Suamiku Kakak Iparku

Suamiku Kakak Iparku
Cintia Menemuinya


__ADS_3

Pagi hari dilain waktu


Kinan sudah mulai aktif berangkat ketokonya. Namun ada yang berbeda. Zira Pagi-pagi sekali sudah berangkat. Jadi, Kinan terpaksa menunggu Imran beres, baru dirinya berangkat


"Sayang, tolong bantu pakaikan dasi"


Blush


Kinan selalu merasa malu jika dirinya dipanggil sayang


Kinan mendekat kemudian menarik lengan Imran menuju ranjang


Imran mengabsen jemari Kinan yang menempel pada lengannya bingung "Ngapain?" Ucapnya menghentikan kegiatannya mengancingkan kancing pada lengan kemejanya


Kinan naik keatas ranjang yang tidak terlalu tinggi karena kasur Mereka terlalu membal dan empuk


Kinan tidak menjawabnya, karena rasa deg-degan tadi belum pudar dan masih berkeliaran dibenaknya


Kinan meraih dasi Imran yang sudah mengalung dileher


Imran sedikit mendongak karena sekarang Kinan yang lebih tinggi beberapa centi dari dirinya


"Oh... Aku baru tau kalau istriku ternyata pendek"


"Untuk ukuran cewek, Aku tinggi Mas"


"Oiya. Keliatannya dengan Zira juga..."


"Tinggian Dia?"


Imran mengangguk


"Untuk ukuran cewek, Zira bongsor. Sedangkan Aku biasa"


"Tadi nolak disebut pendek"


"Ya kan Aku tidak pendek amat Mas"


"Oh.. Tidak pendek" Ucapnya sembari memegang dagu Kinan


"Ish, jangan ganggu Mas"


"Enggak. Orang ini ada lalat nempel kok"


"Mana ada lalat. Memangnya ini dipasar daging atau ikan"


"Oh gitu ya. Berarti ini salah ya"


"Salah ! Singkirin tangannya" Bentak Kinan


"Ck jangan galak-galak. Daripada tangannya kemana-mana, mending pegangan dagu dong"


"Ih.." Tangan Imran dikibas-kibaskan oleh Kinan "Aku lagi fokus, Mas. Aku suka pusing jika kelamaan ngerjain terus nggak kelar-kelar" Ujarnya jujur


Imran menurunkan tangannya. Dan sekarang tangan itu berada dipinggang milik Kinan "Apa Kamu sakit? Mau kedokter?"


"Tidak Mas. Aku sehat"


"Sikah.. Lagaknya bilang sehat. Ntar pingsan lagi"

__ADS_1


"Jangan doain yang jelek-jelek gitu Mas. Karyawan pilihan Mas semuanya cewek. Aku takut mereka nggak kuat angkat Aku"


"Loh, katanya yang cowok ada 2 kan? Ngapain aja mereka berdua. Tidur?"


Ya. Semua karyawan ditoko Kinan, yang merekrut adalah Imran. Lewat HRD yang dimiliki diperusahaannya, Imran menyuruh anak buahnya untuk membuka lowongan sebagai karyawan yang akan ditempatkan ditoko sebagai anak cabang perusahaan baru


"Mereka tugasnya kan diluar, jaga-jaga dan ngantarin barang. Terus, memangnya Mas mau Aku dibopong oleh mereka? Mas nggak cemburu?"


Jeduarr


Imran terdiam menatap Kinan 'Iya juga ya'


"Sudah selesai Mas"


Kinan mau turun. Namun dicegah oleh Imran "Tunggu dulu jangan turun"


Bersamaan itu Imran mengambil lipatan vest yang berada dikasur samping Kinan berdiri "Sekalian" Imran menyerakan vest tersebut pada Kinan


Suami Kinan yang ini memang berbeda


Imran selalu mengenakan vest sebelum ditumpuk oleh jas. Jika jasnya dilepas, Imran masih tampak rapih dan gagah terbalut busana mewah ini


Dulu, Altaaf hanya memakai kemeja putih dan dasi saja. Sedangkan Jas yang Altaaf pakai kesehariannya, selalu ditinggal dirumah sakit. Jika ingin ganti, paling jasa laundry yang membersihkannya. Kinan hanya sesekali membantu suaminya memakai jas, dihari tertentu saja yaitu hari senin. Selain hari itu, Altaaf jarang membawa jas tersebut pulang kerumah


Imran sudah tampak gagah dengan busana berwarna serba grey ini pilihan Kinan


Kinan benar-benar terbius melihat ketampanan mantan kakak iparnya ini "Sekalian jasnya?"


