil Keenan namun Han sama sekali tidak menggubrisnya.
Keenan pasrah dan kemudian masuk kedalam rumahnya dan menutup pintu. Ia berjalan menuju kamarnya dengan pikiran penuh tanda tanya, Siapa Han? Dan mengapa dia tahu nama orang tua Keenan? Dan untuk apa Han mencarinya?
"Ayah, Ibu. Terkadang aku merasa ada sesuatu yang belum aku ketahui, Apa kalian menyembunyikan sesuatu dariku saat masih hidup?" Ujar Keenan menatap langit-langit.
"Aishhh.... Aku minta maaf kepada kalian. Aku gagal, Kalian menyekolahkan aku sampai ke perguruan tinggi, Tapi aku tidak menjadi apa-apa sekarang." Sambung Keenan menghela nafas panjang.
"Jaman sekarang semuanya memandang status, Bahkan lulusan terbaik sepertiku tak jadi apa-apa tanpa status tinggi, mengapa dunia ini semakin tidak adil?!" Tukas Keenan mendengus kasar dan melemparkan tubuhnya ke ranjang.
*****
"Tuan Besar, Saya sudah menemukan keberadaan anak dari Pak Rama dan Bu Dina." Ujar Han di sebrang telepon.
"Ya Tuan, Saya akan mengawasinya diam-diam." Balas Han seraya mengangguk kecil.
"Aku percaya padamu Han." Ujarnya tersenyum.
"Terimakasih atas kepercayaan anda Tuan Besar." Ucap Han tersenyum senang.
Orang yang Han sebut tuan besar itu pun memutuskan panggilan teleponnya sepihak, sementara Han menoleh kanan kiri melihat situasi lingkungan, Barang kali ada orang yang tanpa sengaja mendengar pembicaraannya dengan Tuan nya itu.
Setelah memastikan aman, Yan pun beranjak pergi dari tempatnya, Ia langsung menuju hotel yang menjadi tepat tinggalnya beberapa hari selama ia mengawasi Keenan.
🌬️🌬️🌬️🌬️🌪️
Seperti bisa di pagi hari Vilia akan pergi ke toko untuk bekerja, Dan sore akan pergi menemui Keenan untuk menjenguknya. Barang kali Keenan membutuhkan sesuatu yang bisa Vilia lakukan untuknya.
"Lia, Ini udah hampir siang, Gue izin sama mama untuk makan diluar sama Lo ya?" Ujar Fifi menatap Vilia sekilas.
__ADS_1
"Kan kita bisa makan siang disini Fi." Ucap Vilia heran.
Fifi lantas mendengus kasar. "Gue maunya diluar, Lo gak bisa nolak!" Tukas Fifi memaksa.
Vilia akhirnya pasrah dan mengikuti kemauan temannya itu, Sungguh aneh ini anak hari ini. Begitu pikir Vilia.
Pada Jam makan siang Vilia dan Fifi pun pergi dari toko dan mampir kesebuah cafe tak jauh dari toko. Mama Fifi juga sudah mengizinkan dengan syarat tidak pergi kemana-mana lagi, karena pesanan lumayan padat hari ini.
"Lia, Ayo cerita." Celetuk Fifi seraya memasukkan sesendok yogurt kedalam mulutnya.
Vilia lantas menatap Fifi dengan tatapan bingung. "Maksudnya?" Tanya Vilia.
"Ishh Lo itu pagi banyak masalah kan? Ayo cerita, siapa tau gue bisa bantu." Ujar Fifi menatap Vilia dengan serius.
Vilia lantas menunduk dalam. "Makasih Fi, Tapi ini rumit, Bahkan tidak mungkin bisa dilewati dengan mudah." Ucap Vilia berat.
"Lia, Kalo Lo masih menganggap gue sebagai teman Lo ayo cerita, Jika engga kita berakhir disini." Tukas Fifi tegas.
Vilia lantas mendongak kaget karena penuturan dari Fifi. "Jangan gitu dong Fi, Lo temen gue satu-satunya.." Cicit Vilia melas.
Melihat ekspresi Fifi yang sepertinya sangat serius dengan perkataannya, akhirnya Vilia memutuskan untuk menceritakan semua masalah yang menimpanya.
Setelah mendengar cerita dari Vilia Fifi amat terkejut, ia tak menyangka bahwa Vilia mempunyai masalah keluarga sampai titik seperti itu.
"Lia.... Kenapa gak pernah cerita sih? Di pendam makin sakit Lia..." Cicit Fifi prihatin.
"Hiks... Gue udah gak tau harus gimana Fi, ....gue takut jika gue tidak kunjung mendapatkan seseorang yang cocok maka Paman dan Bibi gue bisa melakukan apapun untuk merebut peninggalan Ayah dan Bunda." Ucap Vilia gemetaran.
"Gue bantu carikan seseorang yg cocok untuk pura-pura sama Lo, Okay?" Ujar Fifi mengusap punggung Vilia lembut.
"Fi... Jangan aneh-aneh, Pernikahan itu suci, Gue mau sekali nikah itu serius." Tukas Vilia tegas.
Fifi lantas mendengus kasar dan pasrah. "Mmm ya udah kita pelan-pelan, jangan memasang raut wajah putus asa kek gitu." Ucap Fifi mengukir senyum di bibir Vilia.
Vilia lantas mengangguk pelan dan tersenyum. sekarang dirinya sudah memutuskan satu hal, Rumah itu akan Vilia biarkan jika Paman dan Bibinya berhasil mendapatkannya, Ia tak ingin terikat lagi dengan keluarga Paman dan Bibinya itu.
Vilia akan mencari rumah sendiri dengan warisan yang memang berhak ia miliki jika saatnya tiba. Yang terpenting Vilia harus bebas, ibunya melahirkannya dengan susah payah bukan untuk di siksa keluarga sepupunya.
__ADS_1
KEENAN KAN ADA VILIA........😄
BERSAMBUNG..........................................