Suamiku Kakak Iparku

Suamiku Kakak Iparku
Ingin menggigit


__ADS_3

Hari berikutnya, Imran benar-benar melarang Kinan untuk beraktifitas diluar rumah. Termasuk datang ketokonya juga sudah dilarang


"Mas. Beneran Aku nggak dibolehin keluar?" Tanyanya saat mengantar Imran sampai ke teras


Imran berhenti dari jalannya lalu menghadap kearah Kinan "Iya. Jika ingin keluar, Kinan harus bareng Mas, oke??" Ucapnya dengan senyum yang sangat manis


Bibir Kinan meruncing tanda protes "Dengan Zirapun tidak boleh??"


"Tidak" Jawabnya dengan telunjuk yang Imran pukulkan pada hidung bangir Kinan


Kinan mengusap hidungnya yang barusan dipukul pelan oleh suaminya "Kok gitu. Perutku masih kecil, Mas. Aku masih bisa aktifitas diluar"


"Tak ada bantahan. Aku tidak mau anak Kita menjadi pembangkang seperti Arin"


Kinan melotot "Kok jadi bahas Arin"


Imran mencium kening Kinan. Kemudian memasuki mobilnya dikursi bagian tengah "Karena hari ini, Dia mau datang kemari. Jadi Aku mengingat tingkah polanya"


Kinan turun dari teras dan berpegangan pada pintu mobil yang masih terbuka "Kerumah ini?"


"Yaiyalah. Dimana kalau bukan disini"


"Maksudku hanya memperjelas Mas. Eng, sama Zira ramaian mana Mas?"


"Somplakan Arin. Jadi Kamu nggak usah terlalu dekat dengan Arin" Ucapnya dengan tangan yang menjulur untuk menarik pintu


"Aneh. Masa adik sendiri dijelek-jelekin. Abang macam apa" Gumamnya masih terdengar ditelinga Imran


Pintu terbuka lebar kembali


Imran berdiri menjulang dihadapan Kinan "Apa tadi Kamu bilang??"


Kinan menoleh "Ah, enggak" Bohongnya


Imran menatap Kinan penuh damba sambil turun kembali dari mobilnya


"Mas !! Ngapain turun. Jovan nungguin tu"


Imran mengusap perut Kinan, lalu dengan cepat Ia mencium pipi Kinan. Terakhir mengusap kepala Kinan yang telah rapih terbungkus hijab "Mas pergi dulu. Hati-hati dirumah ya?" Pamitnya membuat Kinan terlihat bingung


Kinan mengangguk pelan dengan wajah yang susah dijelaskan


Imran melambaikan tangan "Sekali lagi, jangan keluar ya? Istirahat, dan tunggu Papi pulang. Bye" Imran tersenyum geli saat dirinya menyebut kata Papi untuk dirinya sendiri


-


Kinan masuk kedalam rumah. Begitu akan duduk, Zira berteriak agar Kinan jangan duduk dulu


"Kakaaaakkk !!! Jangan duduk dulu !!"


Kinan terkejut kaget "Kenapa?"


Zira menggandeng Kinan "Ikut yuk, Aku mau jemput Arin"


"Sekarang??"


"Hem"


"Nggak salah denger? Mas bilang ntar siang pulangnya. Kenapa sepagi ini Kau jemputnya"


"Kita jelong-jelong dululah. Mumpung Kakak nggak dirumah"


"Memang Kamu nggak kuliah?"


"Enggak. Hari ini tidak ada jadwal"


"Oh"

__ADS_1


"Jangan oh doang kak. Ayo Kita pergi"


Kinan melepas tangan Zira. Kemudian duduk "Nggak ah. Aku nggak berani"


"Kenapa??"


"Mas Imran melarangku keluar"


"Ck. Gitu aja takut amat sih"


"Bukannya takut. Tapi lebih menjaga perasaan suami"


"Cie.. Sekarang sudah lugas ya nyebut-nyebut nama suami"


Kinan melirik Zira


Zira tersenyum "Ealah. Lupa banget ya kalau diperut Kak Kinan sudah ada bayi. Hasil tanam benih dari Kak Imran"


Plok


Kinan menabok tangan Zira


"Apaan sih nabok segala"


Kinan kembali cemberut "Memangnya Aku harus gimana, Zira ??"


"Sejak kapan hayo.." Goda Zira


"Apanya??"


