
Imran terbaring dengan mata yang pura-pura terpejam
Kinan dengan pelan merangkak ketempat tidur. Begitu badan akan merebah, Imran segera merangkulnya "Kenapa lama"
"Aku tidak ingin ganggu Mas istirahat"
"Ck. Itu hanya alasanku yang malas untuk berangkat kerja lagi" Ucapnya dengan pelukan sedikit mengerat
"Kok gitu" Liriknya dengan tangan yang ingin menyingkirkan tangan Imran dari pundaknya
"Iyalah. Tidur siang bareng kayaknya enak. Belum pernah sebelumnya kan?" Tanya Imran menggoda dan memeluknya tambah erat
"Iya. Tapi ngomong-ngomong tangan Mas berat banget" Ucapnya masih ingin menyingkirkan tangan Imran dari bahunya
Imran mengangkat tangannya "Hanya tangan, berapa sih beratnya. Lebih berat badanku tau, emmuah" Diakhir ucapannya Imran mencium bibir Kinan sekilas. Kemudian merebahkan tubuhnya lagi kekasur
Bersamaan itu, Kinan juga ikut merebahkan tubuhnya dikasur "Aku nggak pernah nimbang tubuhmu Mas" Liriknya
"Eih" Imran terbangun setengah badan "Kalau gitu Kita main timbangan yuk" Godanya lagi sekaligus menenggelamkan wajahnya kedalam pelukan Kinan
Kinan terkejut karena Imran mengusek diatas perutnya dengan gemas
"Mas !! hati-hati" Pekiknya
Imran bangun "Tau. Mas hanya gemas saja"
Kinan mendelik sambil menjambak pelan kedua sisi kepala Imran
"Ahaha" Imran tertawa melihat ekspresi Kinan yang terlewat lucu "Kau tau ??"
"Apa??!"
"Jangan pasang muka judes gitu"
"Ish. Judes kok nggak takut"
Imran tersenyum manis sambil menggeleng "Aku tidak takut"
Kinan menjembel kedua pipi Imran "Iya tapi Kamu sangat menyeramkan Mas"
"Itu dulu"
Kinan langsung mendelik kembali dengan kedua tangan yang terlepas dari wajah Imran
"Ternyata, Aku mampu membuat perutmu ada bayi" Ucapnya dengan tatapan yang sulit diartikan. Kemudian Imran menenggelamkan wajahnya lagi keperut, lalu Imran mendongak "Pelan ya??" Ucapnya dengan tangan yang sudah nakal diatas selang kangan istrinya
Kinan kembali terkejut
"Jangan kaget gitu. Pelan, nggak masalah"
Dengan Secepat kilat Imran sudah melucuti seluruh pakaian Kinan
Imran mengabsen BH dan CD milik Kinan yang masih belum sempat Ia lucuti "Perutmu masih rata" Usapnya sambil mengusap-usap dada Kinan yang masih terbungkus BH
Tangan Imran sudah masuk dan menemukan buah kesemek berwarna putih dengan biji berwarna pink
Keduanya sudah keluar dari sangkarnya namun kaitannya masih mengait satu sama lain. Imran tersenyum sambil mainan benda tersebut. Kemudian tangannya beralih ke segitiga dan masuk kedalamnya
Tak berapa lama, terjadilah basah basah basah
-
Sore harinya Kinan sudah berada didapur
__ADS_1
Kinan ingin belajar memasak. Yaitu menggoreng ikan.
Entah darimana keinginannya untuk menggoreng ikan. Tiba-tiba rasa itu menginginkan hal tersebut
Bibik yang melihat langsung melarangnya "Non, sini biar Saya yang ngerjain, Non. Non istirahat saja"
"Bibik ngerjain yang lain aja Bik. Aku ingin belajar masak" Ucapnya sambil sibuk membolak balikan ikan yang sudah terlumur bumbu
Bibik terdiam bengong, kemudian menatap perut majikannya "Oh, Non ngidam goreng ikan ya Non"
Kinan tersenyum "Sepertinya gitu Bik"
-
Imran datang menghampiri istrinya yang tengah duduk dengan wajah yang terlihat murung
Imran masih berdiri lalu mulai bertanya karena penasaran "Kok murung gitu. Kamu kenapa?"
Kinan tidak menjawabnya. Namun mendorong piring berisikan ikan yang sudah tak berbentuk rupa ikan
"Ini ikan? Ikannya kenapa? Terus, kulitnya pada kemana?" Imran bertanya karena ikan itu bentuknya sudah aneh. Seluruh kulit ikan tersebut terkelupas, hingga dagingnya terlihat semuanya
Kinan mendongak dengan mata yang sudah memerah
"Loh, Kamu kenapa?"
