
Meskipun Kinan menolak mampir kerumah sakit, namun Imran tetap keukeh membawanya untuk diperiksa
"Masuk" Ucap dokter yang berprofesi sama seperti Altaaf. Suami pertama Kinan
"Mas, kok langsung masuk kesini?" Ucapnya ragu dan berakhir dengan muka sedih
Imran menarik kursi untuk Kinan "Nggak apa-apa. Kita kan hanya periksa. Tadi didepan suruh masuk kepolly ini, kan?"
Kinan sudah duduk "Iya sih. Tapi kalau hasilnya hanya masuk angin, gimana? Aku juga belum tentu hamil, Mas" Ucapnya takut-takut
Imran tersenyum. Tak ada gurat kecewa atau negative lainnya "Masalah hasilnya, jangan dipikirin. Mau hamil sekarang ya, nggak pa-pa. Dikasih nanti juga nggak masalah"
Dulu sama suami pertama, Kinan juga belum berhasil hamil. Lasmi kakak iparnya juga saat ini belum dikasih momongan
Kinan berfikir, dirinya itu kandungannya jauh alias lemah. Maka dari itu, berperanglah fikiran takut yang melanda pada dirinya
Jika dirinya hamil, Kinan takut Imran tidak menerimanya. Karena semenjak mereka ber hubungan selayaknya suami istri, sampai sekarang Imran belum pernah mengungkapkan rasa cintanya pada Kinan
"Mari silahkan diperiksa" Ucap dokter cantik yang mempersilahkan Kinan untuk menuju bed
Kinan berjalan menuju bed pemeriksaan. Imranpun sama mengikuti
Kinan sudah merebahkan tubuhnya dengan perut yang sudah terbuka
Dokter wanita itu memeriksanya dengan seksama
Imran menyaksikan layar dengan tangannya yang menggenggam erat tangan Kinan yang mendingin
"Santai ya Bu" Ucap sang dokter karena detak jantung Kinan ternyata berdetak lebih cepat dari biasanya alias grogi
Imran kembali memberikan kekuatan lewat usapan jempolnya pada punggung tangan Kinan
Keempat jemari Imran sudah digenggam oleh Kinan. Hanya ibu jarinya yang terus mengusap-usap punggung tangannya
Nyaman. Imran sudah memberinya rasa aman
Tak lama kemudian
"Wah..." Sang dokter langsung berdiri, lalu menjulurkan tangannya keudara "Selamat ya, Pak" Dokter itu langsung memberinya selamat kepada Imran
Imran masih bingung
"Perut istri Bapak sudah ada kehidupan"
Imran masih mencerna ucapan dokter
"Calon bayinya, kini sudah berusia empat minggu. Dijaga ya, Pak"
Seketika, Imran memeluk Kinan. Imran tidak berucap memberi selamat ataupun berterima kasih
Didalam pelukan, Kinan terdiam antara senang dan tidak senang
Masih tidak terdengar apapun
Setelah beberapa detik, Imran mengangkat tubuhnya dari tubuh Kinan. Hidung merah dan matanya berkaca-kaca
Imran mengusap dahi Kinan, menatapnya penuh sayang, kemudian menciumnya lama
Imran kembali menatap Kinan, lalu mengusap air matanya yang sedikit mengembun dipelupuk matanya. Benar-benar memalukan
Dokter masih menyaksikan keduanya yang kelewat romantis
Imran bukan tipe pria yang mudah mengungkapkan rasa kagumnya pada pasangan. Tapi dari tindakan, Imran bisa diacungi jempol
__ADS_1
-
Didalam mobil
Tangan kiri Imran terus berada diperut Kinan. Mengusapnya pelan, lalu tersenyum sendiri
"Kenapa Mas, senyum-senyum begitu" Ujar Kinan saat ketahuan Imran tersenyum sendiri lalu membuang mukanya kearah kanan
Imran meliriknya "Nggak sabar ingin sampai rumah"
'Hanya itu jawabannya?? Menyebalkan' Bathin Kinan
-
Setelah sampai dirumah, Kinan digiring kesofa "Sekarang istirahat. Kamu nggak boleh capek-capek"
"Tapi Mas" Protes Kinan yang dihentikan oleh tangan Imran yang mengudara keatas
"Jangan protes. Bi !!!" Menjawab Kinan sekaligus memanggil bibi
Bibi datang "Siap Den"
"Tolong buatkan makanan untuk orang hamil. Jangan sampai Dia capek. Urusin ya, Bi. Saya mau keatas" Kemudian, Imran mengusap pucuk kepala Kinan "Aku keatas dulu"
