
Kinan kembali melangkahkan kakinya kerumah sakit. Lebih baik kembali menemani suaminya daripada tinggal seatap dengan kakak iparnya
Ditambah sifat Imran yang berbanding terbalik dengan suaminya yang super lembut, membuat Kinan tidak betah berdekatan dengan abang dari suaminya
Kinan berjalan dilorong rumah sakit dengan cepat
Imranpun mengikutinya dengan terburu-buru "Dasar wanita. Sebentar-bentar tersinggung. Sebentar-bentar menangis. Apa sih bisanya. Nyusain orang saja" Gerutunya membuat Kinan berbalik
"Jika merasa keberatan, jangan ikutin Aku !!"
Imran mendadak terhenti dari langkahnya
Imran mengerem langkah kakinya. Hingga terjinjit takut menabrak perempuan yang berada didepannya
Imran menunduk agar dapat menatap Kinan dengan benar "Kau tau kesalahanmu itu apa? Kau terlalu pemarah" Ketus Imran lagi
"Jika sudah tau Aku pemarah, siapa suruh mengikuti. Pulang!! Aku tak butuh tumpangan tidur" Kinan mendorong tubuh Imran dengan kuat
Sekuat apapun tenaga Kinan, Imran tetap kokoh berdiri
Imran memegang perutnya yang barusan didorong oleh Kinan. Imran tersenyum mengejek "Kau sudah berani mendorongku?"
"Iya, kenapa? Mau marah?!" Kinan memutar tubuhnya meninggalkan Imran begitu saja
Imran terdiam kemudian memegang rahangnya dengan tatapan dingin
-
"Kinan. Kenapa datang malam-malam. Bunda menyuruhmu untuk istirahat. Bukan malah kluyuran kemari" Ucap Alana tak habis pikir
"Bunda mertua"
"Bunda saja" Selah Alana karena panggilan itu terasa menggelitik
"Iya Bund"
"Kenapa?"
"Kinan tidak bisa tidur. Kinan ingin disini. Kinan ingin menemani" Ucap Kinan memohon
"Tapi Kau butuh istirahat. Mumpung Bunda dan Daddy ada disini, Kita bisa gantian"
Kinan tidak menjawab. Ia justru melangkah mendekati Altaaf yang masih terdiam koma
Kinan mengusap tangan Altaaf. Mengangkatnya lalu menciumnya "Bagaimana kabarmu A'? Dua malam ini Aa' diam saja. Aku ingin Kita ngobrol seperti biasa. Memangnya Aa' tidak capek ? Mana senyummu, mana tatapanmu" Kinan kembali mengusap dahi Altaaf "Suamiku, bangunlah. Jangan tidur terus. Bukalah matamu"
Altaaf masih tetap terdiam
Kinan yang tak sanggup melihat derita sang suami Iapun segera memeluknya "Bangunlah A'. Aa' tidak rindukah pada rumah Kita. Donat buatanku yang selalu Aa' makan disetiap malam jika Aa' lapar, katanya enak. Mana suaramu. Aa' sangat suka dengan rasa green tea kan? Ayo A', bukalah matamu. Akan Aku buatkan yang banyak. Sekarang juga boleh"
Alana dan Hanan saling tatap
Seakan mengatakan bujuk menantu Kita Bund
Alana mengangguk kemudian mendekati Kinan lalu menyelipkan rambut Kinan yang menutupi wajahnya "Kemana ini hijabnya. Kenapa enggak dipakai? Kinan lupa ?" Tanya Alana lembut
Kinan menegakkan tubuhnya dengan benar. Lalu menunduk lesu
Jangankan hijab, Imran membelikan baju saja semuanya berlengan pendek
Alana tersenyum "Dasar Kak Imran. Ngasih baju nggak lihat-lihat. Sebentar" Alana memegang lengan suaminya "Dad, Bunda keluar bentar ya?"
"Mau kemana?"
__ADS_1
"Bentar"
Kemudian Alana melangkahkan kakinya keluar ruangan
-
Diruang tunggu, Imran sedang duduk bersila diatas kursi tunggu
"Kak" Panggil Alana pada Imran
Imran yang sibuk dengan ponselnya mendadak mengangkat wajahnya
"Bund" Kemudian, Imran menurunkan kakinya sebagai rasa sopan pada orang tua
Alana duduk disamping Imran "Lepas hodimu"
Imran melirik Alana heran "Buat apa? Bunda dingin?"
