
Kini Vilia tengah berada di rumah Indra bersama Keenan, Keenan dan Vilia sudah memberitahukan semuanya kepada indra, sudah 2 hari Vilia memikirkan penawaran Keenan dan akhirnya Vilia setuju dengan itu.
Vilia merasa tidak ada salahnya menerima Keenan, sejauh yang Vilia tau keenan adalah orang baik, dan Vilia yakin perlahan Keenan akan berhasil membimbing Vilia untuk menerima semuanya, menerima status barunya, dan mampu menerima Keenan sebagai suaminya, mencintainya dengan sepenuh hati.
"Nak, kamu yakin?" Tanya indra, ia takut Vilia kecewa.
"Iya Paman, Vilia sudah lama mengenal Keenan, Vilia merasa adalah hal baik menerimanya, setidak nya bukan orang asing yang belum dikenal sama sekali." Jawab Vilia yakin.
"Pernikahan itu bukan hanya status nak, apa kamu sudah yakin benar-benar memilih dia sebagai suami kamu? Paman bukan meragukannya, paman hanya tidak mau kamu tersakiti." Tanya Indra lagi.
"Paman tenang saja, Saya akan menjaga Vilia sebaik mungkin, Jujur saya sudah lama mencintai Vilia, tentu saya akan menjaganya segenap hati." Timpal Keenan serius.
Indra diam sejenak, Ia menatap Keenan seksama mencari kebohongan disana, namun Indra tak menemukannya, hanya keseriusan yang tersirat di pandangan mata Keenan.
".... Jagalah Vilia baik-baik, Dia sudah seperti putriku sendiri." Ujar Indra mengelus rambut Vilia dengan sayang.
"Paman...." Cicit Vilia terharu.
"Nak, Paman harap pilihan mu tepat, semoga bahagia, paman akan mendukung keputusan mu." Ucap Indra tersenyum lembut pada Vilia.
"Dan untuk kamu, Keenan. Berjanjilah bahwa kamu akan menjaga Vilia sebaik mungkin, sayangi dia, jangan sakiti putriku." Sambung Indra menatap Keenan.
"Saya janji, Anda dapat memegang kata-kata saya." Balas Keenan sungguh sungguh.
"Baik, Aku serahkan putriku padamu, aku percayakan keamanannya padamu." Ujar Indra menatap Vilia sekilas.
Vilia lantas terisak dan memeluk indra erat, Indra sudah seperti ayahnya sendiri. Vilia sangat menyayangi Indra ayah keduanya, Vilia sungguh merasa bersyukur ada Indra yang menjadi sosok ayah untuk nya, melindungi dirinya layaknya seorang ayah melindungi putrinya.
"Paman, bisakah Vilia memanggil Paman dengan sebutan Ayah?" Tanya Vilia menyeka air matanya kasar.
"Kamu bisa melakukannya nak, paman akan sangat senang." Jawab Indra tersenyum tulus.
"Terimakasih, Ayah." Ucap Vilia kembali memeluk Indra.
"Wahhh jadi aku beneran punya adik sekarang?" Ucap seorang pria yang baru menuruni anak tangga.
Monolog itupun berhasil mengalihkan perhatian Semuanya, Vilia pun menatap terkejut kepada laki-laki tersebut, sementara laki-laki tersebut menunjukkan senyumannya dan membuka tangannya lebar.
__ADS_1
Vilia masih termenung dengan keterkejutannya, Sementara laki-laki itu menjadi bingung melihat Vilia yang terdiam di tempat. Yah wajar saja, Vilia dan pria tersebut sudah lama tak bertemu, dan tiba-tiba ia muncul di depan Vilia secara dadakan, siapa yang tak akan terkejut?
"Hallo putri kecil, Ada apa? Apa kamu sudah tak mengenali ku?" Tanya nya mengangkat sebelah alisnya.
"Ka-Kak Evan?" Seru Vilia dalam ketertegunan nya.
"Iya, Kamu benar, Ini aku Evan yang paling tampan." Tukas Evan membanggakan diri.
Seketika Vilia langsung memeluk Evan, Evan tersenyum kemudian membalas pelukan Vilia, Ia elus rambut Vilia dengan lembut dan menanyakan kabar Vilia.
"Kak, Kapan kamu balik? Kenapa gak kabari aku? Gimana kabar kak Evan? Terus dimana kakak ipar?" Tanya Vilia menghujani Evan dengan berbagai pertanyaan.
"Hey, Kamu ini kebiasaan! Satu satu dong, aku bingung mau jawab yang mana dulu." Ujar Evan memangku tangan di dada.
Vilia pun terkejut dan membuang muka lalu menunduk dalam. "Maaf kak, Aku cuma kaget kamu kembali tiba-tiba." Ucap Vilia pelan.
Evan pun menghembuskan nafas panjang lalu mengusap kasar rambut Vilia. "Tidak apa-apa Putri kecil." Balas Evan.
"Oh iya, Ini ada oleh oleh dari ku dan Dinda." Ujar Evan menyodorkan bingkisan cantik dari Dinda.
"Wahhh, Rupanya ada yang sangat merindukan aku ya? Haha." Celetuk Dinda terkekeh.
