
Sewaktu Kinan masih mondar-mandir bingung, Zira berteriak "Kak, Kakak !!"
Kinan keluar "Kamu manggilin siapa, Zira?"
"Manggilin Kak Kinan"
"Oh, kenapa? Ada apa?" Kinan sudah berdiri disisi kiri mobil
"Hari ini Aku ada mata kuliah satu doang. Prof Emil nggak jadi datang. Jadi Aku pulang cepet" Jelasnya sedang memanaskan mobil
"Terus, Kamu langsung pulang atau Gimana?"
"Langsung. Kenapa sih"
"Aku ada undangan, Zira" Kinan menyerahkan undangan tersebut pada Zira "Nih. Itu tu daerah mana. Aku nggak tau"
"Oh"
"Kamu tau?"
"Iya. Kuusahakan jemput. Ntar Aku antar"
"Bener nih" Ucap Kinan tersenyum lebar
Zira mengangguk
"Ih, makasih Zira" Saking gembiranya, Kinan memutari mobil. Kemudian menjembel kedua pipi Zira gemas "Makasih adikku sayang.. emmua emmua emmua" Ucapnya sambil pura-pura menciumnya
"Ih, lepasin ah. Sakit tau"
Kinan melepasnya "Ya maaf"
"Oke deh. Tunggu Aku pulang ya?"
"Oke, oke. Pasti Aku tunggu"
-
Kinan dan Zira sudah datang ke alamat undangan tadi
Semuanya benar-benar membingungkan. Satupun tak ada yang Kinan kenal atau menyambutnya seperti dipelatihan
Kinan menarik Zira "Perasaan ada yang nggak beres, Zira"
"Nggak beres gimana. Itu perasaan Kakak aja kali"
"Lihat para tamunya. Jika mereka memberku, pasti menyambut. Ya bukan seperti orang-orang kaya sih. Sebagai kawanlah setidaknya"
Zira melirik Kinan "Memangnya Kakak bukan orang kaya?"
Kinan mendorong lengan Kinan "Kaya donat?"
"Ye.. Dibilangin Kakak nggak faham rupanya"
"Sudahlah. Daripada Kita kayak orang hilang, kabur yuk"
"Haiss, ngapain kabur. Mungkin orangnya belum muncul, Kak. Lagian ini bukan pelatihan. Jadinya nggak semua kenal"
Kinan mengangguk
Beberapa menit kemudian
"Zira, kita salah datengin undangan deh, kayaknya"
"Apalagi Kak? Orang-orang pada anteng. Kakak heboh sendiri"
"Ya masa, Kita kesini mau ngapain kalau nggak kenal"
Zira hanya terdiam. Kakak iparnya bener-bener bikin pusing
"Zira... Yang punya acara mana. Undangan itu salah kali"
"Tenang Kak. Nggak mungkin undangan itu datang, kalau pemiliknya tak kenal"
"Iya sih. Tapi Aku takut"
"Ish. Ibu guru kok takut"
"Ibu guru kuliah dimana"
Tiba-tiba MC menyebut nama Kinan
"Kak, tu namamu disebut" Ujar Zira
"Masa?" Kinan belum percaya
__ADS_1
"Nyonya Halwatuzahra Saira Kinan, mohon agar lekas kedepan" Ucap MC kemudian
Kinan tidak percaya dirinya disebut dan disuruh kedepan
"Silahkan nyonya" -MC
Kinan masih bingung kenapa dirinya harus dipanggil untuk naik keatas panggung sedangkan seluruh tamu, semuanya menatap Kinan
Kinan tambah resah "Ini acara apa sih. Kok jadi Aku yang dipanggil"
"Ayo Kak, sana kedepan"
"Zira, Aku tidak ngerti ini acara apa"
"Mohon untuk Nyonya Halwatuzahra Kinan Imran, untuk segera kedepan" Kembali MC memanggilnya
Akhirnya, Kinan berjalan kedepan dengan hati yang tidak karuan "Aduh Mas Imran. Kamu dimana" Resahnya tambah melanda
Kinan dipersilahkan duduk
"Gimana kabarnya Nyonya ? Baik ?"
Kinan mengangguk "Kabar Saya baik alhamdulillah"
"Anda tau ini acara apa?"
Kinan menggeleng "Nggak tau. Yang Saya tau, didalam undangan tersebut pembukaan toko. Betul kan?"
MC pun mengangguk "Betul ini acara peresmian pembukaan toko. Terus, Anda tau siapa pemiliknya?" Tanyanya lagi
Kinan mengendikkan bahunya "Dalam undangan namanya ini" Kinan menyerahkan undangan yang Ia bawa "Mister Iza"
"Anda tau siapa Mister Iza?"