"Sudah lepas saja" Bujuk Alana sambil membantu Imran melepas kaus hodinya yang masih melekat dibadan
"Bunda kan sudah pakai switer. Ngapain ditumpuk hodi" Masih Imran yang protes
Setelah terlepas
"Bukan buat Bunda. Tapi adik iparmu"
"Ck. Itu lagi, itu lagi" Kesal Imran tak terima
"Hus. Memangnya Kamu nggak mikir Kinan pakai baju apa"
"Mana Aku tau, Bund. Bunda nyuruh Aku beliin baju. Ya udah, udah Aku lakuin"
"Faham. Tapi ya lihat-lihat dong. Dia kan pakai hijab. Kenapa beli bajunya berlengan pendek"
Alana menjauhkan kaus tersebut dari sautan Imran
Alana berdiri "Sana Kamu pulang. Bunda takut besok Kamu ngantuk terus nggak konsen sama kerjaan" Usir Alana
"Aku bukan Altaaf, Bund"
"Lalu maumu? Kaupun sore ini nggak menengok adikmu. Jika sudah bosen, sana pulang" Usirnya lagi
"Bunda kok ngusir sih" Protesnya pada akhirnya
Alana tidak menjawab. Ia justru melenggang masuk meninggalkan Imran
-
Tengah malam, diam-diam Imran masuk untuk menengok Altaaf
Ruangan ini sangat sunyi nan sepi. Ruangan yang begitu besar ini hanya diisi oleh 10 pasien yang jaraknya begitu jauh dari pasien satu ke pasien lainnya
Imran mendekati brankar milik Altaaf. Tak sengaja Kinan yang Ia duga sudah tidur, ternyata tidak
Dipandanginya mereka berdua seakan banyak drama bathin Imran
"Lebay" Kemudian, Imran memutar badannya dan menjauhi mereka berdua
-
Pagi harinya kabar pria yang bertabrakan dengan Altaaf sudah siuman. Dia hanya mengalami patah tulang pada rahang dan kakinya
__ADS_1
Kinan berharap kabar suaminyapun segera siuman dari komanya
Kinan terus menunggu dengan rasa cemas
Hingga sampai malampun tiba, Altaaf tetap tidak ada peningkatan
-
Satu minggu berlalu
Kinan dengan setia menjaga suaminya. Namun saat siang tiba, Altaaf mengalami kejang yang luar biasa
Kinan langsung panik dengan apa yang Ia lihat "A', Aa'. Aa' kenapa?" Dengan rasa gugup bercampur cemas, Kinan segera menekan tombol emergency yang tersedia disana
Seper sekian detik, para dokter berdatangan sambil berlari
"Mohon maaf. Ibu harus tunggu diluar" Ucap dokter pada Kinan
Beruntung kedua orang tua Altaaf masih berada disana meskipun pas kejadian Altaaf mengalami kejang, kedua mertuanya berada diruang tunggu
Semua keluarga Altaaf sudah berada diluar
Kinan kembali menangis dalam pelukan Alana "Sabar, berdoalah" Ucap Alana sedih sambil mengusap air matanya sendiri
"Bund.. Sakit sekali dadaku, Bund"
Alana mengangguk-angguk sambil mengusap rambut Kinan "Berdoalah. Iya berdoalah"
Tiba-tiba seorang dokter keluar dan mencari keluarga Altaaf
Hanan mendekat
"Maaf, tim Kami sudah berusaha semaksimal mungkin. Namun, Saudara Altaaf tidak bisa Kami selamatkan" Ada jeda "Maafkan Kami, dokter Altaaf telah mengalami gagal nafas"
"Innalillahi" Ucap Hanan mematung
Alana dan Kinan saling tatap. Kemudian berjalan cepat mendekati Hanan "Apa yang terjadi pada Altaaf, Dad?" Tanya Alana memastikan
"Altaaf tiada, Bund" Ucap Hanan berkaca-kaca
"Innalilahi-wainnaillahirojiun" Alana terdiam dan tak lama berselang, pecah sudah tangisnya "Altaaf...."
"Aa'.....!!" Kinan berlari mencoba masuk keruang ICU. Kinan ingin protes
"Altaaf....." Alana menangis dalam pelukan Hanan
"Jangan cabut selangnya dok. Suamiku masih hidup. Dia masih hidup !!" Jerit Kinan menggila
Duar duar
Suara pintu kaca itu dipukul dengan kuat oleh Kinan
Semua orang yang menyaksikan ikut berkaca-kaca
"Kinan" Alana menarik menantunya kedalam pelukan "Jangan membuat ribut nak. Ini dirumah sakit"
"Aa' masih hidup bund. Ini.." Kinan berlari menuju ruang tunggu dimana baju dan donat yang entah kerasnya seperti apa masih tersimpan dilemari khusus miliknya
"Apa yang Kamu cari"
"Donat bund, donat. Aa'......!!!" Jeritnya histeris
BERSAMBUNG.....
__ADS_1