Suamiku Kakak Iparku

Suamiku Kakak Iparku
Dasar Mesum


__ADS_3

Meskipun Kinan menolak mampir kerumah sakit, namun Imran tetap keukeh membawanya untuk diperiksa


"Masuk" Ucap dokter yang berprofesi sama seperti Altaaf. Suami pertama Kinan


"Mas, kok langsung masuk kesini?" Ucapnya ragu dan berakhir dengan muka sedih


Imran menarik kursi untuk Kinan "Nggak apa-apa. Kita kan hanya periksa. Tadi didepan suruh masuk kepolly ini, kan?"


Kinan sudah duduk "Iya sih. Tapi kalau hasilnya hanya masuk angin, gimana? Aku juga belum tentu hamil, Mas" Ucapnya takut-takut


Imran tersenyum. Tak ada gurat kecewa atau negative lainnya "Masalah hasilnya, jangan dipikirin. Mau hamil sekarang ya, nggak pa-pa. Dikasih nanti juga nggak masalah"


Dulu sama suami pertama, Kinan juga belum berhasil hamil. Lasmi kakak iparnya juga saat ini belum dikasih momongan


Kinan berfikir, dirinya itu kandungannya jauh alias lemah. Maka dari itu, berperanglah fikiran takut yang melanda pada dirinya


Jika dirinya hamil, Kinan takut Imran tidak menerimanya. Karena semenjak mereka ber hubungan selayaknya suami istri, sampai sekarang Imran belum pernah mengungkapkan rasa cintanya pada Kinan


"Mari silahkan diperiksa" Ucap dokter cantik yang mempersilahkan Kinan untuk menuju bed


Kinan berjalan menuju bed pemeriksaan. Imranpun sama mengikuti


Kinan sudah merebahkan tubuhnya dengan perut yang sudah terbuka


Dokter wanita itu memeriksanya dengan seksama


Imran menyaksikan layar dengan tangannya yang menggenggam erat tangan Kinan yang mendingin


"Santai ya Bu" Ucap sang dokter karena detak jantung Kinan ternyata berdetak lebih cepat dari biasanya alias grogi


Imran kembali memberikan kekuatan lewat usapan jempolnya pada punggung tangan Kinan


Keempat jemari Imran sudah digenggam oleh Kinan. Hanya ibu jarinya yang terus mengusap-usap punggung tangannya


Nyaman. Imran sudah memberinya rasa aman


Tak lama kemudian


"Wah..." Sang dokter langsung berdiri, lalu menjulurkan tangannya keudara "Selamat ya, Pak" Dokter itu langsung memberinya selamat kepada Imran


Imran masih bingung


"Perut istri Bapak sudah ada kehidupan"


Imran masih mencerna ucapan dokter


"Calon bayinya, kini sudah berusia empat minggu. Dijaga ya, Pak"


Seketika, Imran memeluk Kinan. Imran tidak berucap memberi selamat ataupun berterima kasih


Didalam pelukan, Kinan terdiam antara senang dan tidak senang


Masih tidak terdengar apapun


Setelah beberapa detik, Imran mengangkat tubuhnya dari tubuh Kinan. Hidung merah dan matanya berkaca-kaca


Imran mengusap dahi Kinan, menatapnya penuh sayang, kemudian menciumnya lama


Imran kembali menatap Kinan, lalu mengusap air matanya yang sedikit mengembun dipelupuk matanya. Benar-benar memalukan


Dokter masih menyaksikan keduanya yang kelewat romantis


Imran bukan tipe pria yang mudah mengungkapkan rasa kagumnya pada pasangan. Tapi dari tindakan, Imran bisa diacungi jempol

__ADS_1


-


Didalam mobil


Tangan kiri Imran terus berada diperut Kinan. Mengusapnya pelan, lalu tersenyum sendiri


"Kenapa Mas, senyum-senyum begitu" Ujar Kinan saat ketahuan Imran tersenyum sendiri lalu membuang mukanya kearah kanan


Imran meliriknya "Nggak sabar ingin sampai rumah"


'Hanya itu jawabannya?? Menyebalkan' Bathin Kinan


-


Setelah sampai dirumah, Kinan digiring kesofa "Sekarang istirahat. Kamu nggak boleh capek-capek"


"Tapi Mas" Protes Kinan yang dihentikan oleh tangan Imran yang mengudara keatas


"Jangan protes. Bi !!!" Menjawab Kinan sekaligus memanggil bibi


Bibi datang "Siap Den"


"Tolong buatkan makanan untuk orang hamil. Jangan sampai Dia capek. Urusin ya, Bi. Saya mau keatas" Kemudian, Imran mengusap pucuk kepala Kinan "Aku keatas dulu"