-
Diatas, Imran begitu senang saat memberi kabar bahagianya kepada sang Bunda
"Iya Bund. Pasti Aku akan menjaganya dengan baik"
"Pastilah Bund, Aku akan menyayanginya setulus hati"
Setelah ucapan terakhirnya Imran berbalik dan betapa terkejutnya. Kinan ternyata berdiri diambang pintu
Imran jarang memujinya, meskipun sebenarnya Imran sudah menerima, namun ucapan romantis masih jarang diucapkan
Imran berjalan mendekati Kinan. Mengambil kedua tangan Kinan lalu mengangkatnya dan menciumnya "Ayo masuk. Kenapa masih dipintu"
Kinan sudah didudukkan ditempat tidur. Kemudian Imran berdiri dengan lututnya
Imran mendongak
Wajah kinclong dan dahi sedikit lebar kini telah menatap Kinan "Tadi Aku sudah memberi tau Bunda. Soal kehamilanmu"
Kinan mengangguk
Imran mulai tersenyum "Mereka bahagia. Sangat bahagia"
Mata Imran berkaca-kaca
Tangan Kinan terangkat keatas. Ia beranikan memegang rahang Imran yang kokoh dan berbulu. Lalu keatas lagi, hingga berakhir didahi agak lebar dan putih milik Imran "Makasih ya Mas"
Imran mengedipkan matanya berbarengan dengan anggukan
Kinan tersenyum bersamaan itu Iapun langsung memeluk Imran "Makasih sudah menerimaku"
Imran mengangguk kembali dan terus mengusap-usap punggung Kinan
Pelukan mereka terurai
Tatapan Imran benar-benar membuatnya terpanah
Kinan belum ingin melepaskan Imran begitu saja. Ibu jarinya serasa belum puas mengusap seluruh wajah suaminya itu
__ADS_1
Bibir merah milik Imran, membuatnya ingin mengusapnya
"Apa yang ingin Kau pegang, hmm??"
Seakan tau kegelisahannya, Kinan langsung salah tingkah
Kinan ingin beranjak namun Imran melarangnya "Hei, mau ngapain??"
Kinan terduduk lagi
Imran berdiri "Pokoknya, Kau tidak boleh capek. Kau harus banyak beristirahat"
"Aku ini kan cuma hamil Mas. Bukan penyakitan" Ucapnya mengikuti kemana Imran melangkah
Imran sudah berbaring disisi Kinan "Jadwal apapun, harus diliburkan"
"Ya nggak gitu dong Mas. Ntar semua member kecewa"
"Loh, kenapa harus mikirin member. Urusin kesehatanmu"
"Mas please. Ini kan sudah ada jadwalnya"
"Nggak bisa" Kemudian Imran memejamkan matanya
Kinan menghela nafas, lalu berbaring disisi Imran "Susah amat ya. Nggak bertanggung jawab banget ck" Pasrahnya tapi belum menerima
Imran meliriknya
Seakan Imran tau Kinan akan menatapnya, Imran kembali memejamkan matanya lagi
Kinan menatap Imran "Mas. Bantuin dong. Gimana caranya membatalkan acara latihan bareng dikota Tangerang"
Imran masih pura-pura tertidur
Kinan memiringkan tubuhnya hingga sempurna menatap Imran
Kinan membelai hidung Imran dengan satu jarinya dan berakhir dibibir Imran
Imran meliriknya, kemudian beranjak mengubah badannya hingga setengah menindih Kinan "Apa??"
Kinan sudah dibawah kungkungan Imran "Ih Mas, sadar. Perutku ada anakmu, Mas" Ucapnya takut jika Imran akan memarahinya
Imran menatap kebawah lalu mengusapnya kembali "Aku tau. Makanya Aku tambah gemas padamu"
Kinan tersenyum kemudian menangkup kedua pipi Imran "Oh iya. Meskipun Aku gemuk nantinya?"
Imran mengangguk. Kemudian membelai pipi Kinan "Ini tembem" Imran mendekatkan bibirnya ke bibir Kinan
Cup
"Ini juga"
"Juga apa??"
"Juga tembem. Haha" Imran tertawa saat membayangkan bibir Kinan temben saat Kinan hamil tua
Kinan sudah tertekuk wajahnya
"Tidak, tidak, tidak. Yang jelas, wanita hamil itu jelas tembem. Tapi juga sexy, emmuah" Diakhir kata Imran mengecup bibir Kinan lagi "Dan semuanya pasti bikin ketagihan haha"
Kinan mendorong Imran "Ih, dasar mesum"
BERSAMBUNG.....
__ADS_1