
Sebulan kemudian
Kinan tidak berdagang karena sakit
Ali yang setiap hari inginnya bertemu Kinan, akhirnya datang kerumah
"Eh, Kak Ali. Kok tau rumahku" Tanya Kinan
"Ya tau dong. Kan bisa tanya" Jawabnya sambil mendorong parcel buah yang dibungkus cantik untuk gadis yang paling cantik incaran Ali
Kinan tersenyum kikuk
"Sakitnya jangan lama-lama dong. Etalasemu menunggumu"
Kali ini Kinan tersenyum geli "Mana ada begitu, yang nunggu yang bernyawa kali"
"Iya. Aku yang menunggumu"
Kinan mengangguk "Iya"
Ali mengabsen rumah ini "Rumahmu kok sepi. Mana kakakmu. Katanya Kamu tinggal bersama kakakmu"
"A' Ken belum pulang"
"Eh, begitu ya" Ali berdiri "Kalau begitu, ya sudah, karena dirumahmu tak ada orang lain selain Kamu, lebih baik Aku pulang. Takut mengundang fitnah"
Kinan ikut berdiri sambil mengangguk
"Cepet sembuh, ya?"
Kinan mengangguk kembali
"Jaga diri baik-baik. Sekali lagi cepet sehat" Ucapnya sambil berjalan keluar
"Iya. Terima kasih buah tangannya ya. Repot-repot sekali"
Ali memutar badannya "Enggak papa. Direpotin Kamu juga Aku mau" Ucapnya tersenyum malu
Kinan geleng-geleng "Ada-ada aja"
-
Sore harinya, dihari lain
Kinan sudah sembuh dan sudah berdagang lagi
Tiba-tiba tak ada hujan dan tak ada angin, keluarga mantan suaminya datang berkunjung ke Bandung. tepatnya datang kerumah Ken. Kakak dari Kinan
"Wah maaf nih Bu Ana" Panggilan Ken pada Alana "Kinan belum pulang kalau jam segini diwaktu week end"
"Oh gitu. Kok bisa, kenapa?" Tanya Alana
"Sekarang Kinan kan jualan donat lagi. Kalau malam sabtu dan minggu, Dia ngulen banyak, iya kan Sayang?" Ken menoleh pada istrinya
Istri Ken mengangguk "Iya. Biasanya sih dihari selain libur, dan dagangannya sudah habis, siang juga sudah pulang. Tapi semalem ngadon agak banyak katanya sayang week end. Pulangnya pasti agak malam" Jelas Lasmi
"Oh.. Memangnya Kinan berada dimana? Maksudnya jualannya" Tanya Alana ingin tau
"Di mall pusat kota"
"Dimana tuh"
"Depan alun-alun. Sebentar Bu, Saya telponkan ya?" Ken mengangkat ponselnya guna menghubungi adiknya
"Ih, nggak perlu" Alana menolak cepat "Kalau ditelpon namanya nggak surprise dong"
Ken langsung terdiam
__ADS_1
"Aku kangen sama Kinan. Bolehkan Kami jemput Kinan kesana?" Jelas Alana sendu
Ken mengangguk-angguk "Boleh, Bu"
"Kalau begitu, Kita jemput kesana aja ya Dad?"
-
Di mall
Kedua orang tua almarhum Altaaf sudah berdiri ditengah pintu masuk mall tersebut
Alana seakan tak sabar ingin segera menjumpai mantan menantunya "Itu Dad" Tunjuk Alana pada stand yang masih ramai dikunjungi oleh antrian pembeli
Mereka berdua berjalan masuk
"Wah, mantu Kita memang pandai cari duit. Ramai lagi standnya Dad. Pasti enak kuenya" Ujar Alana bangga
"Ck. Kinan sudah bukan menantu Kita"
"Tapi calon mantu"
"Terserah Bunda"
Alana menyikut Hanan "Ih, dari rumah kan sudah sepakat Daddy.. Kalau Kita akan lamarkan Kinan untuk Kak Imran"
Hanan hanya terdiam. Ia menurut saja pada istrinya. Karena feeling istrinya selalu tepat
Alana ikut mengantri. Dia tidak ingin mengganggu dan tidak ingin merusak kegiatan bekas menantunya ini
Setelah antrian didepan Kinan habis, Kinan bertanya pada antrian berikutnya yaitu pada Alana "Ibu ingin yang mana??" Kinan belum ngeh
"Semuanya. Asal rasa itu kesukaanku. Yaitu green tea" Jelas Alana tersenyum lebar
Kinan langsung mendongak. Suara itu sangat Kinan kenal "Bunda !!"