"Iya dong"


Hari ini, Kinan juga mengenakan baju berwarna sama. Hanya saja, pakaian yang dipakai Kinan bermodel rok plisket tebal berwarna grey serasi dengan hijabnya. Sedangkan atasannya, Kinan memilih warna putih


"Sudah"


Belok kekanan belok kekiri "Perfect"


Kinan tersenyum. Jika Imran perempuan, pasti centil. Penampilannya tidak sembarangan


-


Mereka berdua sudah diluar rumah. Imran sudah didalam mobil, sedangkan Kinan masih diluar mobil


"Mas, Aku gimana? Zira sudah berangkat duluan. Naik motor aja ya?" Izinnya


"Eh, naik sini. Aku antar" Ucapnya membuka pintu mobilnya dari dalam


"Nggak ngrepotin, Mas ?"


"Nggaklah. Sekali-kali direpotin tak masalah"


Biasanya berangkat dengan Zira. Berhubung Zira tidak bisa diganggu, akhirnya Kinan memilih ingin menaiki motor vespanya yang jarang Ia naiki


Namun kenyataannya beda. Imran tidak mengizinkan dirinya kepanasan ataupun kehujanan jika memakai sepeda motor tersebut


-


Sesampainya ditoko, Imran tidak ikut turun


Seperti biasanya, Imran membantu Kinan melepaskan sabuk pengaman. Kemudian menjulurkan tangannya

__ADS_1


Setelah tangan Imran disambut Kinan, Imran mengecup kedua pelipis Kinan


Untuk sesaat wajah Kinan berubah merah


Perlakuan Imran diluar nalar. Biasanya hanya bye-bye dengan tangan. Kini ada peningkatan lagi yaitu mencium


Seromantis inikah suami Kinan? Kinan sedikit tak percaya jika Imran mau melakukan semua ini padanya


Imran mengusap pucuk kepala Kinan "Hati-hati ya. Jika sudah selesai, Kau bisa hubungi Aku, ataupun Zira"


Kinan mengangguk kemudian turun dari mobil setelah Imran membantu membukakan pintu tersebut untuk dirinya


Pintu ditutup oleh Kinan


Sebelum meninggalkan Kinan, Imran sempat membuka kaca pada pintu depan "Berangkat ya.." Pamitnya


Kinan mengangguk


Duh, senengnya Kinan. Perlakuan Imran benar-benar diluar dugaan


-


Kinan melangkahkan kakinya menuju pintu masuk


Tiba-tiba dari belakang ada seseorang yang memanggil dirinya


"Kinan"


Kinan menoleh dengan senyum yang merekah. Tetapi saat tau orang yang memanggilnya adalah pacar suaminya, senyum Kinan meredup


Kinan lupa akan Cintia, pacar dari suaminya


Dalam hati Kinan, merutuki nasibnya. Kenapa dirinya tak tau malu mengatakan cinta pada Imran waktu lalu 'Benar-benar Aku wanita tak tau malu. Gatal' Kesalnya teringat awal-awal Imran menikahi dirinya


Kinan benar-benar menyalahkan dirinya. Ngapain juga bilang cinta


Rasanya ingin menghilang dari muka bumi ini. Sakit


Apalagi Imran tidak pernah mengatakan ataupun membalas kata cinta yang Kinan pernah ucapkan. Kinan benar-benar lupa diri


"Boleh Kita bicara sebentar ?" Ucap Cintia meminta waktu


Kinan berbelok keluar dari toko "Silahkan duduk" Kinan menunjuk kursi tunggu yang berada diluar toko "Tapi waktuku tidak banyak"


"Baik"


Merekapun duduk berjauhan


"Bagaimana kabar pernikahanmu dengan kekasihku Imran, hm"


Kinan menatap Cintia "Baik. Sangat baik. Apa Anda baru tau, Mbak Cintia"


Cintia tersenyum miring "Hm, Aku tidak percaya. Karena Kamu bukan tipe Imran. Imran tidak bahagia Apa pernah Imran mengungkapkan cintanya padamu?"


Jedduar


"Apa urusan Anda menanyakan rumah tangga Kami" Kinan berusaha dewasa menghadapi wanita ini. Padahal hatinya terbakar dan ingin menjerit


"Karena Imran tidak pernah mencintaimu. Dia hanya cinta padaku. Kau tau, Imran tidak menyukai perempuan belia, apalagi bekas. Dia terpaksa menikahimu. Dan Dia tidak bahagia hidup denganmu. Camkan itu"

__ADS_1


"Sudah??" Kinan berdiri berusaha tegar didepan wanita itu "Maaf. Saya ada kepentingan. Dan silahkan tinggalkan tempat ini"


BERSAMBUNG.....


__ADS_2