"Kikuk kikuknya"


"Apaan sih"


"Aku tu ingin tanya sejak dulu. Bunda selalu tanya"


"Ya tanya hubungan Kak Kinan dengan suamimulah, cieee" Godanya lagi


Kinan terdiam


"Hei" Zira menyenggol lengan Kinan "Gimana?? Tiap hari Aku sibuk melulu dengan urusan kuliahku. Jadi Aku lupa menanyakan hal itu"


Kinan kembali diam


"Kenapa diam. Aku kan ingin tau juga. So, Kakak menikahi Kak Imran yang orangnya super dingin. Sangat berbeda kan, dengan almarhum Kak Altaaf?? " Tanyanya pelan-pelan


Kinan kembali terdiam


Kinan mengusap perutnya, namun fikirannya kembali kemasa saat dirinya hidup bahagia bersama Altaaf


Mata Kinan berkaca-kaca "Zira, Aku masuk ke kamar ya"


"Loh, Kak. Kakak marah padaku karena pertanyaanku ??"


Kinan berhenti "Kalau Kau ingin Aku tidak fikiran, jangan ungkit kenanganku dengan A' Altaaf. Dulu Aku tidak menginginkan seperti ini. Dinikahi adiknya, lalu dinikahi kakaknya. Jika disuruh memilih, Aku ingin menikah dengan satu pria saja" Ucapnya benar-benar sedih "Dua-duanya baik" Gumamnya


"Maaf"


"Kau ingin tau perasaanku saat itu ??"


Zira menggeleng


"Aku sangat takut menatap Mas Imran. Ada rasa bersalah. Kenapa seorang Imran mau menikahi diriku. Wanita bekas dari adiknya. Bukankah dia mampu mencari wanita pilihannya, bukan ?? Perawan juga banyak. Kenapa harus nikahin janda sepertiku"


"Kak Kinan ingin tau?"


Kinan menoleh "Apa?"

__ADS_1


"Tak ada pilihan lain. Ceweknya Kak Imran bukan kriteria Bunda. Jadi apapun yang Bunda inginkan, harus dituruti"


"Walaupun itu urusan hati?"


"Yup"


"Eh?? Kasihan"


-


Sore harinya


Imran pulang dengan langkah tergesah-gesah


Setelah sampai dikamar, Imran kembali tergelak saat melihat istrinya seperti penyanyi rock yang sedang kontes diatas tempat tidur


"Apa yang sedang kalian lakukan" Ucapnya sambil menggandeng Arin masuk kekamarnya


Tadi siang Zira gagal mengajak Kinan keluar. Kinan ngotot tidak mau keluar karena sudah ada ultimatum dari sang suami. Setelah dipanas-panasi oleh Zira, Kinan mulai marah dan kesal kepada Imran yang telah melarangnya keluar. Alhasil, kemarahannya menggunung dan terjadilah pusing yang amat sangat


"Zira, kepalaku serasa ingin lepas dari leherku" Aduhnya. Namun tibatiba pintu kamar terbuka dan ada seseorang yang datang dengan wajah khawatirnya


Zira dan Kinan menatap bersamaaan ke sumber suara. Begitu Zira melihat kembarannya dalam gandengan sang kakak, Zira dan Arinpun berteriak dan menubruk satu sama lain


"Huh......."


Suasana menjadi heboh


Kinan menutup kedua telinganya karena terlalu ramai dan menambah rasa pusing


Imran duduk disebelah Kinan "Kenapa kepalamu diikat -" Ingin rasanya Imran tertawa lebar, namun takut dosa dan yang jelas istrinya bisa nangis jika ketahuan diejek


"Kepala kak Kinan hampir retak katanya kak. Makanya diikat dengan kuat" Saut Zira lalu melanjutkan kehebohannya


"Hus"


"Itu bukan salahku. Kak Kinan yang mau kepalanya diiket pakai gesper" Jawab Zira lagi agar tidak ditelan oleh kakaknya yang garang itu "Ayo Bestie, Kita kekamarku. Aku nggak mau mataku melihat sesuatu yang terlarang" Ucapnya sambil merangkul bahu Arin


"Hayu Bes... Kita reuni yuk " Jawab Arin dengan candanya


"Zira" Panggil Imran


"Ah, teruskan kak. Aku kekamar dulu bareng bestie bye.."


Imran geleng-geleng pada tingkah kedua adiknya


Imran kembali fokus pada istrinya yang sudah membuat perutnya geli "Kok bisa sampai begini sih. Kaya orang mau kontes aja" Ucapnya mulai melepas gesper tersebut dari kepala istrinya "Masih pusing?"


"Enggak. Tapi Aku ingin gigit lengan Mas Imran"


"Lah. Kenapa Mas jadi sasarannya"


"Aku pusing itu gara-gara Kamu, Mas"


"Apa salahku??"


Kinan terdiam. Kinan lupa "Aku lupa. Singsingkan aja lengan bajunya"


"Buat apaan??"


"Aku marah Mas. Aku ingin gigit" Ucapnya dengan wajah teramat kesal


Dengan pelan, Imran menggulung lengan bajunya


Tiba tiba


"Aaaaaaaaahhhhh"

__ADS_1


BERSAMBUNG....


__ADS_2