Kinan tidak langsung menjawabnya tetapi justru mukanya menahan tangis
"Loh, kok" Imran mengusap kepala Kinan "Ada apa? Bik !!" Imran tidak ingin penasarannya berlarut. Makanya berteriak memanggil bibi
Tiba-tiba Kinan menangis "Hwaaaaa" Hati Kinan rasanya diremas-remas saat hasil masakannya tak berbentuk
Bersamaan itu bibi sudah berdiri diambang pintu. Namun mematung saat Imran mengangkat tangannya tanda stop
Masih dengan terisak, Kinan menarik kepalanya dari pelukan Imran "Ikannya rusak semua. Aku tak bisa masak" Ucapnya masih terisak dan air matanya terus berderai
Imran tergelak
"Ikan yang kugoreng dagingnya hancur"
Imran langsung terbahak kemudian mencium pipi Kinan dengan serta merta "Kenapa tidak bibi yang suruh masak. Kenapa Kamu sendiri yang masak"
Kinan mendongak "Aku ingin melayani mas dengan benar"
"Kamu sudah melayaniku dengan benar. Apalagi"
"Tapi Aku tidak bisa masak"
"Kata siapa. Kamu pinter kok cara bikin donat. Ahli malah"
Kinan melirik Imran dengan suara yang masih sedikit terisak "Donat pangan sampingan Mas. Bukan lauk"
Ahaha
Imran tertawa membuat Kinan tambah berderai karena kecewa dengan apa yang Ia praktikkan
"Sebelum turun, tadi Kamu ngapain?"
"Ngapain apa Mas. Yang mana?" Tanya Kinan bingung. Karena diatas banyak sekali aktifitas yang mereka lakukan bersama
Imran kembali mencium pipi Kinan sambil tersenyum menggoda "Setelah itu, sebelum mandi" Bisiknya membuat Bibi senyum-senyum mendengar majikannya terlalu genit pada istrinya
"Liat video cara menggoreng ikan"
__ADS_1
"Ahaha. Terus Sayang ingin praktik ?"
Kinan mengangguk sebagai jawaban iya
"Dan ini hasilnya?"
Kinan menatap lagi ke ikan-ikannya yang sudah hancur lebur
Kinan kembali menangis
"Sudah sudah. Jangan menangis" Kemudian Imran duduk dikursi sebelah Kinan "Ini untukku kan?"
Kinan mengangguk kemudian mengambil salah satu ikan yang gosong yang sengaja Kinan tutupin dengan ikan hancur lainnya "Tapi ada yang gosong. Semuanya gosong sama rusak" Ucapnya terus menangis
Imran kembali tertawa. Rasanya lucu
"Kenapa Mas malah tertawa. Semuanya pakai duit Mas. Aku hancurin semuanya hwaaa"
"Sudah. Jangan menangis. Mas coba ya?" Imranpun berhenti tertawa dan mengambil ikan masakan istrinya untuk pertama kalinya
Imran makan ekornya terlebih dahulu
Kriuk
Kemudian mengunyahnya dan menelannya
"Enak" Bohongnya. Padahal pahit tak karuan
Kinan tak percaya "Bohong. Mas pasti bohong"
Imran tersenyum. Rasanya tak kuat melihat wajah istrinya yang kelewat menyedihkan
Imran kembali mencium pipinya "Enak kok"
Kinan menjauhkan wajahnya sambil mengelap pipinya yang barusan dikecup oleh Imran "Mas!! Bibirmu berminyak. Bau amis juga"
Ahaha
Lagi - lagi Imran terbahak "Nggak masalah. Habis itu cuci muka. Beres"
Tiba-tiba Zira datang dengan mengabsen keduanya "Kalian ngapain?? Lomba ngupasin ikan?"
"Zira..." Pekik Imran dengan maksud menyuruhnya diam
"Lah. Mana nasinya. Benerkan? Yang salah apa dari pertanyaanku?"
"Jika Kau tak bisa diam, keluar"
"Ish" Zira masih berdiri. Rasa penasarpun kian membuncah
Tak lama sebelum berlari, Zira menyaut satu ikan yang sudah tak berkulit. Kemudian memakannya
"Uwek, rasa apa ini" Lidah Zira sudah menjulur kepahitan
"Zira!!" Imran mendelik
"Tu kan, Mas bohong" Kinan kembali menangis kecewa
"Sudah, sudah. Mulut Zira swasta. Jadi blong kalau ngomong" Ucap Imran dengan tangan mengusir Zira
Zira terbengong "Salahku dimana??"
"Zira!!!"
__ADS_1
BERSAMBUNG...