-


Diatas, Imran begitu senang saat memberi kabar bahagianya kepada sang Bunda


"Iya Bund. Pasti Aku akan menjaganya dengan baik"


"Pastilah Bund, Aku akan menyayanginya setulus hati"


Setelah ucapan terakhirnya Imran berbalik dan betapa terkejutnya. Kinan ternyata berdiri diambang pintu


Imran jarang memujinya, meskipun sebenarnya Imran sudah menerima, namun ucapan romantis masih jarang diucapkan


Imran berjalan mendekati Kinan. Mengambil kedua tangan Kinan lalu mengangkatnya dan menciumnya "Ayo masuk. Kenapa masih dipintu"


Kinan sudah didudukkan ditempat tidur. Kemudian Imran berdiri dengan lututnya


Imran mendongak


Wajah kinclong dan dahi sedikit lebar kini telah menatap Kinan "Tadi Aku sudah memberi tau Bunda. Soal kehamilanmu"


Kinan mengangguk


Imran mulai tersenyum "Mereka bahagia. Sangat bahagia"


Mata Imran berkaca-kaca


Tangan Kinan terangkat keatas. Ia beranikan memegang rahang Imran yang kokoh dan berbulu. Lalu keatas lagi, hingga berakhir didahi agak lebar dan putih milik Imran "Makasih ya Mas"


Imran mengedipkan matanya berbarengan dengan anggukan


Kinan tersenyum bersamaan itu Iapun langsung memeluk Imran "Makasih sudah menerimaku"


Imran mengangguk kembali dan terus mengusap-usap punggung Kinan


Pelukan mereka terurai


Tatapan Imran benar-benar membuatnya terpanah


Kinan belum ingin melepaskan Imran begitu saja. Ibu jarinya serasa belum puas mengusap seluruh wajah suaminya itu

__ADS_1


Bibir merah milik Imran, membuatnya ingin mengusapnya


"Apa yang ingin Kau pegang, hmm??"


Seakan tau kegelisahannya, Kinan langsung salah tingkah


Kinan ingin beranjak namun Imran melarangnya "Hei, mau ngapain??"


Kinan terduduk lagi


Imran berdiri "Pokoknya, Kau tidak boleh capek. Kau harus banyak beristirahat"


"Aku ini kan cuma hamil Mas. Bukan penyakitan" Ucapnya mengikuti kemana Imran melangkah


Imran sudah berbaring disisi Kinan "Jadwal apapun, harus diliburkan"


"Ya nggak gitu dong Mas. Ntar semua member kecewa"


"Loh, kenapa harus mikirin member. Urusin kesehatanmu"


"Mas please. Ini kan sudah ada jadwalnya"


"Nggak bisa" Kemudian Imran memejamkan matanya


Kinan menghela nafas, lalu berbaring disisi Imran "Susah amat ya. Nggak bertanggung jawab banget ck" Pasrahnya tapi belum menerima


Imran meliriknya


Seakan Imran tau Kinan akan menatapnya, Imran kembali memejamkan matanya lagi


Kinan menatap Imran "Mas. Bantuin dong. Gimana caranya membatalkan acara latihan bareng dikota Tangerang"


Imran masih pura-pura tertidur


Kinan memiringkan tubuhnya hingga sempurna menatap Imran


Kinan membelai hidung Imran dengan satu jarinya dan berakhir dibibir Imran


Imran meliriknya, kemudian beranjak mengubah badannya hingga setengah menindih Kinan "Apa??"


Kinan sudah dibawah kungkungan Imran "Ih Mas, sadar. Perutku ada anakmu, Mas" Ucapnya takut jika Imran akan memarahinya


Imran menatap kebawah lalu mengusapnya kembali "Aku tau. Makanya Aku tambah gemas padamu"


Kinan tersenyum kemudian menangkup kedua pipi Imran "Oh iya. Meskipun Aku gemuk nantinya?"


Imran mengangguk. Kemudian membelai pipi Kinan "Ini tembem" Imran mendekatkan bibirnya ke bibir Kinan


Cup


"Ini juga"


"Juga apa??"


"Juga tembem. Haha" Imran tertawa saat membayangkan bibir Kinan temben saat Kinan hamil tua


Kinan sudah tertekuk wajahnya


"Tidak, tidak, tidak. Yang jelas, wanita hamil itu jelas tembem. Tapi juga sexy, emmuah" Diakhir kata Imran mengecup bibir Kinan lagi "Dan semuanya pasti bikin ketagihan haha"


Kinan mendorong Imran "Ih, dasar mesum"


BERSAMBUNG.....

__ADS_1


__ADS_2