Suamiku Kakak Iparku

Suamiku Kakak Iparku
Terpaksa Makan Malam Bersama


__ADS_3

Malam itu Imran pergi meninggalkan Kinan sendirian


Alana sudah memberi tau sebelumnya. Jika Kinan agar beristirahat diapartemennya


"Dan jangan lupa, belikanlah pakaian untuknya. Jangan sampai tidak !!" Bentak Alana memberi perintah


Dengan kesal Imranpun menunggu. Begitu ketemu, kesalnya bertambah membumbung


Daripada darah tinggi, Imran lebih baik keluar "Sudah tau Aku kurang suka dengannya. Kenapa Bunda menitipkan padaku. Memangnya siapa dia? Dan siapa Aku ?" Kesalnya sambil melangkah keluar


-


Mall terbesar dikota itupun menjadi tempat yang dipilih Imran untuk tempat makan malamnya kali ini


Ia pun langsung teringat pada Bundanya seketika "Jangan lupa kasih makan. Kinan belum makan dari tadi siang"


"Hadeeww. Istri orang, ngapain Aku yang repot"


Meskipun hati Imran keras kepala, jika dibentak oleh ibu sambungnya, Imran selalu menurut


Imran tak mau ambil pusing. Ia berbelok ke stand penjual baju wanita yang berada di mall tersebut


"Mbak, tolong pilihkan baju yang cocok, untuk wanita seusia -- Usia berapa ya.. Ah bodo. Paling-paling seusia Arin. Usia 19 sampai 20 lah"


Pramuniaga itu mengangguk faham "Eng iya A', eh iya Om, eh Pak" Jawab sang pelayan tadi bingung


Imran meliriknya kesal


Panggilan Pak sudah terbiasa dikantornya. Jadi Imran geli jika dirinya dipanggil A' ataupun Om


"Oiya maaf, kira-kira tingginya berapa ya, Pak?" Tanya sang pelayan tadi


"Umum. Dia tidak tinggi-tinggi amat" Jawabnya kemudian berbelok sambil memainkan ponselnya "Sama Arin saja kalah. Sama Cintia apa lagi" Gerutunya kesal


Dalam penungguannya Iapun tidak lupa sudah men share lokasi tersebut pada Cintia


Tadi Cintia bertanya, dimana Imran sekarang


Sehari tidak makan bareng, membuat keduanya ingin berjumpa untuk makan bersama


Disamping itu, Cintia juga berharap segera dilamar oleh Imran. Apalagi kedua orang tua Imran katanya datang. Inilah kesempatan dirinya untuk memperkenalkan diri pada calon mertuanya


Sayangnya Imran belum pernah memberi jawaban pasti


Dan saat ini pria tampan itu sudah duduk menunggu kekasihnya, pelayan tadi mendekat


"Maaf Pak. Ini baju-baju yang sudah Saya pilihkan"


Imran menoleh "Bungkus semuanya. Dan kirimkan ke alamat sini" Imran memberikan kartu namanya termasuk alamat apartemennya "Ini kartuku" Terakhir kartu saktinya yang bisa untuk membayar apapun yang Imran butuhkan


"Silahkan pencet id nya Pak"


Imran memencet angka-angka tersebut pada mesin EDC yang disodorkan padanya


"Sekali lagi Pak"


Imranpun menurut


"Terima kasih. Ini akan Kami antar kealamat tujuan ya, Pak?"


Imran mengangguk "Iya"


Setelah membelanjakan baju-baju untuk Kinan, Imran berjalan mencari tempat makan

__ADS_1


-


Imran sudah memesan makanan untuk dua orang. Untuk dirinya dan juga Cintia pacarnya. Dia lupa kalau dirinya berada jauh dari tempat Cintia tinggal


Jakarta dan Bandung


"Sayang. Kamu ternyata di Bandung. Mana bisa Jakarta Bandung makan waktu sedikit. Kirain masih di Jakarta" Keluh Cintia lewat ponselnya


Imran tepuk jidat "Iya juga ya. Sayang, Aku ada di Bandung menemui bokap dan nyokapku dirumah sakit"


"Papa dan Mamamu sakit??"


"Bukan. Adikku yang sakit"


"Oh, jadi gimana dong. Aku ingin bertemu dengan kedua orang tuamu, Sayang. Kapan sih. Susah banget"


Imran sedikit bingung. Masalahnya bukan waktu yang tepat "Ini semua gara-gara Altaaf. Urusanku jadi terbengkalai" Gusarnya dalam gumaman


"Kapan-kapan ya. Sekarang bukan waktu yang tepat" Alasan ini selalu Imran pakai jika sudah buntu memberi jawaban untuk Cintia


"Lalu kapan?"


"Kalau adikku sembuh"


"Sakit apa sih"


"Tulang remuk"


"Maksudmu?"