Kinan tak kuasa menahan rindu. Begitupun dengan Alana. Mereka sama-sama kangen
Mereka berpelukan sampai berkaca-kaca
Kinan mengurai pelukan "Bunda kok bisa sampai disini"
Alana mengangguk, namun belum bisa berbicara. Rasanya sudah sesak ingin menangis
Kinan mengusap-usap lengan Alana "Bunda jangan sedih. Kan Bunda sudah bertemu dengan Kinan"
"Salim sama Daddy dulu" Ucap Alana sambil menyingkir lalu mengusap airmatanya yang sempat mengembun
Kinan mendekati Hanan sang Papa mertua "Daddy apa kabar?" Kinan mencium punggung tangan Hanan
"Kabar Daddy baik. Gimana kabarmu?" Tanya Hanan balik
"Kabar Kinan alhamdulillah baik. Eh iya. Duduk dulu Dad, Bund"
"Ah iya"
Alana dan Hanan akhirnya duduk. Tetapi karena Kinan terus sibuk dengan pembeli, pasangan ini akhirnya izin ingin jalan-jalan masuk ke mall tersebut
-
Kinan terduduk lemas diranjang kamarnya
Kedatangan Alana kemari ternyata untuk melamarnya kembali. Kali ini bukan untuk orang yang dicintai. Melainkan untuk orang yang pernah bermusuhan
Ken masuk kedalam kamar Kinan "Bu Ana dan dokter Hanan itu orang yang baik. Almarhum suamimu juga orang yang baik. Artinya, keluarga mereka sudah jelas keluarga yang baik-baik. Menurut Aa', terima. Aa' yakin Kau bisa mencintai mantan kakak iparmu itu" Jelas Ken memberi wejangan
"Ah, nggak mungkin" Ucap Kinan melengos
__ADS_1
"Kenapa nggak mungkin. Semuanya bisa mungkin. Allah bisa membolak-balikkan hati. Tadinya Kamu belum bisa menerima karena nggak cinta, suatu saat bisa menerimanya dan mencintainya"
"Enggak mungkin !! Sifat kakaknya sangat berbeda jauh dengan A' Altaaf. Aku tidak mau terima" Tolak Kinan keras kepala
"Terserah Kamu. Aa' hanya mau menjadi walimu jika Kamu menikah dengan Imran. Selain Imran tidak"
"A' Ken jangan maksa"
"Sekali tidak, ya tidak. Kamu mau cari mertua yang model bagaimana. Keluarga Bu Ana terlalu baik. Rugi Kamu jika menolaknya. Atau jangan-jangan Kamu ingin memiliki mertua seperti Bu Wasmi. Iya, Kamu mau menikah dengan Bondan anaknya Bu Wasmi"
"Kenapa Aa' jadi pengarang. Bondan siapa? Aku nggak kenal"
"Pengarang bagaimana. Orang Bu Wasmi yang ngomong kok ingin melamarmu. Ayo, mau pilih siapa? Bondan yang pengangguran dan pemabuk. Atau Imran yang jelas-jelas mapan"
"Tapi Kakaknya A' Altaaf galak. Dan tua lagi"
"Tua darimana. Memangnya Imran sudah Bapak -bapak? Bujangan loh Dia"
"Terus, kalau bujangan memangnya menjamin kalau Dia penyayang"
"Kamu dibilangin kok ngeyel ya. Pokoknya, lamaran ini harus Kamu terima. Jika tidak, jangan anggap Aa' sebagai kakakmu"
"A'"
Ken akhirnya keluar dari kamar Kinan
-
Beberapa hari kemudian, lamaranpun tiba
Kinan terpaksa menerima Imran sebagai calon suaminya
"Dua minggu lagi kalian harus menikah. Bunda sudah siapkan semuanya"
"Bund" Protes Imran
"Jangan protes. Protes dirumah"
-
Setelah sampai dirumah, Imran mencak-mencak menolak keinginan Bundanya
"Bund, Aku sudah punya pacar pilihanku. Kenapa Bunda maksa"
"Bunda butuhnya istri untukmu, bukan pacar. Ingat ya, Kakak sudah tua, bukan bocah"
"Tapi Aku tidak menyukainya" Tolak Imran
"Lama-lama juga bisa menyukainya"
"Kalau Aku tidak mau, ya tidak mau. Titik !! "
"Apa alasannya?! Bilang pada Bunda"
"Bund, Dia bekas Altaaf. Masa Bunda tega. Aku abangnya. Masa dapatnya bekas"
"Bekas janda lebih baik. Daripada status gadis tapi bekas orang. Kakak maunya yang seperti itu??!"
Imran terdiam
Memang benar. Cintia yang berstatus perawan saja, tapi Imran bukan yang pertama
"Lalu Cintia bagaimana, Bund" Keluh Imran
"Putusin"
"Bunda kok tega sih. Main putus"
__ADS_1
BERSAMBUNG...