"Nggak tau"
"Lihat sebelah sana" Tunjuk MC pada pintu masuk bagian depan
Kinan menoleh kebelakang
Seperti doa yang langsung terkabul
Imran datang dengan senyum manisnya
Kedua tangannya sudah membuka kancing jasnya, seakan menyuruh Kinan untuk masuk kedalam sana
"Silahkan sambut suami Anda Nyonya"
Kinan tersenyum bahagia. Rasa cemasnya menguar hilang begitu saja kala Imran datang secara tiba-tiba
Imran masih membuka jasnya
"Peluk!! Peluk" Teriak para tamu undangan
'Sini peluk Aku' Imran seakan mengatakan demikian
Kinan mendekat. Rasa senang terharu datang bersamaan
Kinan memeluknya "Mas.. Mas kok bisa sampai disini"
Kinan sudah didalam pelukan Imran yang sengaja Imran tutup dengan jas nya
"Kamu suka Aku datang?"
"Suka sekali ini surprise. Aku nggak nyangka Mas akan datang menjemputku"
MC sudah berdiri didepan mereka yang masih berpelukan
"Ehm"
MC berdehem sambil tertawa lebar
Kinan mengurai peluk. Begitupun dengan Imran
Imran mengangguk ke seluruh tamu yang sengaja Ia undang
Tangan dingin Kinan masih digenggam oleh Imran
Kinan kembali bertanya dengan lirih "Mas. Mas kok bisa kesini. Mas mau menjemputku?"
Imran memiringkan kepalanya "Acaranya belum dimulai"
"Darimana Mas tau"
"Pemiliknya belum mau potong pita. Jadi belum selesai"
__ADS_1
"Ehm" Kembali si MC berdehem "Gimana Nyonya Kinan? Senang mendapat surprise?"
"Senang banget. Tangan Dia sampai dingin loh"
"Mas. Bikin malu"
"Haha" MC pun tertawa "Anda tau siapa pemilik toko ini?" Tanyanya pada Kinan
Kinan menggeleng lagi
"Kemari. Kita buka tirainya" MC menggiring pasangan ini menuju tembok yang dekat dengan pintu masuk utama
Tirai terbuka
"KINAN IN BAKERY !!!!" Teriak MC "Tepuk tangan"
"Kinan In Bakery" Kinan berbisik bingung "Mana pemiliknya Mas?"
"Kamu nggak tau?"
"Enggak Mas" Jawabnya
"Dan sekarang, Tuan Iza dan Nyonya Kinan silahkan dipotong pitanya"
"Mas. Kok Aku"
"Iya"
"Maksudnya??"
"Inilah Mister Iza atau tepatnya Tuan Imran Zayn Alhanan beserta istri yang akan segera memotong pita. Silahkan" MC memberikan gunting kepada Imran
"Ayo"
"Mas"
"Toko ini, sengaja kuhadiahkan untukmu. Sekarang pegang guntingnya lalu potong jangan takut, oke"
"Ini terlalu berlebihan Mas"
"Tidak masalah. Ayo potong"
"Kita potong bareng Mas"
"Oke" Imran menggenggam tangan Kinan dengan gunting yang sudah mengarah pada pita. Dan akhirnya tergunting
"Tepuk tangan!!!" Teriak MC kembali
-
Setelah acara selesai Kinan diajak pergi kekantor tempat Imran bekerja
Kali ini Zira tidak ikut Ia memilih pulang. Ia tak ingin mengganggu momen berduaan pasangan ini
Untuk pertama kalinya Kinan memasuki ruangan dingin nan mewah dan satu lagi yaitu harum menyegarkan
"Ini ruangnnya siapa Mas?" Kinan masih berdiri mengabsen action ruangan ini
"Suamimu" Ucapnya dengan tangan yang memeluknya dari belakang
Kinan berbelok membuka jas Imran, kemudian bersembunyi disana
"Hei.. Sekarang Kamu sudah berani ya" Ucap Imran menjauhkan dadanya yang didekap erat oleh Kinan
Kinan langsung mengurainya dengan wajah yang sudah memerah
"Nggak jadi. Kukancingkan lagi. Biar rapih"
Imran tertawa sambil mencubit hidung mancung milik Kinan. Kemudian memeluk Kinan dengan erat
-
Imran sudah menyelesaikan pekerjaannya
Ia berdiri membenahi jasnya. Kemudian mendekati Kinan yang terlihat jenuh yang telah lama menunggunya disofa "Ayo. Kita pulang"
Kinan mendongak "Kok cepetan. Memangnya Mas sudah selesai?" Basa basinya
"Sambung besok"
"Eh, gitu ya"
Imran kembali meraih tangan Kinan "Kata Kamu kasihan sama Zira, kan?"
"Iya. Pasti bosen dirumah sendirian Mas"
__ADS_1
"Makanya Kita pulang"
BERSAMBUNG....