"Adikku kecelakaan. Sampai sekarang belum siuman dari komanya"


"Emm, ya udah deh. Tapi sayang bener ya, jika adiknya sudah sembuh, Aku cepet-cepet dikenalin ke kedua orang tuamu. Masak sering dipakai nggak resmi-resmi juga. Aku takut hamil nih"


"Kalau bocor?"


"Ya tinggal nikahlah"


"Ih.. So sweat.."


Setelah Imran cukup lama teleponan dengan sang pacar, akhirnya makananpun tiba


Sang pelayan maupun Imran sama-sama bingung


Pesanan makanan Imran penuh satu meja. Tetapi yang akan menyantapnya hanya 1 orang


"Silahkan Pak"


Imran mengangguk pasrah


Tadi Dia memesan memang bukan untuk dirinya saja. Melainkan untuk dua orang yaitu dengan sang pacar. Begitu sadar mereka berjauhan, Cintia pun tak mungkin bisa datang secepat kilat


Akhirnya Imranpun teringat dengan Kinan yang sengaja dititipkan padanya


Imran menelepon Darti. Asisten rumah tangganya untuk datang keapartemen miliknya "Mbok, tolong datang ke unit ya, sampaikan sama perempuan tadi untuk bersiap-siap. Kalau simbok sudah sampai unit, Aku telepon kembali"


-


Entah kenapa ada perasaan gugup setelah menyuruh Kinan untuk datang ke mall


Seolah ini adalah kencan pertamanya dengan seorang gadis


"Masa sih. Dia istri dari Altaaf. Bukan seleraku" Ejeknya terus meskipun Kinan belum datang

__ADS_1


Imran mengetuk-ketuk meja dengan telunjuknya seolah sedang membunuh rasa gugupnya yang Ia rasa


Ia sengaja menyuruh Kinan datang agar tidak membungkuskan makanan yang sudah disediakan diatas meja tersebut


Gengsi dong seorang Imran membungkuskan makanan apalagi untuk wanita yang jelas-jelas tidak Ia suka


Ditambah makanan dimejanya begitu banyak. Daripada mubazir, mending iparnya saja yang memakannya.


Untungnya dia sendiripun tak harus menunggu lama karena Kinan datang tepat waktu


"Kau datang sendiri ?" Tanya Imran pada akhirnya


"Iya"


Imran tersenyum. Seakan rasa malu itu lenyap didepan khalayak. Dia lupa bahwa dirinya membenci gadis yang telah berdiri didepannya


"Duduk. Bunda bilang Kamu belum makan. Aku tidak mau dibilang kejam terhadap siapa namamu?" Tanyanya pada Kinan


"Kinan"


"Oh.. Duduklah. Makan biar kenyang. Aku juga tidak mau disalahkan oleh keluargamu"


Kinan menarik kursi kemudian duduk disana "Aku tidak memiliki keluarga. Hanya kakak yang kupunya"


Imran menatap gadis yang ada didepannya


"Dan juga A' Altaaf. Hanya mereka yang Aku miliki" Sambung Kinan


Imran langsung tersedak mendengar Altaaf dipanggil dengan sebutan Aa'


Kinan menyodorkan air mineral "Minum"


Imran menyambutnya. Kemudian memutar tutupnya lalu meminumnya


Ia lupa kalau gadis di depannya sangat polos


"Maksudku, kau tidak datang dengan simbok?" Imran memperjelas maksudnya


"Enggak. Tadi bilangnya hanya Aku yang disuruh kesini. Nanti setelah ini, Aku ingin kerumah sakit. Aku tidak bisa tidur disana"


Imran mengerutkan dahi


"Maksudku, Aku tidak bisa tidur dirumah -" Ucapan Kinan terjeda "A' Im-"


"Kau tidak perlu menyebutku dengan sebutan A'. Aku tidak suka panggilan itu"


Kinan menunduk


"Makan. Kalau Kamu tidak makan, dikira Aku pelit. Aku tidak mau Kamu sekarat karena kelaparan"


Kinan mengangkat wajahnya "Kenapa kata-katanya kasar. Bisakah bicara dengan lembut barang sedikit saja" Ucap Kinan berkaca-kaca


"Baiklah. Makanlah"


Kinan mulai memakan hidangan yang ada didepannya. Begitupun dengan Imran


"Jadi orang jangan suka tersinggung" Ucap Imran enteng. Namun siapa sangka ucapan tadi bagaikan silet yang menyayat hati Kinan


Trang


Suara sendok dan garpu terjatuh dipiring


Imran langsung menatap Kinan "Makan. Aku tidak mau disalahkan oleh Bunda. Jika bukan karena Bunda, secuilpun Aku tidak menggubrisnya. Makan! Jangan bikin orang stres"

__ADS_1


BERSAMBUNG


__ADS_2