Semua orang lantas menoleh ke arah dimana suara Dinda berasal, Terlihat Dinda yang baru datang dari arah pintu pintu belakang. Vilia terkejut senang melihat kedatangan Dinda, Ia adalah orang yang paling dekat dengan Vilia sedari kecil, bahkan mereka sudah seperti kakak adik.
Vilia lantas berlari kecil menuju ke arah Dinda dan memeluknya, Tapi Vilia memeluk dengan lembut dan perlahan karena kondisi Dinda saat ini. Perut Dinda kelihatan besar, dan di pastikan Dinda sedang hamil saat ini, Jika dilihat kira² usia kandungannya sudah 4 bulanan.
"Kak Evan.... Kamu buntingin Kak Dinda?! Hayo loh tanggung jawab." Ucap Vilia jahil seraya menuntun Dinda berkumpul dengan yang lain.
Evan lantas mencubit hidung Vilia karena merasa gemas dengan ucapan Vilia. "Ishh kamu ini, Dinda kan istriku, Ya pastilah aku tanggung jawab, kamu ini ngaco ya." Tukas Evan gemas.
"Hehehe aku kan bercanda doang kak... Ishh sakit." Balas Vilia mengeluh sakit.
"Udah Evan jangan ganggu adik kamu lagi." Celetuk Indra menyela.
Evan lantas tersenyum ke arah ayahnya dan berhenti menggoda Vilia, Kemudian mereka semua duduk di sofa dan melanjutkan perbincangan mereka, Keluarga luar Vilia ini lebih baik dari pada keluarga dalam yang Vilia miliki.
"Jadi kamu udah resmi jadi adik aku kan?" Tanya Evan menggoda Vilia.
__ADS_1
"Dia memang adik kamu Van, Papa sudah menganggapnya sebagai putri Papa sendiri dari dulu." Timpal Indra tersenyum.
"Bagus dong, Ayo adik baru peluk kakak mu yang tampan ini." Ucap Evan membuka tangannya lebar.
Vilia lantas tersenyum kemudian memeluk Evan yang tepat ada di sampingnya, Vilia amat senang karena Evan sangat menganggap dirinya sebagai adik.
"Kamu sekarang adik ku, Ingat panggil aku kakak, dan jika ada yang berani ganggu kamu bilang aja sama kakak okay? Kakak akan menyelesaikan orang itu untuk kamu." Ucap Evan mengelus rambut Vilia lembut.
"Makasih Kak." Balas Vilia terharu.
*Apakah begini rasanya punya kakak? Sangat hangat.* Batin Vilia yang tiba-tiba menangis.
Evan menyudahi pelukannya kemudian mengusap air mata Vilia yang menurut Evan begitu berharga. Evan melarang Vilia menangis, karena air mata Vilia adalah berlian bagi Evan, dan tidak ada yang boleh membuat adiknya menyia-nyiakan berlian itu.
Evan menatap Keenan dengan tajam, Ia masih ragu dan tak percaya pada Keenan, Ia ragu Keenan bisa menjaga Vilia sebaik mungkin.
Keenan yang mendapat tatapan itu menjadi gugup, Dapat dilihat Evan begitu menyayangi Vilia, dan tentu tidak mudah untuk mendapatkan kepercayaan Evan untuk mendapatkan Vilia.
"Papa, Aku gak setuju, dia harus membuktikan bahwa dia sanggup menjaga adik ku. Jika tidak aku tidak akan pernah menyerahkan Vilia padanya." Tegas Evan.
Semuanya lantas kaget dengan pernyataan Evan itu. "Mas..." Cicit Dinda.
"Jangan bujuk aku. Dinda, Apa kamu mau menyerahkan Vilia begitu saja padanya? Aku tau kamu menyayangi Vilia lebih dari yang kami tau." Pungkas Evan dan Dinda terdiam.
"Kak, Apa yang membuat Kakak tidak setuju?" Tanya Vilia.
"Tidak ada alasan, pokoknya dia harus membuatku yakin bahwa dia bisa menjaga kamu, Dari dulu kamu di jaga seperti putri raja sama Om dan Tante, sekarang giliran kami yang melindungi tuan putri mereka." Jawab Evan.
"Tapi kak, Ken itu orang yang baik, Dia juga udah lama temenan..." Pungkas Vilia yang di potong oleh Keenan.
Vilia lantas menoleh ke arah Keenan, dan Keenan menggeleng, Keenan melarang Vilia untuk membantunya bicara, kali ini ia ingin membuktikan bahwa tampa status pun Keenan mampu menjaga Vilia, Gadis yang ia cintai sejak lama.
"Jujur saya tidak punya apa-apa, Tapi saya punya kerja keras, saya akan membuktikan bahwa saya mampu menjaga Vilia, saya akan membuktikan bahwa saya benar-benar mencintai Vilia dan akan melindunginya." Tegas Keenan.
MAAF YA READERS SAYANG AKU UP NYA LAMA, SOALNYA AKU BAGI WAKTU BANGET NULIS INI, ANTARA TUGAS, BELAJAR, PAT, DAN URUSAN KELUARGA, JADI NYANTAINYA CUMA ADA BEBERAPA MENIT AJA TIAP JAM NYA🥺🙏
BERSAMBUNG..........................................
__ADS_1